LOVE MISSION - 22

Harus Jayce akui, London memiliki pertahanan diri yang kuat. Jayce tahu London memiliki banyak pertanyaan dalam benaknya setelah ia menceritakan tentang pernikahan dadakan yang dilakukannya bersama Kimberly tapi yang pria itu lakukan hanyalah memandangi Jayce seakan Jayce baru saja di vonis oleh dokter mengidap penyakit lepra padahal sebelumnya Jayce tampak baik- baik saja.

Jayce membiarkan London mengumpulkan seluruh isi pertanyaan itu dalam kepala London. Toh, sebentar lagi sahabatnya itu akan meledak. Tinggal menunggu waktu yang tepat.

"Kau... menikah?"

Ini baru permulaan. Sebentar lagi.

"Sial Jayce! Apa yang sudah kau lakukan padanya?!"

Benar kan?

"Aku menikahinya" Jayce membalas tenang seraya tetap memperhatikan grafik penjualan mobil yang baru saja diluncurkan.

Selain London, tidak ada yang tahu kalau Jayce memiliki saham terbesar di perusahaan CW Automotif Inc. Dimana itu adalah bisnis di bidang penjualan mobil dan Jayce bekerja sebagai orang yang biasa menguji coba mobil- mobil baru sebelum di pasarkan. Tentu saja direktur utama atau dengan kata lain pemilik perusahaan masih tetap dipegang oleh Barbara Caldwell, grandmere dari Jayce sendiri mengingat kedua orang tua Jayce sudah meninggal dalam kecelakaan pesawat dua tahun yang lalu.

Barbara sebenarnya ingin Jayce mengambil alih perusahaan sepenuhnya, mengingat Jayce sudah hampir menyelesaikan studinya tapi Jayce berpikiran kalau lebih baik dia memulai dari awal. Itulah sebabnya baru setahun belakangan ini, dia aktif di perusahaan sekalipun hanya sebagai orang yang menguji coba produk.

"Apa kau menjebaknya?" Tanya London yang langsung membuat Jayce yang tadinya memeriksa mesin- mesin di tempat uji coba seketika menoleh.

"Menjebaknya? Apa maksudmu?"

"Kau menjebaknya hingga dia hamil. Itulah sebabnya kau memilih untuk menikahinya. Kau tidak mau Ray mengambil dirinya. Oh, Kimmy yang malang. Dia pasti merasa tersiksa padahal dia sangat baik, cantik, polos, punya tubuh yang aduhai dan kemungkinan dia juga rajin menabung... sayang sekali karirnya harus berhenti sampai di si..."

"Woh woh... "henti Jayce sebelum dia mendengar kalimat London selanjutnya. "Kimberly tidak hamil. Aku bahkan belum menyentuhnya sejak pernikahan kami dan hanya bisa menciumnya"

"Tunggu... kau belum menyentuhnya? Bagaimana mungkin? Bukankah kau bilang kalau kalian sudah mendaftarkan pernikahan kalian seminggu yang lalu?"

"Memang. Tapi asal kau tahu, manajernya itu membuatku kesulitan"

"Maksudmu Sophie? Dia mengetahuinya?"

"Tentu saja. Justru dia orang pertama yang diberitahu... jangan menatapku seperti itu. Tidak ada waktu untuk menceritakan semuanya padamu waktu itu"

"Baiklah. Aku akan berusaha melihat sisi lainnya paling tidak kau sudah mendapat hukuman dengan tidak bisa menyentuh istrimu hahaha" kelakar London tapi langsung berhenti ketika sesuatu tiba- tiba melintas dibebaknya. "Tunggu dulu... jadi itu berarti Kimberly masih perawan. Wow kau bajingan yang sangat beruntung"

"Intinya adalah Sophie tidak membiarkan aku dan Kimberly berada dalam satu ruangan yang sama dan dalam jangka waktu yang panjang, " lanjut Jayce mengindahkan kalimat terakhir London. "Dia selalu berada di dekat Kimberly seperti anak ayam dengan induknya" cerita Jayce yang serta merta membuat London tertawa.

"Tapi dia tidak mungkin mengikuti kalian sampai ke dalam kamar kan?"

"Kau akan terkejut jika kuberitahu kalau dia tidak ingin aku dan Kimberly tinggal bersama"

"Wow, " London bersiul kecil. "Aku memang terkejut dan apa alasannya?"

"Dia tidak mau kalau paparazzi memergoki kami"

Sekali lagi London bersiul kecil. "Pasti berat buatmu" ujar London prihatin. "Kau sudah mengklaim dirinya sebagai milikmu tapi belum bisa memiliki Kimberly seutuhnya tapi satu hal yang membuatku penasaran, kenapa tiba- tiba kau memutuskan untuk mendaftarkan pernikahan kalian dan bukannya mengadakan pesta?"

"Waktu itu aku tidak bisa berpikir dengan jernih. Aku tidak suka ketika Kimberly mengatakan kalau selama dia tidak bertemu denganku. Dia justru bersama si Rios itu..."

"Tunggu, maksudmu Ray? Adik Sophie?" Jayce mengangguk. "Jadi kau cemburu padanya hingga langsung memutuskan untuk mendaftarkan pernikahanmu. Wah, ini seperti bukan dirimu, sobat"

"Aku tahu, "Jayce kembali mengangguk. "Satu- satunya orang yang selalu membuatku tidak dapat berpikir dengan baik hanya dirinya. Aku juga tidak suka ketika dia menghindariku hanya karena Rhea melihat kami"

"Kau mencintainya"

"Ya. Dan kurasa perasaanku padanya jauh lebih besar dibandingkan apa yang dulu kurasakan ketika masih bersama Rhea"

"Wow. Ini kali pertama aku melihat sisimu yang ini. Tidak juga ketika kau meminpin sebuah rapat tapi ini jauh lebih kuat. Kurasa Barbara akan senang hati memberikan kepemimpinan perusahaan padamu"

"Dan meninggalkan kesenangan menaiki mobil- mobil baru ini sebelum orang lain? Tidak akan!"

"Kau bahkan bisa memiliki semuanya. Kau pewaris tunggal dari perusahaan ini. Tidak hanya bekerja sebagai penguji, kau bahkan bisa memilikinya"

"Terima kasih"

"Sama- sama. Intinya adalah sudah saatnya dunia tahu siapa kau sebenarnya"

"Aku tidak tertarik"

London mengerang dalam hati tapi justru membuat Jayce tertawa. Bukan sekali ini dia mendengar London mengusulkan hal itu. Mengambil alih tampuk kepemimpinan di perusahaan ini. Tidak hanya London, neneknya yaitu Barbara dan Rhea pun turut serta menyuruhnya hal yang sama.

Jayce menyukai kecepatan dan dia tidak suka hanya diam di tempat sambil memeriksa beribu- ribu kertas diatas mejanya. Lagipula alasan kenapa dia ditunjuk jadi ketua senat dulu karena beberapa dekan mengetahui jati dirinya yang asli dan tidak ada yang bisa diperbuatnya, belakangan dia tahu kalau Barbara lah yang berperan dalam hal menjebaknya itu. Barbara hanya ingin melihat bagaimana Jayce memimpin suatu organisasi dan puas ketika mengetahui bahwa cucunya itu sangat bisa diharapkan tapi meskipun begitu, Jayce masih menolak untuk duduk di lantai paling teratas di perusahaan ini, menggantikan Barbara dan masih memilih bekerja sebagai karyawan biasa.

"Aku harap Kimberly bisa mengubah jalan pikiranmu"

Jayce terkekeh, "terlalu berharap bisa membuatmu jatuh, sobat"

London baru saja akan membalas kalimat Jayce ketika mendengar suara tegas yang sangat dikenalnya dan serta merta membuat baik ia maupun Jayce menoleh ke sumber suara. Menampilkan Barbara yang berdiri dengan kening yang terangkat. Sementara itu, disamping Barbara berdiri Rhea yang sedang memberi Jayce tatapan paling tajam yang dimilikinya.

"Kimberly? Siapa dia?"

Oh, bagus!

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS