BTY - SATU
The cover by greyanakim@gmail.com
Real love doesn't meet you at your best. It meets you in your mess.
-J.S.Park
.
Bug...bug...bug...
"Jeremiah Culton, buka! Aku tahu kau ada didalam! Buka sekarang atau aku akan mendobrak pintu ini!"
Dobrak saja.
"Jerry, buka!" Lagi- lagi suara itu terdengar. Kali ini lebih tinggi dari yang pertama. "Ini tidak bisa dibiarkan. Jullian lakukan sesuatu."
Jerry tersenyum. Dia bisa saja mengikuti perkataan Lea- wanita itu jauh lebih mengerikan jika sedang marah dan rambut merah yang dimilikinya semakin menambah keangkeran yang dimiliki oleh wanita yang telah lama menjadi sahabatnya tapi kali ini tidak. Sudah lama dia tidak mengindahkan apapun dan siapapun, tidak sejak kejadian itu. Tidak sejak jiwanya ikut dibawa pergi oleh seseorang.
Klik.
Terdengar suara kunci diputar kemudian disusul suara derap langkah yang terburu- buru kearahnya.
"Sialan, Jerr! Mau sampai kapan kau mengurung diri disini?"
"Pergilah Lea. Aku sedang tidak ingin menerima tamu." Ujar Jerry tampak sangat lelah. Pria itu bahkan memiliki lingkar mata yang menandakan kalau dia tidak pernah tidur selama berhari- hari atau sekian tahun.
Jerry memutuskan pindah ke London dan tidak lagi berada di New York. Semua pekerjaan dan kegiatannya di New York telah ia tinggalkan satu bulan setelah kejadian itu dan memilih London karena menurutnya London adalah kota kelabu, sekelabu dirinya dan jauh dari hiruk pikuk orang- orang yang mengenalnya.
Cassie dinyatakan meninggal saat itu juga oleh kepolisian dan Matt, pria yang sangat terobsesi padanya juga meninggal akibat luka tembak yang diberikan oleh polisi tepat ketika ia mendorong Cassie ke air.
Tidak seorangpun yang bisa melupakan kejadian mengerikan itu meskipun sudah dua tahun berlalu. Semuanya masih terasa seperti mimpi bagi mereka tapi mereka juga tidak bisa memungkiri kenyataan yang sebenarnya. Tidak setelah mereka menemukan rekaman yang sengaja Cassie rekam sebelum hal itu terjadi.
"Hai ini aku, Cassandra Swan yang sebentar lagi menjadi Mrs. Culton." Cassie melambai penuh semangat kearah kamera dihadapannya dan terkikik tampak malu dengan aksinya tadi. "Aku tidak tahu kenapa aku melakukan hal ini. Apa aku terlihat konyol? Jangan katakan iya. Itu akan melukai perasaanku dan juga... bayiku."
Semuanya terdiam memandangi video yang sengaja Cassie tinggalkan untuk mereka. Tidak ada yang menyangka kalau kala itu Cassie sedang hamil. Semuanya terlihat biasa- biasa saja ketika Cassie masih bersama mereka. Lea, Elena, Claire, kedua orang tua Cassie dan kedua orang tua Jerry tidak bisa berkata apa- apa melihat rekaman yang oleh Cassie untuk mereka. Jerry bahkan hanya terdiam ditempatnya- memandangi rekaman itu.
"Jangan memarahi, Jerry. Ma." Ucap Cassie seperti memohon. "Aku begitu mencintainya hingga aku hamil dulu sebelum menikah dengannya," katanya tapi semakin membuat Monica Swan menangis tersedu- sedu. "Dan bukankah Jerry adalah calon menantu Mama yang paling mama sukai jadi aku tidak akan terlalu mengkhawatirkannya tapi," Cassie menampilkan senyum kecutnya. "Kadang kala aku ingin melihat Mama memarahi Jerry. Biar bagaimanapun aku kan disini anak Mama. Anak kandung Mama. Mana mungkin Mama lebih menyayangi Jerry dibandingkan aku yang putrimu sendiri." Cassie menampilkan wajah pura- pura merajuknya tapi justru malah membuatnya terlihat menggemaskan.
"Hari ini aku akan menikah." Katanya lagi. "Tapi aku belum memberitahu Jerry kalau aku hamil anaknya. Tadinya aku ingin memberitahunya ketika kami ke pantai dulu tapi kurasa aku melupakan segalanya jika bersama dengannya." Lalu Cassie tertawa. "Claire, kau sepupuku yang paling baik. Aku menyayangimu," Claire yang mendengar namanya semakin terisak. "Tapi bisakah kau berhenti mengkhawatirkanku. Kau lebih mirip Brandon dalam versi wanita. Oops, maaf sepupuku yang lain. Aku juga menyayangimu dan juga Elena, si kembar dan Shane. Psst, Elena, ada yang ingin kubicarakan denganmu? Apa setelah bulan maduku nanti kita bisa bertemu? Jerr, kau tidak akan menawanku seperti putri jika kita sudah menikah kan?" Lagi- lagi Cassie tertawa.
"Lea." Lanjutnya. "Aku tahu kita baru saja bertemu tapi aku rasa aku juga mulai menyayangimu seperti layaknya kakak yang paling baik sama seperti Elena. Kau juga cantik dengan rambut merah itu. Apa aku juga akan cantik jika aku mengecat rambutku seperti rambutmu?"
Sebagai jawaban, Lea menggeleng meskipun dia masih terisak melihat rekaman video yang sedang diputar didepannya. "Kau cantik. Selalu cantik bahkan tanpa rambut merah sekalipun, Case." Tapi tentu saja kalimatnya itu tidak bisa didengar oleh Cassie yang terus berbicara didalam video.
"Cassie, apa yang kau lakukan didalam sana?"
Dalam rekaman itu Cassie terlihat menoleh dan melangkah menjauhi video lalu membuka pintunya sedikit, mencegah orang yang tadi mengetuk pintunya melihat kedalam.
"Kau ini lama sekali," orang yang diketahui sebagai Claire itu terdengar marah. "Kami sudah menunggu diluar sejak tadi." Lalu terdiam seperti sedang memperhatikan orang yang berdiri dihadapannya. "Kau sangat cantik, Case."
"Aku tahu." Lalu terdengar suara kekeh Cassie kemudian menoleh sejenak ke belakang dan memandang seakan sedang berbicara pada seseorang. "Aku mencintaimu, Jeremiah Culton." Lalu Cassie mengedipkan sebelah matanya kearah video itu.
"Apa yang kau bicarakan?" Claire terdengar bingung dengan ucapan sepupunya tadi. "Jerry berada diluar bersama yang lainnya." Tapi alih- alih menjawab, Cassie justru tertawa hingga terlihat kalau Claire berusaha mencari tahu dengan meninggikan kepalanya kearah belakang Cassie tapi Cassie dengan cepat menarik gagang pintu dibelakangnya, menghindarkan Claire mencari tahu.
"Dasar sepupu gila. Ayo kita keluar."
Kembali Cassie tertawa dan untuk terakhir kalinya Cassie menoleh dan tersenyum tepat ketika pintu itu menutup dibelakangnya- memperlihatkan bagian belakang Cassie untuk yang terakhir kalinya dan hening selama beberapa detik kemudian kamera yang merekam mati dengan sendirinya.
"Bangunlah Jerr. Kau tidak bisa selamanya begini terus." Lea mulai mendesak Jerry yang sepertinya tidak ingin mengalihkan matanya dari video peninggalan Cassie.
Kemudian memalingkan wajahnya pada tempat tinggal Jerry yang menurutnya tampak seperti tempat pembuangan sampah seisi kota, seakan- akan semua penduduk London membuang sampahnya di tempat ini.
"Aku mencintaimu, Jeremiah Culton." Suara penuh kebahagian itu terdengar hingga Jerry tidak ingin menghentikannya.
Baik Lea dan Jullian sama- sama saling memandang. Lea berusaha untuk tidak menitikkan air matanya melihat video itu lagi.
"Jullian, cobalah bicara dengannya."
"Lea, kupikir Jerry tidak akan..."
"Kumohon, sayang." Pinta Lea seraya memegang sebelah tangan suaminya, erat. Dia tidak ingin menangis. Tidak ketika sahabatnya masih merasakan perasaan berduka. Dia, Elena dan Claire sudah berjanji untuk tidak lagi menangis.
Seakan mengerti apa yang dirasakan oleh Lea, Jullian menarik tubuh Lea kedalam dekapannya dan mencium puncak kepala istrinya.
"Semuanya akan baik- baik saja, sayang."
Lea mengangguk lalu melepaskan diri dari pelukan suaminya.
"Aku akan memanggil seseorang yang bisa membersihkan tempat ini."
"Tidak perlu, Lea." Suara datar Jerry membalasnya.
"Oh. Tentu saja kau memerlukannya." Sanggah Lea tidak terima. "Suka atau tidak suka kau harus menerimanya. Sekarang kau harus keluar bersama Jullian dan biarkan aku yang mengurus kekacauan disini."
"Aku tidak ingin keluar."
Lea baru akan membalas ketika Jullian mengambil alih.
"Ada yang ingin kubicarakan denganmu, Culton."
"Aku tidak memiliki sesuatu yang ingin dibicarakan denganmu, Anderson." Balas Jerry.
"Tentu saja. Tapi aku ingin kau tahu satu hal tentang Case-mu," untuk pertama kalinya Jerry menoleh dan mengernyit memandangi Jullian. "Dan jika kau ingin tahu, angkat pantat sialanmu itu dan ikut aku." Jullian yang pertama melangkah keluar, meninggalkan Jerry yang masih mengernyit tapi ia ikut berdiri dan berjalan mengikuti Jullian.
Dibelakangnya Lea tersenyum penuh arti memandang punggung Jerry yang semakin lama semakin menjauh, sembari merogoh kedalam tasnya. Ia mengeluarkan sebuah ponsel dan mulai memencet sebuah nomor.
"Aku membutuhkan tiga orang pengurus rumah tangga sekarang. Tidak... Tidak... Aku ingin mereka tiba dalam setengah jam dan bayarannya dua kali lipat." Katanya tegas dan menutup telponnya dua detik kemudian.
***

Comments
Post a Comment