SHADOW - DUA SEMBILAN
Ara terdiam mendengar penjelasan yang diberikan ketua padanya. Dia sama sekali tidak menyangka kalau Emma adalah target dari misinya sejak awal. Alasan organisasi sehingga ia kembali dipaksa menjalani misinya adalah agar dia bisa menyelesaikan misi yang dulu gagal. Emma harus mati dan poin tambahnya adalah Emma sangat dekat dengan dirinya sehingga organisasi berpikir akan lebih mudah untuk dirinya mengeksekusi Emma.
Mr dan Mrs. Blackstone meninggal bukan karena kecelakaan tunggal yang dialaminya melainkan karena organisasi telah menyabotase mobil yang dulu dikendarai oleh Blackstones. Emma selamat karena anak itu tidak ikut di mobil yang mereka tumpangi ketika kecelakaan itu terjadi. Sementara Ethan bisa dikatakan sebagai anak yang tidak diketahui dalam artian ketika Ethan masih kecil, Mr. Blackstone tidak mendaftarkan Ethan sebagai anak dan justru menitipkan Ethan ke kerabat paling jauh, membuatnya jauh dari campur tangan organisasi.
Shadow dulunya adalah sekumpulan para scientist yang tugasnya hanya meneliti obat- obat baru dan berada dibawah naungan pemerintah yang dianggotai oleh Mr dan Mrs. Blackstone. Selang beberapa tahun, entah kenapa organisasi yang mengkhususkan dirinya dalam bidang penelitian dan penyembuhan malah berbalik arah menjadi organisasi dalam melenyapkan nyawa orang lain.
Ada banyak orang yang tidak setuju dengan perubahan ini termasuk pasangan Blackstones itu sendiri dan lebih memilih untuk mundur ketika mereka sudah merasa kalau Shadow sudah beralih fungsi. Organisasi didalam organisasi, begitulah sebutan untuk organisasi terselubung yang hanya merekrut anak- anak kemudian melatihnya agar menjadi pembunuh handal di masa depan.
Dan semua ini bermula karena uang. Uanglah yang memiliki peranan yang cukup besar disini karena lebih mudah mendapatkan uang dari hasil menjalani misi dibandingkan dengan hanya meneliti dan mengembangkan obat yang sampai saat ini masih diperdebatkan. Jika kau memiliki musuh yang ingin kau singkirkan dan siap mengeluarkan uang yang banyak maka Shadow adalah tempat yang tepat karena tidak akan mudah mendeteksi keberadaannya. Seperti dikatakan tadi, pembunuh dalam bayangan yang artinya tidak seorangpun yang bisa mendalami organisasi itu lebih jauh.
Sejak pasangan Blackstones mundur, tidak sedikit orang- orang yang mengikuti jejaknya. Hal inilah yang membuat pemimpin dari organisasi menjadi marah dan sebagai akibatnya mereka semua harus dieksekusi sebelum berita tentang Shadow menyebar luas. Pasangan Blackstones seringkali berpindah tempat, untuk itulah mereka menjadi sulit ditemukan tapi ketika keberadaan mereka ditemukan, hal pertama yang organisasi lakukan adalah menemui mereka dan memberitahukan tentang keberadaan mereka. Pasangan Blackstones tidak tinggal diam apalagi ada Emma yang masih kecil yang harus mereka lindungi. Ethan sudah masuk dalam jajaran FBI ketika masih muda dan hal itu bukanlah menjadi target utama organisasi. Pasangan Blackstones dan Emma lah yang menjadi target karena hanya mereka yang terdeteksi.
"Brengsek!" Ethan mengeram di tempatnya. Dia tidak bisa berbuat banyak dalam melindungi Emma kali ini. Posisi mereka sudah terkepung oleh sekitar tiga puluh orang yang masing- masing menodongkan senjata kearah mereka. Mereka sudah kalah jumlah.
Emma terisak di tempatnya, mengetahui kalau orang tuanya mati karena melindungi dirinya dan semakin terisak ketika menyadari bahwa orang- orang terdekatnya harus ikut merasakan seperti yang dilakukan oleh orang tuanya.
Chloe juga menangis sambil memeluk Ana dan tampak sangat ketakutan dan Charlie, anak itu lebih memilih diam tapi sebelah tangannya ikut membantu Ana menenangkan kembarnya menangis dan semua hal itu tidak luput dari pengamatan Ara.
"Well," Ara berkata tenang setelah melihat Alex yang sedang memandanginya dengan raut wajah yang tak terbaca. "Kalau kau menginginkan misi di Prancis sukses, kurasa kami tidak ada masalah." Ara mengatakannya tanpa memperlihatkan ekspresi di wajahnya.
"Kalau kau berani menyentuh adikku, akan kupastikan kau tidak akan bisa melihat matahari lagi." Sahut Ethan menatap tajam gadis didepannya.
"A" panggil Ara tanpa melepaskan tatapannya dari Ethan.
Alex yang dipanggil dengan inisialnya, mengangguk dan ikut mengendikkan bahunya tampak terlihat tidak peduli. "Ya. Kurasa tidak ada salahnya. Hitung- hitung sebagai pembukaan." Alex membalas memperlihatkan senyum dan tatapan dinginnya.
Ian yang memang sejak awal meneliti tentang keberadaan Shadow ditambah lagi dengan desas- desus tentang betapa dinginnya pembunuh utama sekaliber A dan S hanya bisa terdiam. S atau yang dikenalnya selama ini bernama Ara sama sekali tidak terlihat seperti Ara. Aura yang ditampilkan oleh mereka juga begitu kental seakan sarat akan kematian. Pantas saja mereka dinamakan Gloria Mortis. Benak Ian mengatakannya. Mereka berdua khususnya Ara tampak seperti malaikat. Malaikat yang siap mencabut nyawa.
"Awas kalau kau..." suara Ethan teredam oleh suara tawa ketua dan mau tidak mau Ara memalingkan wajahnya melihat Ketua yang saat ini tertawa terbahak- bahak.
"Kalian memang anggota organisasi dan terkhusus untukmu, S. Apakah kau sanggup membunuhnya mengingat kau mengenalnya?" Tanya Ketua.
Sebagai balasan Ara menyunggingkan senyum dinginnya. "Apa sekarang kau mulai meragukanku?"
Semua anggota organisasi tahu bagaimana berdarah dinginnya pasangan A dan S dalam menghabisi nyawa korbannya dan wajah yang ditampilkan oleh S saat ini, bukanlah wajah pembunuh seperti biasanya tapi jauh lebih dingin dan siapapun tahu jika S sudah mengambil keputusan maka A akan mengikuti, begitupun sebaliknya.
"Aku tidak ingin dibuat kecewa." Ketua menelengkan kepalanya seraya menyunggingkan senyum miring.
"Kau tidak akan kecewa," sahut Alex berjalan dari tempatnya. Dia sudah tidak lagi memegang lengannya yang tadi tertembak dan justru merobek lengan bajunya kemudian menarik paksa peluru yang bersarang dilengannya dengan pisau kecil yang diambilnya diatas meja. Hal selanjutnya yang ia lakukan adalah menarik keluar peluru itu dengan tangan kanannya, membuat orang yang melihatnya menjadi gilu tapi Ara sama sekali tidak menunjukkan ekspresi apa- apa. "Karena kau tahu bagaimana cara aku dan S bermain- main dengan umpan kami." Lanjut Alex setelah selesai mengikat lengannya yang terluka menggunakan kain putih yang juga berada diatas meja. "Bagaimana menurutmu, S?" Alex ikut menatap Ara, membuat wanita itu mengangguk.
"Jangan macam- macam Aurora." Gertak Ethan menekankan setiap katanya ketika Ara mengalihkan pandangannya untuk bertemu pandang dengan Alex.
"Kau tahu apa yang harus kau lakukan, iyakan A?"
"Bagaimana menurutmu?" Alex mengedarkan pandangannya ke semua orang. "Aku memikirkan sebuah cara didalam otakku." Alex benar- benar bisa mempermainkan umpannya.
"Selama itu cepat dan mudah. Tidak ada masalah denganku." Balas Ara tanpa memperdulikan teriakan marah Ethan. "Aku ingin ini segera berakhir, Lex."
Alex mengangguk. Sangat memahami apa yang sedang dipikirkan oleh Ara.
"Ara." Cicit Chloe menyebut nama Ara.
Untuk sesaat Ara terdiam ketika kembali menyunggingkan senyumnya. Dilihatnya Ana bersiap untuk menerjangnya agar bisa melindungi dua anaknya yang saat ini semakin menempel ketat di tubuhnya.
"Bukankah aku sudah pernah bilang kalau aku bukan malaikat seperti yang kau katakan, sayang?" Ara berjongkok tepat dihadapan Chloe yang sudah tidak mengeluarkan air mata lagi dan mengulurkan tangannya hendak menyentuh rambut Chloe ketika langsung ditepis oleh Ana.
"Jangan kau berani menyentuh putriku." Ana mengeram marah, membuat kepalanya semakin ditekan pistol oleh salah satu anggota organisasi.
"Jangan sentuh dia." Nick membentak marah dan langsung mendapatkan pukulan di daerah perutnya.
Ara tersenyum. "Baiklah. Aku tidak akan menyentuhnya." Ucap Ara seraya mengangkat kedua tangannya diatas kepala. "Kau tangguh, Ann." Puji Ara tulus yang langsung mendapatkan tatapan curiga dari wanita itu ketika Ara kembali mengarahkan pandangannya pada si kembar. "Charlie, Chloe, kau seharusnya bangga memiliki orang tua seperti Nick dan juga..." Ara berlama- lama menyebut nama Ana. "Ana sebagai ibumu. Bukankah kalian berdua sudah tahu kalau ibumu itu sangat kuat dan juga tangguh?"
Charlie dan Chloe sama- sama saling bertukar pandang. Lalu beralih melihat Ana dan Ara secara bergantian. "Katakan padaku, apa kau masih ingat dengan apa yang kukatakan di kegiatan bungee jumping kita dulu?" Lagi- lagi Chloe dan Charlie saling bertukar pandang. "Aku tahu. Ingatlah itu dan semua kata yang aku katakan."
"Apa yang kau katakan pada anak- anakku?" Ana mulai terdengar sangat murka.
Ara tersenyum, berdiri dari tempatnya dan berpaling kearah orang- orang disekelilingnya. "Oh dan sekedar info, Nick dan Ana masih punya anak yang sedang tertidur di dalam rumah. Bagaimana kalau kau ikut membunuhnya bersama kedua bocah kembar ini? Kurasa seorang saja sudah cukup menghabisi wanita ini dan ketiga anaknya."
"Dasar brengsek!" Nick dan Ana sama- sama bersuara. Ana bahkan hampir saja menerjang Ara yang berdiri tidak jauh darinya ketika tanpa diduga Charlie dan Chloe sama- sama menahan tangannya.
"Bawa mereka ke dalam dan langsung bunuh di tempat. Kurasa seorang saja sudah cukup untuk membunuh wanita dan ketiga anaknya." Ucap Alex mengulang kalimat Ara tadi.
Pria yang tadi menyorongkan pistol ke kepala Ana mengangguk pelan ketika dilihatnya pria yang bertindak sebagai ketua menganggukkan kepala kearahnya, menyuruhnya melalukan apa yang baru saja dikatakan oleh Alex.
Ana dan si kembar sama- sama diseret dengan paksa oleh lelaki itu masuk ke tempat dimana Julie sedang tertidur pulas.
"Kalian brengsek! Aku tidak akan membiarkan kalian semua hidup." Nick meronta di tempatnya ketika melihat istri dan anaknya ditarik paksa.
Tidak ada yang bersuara selama kepergian masuknya Ana dan si kembar didalam rumah ketika mendadak mereka mendengar suara barang pecah disusul suara tangisan bayi dan letusan... pistol.
Dor.
Dor.
Dor.
Dor.
Sebanyak empat kali.
Dan.
Hening.
***
Comments
Post a Comment