IY - DELAPAN BELAS
"Apa?"
"Jullian, please."
"Apa yang kau bicarakan, Anderson?" Jerry mulai mengertakkan giginya. Tidak ada angin, tidak ada hujan. Tiba- tiba Jullian mendadak muncul dan mengatakan hal yang tidak masuk akal padanya.
Apa- apaan dia? Jerry mengerang dalam hati.
"Sayang, kau harus mengerti. Kita tidak bisa menutup kemungkinan kalau hal itu bisa saja terjadi pada mereka." Jullian memberikan pengertian pada istrinya yang tampak gugup di sampingnya. "Kau lihat bagaimana situasinya beberapa hari yang lalu dan hal itu bukanlah hal yang bisa disembunyikan."
"Tapi Jullian..."
"Sebenarnya apa yang kalian berdua bicarakan?" Geram Jerry tidak tahan. "Dan Lea, apa yang sebenarnya kau sembunyikan padaku?"
"Jerry," Lea mulai terlihat gusar dan apapun yang diperlihatkan wanita itu padanya bukanlah sesuatu yang bagus. Lea mungkin bisa menyembunyikannya dengan baik tapi siapapun yang mengetahui kisah hidupnya di masa lalu bisa dengan mudah kalau ada kekhawatiran yang tampak jelas di kedua mata itu.
"Apa kau mencintai, Case?" Tanya Lea.
"Apa?" Kernyitan di dahi Jerry tiba- tiba muncul.
"Jawab saja, Jerr!"
Oh, sekarang Lea mulai menunjukkan sikap seakan tidak ingin dibantah.
"Bagaimana perasaanmu padanya?"
"Lea, apa- apaan ini?" Jerry menatap Lea dan Jullian secara bergantian. "Tentu saja aku mencintainya. Dia tunanganku. Demi Tuhan! Ada apa dengan kalian?!"
"Kalau begitu," Jerry mengalihkan pandangan kearah Jullian. "Apa yang akan kau lakukan jika Collin versi lain mendadak muncul?"
.
Jerry benar- benar marah.
Tidak. Tidak seharusnya dia melampiaskan semuanya pada apa yang ada di depannya.
Jullian. Entah bagaimana mengatakan hal- hal yang mengerikan untuknya. Sudah cukup dia melihat keadaan Lea dulu- melihat Lea yang terbaring tak berdaya ketika Collin hampir saja membunuhnya karena obsesi pria itu pada adiknya dan tidak terima ketika Lea hamil anak dari pria lain dan apapun itu, dia tidak mau kejadian itu kembali terulang.
Apa yang akan kau lakukan jika kau mengalami situasi yang sama seperti yang dulu kurasakan?
Kalimat Jullian terus saja terngiang dalam ingatannya. Kenapa Jullian harus mengungkit masalah itu? Apa sebenarnya yang ingin dia katakan?
Hubungannya dengan Jullian memang tidak bisa dikatakan baik. Mereka sering bersilang pendapat tapi baik dirinya maupun Jullian tahu kalau itu hanyalah cara mereka berinteraksi. Lea pernah mengatakan kalau dirinya dan Jullian sama- sama memiliki sifat yang sama. Bah! Dia tahu itu tapi jika melihat Jullian, Jerry tahu tidak ada yang bisa dilakukannya. Pertemuan pertama mereka tidak bermula bagus dan kata orang, pertemuan pertama adalah saat dimana orang bisa menilai kita.
"Mr. Culton?"
Jerry menengadah dari kopinya dan melihat pria yang hampir seusia dengan ayahnya sedang memandang dirinya dengan kebingungan.
"Oh, maaf Mr. Gru."
Pria yang dipanggil Mr. Gru itu tersenyum. "Sepertinya anda sedang banyak pikiran," katanya. "Apa itu berhubungan dengan wanita yang telah menjadi tunangan anda?"
Tentu saja kabar tentang pertunangannya telah tersebar dan hal itu semakin menguatkan dengan adanya berita kalau mereka ditunangkan dengan paksa. Meskipun awal mula berita itu memang benar tapi Jerry tidak lagi memusingkan hal itu. Di matanya hanya ada wanitanya dan apapun yang terjadi akan sulit membuatnya berpaling dari sang pianis Cassandra Ann Swan.
"Apa kau mendengar saran dari pria tua ini, anak muda?" Mr. Gru tersenyum.
Jerry tidak tahu harus membalas apa dan hanya bisa tersenyum. Meskipun pembawaan Mr. Gru terlihat angkuh tapi ternyata dia cukup pengertian dengan keadaan sekelilingnya. Pria itu bahkan tidak menolak ketika Jerry mengusulkan untuk bertemu di sebuah kafe, di tengah pusat perbelanjaan karena Jerry merasa seperti tercekik di dalam ruangannya sendiri di Institute.
Oh, Mr. Gru adalah seorang komposer ternama dan kebetulan Jerry ingin membangun kerjasama dengannya dalam beberapa bulan ke depan.
"Menurutku kau harus segera mengajak tunanganmu menikah."
Jerry terdiam.
"Akan ada perbedaan yang mendasar ketika kalian sudah menikah dan aku mengenal Miss. Swan. Dia wanita ceria dan penuh tanggung jawab yang pernah kutemui. Kami memang tidak pernah berada dalam satu panggung tapi dari caranya berbicara padaku sebulan yang lalu- oh, apa aku pernah bilang kalau kami bertemu di konser amalnya di yayasan kanker satu bulan yang lalu? Ya. Kami bertemu disana dan dia benar- benar gadis yang sopan ketika menyapaku. Miss. Swan mungkin pianis terkenal yang sudah mengadakan konser dimana- mana tapi dia sama sekali tidak menunjukkan hal itu pada setiap orang. Seakan ketenaran yang ia dapatkan bukanlah apa- apa. Apa kau tahu dia hanya tertawa ketika salah satu anak di salah yang kebetulan membawa bunga mendadak muntah dan mengenai baju serta beberapa bahkan mengenai tubuhnya? Oh, dia wanita baik. Dia juga merangkul dan menenangkan anak itu. Kau sangat beruntung memiliki dirinya Mr. Culton."
Jerry terdiam. Dia tahu kalau selain cantik, Cassie juga ceria dan ada saat dimana dia menemukan kalau wanita itu juga lucu tapi membiarkan seseorang memuntahinya bukanlah sesuatu yang pernah Jerry bayangkan. Awal mula kenapa dia tidak suka ditunangkan dengan Cassie adalah karena wanita itu terkesan sangat manja dan menyiratkan kalau seluruh keinginannya harus terpenuhi layaknya seorang putri.
"Apa kau pernah melamarnya secara langsung?"
Jerry mengerjap. "Maaf?"
Mr. Gru mengangguk, mengerti. "Kau masih ragu padanya."
"Tidak," bantah Jerry tiba- tiba. "Maksudku aku mencintai Cassandra. Sangat. Tapi ada kala dimana kami masih harus saling mengenal satu sama lain."
"Dan kau masih belum mengenalnya?"
Lagi- lagi Jerry terdiam. Ada saat dimana dia sudah mengenal Cassie seluruhnya tapi dia sudah mengatakan pada wanita itu kalau mereka akan memulai lagi dari awal.
"Tidak. Aku sudah mengenalnya." Jerry menjawab yakin.
Mr. Gru tersenyum. "Jadi dapatkan dia. Kau akan lebih menyesal jika suatu hari dia mendadak pergi."
Memikirkan kalau Cassie akan menjauh darinya membuat perasaannya dilanda risau. Sudah seminggu Jerry menahan diri tidak bertemu dengan Cassie, Cassie sedang sibuk dengan konsernya di Melbourne dan baru akan pulang keesokan harinya. Jerry tidak ingin menganggu tunangannya itu selama konser lagipula mereka akan bertemu besok dan besar kemungkinan kalau mereka akan menghabiskan waktu bersama.
"Terima kasih Mr. Gru." Akhirnya Jerry merasa lega. Lea dan Jullian mungkin hanya sekedar mengatakannya tanpa ada maksud apa- apa. Dia mungkin akan menikah tapi tidak untuk sekarang. Dia masih ingin melihat Cassie bahagia dengan kehidupannya saat ini dan mengikat wanita itu menjadi istrinya belum tentu bisa membuat Cassie bahagia, dia sudah berjanji akan menikmati kebersamaan mereka dan memberikan saat- saat penuh kebahagian yang tidak diberikannya dulu.
Jerry dan Mr. Gru sama- sama saling berjabat tangan dan baru saja berpisah ketika matanya menangkap sosok tidak asing yang berdiri tidak jauh dari hadapannya.
"Dia..."
.
.
Ini gila. Seharusnya Cassie tidak lantas mengiyakan ajakan bertemu dengan pria itu. Dia masih mengalami jetlag, kelelahan setelah pulang dari Melbourne dan mengantuk tapi apa yang dilakukannya saat ini betul- betul di luar nalarnya.
Matt. Satu nama yang bisa membuatnya hilang akal dalam cara yang buruk. Entah kenapa dia bisa menerima pria itu menjadi pacarnya dulu. Dia tidak memiliki perasaan pada Matt sebatas kesenangan belaka tapi bukan berarti dia menyesalinya, karena Matt pulalah yang menolongnya ketika tidak seorangpun yang berniat membelanya.
Ya. Pertunangan yang dulu tidak disenanginya karena dia tidak mengenal Jerry, belum lagi dia masih berusia sangat mudah kala itu membuatnya mengambil tindakan paling absurd sepanjang hidupnya.
"Tinggalkan dia."
Cassie memandang Matt tanpa berkedip. Matt masih penuh tekad dan tidak menyukai sesuatu yang berbelit tapi bukan berarti Cassie tidak mengetahui kalau Matt juga lihai dalam permainan kelicikan.
"Apa?"
"Aku tidak pernah bermain- main dengan apa yang kukatakan, Case." Kali ini nada suara Matt jauh lebih dingin dari yang pernah Cassie ingat, membuatnya merasa tidak nyaman tapi dia menolak untuk menunjukkannya.
"Aku mendengar apa yang kau katakan tapi aku tidak mengerti kenapa aku harus mengikuti perkataanmu."
"Karena kau harus ikut denganku."
Cassie langsung membuat gerakan menyilangkan kedua tangan di depan dada. "Kenapa aku harus ikut denganmu? Dan kemana kau akan membawaku?"
Matt tahu Cassie bukanlah tipe wanita yang akan mudah menurutinya tapi bukan berarti dia akan menyerah terhadap wanita itu. Dia sudah jatuh cinta dengannya sejak pertemuan pertama mereka dan keinginan untuk memilikinya semakin besar.
"Tidak penting kemana aku akan membawamu. Selama kau bersamaku maka semuanya akan baik- baik saja."
"Semuanya tidak akan baik- baik saja, Matt." Akhirnya Cassie tidak tahan juga. "Tidak tahukah apa yang kau lakukan saat ini? Ini seperti kau mengancamku. Kau menelpon hotel tempatku mengadakan konser, mengirimkan surat- surat yang menyatakan kalau jika aku tidak bersedia menemuimu maka kau akan melakukan sesuatu yang buruk," lalu Cassie menghela napas. "Aku tidak mencintaimu, Matt." Pernyataan yang salah dan gamblang yang seketika membuat perasaan Matt tertusuk. "Okey, aku minta maaf. Ini salahku karena kita menjalin hubungan dulu. Seharusnya aku tidak langsung menyeretmu kedalam masalahku waktu itu."
"Jangan..."
"Matt. Aku minta maaf." Cassie benar- benar tulus ketika mengucapkannya tapi Matt sudah terlanjur marah dengan penolakan yang dilontarkan oleh wanita itu hingga menarik Cassie dan hampir saja menciumnya ketika mendadak seseorang berdehem. Baik Cassie maupun Matt sama- sama berbalik.
"Apa yang kau lakukan bersama tunangan orang lain?" Suara Jerry sarat akan makna dan Cassie takut kalau akan terjadi perkelahian lagi. "Kemari Cassandra." Perintahnya.
Cassie mengernyitkan keningnya. Dia tidak suka dengan cara Jerry memerintahnya saat ini.
"Kemari Cassandra!" Kali ini Jerry tidak sabar menarik sebelah tangan Cassie ketika tubuh Cassie juga ikut tersentak, Matt juga memegang tangannya yang satu.
"Lepaskan dia."
"Kau yang lepaskan."
"Dia tunanganku."
"Apa peduliku."
Jerry semakin marah melihat sikap keras kepala pria dihadapannya saat ini. Dia marah karena wanita itu sama sekali tidak mengatakan tentang kepulangannya. Dia marah karena wanita itu justru memilih menemui pria yang pernah menjadi pacarnya dan bukan dirinya. Dia marah karena hampir saja melihat mereka berciuman dan dari semua itu, dia marah karena perasaannya yang begitu besar pada wanita itu.
"Baiklah," Matt menghela napas dan menyunggingkan senyumnya lalu berjalan agar bibirnya bisa berdekatan dengan telinga Cassie dan berbisik. "Kau tidak akan bisa lari dariku, Case. Tidak sekarang. Tidak nanti." Cassie terdiam. Tidak tahu harus mengatakan apa. Dia tahu Matt orang yang seperti apa.
Berbahaya!
Alarm peringatan dalam otaknya seketika meneriakkan kata itu dan ini kali pertama ia melihat sorot mata Matt. Dalam hatinya terbersit satu kata yang menyatakan Matt tidak main- main.
"Kita akan menikah."
Cassie menoleh cepat hingga bisa berhadapan dengan Jerry. Matt yang baru berjalan beberapa langkah berhenti lalu menoleh selanjutnya ia melontarkan senyum miring dan pergi menjauhi tempat itu.
"Apa?"
"Kau dan aku harus menikah."
"Tunggu dulu," Cassie memijit keningnya. "Menikah? Darimana, oh, kau mengatakan harus tadi. Kau memaksaku menikah denganmu?"
"Aku memaksamu atau tidak. Yang jelas kau harus menikah denganku."
"Sialan Jerr, apa maksudmu aku harus menikah denganmu? Kau marah untuk sesuatu yang jelas konyol untuk kita berdua dan bukankah kita sudah sepa-"
"Persetan dengan kesepakatan kita, Cassandra!" Bentak Jerry. Tidak memperdulikan lalu lalang orang- orang yang bergantian menoleh kearah mereka. "Dan apa kau benar- benar tidak tahu kenapa aku marah?"
"Aku tahu. Aku tahu kenapa kau marah dan semua ini karena Matt. Aku bisa mengerti tapi tidak seharusnya kau melampiaskan amarahmu dengan..."
"Aku marah!" Jerry memotong dan membentak. "Aku marah karena mencintaimu, Cassandra! Tidakkah kau mengerti itu?"
***
Comments
Post a Comment