LOVE MISSION - 2
Kimberly melangkah gontai melewati koridor kampusnya. Dia baru saja selesai mengikuti mata kuliah history of England dan sedang berjalan untuk mengikuti mata kuliah selanjutnya yaitu Literature. Ini sudah hampir empat hari sejak pembicaraannya dengan Sophia tempo hari dan semakin hari semakin bertambah bingung.
"Bagaimana kalau kau mulai merasakan yang namanya jatuh cinta?" Ujar Sophia langsung.
"Eh? Jatuh cinta?" Kimberly tidak dapat menyembunyikan rasa terkejutnya sekaligus kebingungan di wajahnya. "Kenapa aku harus jatuh cinta?"
Sophia menggeleng. Menjelaskan kata baru yang tidak diketahui oleh gadis di depannya ini sama halnya menyuruhnya memilih antara harus melompat ke dasar jurang atau menyentuh kupu- kupu. Dan siapapun yang mengenal gadis itu pasti tahu pilihan apa yang akan langsung dipilihnya.
"Karena ini untuk misimu." Jawab Sophia.
"Misi?"
"Ya. Kita akan menganggapnya sebagai misi. Carilah cowok yang bisa kau ajak kerjasama untuk membantumu merasakan pengalaman itu. Tapi jangan terlalu terbawa suasana. Usahakan hanya untuk membuatmu tersenyum."
"Tapi bagaimana caranya?"
"Kau bisa memulainya dengan cowok di kampusmu. Bukankah banyak cowok tampan di sana?"
"Aku tidak pernah memperhatikannya."
Sophia rasanya ingin langsung menjedukkan kepalanya ke meja tempat mereka bicara. Astaga bahkan aku saja melihatnya, bagaimana dia tidak....
"Yang jelas lakukan saja itu. Kau tidak mau kan kehilangan sponsor karena masalah ini?"
Kimberly terdiam.
"Ayolah Kimberly," Sophia mendesaknya. "orang yang akan menjadi sponsormu kali bukanlah orang yang biasa. Mereka ingin sesuatu yang lain dari yang biasanya kau tampilkan dan kupikir tidak ada salahnya juga kau melakukan ini. Maksudku kau juga bisa merasakan sedikit pengalaman baru."
"Tapi jatuh cinta."
"Jangan jatuh cinta beneran tapi upayakan ini sebagai misi. Anggap saja kau mencari pengalaman baru, toh ini juga untuk karirmu ke depannya."
Kimberly tidak tahu lagi harus melakukan apa. Dia sudah berusaha sekuat tenaga mencari laki- laki yang bisa membantunya dan selama pencariannya itulah dia sama sekali belum menemukan orang yang tepat. Satu- satunya yang dia lihat dari para laki- laki yang menatapnya adalah tatapan penuh kekaguman. Bagaimana dia bisa merasakan pengalaman itu jika yang dia lihat hanya tatapan seakan ingin mengulitinya. Bisa- bisa sebelum misinya habis, yang ada dia malah mendapatkan masalah dan Kimberly tidak mau memikirkan hal yang lebih jauh dari yang dia pikirkan saat ini.
"Dimana aku bisa mendapatkan partner." Kimberly menghembuskan napasnya panjang.
"Jadilah pacarku."
Eh?. Kimberly menghentikan langkahnya dan mendapati seorang gadis berdiri tepat didepan seorang laki- laki tidak jauh darinya. Cowok itu membelakanginya, dari yang Kimberly bisa lihat. Cowok itu tinggi, lebih tinggi dari Kimberly dan mempunyai rambut perunggu dan belakang yang sangat bagus.
Ah, ungkapan cinta?. Kimberly menganggukkan kepalanya. Dia pernah melihat acara seperti ini ketika tidak sengaja pemotretan di jalan. Ada banyak tempat yang telah menjadi lokasi pemotretan Kimberly selama ia berkarir sebagai model dan dia menyukai melihat pemandangan seperti pernyataan cinta seperti ini karena setelahnya itu dia akan mulai bertanya pada dirinya sendiri apa cinta itu? Kenapa cinta bisa membuat beberapa keanehan dalam diri manusia? Sophia pernah mengatakan, cinta bisa meluruhkan gunung es tapi benarkah sedahsyat itu? Gunung es? Kimberly membayangkan sebuah gunung es dikepalanya dan cinta. Bagaimana caranya cinta bisa melakukannya?
"Maaf. Aku tidak bisa."
Kimberly tersentak dari lamunannya barusan dan semakin tidak mengerti. Diperhatikannya gadis yang berdiri itu. Wajah bulat, rambut pirang panjang seperti boneka barbie. Kenapa cowok itu tidak mau?
"Akan lebih baik kalau kita hanya berteman, Sue."
Lama tidak ada suara hingga kembali dia mendengar suara tawa yang berasal dari si gadis barbie.
"Hahaha benar juga."
Kimberly semakin merasa kebingungan. Kenapa dia malah tertawa?.
"Baiklah Jayce. Kuharap kau tidak berubah karena aku mengatakan ini padamu." Ujar gadis itu lagi, membuat si cowok tadi mengangguk. Kimberly menunggu hingga gadis itu pergi menjauh. Dia masih tidak mengerti kenapa cowok itu menolaknya. Yang dia lihat dulu tidak seperti ini dimana si cowok langsung memeluk si cewek. Apa yang terjadi?
Brukkk.
Kimberly menggosok jidatnya yang terasa sakit dan merutuk kebiasaannya yang biasa melamun sambil berjalan. Didonggakkannya kepalanya keatas dan langsung berhadapan dengan iris mata berwarna biru. Eh si rambut perunggu?
"Apa yang kau lakukan disini?"
Kimberly mengernyit. Dia tahu cowok ini. Tidak secara spesifik tapi dia pernah mendengar salah satu teman di kelasnya pernah membicarakannya ketika cowok ini lewat.
Dia Jayce Caldwell. Sang ketua senat yang sangat digandrungi oleh para gadis diseantero kampus. Untuk pertama kalinya Kimberly menganggukkan kepalanya, menyetujui pendapat para gadis itu. Jayce memang tampan bahkan bisa dibilang seperti model dengan tubuh seperti ini.
"Tidak ada." Kimberly memutuskan untuk berlalu meninggalkan cowok itu. Dia akan menanyakan pada Sophia dimana dia harus menemukan partner yang tepat.
Sementara itu Jayce memandangi sosok yang baru saja berlalu dari hadapannya. Siapa yang tidak mengenal seorang Kimberly Moss, dia model yang disukai London, sahabatnya. Tidak banyak yang Jayce ketahui tentangnya selain katanya yang sangat sombong. Toh, dia juga tidak tertarik dengan cewek itu sekalipun dia memang menarik.
Tiba- tiba sebuah lagu mengalun dari Iphonenya dan menampilkan nama London dilayarnya.
"Ada urusan mendadak tadi. Sebentar lagi aku sampai." Ujarnya dan langsung memutuskan sambungannya.
Jayce memutuskan untuk berlalu juga dari tempatnya. Hampir saja dia lupa dengan rapat senat yang harus dilakukannya sebentar lagi jika saja London tidak menghubunginya.
***
Kimberly memutuskan untuk duduk ditaman kampusnya setelah menyelesaikan mata kuliah terakhir. Hari ini tidak ada pemotretan yang berarti dia harus kembali memperhatikan orang- orang disekelilingnya. Sebenarnya sudah beberapa hari ini dia melakukan penelitian dengan melihat orang- orang yang berpasangan. Alih- alih mendapatkan apa yang dicarinya, yang ada dia malah mendapatkan tatapan aneh dari orang- orang yang diamatinya dan mendapatkan predikat aneh. Dia masih belum menemukan partner yang cocok dalam misi seperti yang dikatakan oleh Sophia.
"Memang partner seperti apa yang harus kudapatkan?" Guman Kimberly pada dirinya sendiri. "Hm sepertinya akan cocok kalau dia mengerti tentang cewek tapi apa laki- laki jahat baik? Tapi bagaimana kalau nanti dapat masalah? Pasti Sophia marah kalau aku memilih laki- laki sembarangan tapi... apa tidak apa- apa?" Lagi- lagi Kimberly membayangkan dirinya. "Kenapa harus senyum? Kenapa tidak seperti yang biasanya saja? Aku kan bukannya tidak tahu tersenyum. Aku hanya tidak tahu bagaimana melakukannya... dari hati." Kimberly menghembuskan napasnya lelah seraya menunduk ketika matanya menangkap sebuah buku ditempatnya duduk.
Dia memutuskan untuk mengambilnya dan mengernyit.
Sue...
Meg...
Eliza...
Theresa... dan masih banyak lagi dibawahnya.
Semuanya nama gadis dan beberapa diantaranya ada yang Kimberly ketahui karena beberapa diantaranya satu kelas dengannya. Semuanya digaris bawahi dan yang paling terakhir, yang semakin membuat keningnya berkerut adalah...
Kimberly Moss. Namanya!
Hanya namanya yang tidak ditandai dengan apapun bahkan dicoret dalam list. Apa maksudnya ini?
"Sial, dimana buku sialan itu."
Kimberly mendongak dari bukunya dan melihat seorang cowok yang terlihat sedang mencari sesuatu. Ditatapnya cowok itu lalu ke buku yang berada ditangannya. Dia mencari sesuatu dan terlihat berpikir ketika menemukannya di sampul halaman depan. Tanpa disadarinya sepasang mata telah melihat kearahnya.
"Sepertinya itu milikku. Bisakah kau mengembalikannya?" Jayce bertanya sopan seraya mengulurkan tangannya hendak mengambil bukunya kembali ketika Kimberly mengelak. "Tidak adakah yang memberitahumu kalau mengambil barang orang lain adalah perbuatan yang salah?" Jayce mengucapkan itu dengan nada sinis yang disamarkan.
"Tidak adakah yang memberitahumu kalau menyakiti hati para gadis juga salah?" Oh. Kimberly menyukai ini. Dia pernah tidak sengaja menonton adegan ini ketika bersama dengan Sophia dulu.
Sebelah kening Jayce terangkat dan entah mengapa Kimberly menyukainya. Wah, akhirnya aku bisa menemukan partner yang cocok!. Kimberly memekik dalam hati. Menurutnya cowok dihadapannya memiliki pandangan yang berbeda ketika melihatnya.
"Tidak ada urusannya denganmu. Kembalikan bukunya." Jayce ingin mengambil kembali bukunya tapi kalah cepat dengan Kimberly yang langsung menyembunyikannya di belakang punggungnya.
"Aku akan mengembalikannya jika kau bisa membantuku."
"Dan kenapa aku harus membantumu?" Jayce bertanya kesal pada gadis dihadapannya ini. Dia tidak pernah menyangka akan bertemu dengan gadis semenjengkelkan ini.
"Karena namaku satu- satunya yang dicoret disini." Jawab Kimberly terus terang. "Dan aku tahu apa alasannya." Tambahnya kemudian.
"Kalau kau sudah tahu kenapa aku harus membantumu?" Tanya Jayce. Seharusnya dia langsung mengambilnya begitu saja tadi. Dia menambahkan.
"Karena aku butuh bantuanmu." Jawab Kimberly lagi.
"Kurasa kau salah paham nona. Aku sama sekali tidak mengenal apalagi menyukaimu jadi aku sama sekali tidak berniat membantumu."
"Aku tahu kau tidak menyukaiku. Itulah sebabnya namaku berada di urutan terakhir dan di coret tapi kau harus membantuku."
"Dan kenapa aku harus melakukannya?"
"Karena aku yang memintanya."
Jayce terperangah tidak percaya. Cewek ini gila! "Dan apa yang akan kau lakukan jika aku menolak?" Jayce berniat menantang cewek didepannya ini.
Kimberly terlihat pura- pura berpikir. "Maka tidak ada jalan lain selain melaporkan hal ini pada dewan kampus. Apa menurutmu kau tidak akan kehilangan jabatanmu sebagai ketua senat nanti? Hmm aku meragukannya."
Dia licik!. "Kau mengancamku?"
Kimberly menggeleng. "Tidak. Hanya saling membantu."
Baik Jayce maupun Kimberly sama- sama saling menatap. Jayce yang memberinya tatapan paling kesal yang tidak pernah dia perlihatkan pada gadis manapun dan Kimberly yang hanya menatap diam, menunggu.
"Bagaimana?" Tanya Kimberly memecahkan kesunyian.
"Bantuan seperti apa yang kau inginkan?" Jayce berusaha untuk tidak menjatuhkan cewek ini ke tanah. Biar bagaimanapun imagenya yang dipertahankan disini.
Kimberly terdiam selama beberapa saat, berpikir apakah dia bisa memanfaatkan keadaan hingga akhirnya dia memutuskan.
"Fall in love with me."
"Apa?!"
***
Comments
Post a Comment