LOVE MISSION - 16

"Jadi bagaimana?" London segera memborbardir sahabatnya sekembalinya Jayce ke rumahnya. "Kau benar- benar menginap di rumahnya?" Tanya London penasaran.

"Hm" Jayce mengangguk seraya membuka pintu rumahnya diikuti oleh London dibelakang.

"Terus?"

"Terus apanya?" Tanyanya seraya membuka pintu kamarnya setelah itu membuka baju yang dikenakannya semalaman dan masuk ke kamar mandi.

"Terus apa yang terjadi?" Teriak London lalu naik ke atas kasur Jayce dan mengutak- atik game milik Jayce yang memang berada diatas meja samping tempat tidur.

"Tidak ada yang terjadi." Jayce menjawab setelah keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih basah.

Dia lalu mengambil kaos serta celana pendeknya yang langsung segera dikenakannya kemudian melangkah untuk membaringkan tubuhnya setelah sebelumnya menendang tubuh London untuk memberinya tempat. Dia meraih selimutnya dan mulai akan menutup matanya ketika didengarnya kembali London bertanya.

"Kau mau tidur?"

"Tidak. Aku akan mati. Sekarang keluarlah." Ketus Jayce. Dia sangat amat mengantuk setelah semalaman dia nyaris tidak bisa tidur.

London terkekeh pelan. "Kau sepertinya bersenang- senang semalam."

"Aku lebih senang mengatakan sebagai pembodohan."

"Jadi dia benar- benar hebat diatas tempat tidur?"

Masih dengan mata tertutup Jayce berguman mengiyakan.

"Wow... dan kau hanya melihat?"

"Memang apa lagi yang harus kulakukan? Melarang mereka?"

Kedua kening London bertaut. "Kau tidak ikut dengan mereka?"

"Ikut."

"Wow." London tidak bisa memungkiri kalau dia takjub dengan itu khususnya pada supermodel yang satu itu.

Dalam hatinya terbersit penyesalan yang sangat dalam kenapa dia juga tidak ikut bersama Jayce. Paling tidak dengan ikut sertanya dia, dia juga bisa ikut mencicipi.

"Dan Kimberly menikmatinya?" London tidak bisa berhenti memborbardir Jayce dengan pertanyaan- pertanyaan yang sejak semalam berusaha ditahannya.

"Tidak ada gunanya melarang mereka."

"Kalian bertiga benar- benar melakukannya?" Tanya London yang langsung membuat Jayce dengan terpaksa membuka matanya kesal.

"Ya. Dan berhentilah mengulang hal yang sama setiap kalinya." Geram Jayce tidak tahan.

"Kalian benar- benar melakukan threesome?"

Apa?.

Butuh tiga menit penuh bagi Jayce untuk mencerna semua percakapan mereka hingga Jayce mengerti dan langsung menendang London, jatuh dari tempat tidurnya.

"Aduh." London meringgis ketika sikunya justru membentur sisi kursi lebih dulu.

"Apa katamu? Threesome? Kau pikir aku pria seperti apa? Sekarang keluar!" Jayce bangkit dari tempat tidurnya dan menyeret London keluar. London dengan sigap langsung menahan pintu kamar Jayce sebelum pemiliknya tertutup.

"Tunggu... jadi apa yang kau lakukan semalaman disana? Dan kenapa kau terlihat sangat mengantuk dan... kelelahan?"

"Tentu saja aku mengantuk dan kelelahan. Mereka berdua memaksaku untuk ikut main UNO bersama mereka semalam suntuk."

"Jadi, ucapan Kimberly yang mengatakan kalau Ray pintar diatas ranjang itu... UNO?"

"Ya!"

Detik selanjutnya London mulai tertawa terbahak- bahak dan itu membuat Jayce semakin jengkel hingga langsung mendorong pria itu keluar dan menutupnya di depan hidungnya sendiri tapi itu tidak membuat London menghentikan tawanya dan bahkan semakin menjadi- jadi. Bisa dipastikan kalau ini akan menjadi bahan tertawaan London selama berhari- hari.

Jayce kembali ke tempat tidurnya dan hendak akan menutup matanya ketika ingatan tentang semalam kembali terngiang dalam benaknya.

Semalam dia melihat lagi sisi lain dari seorang Kimberly Moss. Kimberly tampak seperti gadis pada umumnya. Jayce bahkan sempat melupakan kalau gadis itu adalah supermodel, dia bahkan tidak segan- segan menampilkan ekspresi cemberut ketika harus dihukum dengan ditempelkan berbagai macam stiker di wajahnya.

Hanya Kimberly dan Ray yang berada diatas tempat tidur sementara Jayce hanya diperbolehkan duduk diatas kursi yang dengan sengaja dipersiapkan oleh Ray.

Awalnya Jayce mengusulkan agar mereka bermain di ruang tengah saja, diatas sofa tapi Ray menolak dan mengatakan kalau dia tidak suka mengalami kekalahan apalagi jika itu di depan Jayce sendiri. Sesuatu yang bahkan otak Jayce sendiri tidak mampu menalar sampai kesitu. Lagipula siapa yang akan peduli dengan kekalahan kartu UNO apalagi diatas tempat tidur?

Tidak ada.

Dan jadilah mereka bertiga bermain. Jayce tidak sering mendapatkan hukuman karena dia cukup mengerti ketika pertama kali dijelaskan tapi tidak dengan Kimberly. Entah gadis itu memang sial atau memang dia tidak tahu tapi dia selalu saja kalah. Itulah yang membuat dia menjadi bahan bulan- bulanan Ray.

Baru ketika jam 3 pagi, mereka berhenti tapi ketika Ray akan memutuskan kalau dia akan tidur dengan Kimberly, dengan tegas Jayce menolak dan justru menyeret Ray keluar dari kamarnya sendiri. Meninggalkan Kimberly yang kebingungan.

Tapi ketika lampu di ruang tengah mati, Ray memilih untuk tidur diatas sofa yang bersisian dengan Jayce ketika pembicaraan menjelang subuh mereka terjadi.

"Kusarankan agar kau tidak mendekatinya lagi, Caldwell." Ucap Ray datar tanpa memandang Jayce sama sekali.

"Kita tidak sedekat itu hingga membutuhkan saran, bukan?" Balas Jayce dingin. Dia tidak suka jika ada orang yang harus menyuruhnya melakukan sesuatu yang bahkan dia sendiri bisa memutuskan.

"Aku tidak main- main mengatakan itu, Caldwell."

"Aku pun begitu." Balasnya menutup matanya tapi tetap waspada.

Tidak ada diantara mereka yang bersuara ketika kembali Ray berkata.

"Aku tahu alasanmu kemari."

Mau tidak mau Jayce tersenyum. Senyum yang mengejek. "Aku akan terkejut jika kau bahkan tidak dapat mengetahui alasanku."

Ray mendengus kemudian ikut tersenyum mengejek.

"Kau takut aku berbuat yang tidak- tidak padanya."

"Jika pacarmu tiba- tiba mengatakan dia akan bersama seorang laki- laki lain meskipun dia mengatakan dia mengenal laki- laki itu. Kau tentunya tidak akan membiarkannya, bukan?"

"Jadi kau sudah menyatakan kalau dia milikmu, huh?"

"Kau sudah melihat cara dia menatapku. Akuilah itu, Rios."

Ray terdiam.

Tentu saja dia melihat itu. Kimberly menatap Jayce seperti hanya dialah yang berada didepannya. Dia lebih leluasa menampilkan ekspresi di wajahnya yang bahkan sangat sulit diperlihatkannya dan yang lebih penting, ada kalanya gadis itu menyunggingkan senyumnya lebih tulus.

Di sisi yang lain, Jayce sangat berharap apa yang dikatakannya tadi benar tapi sangat sulit menebak apa yang dipikirkan gadis itu beserta dengan ekspresi di wajahnya jika nyata- nyata ada laki- laki lain yang juga dekat dengannya dan memiliki perasaan yang sama seperti dirinya.

Berbicara tentang perasaanya. Entah sejak kapan dia memiliki perasaan seperti ini pada lawan jenis. Dulu ketika bersama Rhea, perasaannya tidaklah seposesif ini. Dia membiarkan Rhea melakukan apa yang ingin gadis itu lakukan. Dia bahkan dengan mudah melepaskan gadis itu untuk meraih keinginannya di Aussie yang bahkan Jayce sendiri tahu kalau Rhea tidak akan berada di dekatnya dalam jangka waktu yang lama.

Hingga tak terasa matahari telah menampakkan dirinya dan baik Jayce maupun Ray sama- sama tidak ada yang bisa memejamkan matanya karena pemikiran mereka masing- masing.

"Ah sial, aku perlu tidur untuk menjernihkan pikiran ini". Rutuk Jayce semakin merekatkan selimutnya ke tubuhnya dan terlelap.

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS