BTY - DUA BELAS



"Aku milikmu, Jeremiah Culton."
Jika saja wajah bisa hangus, sudah pasti wajah Anna sudah hangus karena ucapan Patricia. Gadis itu bahkan mengikik sembari sesekali melirik Anna yang tersipu saking malunya.
Ya. Sudah dua hari semenjak kepulangan Anna dari rumah sakit- meskipun beberapa menit sebelumnya Anna terpaksa harus kembali menjelaskan pada Jerry karena pria itu sepertinya enggan membiarkan Anna pulang ke rumah Betrice dan lebih memilih menawarkan tempat tinggalnya agar bisa di tempati oleh wanita itu.
Anna tidak mengerti kenapa Jerry bersikeras agar mereka tinggal bersama. Jerry bahkan menyakinkan dirinya kalau mereka akan berada di kamar terpisah tapi Anna merasa ada sesuatu yang lain kalimat yang dilontarkan Jerry padanya kala itu.
Tapi bukan itu yang menjadi bahan pertimbangan Anna ketika menolak tawaran Jerry. Entah kapan dia mulai memiliki perasaan yang khusus pada pria itu. Hanya saja setiap kali dia melihat Jerry. Entah kenapa seperti ada perasaan bahagia, senang tapi juga perasaan sedih yang rasanya menyakitkan yang dia tidak tahu darimana asalnya. Terutama perasaan yang terakhir- seolah kehidupan baru saja di renggut paksa darinya.
"Sudahlah Patricia. Mau sampai kapan kau meledek kakakmu seperti itu." Betrice menegur Patricia tapi kedua bibirnya juga tidak lepas menyunggingkan senyum penuh kebahagian untuk Anna yang sudah dianggapnya seperti anak sendiri.
Menurutnya Anna sudah cukup menderita selama ini dan ketika melihat ekspresi wajah Anna ketika bersama Jerry- pria yang baru dikenalnya itu. Betrice tahu kalau ada ketertarikan yang terjalin diantara mereka terutama ketika melihat sikap Jerry khususnya pada Anna.
Tapi meskipun begitu, dalam hati dia juga sedikit merasa khawatir. Ada sesuatu yang selama ini disembunyikannya tentang Anna dan Betrice tidak tahu bagaimana harus menyampaikan hal itu pada Anna. Betrice khawatir itu akan berdampak dengan sikap Anna padanya kelak terutama Patricia yang sudah menganggap Anna sebagai kakaknya. Bagaimana jika setelah Anna mengetahui semuanya, Anna justru berbalik dan membencinya. Tentu saja itu akan berdampak sangat buruk untuk Patricia. Patricia pasti akan merasa sangat sedih dan kehilangan sosok kakak yang disayanginya.
"Apa setelah kau sudah berkencan dengan Jerry? Kau tidak lagi harus bekerja sangat keras untuk membayar utang kita padanya?"
Pertanyaan Patricia yang lugas seketika membuyarkan pikiran Betrice. Betrice mengarahkan pandangannya pada Anna yang mengernyit lalu kemudian dilihatnya kepala Anna yang menggeleng.
"Kita tidak bisa mencampur- adukkan hal itu dengan hal ini, Patricia."
"Tapi kau kan sudah..."
"Aku tidak mungkin menyangkut pautkan dua hal yang berbeda dalam satu waktu. Kita akan tetap membayar sisa utang kita pada Jerry."
Bibir Patricia seketika mencebik, "Jerry tidak akan tega menagih uangnya pada kita- terutama padamu melihat kalian sekarang sudah berkencan." Komentarnya.
Anna tertawa sembari mengacak rambut adiknya dengan penuh sayang. "Tapi meskipun begitu, hubungan kita dengannya di mulai dari kita."
"Aku benci kalau kau harus bekerja dengan susah payah untuk mengumpulkan uang untukku dan aku juga menyesal karena tidak memperhatikan akibat yang kutimbulkan." Ujar Patricia pelan. Ya. Dia benci karena begitu banyak yang telah dilakukan kakaknya itu untuk dirinya dan ketika kedua orang tuanya meninggal, Anna lah yang paling bersusah payah demi memenuhi kebutuhannya.
"Jangan begitu," Anna berkata pelan sehingga Patricia harus mendongak agar bisa menatap mata kakaknya dan melihat kalau Anna tersenyum padanya. "Hanya aku yang kau miliki saat ini, aku juga kakakmu. Sudah seharusnya aku menjagamu dan melakukan apapun yang kubisa untuk membuatmu bahagia."
"Satu- satunya yang kuinginkan hanya kau yang bersamaku. Aku hanya menginginkan kakakku disampingku. Yang lainnya, aku tidak mau."
"Kita sudah setuju kalau begitu." Anna menarik tubuh Patricia dan merangkulnya. "Karena aku juga tidak menginginkan hal yang lain selain kita yang tetap bersama."
.
.
Lima belas menit telah berlalu sejak kepergian Patricia ke sekolahnya. Anna tidak tahu harus melakukan apalagi. Perasaannya semakin berkecamuk sejak pembicaraannya dengan adiknya itu berlangsung.
Patricia benar. Baik dirinya maupun Jerry berasal dari tingkatan yang berbeda. Anna memiliki sekelumit masalah yang cukup membuat kehidupannya tidak bisa dibayangkan oleh siapapun dan dengan hubungannya dengan Jerry, pria yang diketahuinya sangat kaya raya dan memiliki Institute Musik sendiri pastinya tidak bisa dipandang enteng.
Secara keseluruhan, kehidupan mereka sangat jauh berbeda. Dia bukan Cinderella yang setelah bertemu dengan pangeran tampan dan kaya raya maka kehidupan akan seketika berubah. Dia hanya Anna.
"Apa kau yakin dengan perasaanmu padanya?"
Anna terpaksa berbalik dan langsung mendapati Betrice yang berdiri di dekat pintu, menatapnya.
"Kau membuatku terkejut, Betrice. Masuklah." Betrice mengangguk lalu melangkah mendekati sisi tempat tidur Anna yang kelewat kecil untuk di tempati oleh dua orang. "Sejak kapan kau berdiri disana dan memperhatikan?" Tanya Anna.
"Sejak kau mengeluarkan benda itu dari kotaknya. Apa yang akan kau lakukan dengan itu?" Betrice memperhatikan cincin dengan berlian kecil di tengahnya. Cincin itu tampak sangat cantik apalagi ketika cahaya lampu mengenai sisi tengahnya, seperti memancarkan berbagai macam warna.
Cincin itu diberikan kepada Betrice tepat pada saat Bonnie menghembuskan napasnya yang terakhir dan meminta agar ia memberikan pada Anna. Betrice tidak mengerti darimana Bonnie mendapatkan cincin yang sangat cantik itu dan tentu saja sangat mahal tapi tidak ada waktu untuk menanyakannya kala itu.
"Cincin itu sangat cantik di tanganmu." Katanya ketika Anna menyematkan cincin itu di jari manisnya.
"Ya." Anna mengangguk setuju. Mendesah karena mengagumi kecantikannya. Hanya benda ini yang tidak pernah di jualnya. Tahu karena ini pemberian dari ibunya. "Tapi sebentar lagi akan berpindah tangan." Anna tidak dapat menyembunyikan perasaan sedihnya karena cincin itu. "Aku akan menjualnya, Betrice."
Betrice terperanjat. "Apa? Tapi kenapa?"
Untuk sesaat Anna menghembuskan napasnya pelan. "Aku tidak bisa menjalin hubungan dengan Jerry jika dalam hatiku aku masih memiliki satu hal dengannya."
"Maksudmu dengan biaya ganti rugi itu?"
Anna mengangguk. "Ya. Ini seperti aku berhubungan dengannya karena aku takut di tagih olehnya." Anna mengatakannya sambil tersenyum.
"Tapi siapapun tahu kau tidak begitu. Jerry pasti tidak akan berpikir seperti itu." Lalu dia terdiam. "Apa Jerry yang mengatakan itu padamu?"
"Tentu saja tidak." Anna nyaris tertawa. "Dia bahkan tidak pernah mengungkit hal itu padaku."
"Kalau begitu kenapa kau harus melakukannya? Hanya itu peninggalan dari Bonnie, Ann."
"Aku tahu." Anna mendesah putus asa. "Tapi hanya ini satu- satunya yang harus kulakukan. Aku sudah di pecat dari pub tempatku bekerja. Gaji di toko buku tidak bisa mengcukupi kehidupan kita. Belum lagi kita harus membayar sewa tempat ini dalam beberapa hari."
"Kau tidak perlu memikirkan tentang sewa tempat ini. Biar aku yang mengurusnya."
"Dengan apa? Dengan melakukan pinjaman di bank lagi? Oh maafkan aku Betrice. Aku sungguh tidak bermaksud." Baik Anna maupun Betrice sama- sama terdiam selama beberapa saat sebelum Anna melanjutkan. "Tapi kumohon Betrice. Pinjaman kita di bank sudah tidak bisa ditolerir lagi. Utang kita sudah menumpuk di sana dan meskipun beberapa pelanggan dari bunga- bunga yang kita jual masih tetap mempercayai kita tapi tidak menutup kemungkinan itu akan menutupi kekurangan kita." Jelas Anna.
Sesaaat Betrice hanya menatap Anna dan menghela napas. "Ternyata kau sudah memikirkan semuanya." Ucapnya pelan lalu tersenyum. "Kuharap ini bukan alasan kenapa kau bersikeras untuk keluar dari rumah sakit waktu itu."
Anna lantas memutar kedua bola matanya. "Aku tidak suka dengan bau rumah sakit. Entah kenapa aku membencinya tapi jika dengan keluarnya aku dari tempat itu bisa melakukan banyak hal. Aku tidak mungkin menyesal." Ujarnya nyengir.
"Kau memang selalu bekerja sangat keras. Apa kau masih berkeinginan membuka kafe sendiri?"
Betrice tahu itu adalah salah satu dari mimpi Anna dulu. Kafe minimalis dimana dia bisa membuat menu sesuai keinginannya dan sesekali dia memetik gitar. Betrice pernah sekali mendengar Anna bermain gitar ketika hendak menghibur Patricia yang menangis karena kelaparan. Gitar itu di pinjamnya dari pengamen dengan syarat hanya boleh memainkan satu lagu. Siapa yang menyangka kalau dari itu, Anna bisa mendapatkan uang tapi janji adalah janji. Anna hanya memainkan satu lagu dan hasil dari permainannya yang tidak seberapa kala itu dibagi dua dengan orang yang telah meminjamkannya gitar.
"Sepertinya tidak. Membuka kafe memerlukan modal yang besar dan kita tidak memiliki uang sebanyak itu." Jawab Anna yang kembali membuat mereka terdiam.
"Kapan kau akan menjual cincin itu?" Tanya Betrice kemudian.
Anna kembali melirik cincin di jari manisnya dan mendesah. "Siang ini." Jawabnya.
.
.
Anna tidak tahu apa yang sedang merasuki dirinya. Tadinya dia sudah berada di toko perhiasan dan sudah siap menjual cincinnya tapi di menit terakhir dia merasa berat untuk melakukannya. Dan untuk mengusir kegundahan hatinya, dia memilih untuk duduk di bangku panjang berwarna coklat yang terletak di tengah- tengah pusat pertokoan.
"Halo."
Anna terpaksa mendongak dari kegiatannya memutar- mutar cincin yang baru saja dikeluarkannya dari kotak ketika melihat dua orang wanita yang sedang menatapnya. Salah satunya memiliki rambut berwarna merah dan sangat cantik. Anna pernah melihatnya di pub tempatnya dulu bekerja kemudian beralih ke wanita yang satunya, yang tampak syok ketika melihatnya.
"Perkenalkan. Aku Lea. Kita pernah bertemu di pub dulu, ingat?" Tapi ketika Anna tidak menjawab, wanita berambut merah yang memperkenalkan namanya sebagai Lea itu kembali melanjutkan. Tetap dengan senyum di wajahnya. "Aku teman Jerry."
Anna mengerjap selama beberapa saat. Masih bingung dengan apa yang harus dilakukannya tapi mengingat dia harus membalas uluran tangan Lea jadi dia melakukannya.
"Aku Anna." Balas Anna
"Dan kenalkan, ini adalah Elena. Dia juga teman Jerry." Seperti baru sadar dari dunia lain, wanita yang terlihat syok ketika melihatnya tadi tersentak lalu beralih menyunggingkan senyumnya.
"Hai Ann, senang melihatmu. Lea banyak bercerita tentangmu." Elena mengulurkan tangannya agar bersalaman tapi ketika Anna membalasnya, dengan segera Elena memeluknya. "Tuhan. Aku sungguh tidak menyangka kau berada disini." Ucap Elena. Lalu secepat ia memeluk Anna, secepat itu pula ia melepaskan Anna.
"Eh? Senang bertemu denganmu juga..hm Elena." Anna masih belum pulih dari keterkejutannya atas sikap Elena barusan tapi ikut membalas senyuman Elena.
"Apa yang kau lakukan disini? Apa kau sendirian?" Lea memutuskan untuk memulai pembicaraan. Tahu kalau Elena tidak akan sanggup berbicara saat ini. Tentu saja Lea sudah memberitahu Elena sebelumnya dan juga ikut kaget ketika mendapati kalau Anna berada di tempat yang sama dengannya. Jadi sebelum ada orang lain yang menginterupsinya, akhirnya dia memutuskan untuk mengambil sikap. Lagipula Elena lah yang pertama kali melihat keberadan Anna di tempat duduk ini.
"Ya. Aku sendirian dan baru akan..."
Belum sempat Anna menyelesaikan kalimatnya, suara yang sudah dikenali Anna mendadak menginterupsinya.
"Elena. Lea. Astaga... kalian benar- benar sulit dipercaya."
Sama seperti ekspresi yang ditunjukkan oleh Elena tadi, pria disamping Jerry juga tampak kaget. Brandon Demian Hill dan Jullian Anderson, dua pengusaha brilian yang selalu muncul di koran- koran atas kesuksesan yang mereka raih dan dengan Jeremiah Culton diantara mereka semakin mempertegas jika mereka bukanlah orang yang bisa dipandang remeh apalagi dengan ketampanan yang masing- masing mereka miliki.
Untuk sesaat Anna memperhatikan jika orang- orang khususnya para wanita sedang berhenti untuk menatap ketiga pria maskulin itu dan Anna tidak menyalahkannya. Aura yang ditampilkan oleh mereka sungguh sulit dibiarkan.
"Tidak bisakah kalian bersabar hingga aku membawanya sendiri." Akhirnya Jerry sudah berdiri disamping Anna yang tampak kebingungan.
"Kau terlalu lama dan ternyata takdir mendukung kami." Lea membalas dengan nada riang.
Jerry mengusap wajahnya frustrasi sebelum menoleh agar bisa melihat Anna.
"Melihat sikap Lea yang langsung mengambil kesempatan. Kuduga dia sudah memperkenalkan dirinya."
Anna mengangguk. "Aku juga sudah mengenal dengan orang yang bersamamu." Ucap Anna yang seketika tidak hanya melihat Jerry mengangkat alisnya tapi juga kedua pria yang berdiri disamping Lea dan Elena. "Jullian Anderson dan Brandon Demian Hill. Mereka berdua selalu muncul di majalah Forbes."
Jullian terkekeh lalu berkata. "Tapi alih- alih mengenal kami di majalah itu, Miss.... Wildblood. Sebagai sopan santun kami ingin memperkenalkan diri kami sendiri. Bagaimana Brandon?"
Seperti tidak terjadi apa- apa. Brandon mengangkat kedua bahunya. "Ya. Apalagi setelah melihat gadis sepertimu." Anna tidak tahan untuk tidak merona mendengar pujian yang dilontarkan oleh Brandon padanya dan kesopanan yang terdengar tulus dari Jullian hingga membuatnya merasa malu.
"Jadi Ann, apa kau sudah makan?" Pertanyaan Brandon yang kemudian seketika membuat Anna kebingungan. Sama seperti Elena. Brandon memanggilnya dengan nama Ann padahal dia sama sekali tidak pernah memperkenalkan dirinya sebagai Ann. Patricia dan Betrice bahkan lebih sering memanggilnya dengan Anna atau Annabelle. Sangat jarang ia dipanggil Ann.
"Eh aku..."
"Bagaimana kalau kita ke restoran Jepang di sudut jalan sana? Rasanya aku ingin makan makanan Jepang." Usul Elena seraya melihat suaminya. Anna bisa melihat ada cinta di kedua mata itu sama seperti yang Brandon tunjukkan pada Elena.
"Apapun untukmu, sayang." Brandon mengelus pipi Elena kemudian menciumnya. Elena merona.
"Ah aku jadi iri dan... cup." Lea ikut melayangkan ciuman di pipi Jullian dan mendapatkan hal yang serupa dari suaminya kemudian tertawa melihat sikap malu- malu istrinya.
Di mata Anna itu sangat romantis karena melihat ada cinta dimana- mana tapi juga lucu karena sikap malu- malu yang diperlihatkan baik oleh Elena maupun Lea kemudian menoleh ketika didapatinya Jerry sedang melihatnya dengan tatapan yang Anna tidak mengerti.
"Eh kurasa aku harus pulang." Sahut Anna merasa canggung dengan tatapan yang diberikan Jerry padanya tadi. Mendadak Lea maupun Elena sama- sama menoleh kearahnya.
"Oh apakah kami membuatmu tersinggung?" Elena yang pertama bicara. "Kami minta maaf. Kami sama sekali tidak bermaksud."
Anna sama sekali tidak mengerti dengan apa yang dia katakan dan menggeleng. "Tentu saja tidak. Hanya saja aku...."
"Oh kumohon. Ikutlah bersama kami. Paling tidak kau harus makan bersama kami." Tambah Lea.
Anna tidak tahu harus berkata apa, tanpa sadar memutar- mutar cincin di jari manisnya karena gugup ketika mendengar nada terkesiap. Belum sempat ia merespon, Elena menarik sebelah tangannya- memperhatikan cincinnya.
"Oh Tuhan." Dia memekik dan sama halnya dengan yang dilakukan Elena. Lea juga langsung menarik tangannya dan menutup mulut sambil melirik Jerry yang terkatup.
"Ini cantik sekali." Gumam Lea seraya menyentuh berliannya.
Dengan canggung Anna menarik kembali tangannya. "Terima kasih." Dan melepasnya.
"Eh kenapa dilepas?" Tanya Elena kemudian.
"Aku tidak bisa memakainya setiap waktu. Rencananya hari ini aku akan menjualnya."
Mendadak tidak ada yang bersuara dan ketika kembali ada suara justru yang terdengar adalah suara dingin Jerry di tengkuknya.
"Aku tidak akan membiarkannya."
***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS