BTY - SEMBILAN
Anna terpaksa harus mendongak dari bacaannya dan langsung bertatapan dengan wajah Jerry yang juga tidak pernah memalingkan wajahnya sedetikpun.
"Kau tidak harus menungguiku setiap saat, Jerr?" Anna berusaha keras untuk tidak memperdengarkan suara bernada kejengkelannya dan gagal. Pria itu hanya membalasnya dengan tatapan tajam dan semakin tajam setiap detiknya.
"Dan apa? Dan melihatmu harus melepas paksa infusmu lagi seperti yang kau lakukan kemarin? Tidak. Aku akan tetap berada disini."
"Aku tidak mungkin melakukannya," Anna mengerang sambil membalas kalimat tajam yang dilontarkan Jerry padanya, merasa sia- sia. "Dan kau pun tidak perlu mengkhawatirkanku."
"Khawatir atau tidaknya biarkan menjadi urusanku. Bukan urusanmu."
Anna terdiam selama beberapa saat, merasakan godaan bangkit dari ranjang rumah sakitnya dan menunjukkan pada pria itu kalau dia sudah tidak apa- apa, tapi melihat sikap pria itu sejak kemarin membuatnya berpikir ulang. Kalau dia melakukannya bukan tidak mungkin itu akan memberi Jerry alasan baru agar dia tetap di tempatnya.
Dan sialnya lagi, baik Betrice maupun Patricia mendukung sikap Jerry sepenuhnya. Patricia bahkan dengan senang hati meminjamkan sebuah bacaan yang diambilnya di perpustakaan kota agar Anna tidak kebosanan.
Selama beberapa saat Anna memperhatikan wajah Jerry dan menyadari kalau wajah itu tampak berantakan dan juga kelelahan. Sudah jelas pria itu kelelahan. Tidak sedetik pun Jerry meninggalkannya kecuali jika ingin ke kamar mandi, bahkan dengan adanya Patricia maupun Betrice. Jerry sama sekali tidak ingin beranjak dari sofa beludru itu.
"Kemarilah, Jeremiah." Anna menyebut nama panjang Jerry dengan lembut dan sekilas melihat jika kedua mata Jerry tampak membelalak tapi detik selanjutnya kembali seperti semula. Seakan itu bukanlah masalah yang berarti.
Jerry melangkahkan kakinya menuju sisi ranjang Anna dan berkata,"apa kau membutuhkan sesuatu? Apa kau lapar?"
Jam makan malam sudah lewat beberapa jam yang lalu dan melihat Anna hanya bisa menyantap makanannya separuh, membuat Jerry berpikir jika wanita itu kelaparan.
Anna tersenyum, menggelengkan kepalanya seraya menggeserkan tubuhnya sedikit, memberi ruang yang lebih luas disampingnya. "Tidurlah disini." Ucapnya seraya menepuk- nepuk tempat disampingnya.
Kedua kening Jerry mengernyit.
"Kau terlihat sangat kelelahan, Jerr," lanjutnya. "dan apapun itu. Aku tidak ingin melihatmu melingkarkan tubuhmu yang lebih besar dari ukuran sofa ke sofa itu lagi. Itu akan menyakiti si sofa." Anna mencoba berkelakar dan ketika tidak mendapat respon, ia berdehem. "Kau jelas tidak menunjukkan tanda- tanda ingin pulang dan beristirahat kan?"
"Ya." Pria itu menjawab langsung, yang serta merta mendapat hembusan napas panjang dari Anna. "Aku tidak akan dan tidak ingin pulang."
"Kalau begitu aku tidak keberatan jika harus berbagi ranjang denganmu." Lontarnya lagi sembari kembali menepuk tempat kosong disampingnya. "Dan jika ada suster atau dokter yang masuk, aku tinggal mendorongmu hingga jatuh. Masalah selesai." Kembali Anna menyunggingkan senyumnya.
"Kau pikir aku peduli." Balasnya tapi mulai menempatkan tubuhnya di tempat yang tadi disodorkan oleh wanita itu.
Anna tidak tahu mengapa ia berani mengusulkan ide konyol tentang berbagi tempat tidur pada pria yang menurutnya baru dikenalnya itu dan ini di rumah sakit tapi melihat betapa perhatiannya Jerry selama ini ditambah lagi wajah itu terlihat sangat lelah, membuat Anna merasa tidak enak hati.
Jerry memposisikan tubuhnya agar bisa menyamping menghadap Anna dan mendesah ketika merasakan rasa nyaman karena bisa meluruskan kakinya.
"Nyaman?"
Jerry mengangguk. "Apa kau belum ingin tidur?" Tanyanya karena melihat wanita itu sama sekali belum memperlihatkan tanda- tanda ingin meletakkan bacaannya. "Tidurlah, sayang. Kau membutuhkannya." Anna rasanya ingin membantah tapi ketika melihat raut wajah Jerry, ia mengurungkan.
Setelah menandai bacaannya, Anna juga menempatkan kepalanya diatas bantal dan berhadapan dengan Jerry.
"Besok kau harus pulang dan istirahat." Ujar Anna pelan sementara sebelah tangannya menyentuh rambut Jerry lembut. "Kau tampak sangat kacau."
Untuk sesaat Jerry memejamkan matanya, berusaha menghirup udara berisikan aroma wanita yang selama ini di rindukannya dan menyimpannya untuk hari selanjutnya. Dia tidak tahu kenapa dia melakukannya tapi yang jelas dia menyakini akan membutuhkannya kelak.
Jerry menjadikan sebelah tangannya sebagai bantal sementara tangan yang lain ditempatkan di pinggang wanitanya. Jari- jarinya terasa gatal ingin menyusuri letak tato yang berada di bagian belakang Anna. Jika bukan karena peristiwa di pub dulu, dimana saat itu Anna menangis dan tidak menyadari jika dia belum memakai pakaiannya. Jerry tidak akan tahu kecuali jika wanita itu sendiri yang menunjukkannya.
Tapi kala itu situasinya sedang tidak terkendali. Anna menangis setelah ia mengatakan ingin berganti pakaian dulu. Jerry merasa curiga ketika wanita itu sama sekali tidak menunjukkan tanda- tanda akan keluar dan berinisiatif untuk menyusul ketika dilihatnya Anna sedang menangis, setengah telanjang dengan tangan yang masih memegang pakaiannya.
Baru ketika Anna membelakangi Jerry agar bisa memakai pakaiannya, hingga Jerry melihat tatto itu dan nyaris tidak dapat mempercayai penglihatannya. Tapi secepat ia melihat secepat itu pula tato itu tertutup dan digantikan dengan pakaian yang dikenakan oleh wanita itu, dan Jerry tidak mungkin meminta Anna untuk membuka pakaiannya lagi, dihadapannya saat itu juga tapi dia tahu dan sadar dengan apa yang sudah dilihatnya.
Ada perasaan hangat ketika tubuhnya bisa merasakan kehangatan tubuh itu lagi setelah sekian lama dan merasa beruntung dengan kebersamaan yang dulu mereka lalui bersama.
Apa jadinya jika ia tidak mengenal keseluruhan yang ada pada tubuh wanitanya saat itu?
Meskipun dulu dia sempat tidak menyetujui ketika Cassie melakukannya tapi ia juga merasa bersyukur karena Cassie melakukannya. Setidaknya itulah yang menyakinkan dirinya kalau Anna itu adalah Cassie dan Cassie adalah Anna.
"Aku bisa melaluinya." Jerry berkata setelah membuka matanya dan langsung bertatapan dengan kedua mata didepannya. "Aku tidak ingin meninggalkanmu." Tidak ingin berpisah denganmu lagi.
"Kau bisa sakit jika terus menyiksa dirimu seperti itu." Jemari Anna masih terus menyentuh rambut Jerry. "Dan aku tidak ingin melihatmu sakit."
"Sakit yang kurasakan saat ini tidaklah seberapa dibandingkan dengan sakit yang kurasakan karena mengira telah kehilangan dirimu selama ini." Ucap Jerry dalam hati.
"Aku tidak akan sakit."
Anna mengernyit, tidak setuju dengan jawaban yang barusan dilontarkan oleh pria itu barusan tapi tidak ingin berdebat. Setidaknya tidak untuk malam ini. Malam ini biarkan pria itu mendapatkan istirahatnya.
"Apa yang kau pikirkan?" Jerry sontak bertanya. "Wajahmu menyiratkan ketidaksukaan pada sesuatu." Jelas Jerry.
"Kau." Percuma jika berbohong pada pria itu. Setahunya Jerry memiliki kepala sekeras batu dan gigih jika menginginkan sesuatu.
"Aku?"
"Ya. Kau. Aku mengkhawatirkanmu tapi yang kau lakukan sama sekali tidak tidak peduli dengan dirimu sendiri." Balasnya memberenggut. "Aku tidak akan mengalami sesuatu yang parah jika kau meninggalkanku sebentar."
"Tidak. Terakhir kali aku meninggalkanmu, kau malah terlepas jauh dariku dan aku tidak ingin merasakan mimpi buruk itu lagi." Jerry membalas dalam hati.
"Lagipula, akan ada Patricia dan Betrice yang akan menemaniku selama kau tidak berada disini." Dia melanjutkan.
Jerry tersenyum, menimpali. Dia tidak ingin momen kebersamaan mereka terganggu dengan dirinya yang ingin membantah. Baginya hari ini dan hari selanjutnya harus ia nikmati.
"Aku tahu," katanya. "Oh. Ceritakan padaku, bagaimana kau bisa bertemu dengan Betrice. Aku tidak perlu bertanya tentang Patricia karena dia adalah adikmu tapi aku ingin tahu tentang Betrice."
Anna mengerutkan dahinya. Entah mengapa ia merasa ada sesuatu yang ganjil ketika Jerry menyebut kata adik untuk Patricia tapi dengan cepat ia acuhkan, toh kemungkinan itu hanya perasaannya.
"Betrice banyak membantuku ketika berada di New York. Dia membantuku ketika harus mengurus masalah pemakaman kedua orang tuaku." Anna memperlihatkan raut wajah penuh kesedihan ketika menceritakannya dan apapun itu membuat Jerry tidak menyukainya.
"Jadi kau sudah lama tinggal di New York?"
Anna menggeleng. "Tidak juga. Aku berada di New York hanya sebatas ketika kedua orang tuaku dirawat di rumah sakit sana akibat kecelakaan." Dia menjelaskan. "Sebelumnya kami berada di Seattle dan Minnesota. Patricia tinggal di Seattle bersama nenekku disana tapi setelah kematian nenekku, Patricia berkumpul dengan kami lagi."
"Jadi sebelumnya Patricia tidak tinggal bersamamu dan orang tuamu?"
"Bisa dibilang begitu. Aku terjatuh ketika sedang mendaki dan akan berdampak buruk jika Patricia ikut merasa cemas jadi selama beberapa bulan kami tidak bertemu."
"Tapi dia pasti merindukanmu sebagai kakaknya."
Anna tersenyum lemah, sembari menahan kuap. "Tentu saja. Dia sangat senang ketika melihatku waktu itu, hingga melihat air mata jatuh layaknya pancuran. Kurasa karena dia sangat menyayangiku dan dengan keadaan kami yang tinggal berdua, dia pasti semakin tidak ingin berpisah dariku. Bukan berarti aku ingin berpisah darinya juga."
Hening.
"Kau tahu," Anna menutupi mulutnya, kembali mencoba menahan kuap yang dengan susah payah. "Kurasa aku yang akan tertidur lebih dulu dibandingkan dirimu."
"Ya. Tidurlah, sayang." Jerry membalas seraya menyentuh pipi itu dengan tangannya dan perlahan melihat kedua mata wanitanya menutup dengan pelan setelah terlebih dahulu mengecup lembut keningnya.
Ada banyak hal yang masih menjadi pertanyaan dalam benak Jerry saat ini. Salah satunya adalah bagaimana Mr dan Mrs. Wildblood bisa menemukan Cassie sementara kala itu sudah banyak berita yang menayangkan kejadian itu? Dan bagaimana Cassie bisa selamat setelah terjatuh dari ketinggian seperti itu?
Jerry terpaksa memutuskan untuk mencari bantuan dan tidak ada yang lain selain daripada dia selain fakta yang memperlihatkan kalau dia juga pernah merasakan perasaan yang saat ini Jerry rasakan.
***

Comments
Post a Comment