LOVE MISSION - 25
Kimberly sangat menyukai acara akhir pekan itu. Dia menyukai bagaimana hangatnya ketika dia berada disana, bersama Jayce dan seluruh orang terdekat Jayce. Gadis itu bahkan tidak henti- hentinya menyunggingkan senyumnya dan menyelesaikan semua pemotretannya dengan sangat sempurna. Walker bahkan sering memuji Kimberly dan tersenyum puas membayangkan hasil fotonya tapi...
Itu empat hari yang lalu.
Karena faktanya di hari kelima bahkan mendekati hari keenam, Kimberly seperti ponsel yang belum juga diisi ulang, menunggu mati sendiri. Dia tersenyum tapi tidak sesumringah empat hari yang lalu, dia menyelesaikan pemotretannya tapi tidak sesempurna hari itu dan Sophie hanya bisa menggelengkan kepalanya sekaligus merasa sangat lucu melihat kelakuan Kimberly.
Ya. Sophie tahu apa alasan dibalik sikap Kimberly saat ini tapi dia tidak akan menanyakannya pada si ponsel lowbat dan lebih memilih untuk membawa gadis itu ke kafe yang bertempat di pusat kota.
Setelah Sophie memesan makanan untuk mereka berdua (Kimberly lebih memilih untuk mengalihkan tatapannya pada kaca yang menghadap ke sisi jalan), dia memutuskan untuk bertanya hal yang ringan pada gadis itu.
"Bagaimana pemotretanmu hari ini?"
"Buruk. Walker sering kali berhenti karena tidak puas."
Sophie terdiam, memperhatikan, lalu menghembuskan napas. Seharusnya dia bisa menahan diri tapi melihat raut wajah gadis didepannya membuatnya tidak tega juga.
"Kim..."
"Apa beberapa hari ini terjadi sesuatu padanya?" Kimberly bergumam, menghentikan kalimat yang hendak keluar dari bibir Sophie. "Jayce nyaris tidak pernah menemuiku setelah acara akhir pekan itu dan hanya menelpon tidak lebih dari lima menit." Tambah Kimberly, mengerucutkan bibirnya.
Sophie terdiam. Inilah yang paling dikhawatirkan Sophie dari dalam diri Kimberly. Gadis itu terlalu naif, lugu, polos atau apapun sebutannya. Sejak awal Sophie melihat tutur bahasa dan tingkah laku mereka, dia tahu kalau Kimberly sangat menyukai Jayce tapi Jayce? Sophie belum menyakini hal itu. Apalagi sehari sebelum Kimberly mengatakan padanya kalau telah menikah, Kimberly mengatakan kalau seseorang yang dulu Jayce sukai datang dan marah pada Jayce.
Untuk satu ini, Sophie tidak bisa memikirkan alasan kenapa Jayce langsung mendaftarkan pernikahan dirinya dan Kimberly hanya di pengadilan? Siapa sebenarnya Jayce Caldwell itu?
"Apa kau sudah menghubunginya hari ini?" Sophie berinisiatif untuk menanyakan pertanyaan yang sejak lama disimpannya.
"Sekarang ponselnya tidak aktif." Jawab Kimberly seraya mengaduk- aduk Cappucino dinginnya.
"Kimmy, jawab aku dengan jujur. Apa alasanmu hingga kau mau menikah dengannya?"
Kimberly terdiam, mengernyit.
"Alasan?"
"Ya" angguk Sophie. "Kalian bahkan belum saling mengenal tapi mendadak kalian menikah."
"Apa kami salah?" Mendadak raut wajah Kimberly menjadi suram, membuat mau tidak mau Sophie merasakan perasaan bersalah. "Aku tidak tahu kenapa kau tidak menyukai Jayce, Sophie tapi Jayce sangat baik padaku."
"Tapi itu tidak berarti kalian langsung..."
"Aku menyukai Jayce dan Jayce juga menyukaiku. Kau pernah bilang kalau perasaan suka itu sama seperti jika kupu- kupu masuk ke dalam perutku." Kimberly mengatakan kata kupu- kupu dengan mimik wajah yang lucu, jelas gadis itu sedang membayangkan jumlah kupu- kupunya. "Tapi kau tidak pernah mengatakan kalau gajah juga akan ikut masuk."
Seketika Sophie melonggo. Gajah?
"Gajah?"
"Tidak hanya gajah tapi aku seperti dibawa lari oleh kuda ketika Jayce menciumku."
Sophie langsung menggelengkan kepalanya. Dia tidak ingin memikirkan apa yang mereka perbuat malam itu, termasuk tidak ingin mendengar Kimberly menceritakan bagaimana Jayce menciumnya. Tidak. Tidak ingin!
"Baiklah... baiklah..." Sophie mengangkat kedua tangannya menyerah, "apa yang akan kau lakukan selanjutnya?" Tanya wanita itu kemudian.
Kimberly tidak mengerti. Kenapa ia merasa mendadak Sophie berubah? Bukankah wanita itu yang mulai mempertanyakan tentang masalah pernikahannya?
"Apa kau sakit, Soph?"
Sophie seketika membelalak kemudian menghela napas. Percuma menjelaskan hal ini pada gadis polos didepannya.
"Tidak. Aku tidak sakit. Aku baik- baik saja." Seharusnya aku tidak menyarankan hal itu dulu.
"Kau yakin? Wajahmu tampak merah."
Tentu saja. Aku marah karena kau dengan mudahnya menyetujui pernikahan ini, gadis bodoh!
Lalu mendadak Kimberly menghela napasnya. "Menurutmu apa yang harus kulakukan, Soph? Apa kau tahu?"
Rasanya Sophie ingin berteriak Batalkan Pernikahan Kalian dan Mulailah Hidup Sendiri- Sendiri!
"Aku tidak ingin berpisah dengan Jayce." Lanjut Kimberly yang membuat Sophie ingin membenturkan kepalanya saat ini juga.
"Hubungi dia."
"Ponselnya tidak aktif."
"Kalau begitu datangi rumahnya. Kau tahu alamatnya, kan?"
Kimberly terdiam hingga senyum terukir dibibirnya. "Ah, benar juga. Rumah."
Sementara itu Sophie langsung membenturkan kepalanya ke meja ketika meringgis karena kesakitan.
"Sophie, kau kenapa?" Tanya Kimberly, heran seraya melihat Sophie yang sedang mengelus jidatnya pelan.
"Usahakan Paparazzi tidak menemukanmu ketika berada disana." Ancam Sophie yang justru membuat senyum diwajah Kimberly semakin melebar. "Karena jika publik mengetahui kau sudah menikah, maka bukan tidak mungkin kau akan mendapatkan masalah dan bisa saja Jayce juga akan terseret dalam masalahmu."
"Kau memang yang terbaik."
"Cih, oh iya, fashion show di Milan akan berlangsung bulan depan jadi pastikan saja kau sudah siap dan sudah harus berada disana sepuluh hari sebelum acaranya dimulai." Jelas Sophie tapi membuat Kimberly membelalak.
"Sepuluh hari?"
"Ya. Kenapa?"
"Karena itu berarti aku tidak akan bertemu Jayce selama berada disana."
"Maka dari itu gunakan daya baterai mu dengan sebaik- baiknya."
"Hah?"
"Bahkan jika dia ada sekalipun, kalian tidak boleh terlihat mencolok. Selama disana, Paparazzi yang dilibatkan tiga kali lipat dan karena ini kali pertama mereka melihat sisi lain darimu maka, jangan kecewakan mereka."
Kimberly dan Sophie baru saja akan keluar dari kafe tempatnya tadi ketika mendadak mereka berdua dikelilingi oleh sekumpulan orang yang ingin berfoto bersama sang model.
Ketenaran Kimberly semakin bertambah dua kali lipat ketika majalah yang menampilkan senyumnya akhirnya terbit dan itu semakin membuat para penggemarnya semakin ingin berfoto dengannya. Kimberly baru saja melayani sesi foto secara acak ketika matanya menangkap sosok yang telah dirindukannya selama ini. Jayce juga melihatnya.
Setelah lama mereka saling terdiam dan menatap, akhirnya kontak mata mereka terlepas seiring Kimberly menangkap sosok Rhea yang langsung merangkul sebelah lengan Jayce dengan kedua tangannya. Jayce menoleh pada sosok disampingnya, mengangguk dan tersenyum hingga langsung menyurutkan senyum diwajah Kimberly terlebih lagi ketika Jayce hanya lewat di sampingnya tanpa sama sekali menoleh.
"Baiklah, guys. Aku rasa cukup sampai disini kita berfoto. Kimberly memiliki jadwal lain hari ini. Terima kasih."
Dan tanpa menunggu respon dari para penggemar Kimberly, Sophie langsung menyeret Kimberly menuju tempat mobilnya di parkir dan memasukkannya ke dalam besi berjalan itu.
Tidak ada yang berbicara selama perjalanan. Sophie tidak tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Kimberly saat ini tapi melihat ekspresi terkejut miliknya tadi, membuatnya yakin kalau apa yang dipikirkannya tentang Jayce selama ini benar. Jayce benar- benar playboy ulung dan siapa wanita cantik yang bersamanya tadi? Model lainkah?
"Dia Rhea"
"Eh?" Sophie menoleh untuk melihat gadis disampingnya yang saat ini hanya menatap pemandangan diluar mobil. Rhea? Sepertinya nama itu tidak asing tapi di... tunggu... apa...
"Maksudmu itu Rhea yang disukai Jayce?" Sophie nyaris tidak dapat mempercayai pendengarannya dan semakin tidak percaya ketika dilihatnya Kimberly hanya mengangguk.
Dan sisa hari itu digunakan Sophie dengan mengutuk Jayce. Tentu saja hanya didalam hati karena jika dia mengutuk didepan Kimberly, sudah jelas itu akan membawa dampak yang jauh lebih berat pada gadis itu.
Sophie mengantar Kimberly kembali kedepan pintu masuk menuju apartemennya ketika waktu telah menunjukkan lewat tengah malam.
Kimberly baru saja membuka pintu apartemennya ketika tubuhnya langsung dibalik oleh seseorang bersamaan dengan bibirnya yang dikecup.
"Aku merindukanmu."
"Jayce!"
Jayce terkekeh, melepaskan bibirnya dari bibir yang selalu di rindukannya.
"Bagaimana kabarmu?" Tanya Jayce seraya menyentuh pipi lembut milik Kimberly.
"Tidak baik. Bagaimana denganmu?"
"Juga tidak baik. Aku selalu merindukan dirimu."
"Kau mengacuhkanku tadi." Kata Kimberly mencebik lucu dan membuat Jayce mengecup bibir itu lagi.
"Itu karena kau terlihat sangat sibuk berfoto."
"Kau juga tidak tersenyum padaku." Kali ini Kimberly mengalungkan kedua tangannya disekitar pinggang Jayce.
"Oh, aku tersenyum padamu, sayang tapi ketika itu secara bersamaan Rhea memanggil namaku. Tapi aku tersenyum padamu."
"Benarkah?"
"Aku tahu kau tidak akan mempercayai ucapanku. Itulah sebabnya sejak tadi aku menunggumu tapi kenapa kau baru kembali sekarang?"
"Sophie memintaku membantunya tadi." Jawab Kimberly, "dan Oh, ponselmu juga tidak aktif."
"Ponselku jatuh kedalam air karena kecerobohan London dan tidak sempat mengurusnya." Lalu kedua kening Jayce mengernyit. "Itukah sebabnya aku mendengar kalau kau sama sekali tidak melakukan pemotretanmu hari ini dengan sempurna?"
"Eh, darimana kau tahu?"
"Aku kenal beberapa orang." Lalu dia tertawa dan terdiam menatap kedalam mata Kimberly, "dengar sayang, aku tidak terlalu pintar mengeluarkan kata- kata manis tapi hm... jika kau tersenyum, burung- burung seperti ikut bahagia, bunga- bunga bermekaran dan jika kau tertawa, kemarau akan berganti menjadi hujan, membasahi bumi. Malam akan berganti siang jika mendengar suara tawamu." Lalu kembali Jayce terdiam lalu pura- pura melihat kesekelilingnya, yang masih tampak gelap. "eh kurasa malam terlalu mengada- ada, kan?" Tanyanya tapi justru membuat Kimberly tertawa. "Ah, kau tertawa. Kurasa sebentar lagi matahari akan terbit." Semakin membuat tawa Kimberly semakin keras.
"Aku mencintaimu, Kimberly Moss. Jangan lupakan itu."
"Aku juga mencintaimu, Jayce." Lalu keduanya saling berciuman dengan mesra ketika Jayce menghentikan ciumannya dan berkata,
"Bisakah aku menginap disini dan tidur bersamamu?"
***
Comments
Post a Comment