LOVE MISSION - 9

"Yang benar saja... tidak pernah berciuman katanya? Bohong."

"Tentu saja itu bohong. Dia tidak mungkin tidak pernah berciuman kan? Dia model. Tahulah bagaimana pergaulan model. Clubbing.... drinking... kissing dan mungkin saja itu tuh."

"Kurasa itu dia lakukan untuk menggoda Jayce. Tahu sendirilah Jayce orangnya seperti apa."

"Iya. Dasar wanita licik. Ternyata dibalik wajahnya yang cantik itu tersimpan kebusukan untuk menjerat para lelaki."

"Apa menurutmu ekspresinya selama ini hanya pura- pura?"

"Tentu saja. Bisa saja itu semua untuk menutupi sifat buruknya, iyakan?"

"Ya. Kau benar."

Kimberly baru saja menyelesaikan perkuliahannya ketika telinganya menangkap suara- suara sumbang yang menyebutkan nama Jayce didalamnya. Dia ingin datang menghampiri dan menanyakan hal itu ketika yang dilihatnya adalah tatapan tajam dari orang- orang yang membicarakannya.

"Ada apa dengan semua orang?" Kimberly bertanya dalam hati.

Sudah satu minggu berlalu sejak kepulangan Kimberly dari rumah sakit. Dan meskipun aktivitasnya sebagai model masih belum bisa dia lakukan karena pengaturan jadwal ulang yang dilakukan oleh Sophie tapi sebagai mahasiswi, Kimberly tetap menjalaninya dan sering datang ke kampus mengikuti perkuliahan dan tentu saja menemui Jayce.

Kimberly tidak mengerti kenapa Jayce cenderung sulit ditemukan sementara waktu pemotretan musim seminya tersisa beberapa minggu lagi. Bagaimana jika dia tidak sanggup hingga pada waktu yang ditentukan? Apa Sophie akan marah padanya, mengingat Sophie lah yang sangat antusias dalam pemotretan ini.

"Hai Kimberly." Mendadak tiga orang cowok menghampirinya ketika dia sedang berjalan. "Mau kemana?"

Kimberly sama sekali tidak mengenal mereka tapi karena ketiga cowok itu berada dalam kampus yang sama, Kimberly berkeyakinan kalau dia bukanlah wartawan dan wartawan tidak ada yang se-muda ini kan? Kebanyakan wartawan adalah pria tua dengan pakaian necis dengan kamera di dadanya tapi Kimberly sama sekali tidak menemukan kamera dimanapun.

"Apa kalian tahu dimana Jayce?"

Sejenak ketiganya saling berpandangan. Ada nada kagum ketika mendengar suara Kimberly tapi langsung dialihkan menjadi senyum penuh rasa ingin tahu.

"Apa kalian pacaran?" Tanya salah seorang diantara mereka dengan rambut yang sengaja di highlight orange.

"Pacaran?"

"Ya. Aku mendengar desas- desus tentangmu. Apa kau tidak pernah berciuman?"

Kimberly langsung mengangguk.

"Sama sekali tidak pernah?" Sejujurnya anggukan mantap Kimberly lah yang membuat mereka tercengang. Mereka tidak pernah menyangka kalau akan mendapat jawaban semudah itu.

"Ya." Lagi- lagi Kimberly mengangguk.

"Dan kau memilih Jayce menjadi orang pertama yang menciummu?" Kali ini laki- laki berambut pirang stroberi yang menanyainya. "Kenapa?"

"Aku tidak bisa memberitahumu. Maaf."

Ketiganya saling memandang dan bertukar senyum licik.

"Kau yakin bisa mengimbangi ciuman Jayce?"

"Eh?"

"Kau tahu bagaimana track record Jayce kan? Bagaimana kalau kami membantumu?"

Wow!.

Dalam hati Kimberly merasa beruntung. Apa ini akibat dari memakan sup jagung itu? Tidak hanya satu tapi juga tiga mendadak datang untuk membantunya. Dia tidak akan menyia- nyiakan hal ini.

Kimberly baru akan mengangguk ketika mendadak London muncul diantara mereka dan merangkul masing- masing pundak dari ketiga cowok itu.

"Aku tidak yakin Jayce akan menyukainya." London sengaja mengernyitkan hidungnya seakan menimbang kalimat selanjutnya. "Jayce tidak suka memiliki barang sisa." Mendadak ketiga cowok itu pucat, "dan jika dia tahu kau menganggu miliknya, aku ragu dia akan melepaskan kalian." Lanjutnya sarat akan makna.

"Eh...oh k-kami hanya bercanda. Kami tidak serius, iya kan Kimberly?" Si cowok orange mulai kelihatan ketakutan.

"Aku tidak yakin. Mereka seperti sangat ingin membantuku." Jawaban polos Kimberly kembali membuat mereka bertiga tercengang sementara itu London berusaha untuk tidak tertawa terbahak- bahak. Dari hal yang dipelajari tentang gadis yang berdiri didepannya ini, dia sama sekali tidak tahu bagaimana hidup berjalan seperti kelinci yang dilepaskan tapi malah terjatuh ke sarang buaya. "Apa Jayce akan keberatan jika orang lain membantuku?" Tanya Kimberly dengan wajah yang hampir membuat London meledak.

London sengaja berdehem, menyamarkan tawanya dengan batuk kecil sebelum mengangguk hikmat. "Dia mungkin akan langsung menolak untuk membantumu." Oh, tentu saja Jayce sudah menceritakan semuanya tentang permintaan sang model cantik padanya.

Sejenak Kimberly terdiam lalu matanya kembali menatap ketiga orang yang masih terdiam, mereka sama sekali tidak mengerti arah pembicaraan antara gadis itu dengan London.

"Aku minta maaf tapi aku tidak mau Jayce marah." Ujar Kimberly yang membuat London tidak tahan lagi.

"Pergilah dan jangan muncul lagi dihadapanku." Ancam London melepaskan ketiganya. Didepannya Kimberly melihat London dengan bingung.

"Kau tidak harus mengiyakan semua permintaan. Kau bahkan bukan santa claus." Ujar London.

"Aku tidak mengerti."

"Intinya jangan ikut orang asing."

Meskipun Kimberly masih bingung tapi dia mengangguk juga. "Terima kasih, London."

London mengendikkan bahunya, cuek. "Tidak masalah. Mereka memang selalu seperti itu, menggoda para gadis."

Kimberly menggeleng. "Bukan itu. Jayce mungkin akan sangat marah kalau tahu aku juga meminta bantuan orang lain. Terima kasih."

Kali ini London benar- benar melonggo. Dia mengacak rambutnya frustrasi sekaligus prihatin pada sahabat satu- satunya itu.

"Semoga berhasil, sobat." Guman London yang hanya didengar oleh dirinya sendiri lalu menoleh pada Kimberly yang masih menatapnya. "Ayo, kuantar kau ke Jayce."


Kening Jayce saling bertaut ketika melihat London datang bersama Kimberly. Dari raut wajah London, sudah jelas kalau sahabatnya itu sedang kesal akan sesuatu.

"Apa seseorang menghancurkan miniatur iron man mu?" Jayce tahu London sangat menyukai Iron man, London bahkan mempunyai selemari besar khusus berisi miniatur marvels favoritnya. "Kenapa wajahmu seperti ingin menghancurkan segalanya?" Tanya Jayce ketika London sudah mengambil tempat duduk didepannya. "Dan kenapa kalian bisa datang bersamaan?" Kali ini dia menunjuk Kimberly dengan pulpennya.

"Kau tidak akan mau mendengarnya." Satu kalimat yang langsung membuat Jayce mengerti. Dia tidak bodoh hingga tidak bisa mengerti maksud dari jawaban London tadi dan melihatnya datang bersamaan dengan Kimberly bisa sedikit menjelaskan apa yang menjadi penyebabnya.

Sementara itu Kimberly nyaris tidak bisa berkedip melihat penampilan Jayce sekarang. Berada didepan Macbook, pulpen di tangan kanan belum lagi kacamata yang bertengger di atas hidungnya benar- benar membuatnya semakin tampan. Ray mungkin pernah berpenampilan seperti ini tapi Kimberly tidak ingat kalau Ray memberikan dampak yang seperti ini padanya.

Ada apa dengannya? Apa dia harus mendiskusikan hal ini pada Sophie nanti? Kira- kira apa tanggapan Sophie?.

"Apa yang kau lakukan? Duduklah." Ucap Jayce yang langsung diikuti oleh gadis itu. "Kapan kau kembali?"

"Baru tadi." Kimberly mengucapkannya dengan nada biasa. "Ray menyuruhku menghubunginya jika aku sudah selesai disini." Lanjutnya tanpa memperdulikan tatapan melonggo London disampingnya.

"Kalau kau ingin bertemu dengannya, kenapa kau kemari?" Tanya Jayce ketus.

"Karena ada yang ingin kukatakan padamu. Beberapa minggu lagi pemotretanku akan dilakukan dan akan sulit bagiku jika tidak melakukan apa yang diminta."

"Sebenarnya konsep seperti apa yang akan kau lakukan? Kenapa tidak melakukan hal yang biasa kau lakukan saja?"

"Aku tidak tahu." Kimberly mengangkat bahunya. "Yang aku tahu Sophie yang mengurus semuanya."

"Wanita itu." Geram Jayce mengertakkan giginya.

"Kurasa maksudnya untuk melihat sisi lain dari Kimberly." Sahut London tiba- tiba. "Kau lihat sendiri kan, tidak ada satupun foto yang memperlihatkan kalau Kimberly tersenyum."

"Dan aku sama sekali tidak ada hubungannya dengan itu semua." Balas Jayce.

"Aku tidak mungkin mencari orang lain lagi dan kau juga berjanji akan menciumku jika aku bisa menghabiskan sup jagung tempo hari."

"Dia benar sobat. Kau sudah berjanji." Kekeh London yang langsung mendapat tatapan tajam dari Jayce. Kimberly sama sekali tidak terpengaruh dengan ucapan London disampingnya dan lebih fokus pada Jayce didepannya.

Jayce menurunkan kacamatanya, frustrasi. Baru kali ini dia merasa tidak bisa berkutik menghadapi seorang gadis.

"Oh iya. Aku mendengar rumor..."

"Jangan dipikirkan. Nanti juga hilang sendiri." Potong Jayce sebelum gadis itu menyelesaikan kalimatnya. Dia hanya tidak ingin gadis itu merasa terbebani dengan segala rumor tentang dirinya yang sebagian didominasi oleh kaumnya sendiri.

Sejenak Kimberly terdiam, menghembuskan napas panjang lalu menopang dagunya diatas kedua tangannya, sama sekali tidak menatap Jayce.

"Aku tidak suka mendengar mereka mengatakan hal yang buruk tentangmu padahal yang kau lakukan adalah membantuku." Ucap Kimberly lirih tapi baik Jayce maupun London masih bisa mendengar kalimat yang barusan diucapkan oleh gadis itu.

Hening.

Bahkan London merasa saat ini dia menahan napas.

"Bisakah kau menyelesaikan sisanya? Ada beberapa yang perlu pengecekan ulang." Jayce menatap London yang langsung mendapat anggukan dari cowok itu. "Ayo kita pergi." Jayce berdiri dari duduknya dan langsung meraih tangan Kimberly.

"Eh kemana?" Tanya Kimberly bingung.

"Melakukan apa yang kau minta."

"Eh, apa pada akhirnya kau mau melaksanakan janjimu? Menciumku?" Spontan Kimberly bertanya yang langsung mendapat jitakan kecil dari Jayce.

"Dasar bodoh. Apa kau pikir mencium semudah itu? Kita akan kencan."

Kedua mata Kimberly membelalak, kaget. Sebelum otaknya merespon semuanya tahu- tahu kembali tangannya digenggam oleh Jayce.

Sementara itu London menatap tak percaya sosok yang baru saja pergi dari hadapannya. Dia tidak pernah menyangka akan melihat momen ini dan terperangah karena hanya dia satu- satunya yang menyadarinya.

"Apa... dia... baru saja... tersenyum?"

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS