LOVE MISSION - 24
Akhir pekan tiba. Jadwal pemotretan Kimberly diundur sampai sore hari dan itu membuatnya merasa tidak enak. Jayce sudah berkali- kali menenangkannya dan mengatakan kalau dia juga memiliki sesuatu yang harus dilakukan dan baru bisa menjemputnya setelah matahari terbenam.
Sambil menunggu Jayce yang menjemputnya sebentar lagi. Kimberly dan Sophie memutuskan untuk minum sejenak di Chocosplit's cafe. Sophie mengatakan selain karena tempatnya jauh dari mata orang- orang yang mungkin mengenal Kimberly, minuman coklat yang ditawarkannya pun sangat lezat plus macaroonsnya pun lucu- lucu.
"Jadi kau berencana menghabiskan waktu di rumah neneknya malam ini?" Tanya Sophie seraya menyeruput hot chocolatenya.
"Ya" jawab Kimberly setelah memasukkan beberapa potong marshmallow kecil kedalam cangkir coklatnya dan ikut menyeruputnya. "Jayce memanggil neneknya dengan sebutan grandmere. Menurutmu apa yang biasa dilakukan orang- orang diakhir pekan?"
Sophie terdiam sejenak. Dia baru ingat kalau Kimberly tidak pernah melakukan kegiatan akhir pekan. Kehidupan gadis itu penuh dengan jadwal pemotretan dan modelling hingga sama sekali tidak pernah merasakan libur. Itu pun kalau dia libur, bukan di akhir pekan melainkan hari- hari biasa lainnya.
"Sophie?"
"Ah ya?"
"Aku bertanya, apa yang biasa dilakukan orang- orang di akhir pekan?"
"Oh. Biasanya mereka membuat barbeque"
"Hanya barbeque?"
"Tidak juga. Mereka berbicara, bercanda atau saling bertukar informasi"
"Bertukar informasi? Seperti infotainment?"
Sophie berusaha untuk tidak tertawa. "Tidak seekstrim itu. Hanya pembicaraan ringan antar keluarga"
Sejenak Kimberly terdiam lalu tersenyum. Entah mengapa, mendengar Sophie mengatakan kata keluarga, membuat perasaannya hangat.
"Kedengarannya menyenangkan" imbuhnya
Sophie bukannya tidak tahu perubahan itu. Dia sangat menyadari perubahan dari sikap dan tingkah laku Kimberly sejak pertemuannya dengan Jayce tapi Sophie juga merasa pernikahan yang mereka lakukan sangat tergesa- gesa. Mereka baru saja saling mengenal tapi langsung mengambil keputusan yang menurut Sophie sangat besar. Ikatan pernikahan.
"Apa kau bahagia?" Entah sudah berapa kali dia menanyakan pertanyaan yang sama pada sosok supermodel di depannya. Sekalipun jawaban yang diterimanya masih belum berubah tapi dia sangat berharap, suatu hari nanti dia akan melihat Kimberly yang lain.
"Aku bahagia, Sophie" jawab Kimberly, "kau terlalu mengkhawatirkan sesuatu yang tidak penting"
Tanpa diduga Sophie langsung berdiri dan menaruh kedua tangannya di pinggang. "Jadi aku yang mengkhawatirkanmu, tidak ada artinya dan tidak penting buatmu, begitu nona?" Omel Sophie sakit hati tapi justru membuat Kimberly terkikik.
"Kau berubah" ucap Kimberly disela tawanya, membuat Sophie memicing curiga.
"Oh, look who's talking. Kau yang berubah tapi justru menuduhku"
Tawa Kimberly semakin keras tapi justru menyurutkan amarah Sophie. Meskipun tidak setuju dengan hubungan Kimberly- Jayce tapi melihat gadis itu tertawa seriang ini membuatnya mau tidak mau ikut bahagia dan tertawa mengikuti gadis itu. Sophie baru saja akan duduk ketika melihat sosok yang dikenalnya datang mendekat kearah mereka dan tidak tanggung- tanggung langsung mengecup puncak kepala Kimberly.
"Apa kalian sudah menunggu lama?" Tanya Jayce hendak meraih tempat duduk disamping Kimberly ketika didengarnya Kimberly justru berseru dan memeluknya.
"Jayce!"
"Hai sayang, bagaimana harimu?"
Sophie hampir saja muntah mendengar ucapan Jayce yang terlalu berlebihan di telinganya dan semakin ingin mengeluarkan seluruh isi perutnya ketika menyusul ucapan Kimberly beberapa saat kemudian.
"Lama. Aku merindukanmu. Bagaimana harimu?"
"Sangat lama. Aku juga merindukanmu"
Oh. Sekarang Sophie ingin menghilang saja.
"Guys, ada rakyat sipil disini." Ucap Sophie seraya menunjuk dirinya sendiri, "aku rasanya ingin muntah"
Jayce baru saja ingin membalas ketika kembali mendengar kalimat Kimberly selanjutnya.
"Sophie baru saja putus dari Hans. Itulah sebabnya dia sering marah meskipun aku tidak mengerti apa hubungannya dengan kita." Kimberly mengucapkannya sambil berbisik tapi masih bisa terdengar oleh Sophie didepannya membuat wanita itu melotot.
Tawa Jayce hampir saja meledak ketika mendapati wanita itu justru melayangkan tatapan tajam kepadanya.
"Bukankah kalian memiliki jadwal akhir pekan yang menyenangkan? Kenapa kalian tidak pergi sekarang juga?"
Okey. Meskipun Kimberly tidak mengerti dimana letak kesalahannya tapi instingnya mengatakan kalau sebaiknya dia melakukan apa yang dikatakan oleh Sophie tadi sebelum terjadi sesuatu yang buruk padanya.
"Eh oh baiklah. Sampai nanti, Sophie" lalu Kimberly bangkit dari duduknya dan menyeret Jayce menjauh, meninggalkan Sophie yang berusaha mengatur napasnya kembali.
"Ada apa?" Tanya Jayce ketika mereka telah berada didalam mobil Jayce dan membantu Kimberly memasang seatbealtnya.
"Aku tidak tahu. Sophie sepertinya mengeluarkan aura menakutkan tadi. Apa kau tidak merasakannya?" Kimberly balik menanyai Jayce, menatapnya.
Kedua kening Jayce seketika saling bertaut, bingung.
"Kurasa hubungannya dengan Hans benar- benar parah hingga mereka putus." Lanjut Kimberly menerawang dan meledaklah tawa yang berusaha di tahan Jayce dari tadi seiring melihat raut wajah gadisnya.
***
Kimberly sering mendapati dirinya ditatap oleh orang lain tapi tidak pernah merasa ditatap seintens ini oleh seorang nenek. Entah berapa lama Barbara menatap Kimberly- mulai dari ujung rambut ke ujung kaki lalu kembali ke kepala.
Dia menoleh untuk melihat kearah Jayce lalu kembali melihat nenek Jayce kebingungan.
"Ayolah grandmere. Mau berapa lama grandmere menatap Kimberly seperti ini?" Tukas Jayce tidak sabar. Sebenarnya dia merasa risih ditatap seperti ini, tidak hanya grandmere tapi juga London yang nyengir dan Rhea yang menatapnya tidak suka.
"Jadi inikah wajah dari seseorang yang kau kenal itu?" Barbara menekankan kalimatnya pada kata seseorang yang kau kenal.
"Namaku Kimberly." Ucap Kimberly tersenyum.
"Bukankah kau seorang model?"
Kimberly tersenyum dan mengangguk. "Ya. Nyonya" jawab Kimberly sopan.
"Oh panggil saja grandmere, sayang. Kau sangat cantik dibanding semua foto- foto itu"
Kimberly semakin tersenyum sumringah. "Terima kasih, grandmere"
"Apa kami sudah diperbolehkan masuk?" Potong Jayce mulai merasa tidak nyaman dan langsung mendapatkan pukulan di lengannya dari Barbara.
"Dasar anak tidak sopan! Dimana letak sopan santunmu terhadap tamu" bentak Barbara pada cucunya.
Jayce memutar matanya, jengah. "Justru grandmere yang tidak sopan karena membuat kami berdiri didepan pintu dalam jangka waktu yang lama."
"Masuklah, sayang" ucap Barbara seraya mempersilahkan Kimberly masuk ke dalam rumahnya. "Jangan pedulikan anak nakal itu"
Kimberly tidak tahu harus membalas apa dan hanya bisa tersenyum dan mengangguk, masih dengan pandangan yang mengarah pada Jayce- yang saat ini sedang berbicara dengan London.
"Kau bisa memotong wortel dan bawang kan?" Tanya Rhea seraya membawa semangkuk besar berisi beberapa batang wortel, bawang dan beberapa sayuran lainnya. "Nah, potonglah itu. Kau nyaris tidak melakukan apapun sejak tadi." Lanjutnya langsung menaruh barang- barang itu kedalam dekapan Kimberly lalu pergi.
Di sisi lain, Kimberly terdiam ditempatnya, menatap wortel dan bawang bombay itu dengan bingung.
"Dia tidak mengatakan ukurannya. Apa aku harus memotong kecil- kecil atau besar ya?" Gumam Kimberly berpikir.
Tuk...
Tanpa diduga sebuah ketukan pelan mendarat di kepalanya dan tersenyum ketika mendapati Jayce berdiri disampingnya.
"Jayce!" Seru Kimberly senang.
Jayce terkekeh. Dia selalu saja menyukai cara Kimberly yang menyebut namanya. "Apa yang kau lakukan?" Tanyanya.
"Berpikir" jawab Kimberly terus terang membuat Jayce kembali terkekeh.
"Aku melihatnya. Sepertinya kau memikirkan sesuatu yang sangat gawat" canda Jayce yang langsung membuat Kimberly mengangguk. "Apa itu?" Sekarang Jayce benar- benar khawatir. Apa tadi grandmere bertanya yang macam- macam dengannya? Atau Rhea melakukan sesuatu yang tidak- tidak?
"Apa kau tahu bagaimana memotong bahan- bahan ini?" Kimberly memperlihatkan mangkuk berisi sayur- sayuran kepada Jayce, "aku bingung harus memotongnya seperti apa? Apakah harus kecil atau besar?" Tanya Kimberly kembali menampakkan wajah bingung.
Jayce terdiam. Tidak menduga kalau sesuatu yang sesederhana ini bisa membuat Kimberly seperti akan menghadapi perang besok.
"Kau yakin hanya itu yang kau pikirkan?" Tanya Jayce memastikan. Siapa tahu saja gadis itu tidak ingin memberitahunya.
Serta merta kedua dahi Kimberly bertaut, heran. "Apa ada sesuatu yang harus kupikirkan?"
Jayce terdiam lalu tidak lama kemudian tertawa seraya mengacak- acak rambut Kimberly.
"Tidak ada yang perlu kau pikirkan"
"Sekarang aku berpikir, aku paling benci kau melakukan hal ini pada rambutku" ucap Kimberly cemberut seraya merapikan rambutnya yang berantakan dengan sebelah tangannya yang bebas.
Jayce semakin tertawa tapi juga ikut memperbaiki setiap helaian rambut Kimberly. "Aku minta maaf. Akan kuperbaiki kembali" sahutnya sambil menyunggingkan senyumnya dan dibalas oleh Kimberly senyum yang sama.
Ditempat lain, Rhea mengenggam tomatnya hingga hancur tanpa sedikitpun mengalihkan tatapannya pada dua insan yang berdiri tidak jauh darinya. London dan Barbara juga tidak melewatkan kejadian didepannya tapi bedanya, jika London melihatnya dengan gelengan kepala karena melihat sisi lain yang tidak pernah Jayce perlihatkan pada gadis manapun termasuk Rhea maka Barbara lebih mengarah kearah curiga.
"London, apa kau tahu hubungan apa yang mereka berdua miliki?" Tanya Barbara yang langsung membuat London bergeming, tidak tahu harus menjawab apa.
Dia tentunya tahu hubungan apa yang terjalin diantara Jayce dan Kimberly tapi hanya Jayce yang bisa mengatakannya sementara dirinya tidak berhak mengatakan apapun termasuk pada Barbara ataupun Rhea.
***
Comments
Post a Comment