LOVE MISSION - 21
Sophie berharap ini adalah april mop. Hari lelucon sedunia tapi bulan April sudah lewat beberapa bulan yang lalu dan digantikan dengan bulan Juni, lagipula dia tidak pernah mendengar istilah Juni mop jadi bagaimana mungkin dia bisa mendapatkan surat legalitas yang menyatakan kalau gadis yang saat ini sedang duduk manis dihadapannya sudah menikah?
"Ini...?"
"Bagaimana? Aku sangat senang, Sophie." Kedua mata Kimberly memancarkan binar kebahagian yang sangat nyata.
Tak tanggung- tanggung Sophie lantas melayangkan tatapan tajam pada Jayce yang sejak tadi terdiam tanpa mengatakan sepatah kata bahkan ketika Sophie datang dengan tergesa- gesa menuju kafe yang diberitahukan oleh Kimberly melalui sambungan telpon. Pria itu masih tetap terdiam.
"Apa kau yang merencanakan semua ini?" Tanya wanita itu tajam
"Ya" jawab Jayce tanpa sama sekali berniat untuk berkelit. Lagipula dia sudah tahu konsekuensi apa yang akan didapatkannya ketika mendaftarkan namanya dan nama Kimberly sebagai pasangan suami- istri, terutama pada sosok wanita yang sudah lama menjadi manajer Kimberly.
"Kenapa?" Tanya Sophie lagi yang langsung mendapatkan kernyitan dahi dari Jayce.
"Apa maksudmu dengan 'kenapa'?
"Jangan pura- pura, Mr. Caldwell..."
"Jayce. Panggil saja Jayce"
"Baiklah. Jayce. Aku tidak akan bertele- tele membicarakan masalah ini tapi tentunya kau juga sudah tahu bagaimana sifat Kimberly yang sebenarnya"
Kernyitan di dahi Jayce semakin dalam mendengar penuturan wanita di depannya ini. "Dan?"
"Dan kau sudah menikahinya!" Balas Sophie gusar.
Untung saja kafe yang mereka pilih memiliki ruangan pribadi yang memungkinkan bagi mereka untuk berbicara seleluasa mereka.
"Kimberly tidak sama seperti gadis- gadis yang selama ini kau kencani". Ujar Sophie tanpa mau bersusah payah menyembunyikan kejengkelannya.
"So...phie?" Kimberly tidak mengerti kenapa Sophie terlihat tidak senang mengetahui pernikahannya yang ya, meskipun tidak meriah dan hanya berlangsung tertutup karena Jayce hanya mendaftarkan pernikahan mereka di pengadilan tapi itu sudah membuatnya senang.
Kimberly baru saja akan menanyakan alasannya lagi ketika merasakan tangan kanannya dipegang oleh Jayce.
"Aku mengerti apa yang kau khawatirkan dan aku sama sekali tidak pernah menganggap kalau istriku sama dengan gadis- gadis di luar sana"
Istri?.
Kali ini kedua mata Sophie sukses membelalak sempurna.
"Demi Tuhan, kalian baru saja bertemu dan..."
"Dan aku tidak perlu berpikir dua kali hanya untuk memantapkan dengan siapa aku ingin menikah." potong Jayce cepat.
Sophie sukses melonggo setelah itu mendengus. Dalam benaknya dia tidak menyakini apa yang baru saja diucapkan oleh Jayce tapi melihat bagaimana Jayce mengatakannya ditambah lagi bagaimana dia menatap Kimberly dengan tatapan yang bahkan seluruh wanita ingin dapatkan, membuatnya di satu pihak dilema. Terlihat jelas kalau Jayce menyukai Kimberly dan Sophie sudah merasakan hal itu ketika Jayce menjenguk Kimberly di rumah sakit dulu tapi kembali lagi, Sophie tidak mau melihat Kimberly terluka hanya karena seorang pria. Kimberly masih terlalu polos untuk merasakan itu semua.
Di sisi lain, Kimberly merasakan kalau jantungnya berdetak begitu cepat ketika mendengarkan jawaban Jayce barusan dan tersenyum semakin lebar seraya beralih mendekap sebelah lengan Jayce. Semua itu tidak luput dari pengamatan Sophie.
"Aku mencintainya, Sophie" tutur Jayce lembut tanpa melepaskan pandangannya dari wajah Kimberly disampingnya
Eh?
"Dan aku bisa mengerti kenapa kau bersikap seperti ini" lanjutnya kembali melihat Sophie.
"Tapi?"
"Aku juga mencintainya, Sophie" sahut Kimberly sehingga mau tidak mau Sophie harus memalingkan wajahnya untuk menatap wajah Kimberly.
"Kimmy..."
"Aku akan sangat senang jika kau juga ikut senang bersamaku, Sophie. Kaulah satu- satunya keluarga yang kumiliki dan aku akan sangat sedih jika kau malah membenci Jayce"
Hening.
"Apa kau yakin?" Sophie memutuskan untuk bertanya setelah lebih dari lima menit mereka terdiam.
"Ya" Kimberly mengangguk mantap.
"Apa kau bahagia?"
"Sangat bahagia"
Sophie tidak dapat memungkiri kalau Kimberly jauh terlihat lebih bahagia di depannya. Jika bukan melihatnya sendiri, mungkin Sophie akan mengira ini mimpi melihat Kimberly yang sebahagia ini.
Hingga kesadaran tiba- tiba menghampirinya lalu beralih untuk melihat Jayce.
"Aku tidak bisa membiarkanmu tinggal seatap dengan Kimberly" tukas Sophie yang seketika membuat Jayce membelalak.
"Apa?"
"Kimberly masih harus melakukan pemotretan hingga sebulan ke depan jadi karena kau sudah memutuskan untuk menikah tanpa pemberitahuan maka tetaplah seperti itu"
"Apa kau pikir aku menikahi Kimberly hanya karena menginginkan kertas ini?" Jayce mengatakannya setengah tidak percaya seraya menunjuk kertas yang tergelatak dihadapan wanita itu.
"Apa itu buruk?" Mendadak Kimberly bertanya yang serta merta membuat Jayce semakin tidak percaya dan disisi lain, Sophie berusaha untuk tidak mengeluarkan tawanya.
"Tentu saja itu buruk. Apa kau....?"
"Sudah... sudah..." lerai Sophie sebelum Jayce mengatakan apa yang ingin dikatakannya. "Aku tidak melarang kalian untuk bertemu tapi karena Kimberly berada dalam situasi dimana karirnya menanjak. Tentunya paparazzi akan menjadikan Kimberly sebagai santapan yang sangat lezat jika mengetahui pernikahan diam- diam kalian". Sophie mencoba berspekulasi.
Dia memang menyukai Jayce dan tekad yang diperlihatkan Jayce tapi mengingat cerita Kimberly tempo hari yang mengatakan kalau Jayce memiliki seseorang yang dikatakan sebagai teman masa kecil dan orang yang pernah disukai pria itu, membuat Sophie berpikir untuk membatalkan pernikahan mereka. Toh, tidak seorangpun yang mengetahui tentang pernikahan mereka.
"Jadi yang ingin kau katakan adalah bahkan setelah kami menikah, Kimberly akan tetap tinggal di apartemennya, begitu?"
Sophie menggelengkan kepalanya kelewat dramatis. "Aku hanya tidak ingin paparazzi menjadikan Kimberly sebagai santapan yang lezat lagipula aku mengijinkan kalian bersama tapi selama itu tidak ada yang melihat" kilah Sophie.
"Terus apa bedanya?" Tukas Jayce gusar.
"Bedanya adalah kalian tetap melakukan apa yang biasanya kalian lakukan." Jawab Sophie semakin tersenyum lebar. "Jadi, karena pekerjaanku masih banyak, aku akan undur diri dulu dan Kimberly, kau tahu kan kalau satu jam lagi kau akan pemotretan jadi usahakan kau sudah tiba di sana paling lambat setengah jam. Selamat bersenang- senang". Sophie lantas berdiri, meninggalkan tempat mereka, tanpa sama sekali memperdulikan kalau Jayce sedang memberinya pandangan tak percaya.
"Harus kuakui kalau aku tidak menyukai manajermu itu". Tukas Jayce dan mendapatkan tawa renyah dari gadis yang baru saja dinikahinya.
"Jangan begitu. Sophie tidak jahat kok". Katanya disela tawanya dan langsung berhenti ketika mendapati Jayce tengah menatapnya lekat. "Ada apa?" Tanya Kimberly ketika merasakan sebelah tangan Jayce telah berada di pipinya, mengelusnya lembut.
"Apa kau bahagia?" Tanyanya
"Tentu saja". Jawab Kimberly langsung.
"Seberapa bahagia?"
Sejenak Kimberly terdiam, berpikir hingga gadis itu memajukan wajahnya dan mengecup bibir Jayce, lembut.
"Apa bisa diterima dengan sebuah ciuman?"
Jayce terdiam, menyipitkan matanya sengaja.
"Kau sebut itu ciuman? Akan kutunjukkan apa yang disebut ciuman padamu"
Jayce lantas menarik Kimberly kearahnya dan memberikan ciuman dibibir gadis itu, lembut bahkan sangat lembut dan tersenyum ketika melepaskan bibirnya dari bibir Kimberly.
"Sekarang kau sudah menjadi milikku, Kimberly" Kimberly mengangguk menyukai penggunaan kata milik Jayce dan semakin senang ketika Jayce mengecup bibirnya lagi.
***
Comments
Post a Comment