LOVE MISSION - 34

"Apa kau bisa tidak terlalu akrab dengan Rhea lagi?"

Jayce tidak bisa menampik kalau dia sedikit terkejut dengan apa yang baru saja keluar dari bibir gadisnya. Apa gadisnya begitu tidak suka dengan Rhea hingga...

"Apa- apaan dia?! Jayce, jangan turuti dia," mendadak Rhea mendekat kearah Jayce dan Kimberly dan menatap Kimberly dengan sengit. "Kau tidak berhak menyuruh Jayce apa yang tidak dan bisa dia lakukan," tunjuk Rhea dihadapan Kimberly langsung. "Siapa kau hingga..."

"Rhea! Hentikan!" Jayce mendadak menghentikan Rhea dan berpaling agar bisa menatap wajah Rhea yang sudah merah padam karena amarah. "Apa yang sebenarnya kau lakukan Rhea?" Tanya Jayce langsung.

"A-apa? T-tidak Jayce. Maksudku bu- bukan i- itu."

"Aku mengerti maksudmu dengan jelas." Jayce membalas sengit.

"Tapi dia," Rhea masih tidak terima dan justru menunjuk Kimberly dengan jarinya. "Dia sama sekali tidak berh..."

"Kimberly istriku," potong Jayce. "Aku sudah sangat jelas mengatakan itu padamu dulu."

"A-a-apa?"

"Aku sudah menjelaskan padamu apa arti Kimberly untukku dan kau mengatakan ingin tetap menjadi temanku sekaligus rekan kerja tanpa kau harus melibatkan perasaan," ujar Jayce frustrasi. "Aku menghargaimu, Rhea sama halnya dengan menghargai grandmere yang memintaku menjadi partnermu tapi yang kau lakukan tadi itu tidak bisa ditolerir. Kau sudah melibatkan perasaan didalamnya. Seharusnya sejak awal aku sudah memikirkan apa yang akan dipikirkan oleh Kimberly jika melihatku denganmu."

Jayce mengusap wajahnya, tidak tahu apa yang harus dilakukannya saat ini ketika merasakan sebelah tangannya disentuh oleh seseorang dan menoleh ketika mendapati Kimberly lah yang melakukannya, ketika kembali mengernyit ketika mendengar apa yang kemudian keluar dari bibir istrinya.

"Aku tidak ingin meminta maaf," ucap Kimberly tepat dihadapan Rhea. "Dan aku juga tidak ingin membagi Jayce dengan siapapun." Lanjut Kimberly seraya melepaskan tangannya dari tangan Jayce dan berpaling pergi, meninggalkan Rhea yang syok dan Jayce yang tidak tahu harus berkata apa. Dia terlalu kaget ketika melihat gadis itu pergi dengan menghentakkan kakinya.

Entah berapa lama Kimberly berjalan menelusuri jalan yang sepi dan sedikit penerangan. Dia juga tidak tahu kemana langkahnya membawanya ketika beberapa pemuda bertampang preman dengan rokok di masing- masing tangan mereka mencegat langkahnya.

"Wah ada gadis cantik disini. Apa yang kau lakukan disini, cantik?" Salah satu dari orang yang bertampang preman itu dengan senyum culas dibibirnya menanyainya.

"Aku tidak mengenalmu. Minggir." Ucap Kimberly dingin.

"Wah bahkan suaranya pun terdengar sangat merdu. Bagaimana kalau kita bersenang- senang, manis?"

Untuk beberapa saat Kimberly menoleh ke kanan- kirinya.

"Apa yang kau lakukan?" Salah satu dari mereka ikut bertanya ketika Kimberly hanya menoleh ke kanan- kirinya.

"Aku sedang mencari kucing."

"Kucing?"

"Ya. Si manis yang tadi kau katakan."

Hening selama beberapa saat ketika mendadak terdengar gelak tawa diantara pria itu.

"Dia lucu sekali pasti menyenangkan kalau dia menghabiskan malam ini bersama kita," si senyum culas kembali berkata.

"Ya, kau..."

"Aku menolak." Potong Kimberly langsung. "Aku tidak mengenal kalian, aku juga tidak dalam suasana hati yang baik saat ini." Lanjutnya semakin membuat mereka tertawa.

"Kami bisa memperbaiki suasana hatimu, sayang." Teman si senyum culas langsung memegang sebelah tangan Kimberly, membuat Kimberly mengernyitkan dahinya. Kimberly baru saja akan menyentakkan tangannya ketika ia merasakan aura dingin dibelakang tengkuknya.

"Kuperingatkan. Lepaskan tanganmu darinya sekarang juga."

Suara dingin itu semakin kentara ketika Jayce muncul dari dalam kegelapan dan menatap tajam ketiga pria itu dengan sengit.

"Siapa kau? Dia milik kami jika kau.." kalimat pria itu berhenti seiring Jayce yang menghentakkan tangannya agar terlepas dan membawa Kimberly ke samping tubuhnya sementara sebelah tangannya dilingkarkan di pinggang Kimberly.

"Dia istriku dan jika salah satu dari kalian masih ingin tangan kalian tersambung di tempatnya, maka menyingkirlah dari tempat ini segera."

"Oh baiklah. Ternyata ini pertengkaran suami- istri. Kami tidak ingin terlibat lebih jauh. Ayo kita pergi." Seru suara yang lain menyuruh teman- temannya pergi.

Baik Jayce maupun Kimberly tidak ada yang berbicara selama beberapa menit. Keduanya sibuk dengan pikiran masing- masing ketika Kimberly melepaskan tangan Jayce dari pinggangnya. Dia baru saja akan melangkah ketika tangannya kembali ditarik hingga mau tidak mau sekarang posisinya berada dalam pelukan tubuh Jayce.

"Masih marah?"

Kimberly mengangguk. "Ya?"

Jayce tersenyum seraya mengecup puncak kepala Kimberly dengan lembut kemudian menghirup aroma gadis itu.

"Aku minta maaf," ucapnya lirih. "Aku tidak sadar kalau aku sudah menyakiti hatimu."

"Kau memang menyakiti hatiku," Kimberly menimpali setuju sementara kedua matanya menatap mata Jayce. "Aku benar- benar tidak suka melihat kau dicium olehnya."

Tanpa peringatan, Jayce melayangkan bibirnya ke bibir Kimberly. Menyesap bibir itu dengan lembut kemudian ketika Kimberly membuka mulutnya sedikit, Jayce memasukkan lidahnya ke dalam bibir manis yang menjadi candunya. Kedua tangan Kimberly juga secara otomatis berpindah dari pinggang Jayce menuju leher Jayce. Entah berapa lama mereka dalam posisi seperti itu ketika keduanya mengerang karena intensnya ciuman mereka.

"Aku sangat mencintaimu, sayang dan aku minta maaf karena kau harus melihat kejadian tadi." Ucap Jayce lirih setelah melepas pagutan mereka kemudian melayangkan ciumannya ke kening, kedua mata dan hidung Kimberly.

"Aku juga mencintaimu, Jayce dan aku tidak suka berbagi dengan orang lain." Tegas Kimberly mengancam.

Jayce terkekeh. "Itu baru wanitaku. Aku juga tidak suka membagimu dengan siapapun," Kimberly mengernyit tidak mengerti dengan maksud ucapan Jayce barusan ketika pria itu kembali mengecup bibirnya. "Aku merindukan istriku jadi apa kau ingin menginap denganku?" Tawarnya menggoda.

"Tentu." Kimberly membalas dengan senyum di bibirnya.

Sementara itu, tidak jauh dari mereka seseorang tersenyum penuh kemenangan melihat hasil gambar yang tak pernah diduganya akan dia dapatkan di malam seperti ini.

"Ini akan menjadi berita ekslusif di seluruh media. Kimberly Moss, sang model yang karirnya sedang menanjak dan... Jayce Caldwell, calon penerus perusahaan terkenal masa depan."

***

Kimberly terpaksa harus menjauhkan benda persegi empat itu dari telinganya ketika Sophie dengan keras hingga berteriak merutuki kebodohan Kimberly yang kabur dari hotel di Milan.

"Dasar bodoh! Apa yang sebenarnya ada didalam otakmu? Bisa- bisanya kau memutuskan untuk pergi seorang diri hanya karena pria lain!"

"Hei pria lain yang kau sebutkan itu ada disini. Sedang mendengarkanmu mengoceh." Seru Jayce tersinggung. Kimberly terpaksa mengaktifkan speaker phone-nya karena tidak tahan mendengar suara Sophie yang selalu berteriak di telinganya dan mengikik geli mendengar interaksi antara Sophie dan Jayce pagi ini.

"Memang aku peduli! Kembalikan Kimberly sekarang juga. Apa kau tidak tahu seberapa penting fashion show ini untuk Kimberly?!"

Jayce memalingkan wajahnya pada Kimberly disampingnya. Gadis itu tersenyum, sangat cantik dan Jayce tidak tahan untuk tidak mencicipi rasa bibir itu lagi. Diraihnya tengkuk Kimberly dan menciumnya, tidak seperti semalam tapi cukup membuat Kimberly kaget dan nyaris limbung jika saja Jayce tidak menahan tubuh gadis itu untuk tidak jatuh.

"Oh demi Tuhan, Jayce! Bisakah kau membiarkan Kimberly untuk beberapa saat? Aku tahu apa yang kau lakukan padanya, asshole! Dan jangan kira karena aku tidak melihat, kau bisa melakukan apapun padanya!"

Jayce terkekeh. "Tidak ada yang salah dengan memberikan morning kiss pada istriku."

Sophie mengeluarkan suara ingin muntah diseberang yang kembali disambut oleh tawa dari Jayce.

"Dan aku tahu apa arti fashion show ini untuk Kimberly." Lanjut Jayce yang seketika membuat Sophie terdiam.

"Baguslah kalau kau tahu. Aku tidak ingin Kimberly mengalami kegagalan. Biar bagaimanapun event ini penting untuknya. Akan banyak model- model kelas atas disini begitupun dengan media cetak dan para wartawan. Semuanya berlomba- lomba untuk memiliki akses." Jelas Sophie

"Aku mengerti, Soph. Terima kasih telah memberitahukan."

"Aku hanya tidak ingin melihat dia terluka. Itu saja."

Meskipun agak bingung dengan pernyataan Sophie barusan tapi tak urung Jayce menganggukkan kepalanya.

"Jadi kapan kau akan kembali, Kim?" Nada suara Sophie kembali berubah menjadi tegas ketika melayangkan pertanyaannya pada Kimberly.

"Sore ini. Bukankah besok pagi jadwal pemotretan terakhir sebelum menuju catwalk?" Tanya Kimberly mengangguk kecil seiring Jayce yang memberitahukan kalau ia akan pergi ke supermarket terdekat.

Jayce tidak pernah mengira kalau Kimberly akan datang ke rumahnya dan membiarkan dapurnya kosong. Dirinya dan London kebanyakan makan di luar hingga tidak berniat melakukan belanja mingguan.

"Aku masih tidak suka dengan caramu yang pergi seperti ini, Kim." Ujar Sophie tidak tenang setelah Kimberly menonaktifkan speaker phone-nya kembali dan menaruhnya di dekat telinganya. "Tidak seharusnya kau memberikan seluruh hidupmu untuknya."

"Maksudmu Jayce?"

"Memang ada pembicaraan lain?"

Kimberly tertawa mendengar kesinisan dalam suara Sophie. Disisi lain meskipun Sophie menyukai perubahan yang terjadi di diri Kimberly yang sudah dianggapnya sebagai adik tapi dia juga merasa takut jika sewaktu- waktu gadis itu kembali seperti sedia kala. Biar bagaimanapun gadis itu masih belum terlalu mengenal dunia yang ditempatinya dan itu karena dirinyalah yang menutup akses agar Kimberly tidak terluka. Kimberly belum pernah sekalipun marah atau menangis dan Sophie takut jika hal itu terjadi maka tidak ada yang bisa ia lakukan.

"Kau masih tidak setuju ya?" Suara Kimberly terdengar kecil dan sedih. Dia tidak mengerti kenapa Sophie selalu bersikap antipati pada Jayce.

"Aku bukannya tidak setuju hanya saja pertemuan kalian begitu singkat. Belum lagi keputusan menikah yang secepat kilat. Kalian membutuhkan waktu untuk saling mengenal terlebih dahulu."

"Tapi kau bilang kau menyukainya, maksudku kau bilang kalau kau menyukai Jayce karena dia membantuku."

"Jadi kau menyukainya karena dia telah membantumu?"

"Eh?"

"Dengar Kim, jujur aku menyukai dirimu yang bersamanya. Kau terlihat lebih ceria dan bahagia bersamanya tapi kembali lagi hubungan kalian masih terlalu dini untuk dikatakan terikat dalam sebuah pernikahan. Oh, dan bukannya kau mengatakan kalau Jayce sama sekali tidak berniat mempublikasikannya?" Kimberly terdiam. Entah mengapa ketika Sophie mengungkit kalimat terakhir tadi, ada sesuatu yang mengganjalnya tapi dia masih tidak mengerti apa itu. "Aku senang jika ia mengatakan itu. Itu artinya ia memikirkan tentang karirmu."

"Hm, Soph?"

"Ya?"

"Apa jadinya kalau aku ingin mempublikasikan hubungan ini?"

"Jangan konyol, Kim. Apa kau pikir orang- orang akan menerimanya? Mereka akan membuat skandal. Jangan pikir yang macam- macam." Hening tidak ada jawaban. "Baiklah, aku akan mengambil pesawat siang ini dan aku akan menjemputmu. Kita akan bertemu di bandara dan akan bersama- sama mengambil penerbangan ke Milan. Ingat! Jangan berbuat bodoh sebelum aku tiba." Klik.

Kimberly terdiam. Merenungi percakapan antara dirinya dan Sophie tadi ketika didengarnya suara pintu yang terbuka. Dia baru saja akan menyongsong Jayce yang kemungkinan membawa banyak barang ketika mendadak langkahnya terhenti.

"Grandmere?"

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS