LOVE MISSION - 36
"Sebenarnya apa yang terjadi dengan kalian berdua?"
Untuk sesaat Jayce terpaksa mendongak dari berkas yang di tanda- tanganinya ke London yang memberinya tatapan marah sekaligus bingung.
"Jangan tanyakan apapun," jawab Jayce kembali melihat berkas dihadapannya.
"Jadi aku harus bertanya pada siapa?" Seru London mengejek, "pada rumput yang bergoyang atau pada kebisuanmu saat ini? Demi Tu..."
Brakkk.
Mendadak Jayce membanting semua barang- barang diatas meja dan berdiri sembari memegang kerah London.
"Apa kau sudah puas bertanya?" Nada Jayce sangat dingin penuh intimidasi. "Sudah kubilang untuk tidak bertanya?"
Siapapun yang mendengar dan melihat Jayce saat ini pasti akan berpikir dua kali untuk tidak mencari masalah dengannya. Kedua kantong mata Jayce terlihat menghitam, memperlihatkan kalau pria itu tidak pernah tidur. Belum lagi emosinya yang selama hampir tiga hari ini terlihat tidak stabil semakin menyakinkan hal itu.
London baru saja pulang dari mengunjungi klien di denmark ketika mengetahui kabar ini dari Barbara dan Rhea. Menurut mereka, Jayce mulai terlihat aneh semenjak dari undangan amal yang selalu dikunjungi Jayce dan keluarganya dulu. Barbara juga mengatakan kalau waktu itu mereka datang bersama dengan Kimberly-sesuatu yang membuat London bingung karena Barbara mengatakan kalau gadis itu sudah tampak tidak senang ketika ia menginjakkan kakinya disana.
"Dan sudah kubilang juga," London menyentak kedua tangan Jayce dengan keras, membuatnya terlepas. "Pada siapa aku bertanya." Sambungnya. Hanya London yang bisa dengan berani membalas setiap kalimat yang dilontarkan Jayce padanya. Dia sudah menerka ada yang terjadi antara sahabatnya itu dan Kimberly karena tiap kali Jayce memiliki masalah dengan yang namanya pengendalian diri, sudah sangat jelas kalau itu memiliki hubungan yang sangat erat dengan sang supermodel atau istri dari sahabatnya itu.
"London," ujar Jayce lambat- lambat setelah mengusap wajahnya sangat lama. "Apa yang harus kulakukan?"
London memperhatikan wajah Jayce lebih lama dan tanpa sadar mendesah. "Kita perlu duduk dan mendengarkan semua kisahmu." Jawab London ikut merasa frustrasi.
Setelah mereka berdua duduk, meluncurlah cerita Jayce yang semakin kedalam semakin membuat matanya terbelalak tidak percaya.
"Kau yakin dia mengatakan hal itu?" Tanya London setelah Jayce bercerita padanya.
"Apa kau pikir aku mengada- ada?" Jayce membalasnya dengan tersinggung tapi ikut merasakan beban atas kebingungannya selama beberapa hari ini ikut terangkat. "Kimberly sendiri yang mengatakan selamat tinggal dan ingin berpisah padaku."
"Tapi itu tidak mungkin," London masih belum bisa mempercayai apa yang didengarnya barusan. "Kalian terlihat seperti well, sangat menyukai satu sama lain."
Sejenak Jayce mengernyit. "Kau seperti perempuan ketika mengatakan kalimat tadi."
"Yeah, jangan pikir aku tidak jijik ketika mengatakannya." Balasnya membuat keduanya kompak terkekeh dan hal itu ikut membuat ketegangan yang sempat terasa seakan ikut terangkat. "Dan apa yang kau lakukan?"
"Memang apa yang harus kulakukan?" Balasnya kembali marah. "Mendadak Kimberly terlihat marah padaku, aku bahkan kaget ketika melihatnya menangis."
"Kimmy menangis? Wow sobat, kau bisa diseret menggunakan truk jika ketahuan fansnya."
Jayce memutar matanya mendengar kalimat London yang sangat berlebihan itu.
"Aku serius bahkan dengan adanya rumor diantara kalian berdua saat ini, sepertinya itu akan semakin membuatmu berada dalam posisi yang sulit."
"Rumor? Rumor apa?" Jayce menatap London dengan bingung yang dibalas laki- laki itu dengan kembali terbelalak.
"Apa kau tidak membaca koran pagi tadi?" Jayce menggeleng membuat London menepuk jidatnya keras. "Sebenarnya apa yang kau lakukan seharian ini? Mempelajari dan menandatangani berkas?"
"Itu yang kulakukan." Jawabnya membuat London kembali menepuk jidatnya. "Tidak ada gunanya kau memukul kepalamu seperti itu, toh kau tidak akan berubah menjadi Einstein."
"Kaulah yang bodoh disini." Sergah London tidak terima, "seharusnya otakmu itu kau gunakan. Pantas saja Kimberly ingin pergi darimu." Lanjutnya disusul tendangan tanpa bayangan dari Jayce, membuat London seketika tersungkur dari sofanya. London tidak mau mengalah begitu saja. Ia bangkit, menarik Jayce dan menjepit leher Jayce pada sebelah lengannya, menguncinya.
"Kau ingin membunuhku, ya?"
"Ya. Dan aku akan memiliki Kimberly seutuhnya hahahaha."
"Kau akan mati setelah ini."
"Akan kita lihat."
Dan keduanya kembali bergulat, membuat meja dan kursi semakin berantakan.
"Oh Tuhan!" Pekik suara baru saja muncul. Baik Jayce dan London sama- sama menoleh ke sumber suara yang ternyata adalah Rhea. "Apa yang sedang kalian lakukan?" Kedua mata Rhea masih terbelalak ketika melihat pemandangan didepannya bahkan Jayce dan London pun terlihat sangat berantakan.
"Apa yang kau inginkan, Rhea?" Jayce bertanya malas. Dia masih belum bisa melupakan kelakuan gadis itu di malam kedatangan Kimberly. Memikirkan kembali gadisnya, membuat Jayce merasakan perasaan rindu yang sangat dalam.
"Akan kuambilkan obat." Ujar Rhea yang tidak ditanggapi oleh Jayce. Selang beberapa menit kemudian Rhea datang sambil membawa kotak obat dan baru akan membukanya ketika Jayce menolak.
"Aku akan melakukannya sendiri. Obati saja London."
Sejenak Rhea menghela napasnya lalu beralih pada London yang memilih untuk tidak ikut campur masalah mereka berdua. Tidak ada yang saling berbicara diantara mereke hingga Rhea selesai mengobati wajah London.
"Aku akan kembali ke Sydney."
"Baiklah. Hati- hati."
Sekuat tenaga Rhea berusaha menahan perasaannya tapi tidak bisa dan tanpa sadar ia sudah menangis, hal itu membuat Jayce seketika menjadi luluh dan membawa Rhea dalam pelukannya.
"Apa kita tidak bisa seperti dulu, Ace?" Tanya Rhea lirih.
"Kita mungkin masih bisa bersahabat tapi kau tahu itu tidak akan menjadi sama seperti yang kau miliki saat ini. Perasaan yang kurasakan padamu sudah tidak ada lagi."
"Kukira perasaan yang kau miliki pada model itu hanya sementara."
Jayce tersenyum menanggapi membuat Rhea terpaksa mendongak supaya bisa melihat wajah pria dihadapannya. Dalam hatinya terbersit perasaan menyesal, kenapa ia dulu tidak menyadari perasaannya.
"Kau cantik, Rhea," ujar Jayce lembut sembari memperbaiki helaian rambut Rhea. "Meskipun keras kepala dan menyebalkan tapi aku yakin masih banyak pria di luar sana yang akan melirikmu."
"Tapi itu bukan kau?"
Jayce kembali tersenyum. "Ya. Itu bukan aku. Hubungan kita sudah berakhir sejak lama. Sekarang yang kulihat hanya Kimberly dan sekarang telah menjadi istriku."
"Aku masih belum percaya kalau kau sudah menikah. Kau terlalu cepat memutuskan untuk menjadikan dia milikmu."
Sesaat Jayce mengendikkan bahunya, tidak mempercayai jalan pikirannya kala itu. "Kurasa dari awal pertemuan kami, dia sudah mengambil sebagian dari diriku."
"Kurasa dia akan terus tidak menyukaiku."
"Kimberly bukan tipe orang yang akan menyimpan dendam terlalu lama. Dia tipe orang yang cenderung mengatakan apa yang ada dalam pikirannya dan juga dirasakannya."
"Kau memang mencintainya."
"Sangat mencintainya."
"Kalau begitu, sudah tidak ada yang bisa kulakukan, iya kan Ace?"
Jayce mengangguk.
"Kalau begitu sudah sepantasnya aku pergi." Ucapnya seraya melepaskan dirinya dari rangkulan Jayce.
"Selamat tinggal, Rhea."
"Selamat tinggal, Jayce." Untuk pertama kali, Rhea memanggil nama Jayce secara utuh. Dia tidak ingin menyimpan nama itu lagi di dalam hatinya dan kepergiannya kali ini bukan lagi kepergian akan kemenangan seperti yang pernah ia lakukan, ia sudah kalah dan kekalahannya kali ini yang sangat disesalinya. Ia bahkan berani bertaruh kalau ia akan tetap mengingat hal ini agar tidak membuat keputusan egois yang bisa kembali menghancurkannya.
Jayce memijit pelipisnya yang mulai terasa sakit ketika kembali mendengar suara London di belakangnya dan mengernyit ketika melihat sahabatnya itu sedang memberinya pandangan penuh arti tanpa meninggalkan jejak senyum di wajahnya.
"Kalau aku jadi Kimberly, aku pasti akan mempercepat proses perpisahanku denganmu."
"Aku beruntung kau bukan Kimberly," balas Jayce seraya mengambil tempat duduk dihadapan London dan mengambil beberapa obat dari dalam kotak obat yang terletak diatas meja yang kakinya sudah patah satu. Untung saja dia pemilik perusahaan ini jadi kerusakan bukanlah perkara sulit, mungkin dia hanya perlu sedikit memberikan penjelasan atas kerusakan barang yang terjadi di dalam ruang kantornya pada Barbara. "Jadi rumor seperti apa yang tadi kau ingin bicarakan?"
Sekilas ia melihat London mengambil kembali koran yang terlihat kusut disampingnya dan membentangkannya dihadapan Jayce.
"Ini..."
"Sudah kuduga ini kau," ujar London menganggukkan kepalanya layaknya seorang detektif yang telah berhasil memecahkan kasus. "Apa yang akan kau lakukan selanjutnya?"
Tidak ada jawaban.
"Kalau tidak salah, aku tadi mendengarmu mengatakan hal ini pada Rhea kalau Kimberly tipe orang yang cenderung mengatakan apa yang ada dalam pikirannya dan juga dirasakannya," kedua mata Jayce terbelalak. "Terlepas dari apa yang disembunyikan oleh Kimmy. Sebaiknya kau mulai mencari tahu tapi sebelumnya apa yang akan kau lakukan untuk meminimalis rumor ini?"
Jayce dan London saling menatap lama.
"Kurasa sudah saatnya, aku memberitahukan pada publik."
London tersenyum. "Aku setuju."
***
Comments
Post a Comment