SHADOW - TIGA PULUH

Dor.

Dor.

Dor.

Dor.

Tidak ada yang bersuara selama beberapa menit. Mereka semua larut dalam suara rentetan peluru yang tadi dilepaskan dimana Ana dan ketiga anaknya berada.

"Dasar kau brengsek!" Nick berteriak marah seraya berjalan hendak menghajar Ara ketika Alex menahannya dan melayangkan tinjunya ke perut Nick, membuat pria itu tersungkur. "Akan kupastikan kau membayar semua ini!" Nick memberi Ara dan Alex tatapan penuh kebencian.

Sudut bibir Ara menyunggingkan senyum. "Biarkan saja dia, A." Katanya ketika Alex hendak memukul Nick lagi. "Tidak ada gunanya kau melakukan semua itu. Sebentar lagi mereka akan mati."

Alex mendengus sembari berjalan menuju Ara tapi sebelum itu, ia sempat saling bertukar pandang dengan Ethan yang entah bagaimana, Ethan merasa ada yang aneh ketika Ara mengucapkan kalimatnya.

"Cih, kau benar." Ucap Alex seraya merangkul pundak Ara, membuat Ara meremas tangan yang berada di pundaknya ketika Alex justru malah menyunggingkan senyumnya dan mengelus pipi Ara lembut.

Api kecemburuan tiba- tiba kembali merasuki tubuh Ethan melihat intensitas diantara dua sosok dihadapannya. Dia merasa seperti ada dinding tak kasat mata yang dibangun oleh keduanya dan dinding itu mengelilingi mereka secara keseluruhan dan berlapis- lapis.

Ketika dilihatnya Ara sedang melihat kearahnya. Tidak lama, hanya beberapa detik tapi Ethan bisa merasakan ada yang ganjil dibalik tatapan itu. Kecurigaannya mendadak muncul ketika ia ingat kalau Ara justru mengusulkan agar Ana langsung dibunuh bersama ketiga anaknya. Kenapa Ara harus menyuruh Ana untuk kembali ke dalam rumah? Dan dari itu semua, kenapa Charlie dan Chloe mendadak menjadi tenang dan tidak memberontak ketika dipaksa masuk ke dalam rumah dan lebih cenderung seperti terlihat mereka menarik tangan ibunya? Dan dari itu semua, apa maksud dari kalimat yang ia katakan tadi pada Charlie dan Chloe? Pembicaraan apa yang harus mereka ingat?

Ethan lantas mengalihkan pandangannya kearah Ian yang juga sedang melihatnya ketika dilihatnya pria itu hanya menggelengkan kepala pelan, tanda ia juga merasa bingung lalu ia berpaling agar bisa melihat Nick tapi pria itu sangat marah dan hanya memberi Ara tatapan penuh kebencian.

"Jadi apa yang akan dilakukan organisasi setelah misi ini selesai?" Tanya Alex setelah melepaskan rangkulannya pada Ara.

Tatapan itu lagi. Batin Ethan mengatakannya. Bahkan dua detik tatapan yang terjalin antara Ara dan Alex seakan memberikan berbagai macam pengertian. Apa yang mereka rencanakan?

"Kita akan kembali ke Prancis." Jawab Ketua.

Alex menganggukkan kepalanya. "Ah... I see." Ia membalas lambat kemudian tersenyum sementara kedua matanya menelusuri seluruh orang termasuk keberadaan ketua itu sendiri. "Kau sudah membawa seluruh anggota dari organisasi. Baiklah." Putusnya kemudian seraya melirik Ara yang memperlihatkan wajah tanpa ekspresi.

Ketua tertawa, menimpali. "Apa itu berarti kalau kalian masih menunjukkan loyalitas kalian pada organisasi?"

Ara tersenyum miring, sangat dingin. "Apa kau mau aku membuktikannya padamu?"

"Tentu. Apa yang kau inginkan?"

"Bunuh gadis itu."

Tanpa mengucapkan apa- apa, Ara lantas berbalik- masih dengan senyum dingin di wajahnya menuju meja tempat sebuah pisau berada dan mengambilnya. Emma terlihat sangat gemetaran ketika dilihatnya Ara melangkah menuju kearahnya.

"Ara, please." Pinta Emma dalam isak tangisnya. "Aku sudah menganggapmu sebagai kakakku selama ini. Kumohon. Jangan lakukan ini. Kumohon Ara."

"Maaf Ems, aku janji ini tidak akan terjadi lagi padamu." Ucap Ara dengan nada sendu.

"Kumohon." Emma memohon sekali lagi.

"Ems!" Emma terdiam, tidak lagi bersuara. Ia baru saja menyadari kalau Ara baru saja memanggilnya dengan sebutan paling akrab padanya. "Ini tidak akan terjadi lagi. Aku janji."

"Hentikan Aurora! Apa yang kau lakukan?!" Ethan berteriak menimpali.

Ara tersenyum lalu kembali mengarahkan tatapannya pada Emma yang sekarang sudah tidak terisak lagi.

"Sekarang tutup matamu dan aku akan melakukan ini dengan cepat."

Emma tersentak. Kalimat itu...

"Percaya padaku, Ems."

"Ara, apa kau menyayangi kakakku?"

Seperti biasa Emma akan datang ke rumah Ara hanya untuk sekedar berbicara tapi karena Ara sedang sibuk dengan sketsanya jadinya Emma hanya duduk di samping sambil sesekali mengubah saluran tv.

"Darimana pertanyaan itu berasal?" Ara bertanya sambil sesekali terlihat membolak- balik gambarnya.

"Jawab saja, okey?" Sungut Emma mendadak jengkel, membuat Ara terpaksa menghentikan aktivitasnya. "Kalau kami dihadapkan pada situasi paling pelik dan terjadi sesuatu padaku, apa kau akan lebih memilih Ethan?"

"Dan kenapa aku harus memilih Ethan?" Tanya Ara bingung.

"Karena kau mencintainya?"

Ara lantas menghembuskan napasnya lalu melanjutkan untuk melihat sketsanya. Lama tidak ada yang bersuara diantara mereka.

"Sudah kuduga kau akan memilihnya." Ujar Emma lirih tapi bisa di dengar Ara.

Diletakkannya pensil dan kertasnya ke lantai dan menghadap Emma yang sedang asyik menekan remote mencari siaran.

"Dengar Ems." Ara menarik tubuh Emma agar mau melihatnya. "Apa kau pikir karena aku dan Ethan pacaran jadi kami akan melupakanmu?"

Emma mengangguk. "Itu yang biasanya dilakukan oleh orang- orang."

Dahi Ara seketika mengernyit. "Kau harus mulai menghentikan dirimu menonton kisah- kisah romansa yang berakhir menyedihkan." Emma nyengir. "Ethan adalah kakakmu dan aku yakin dia tidak akan membiarkan sesuatu terjadi sesuatu padamu." Emma masih terdiam berusaha mencerna apa yang dikatakan oleh Ara. "Dan kurasa Ethan bisa menjaga dirinya sendiri. Bukankah kau pernah bilang kalau kakakmu itu salah satu agent terbaik di FBI?"

Seketika wajah Emma merona karena bahagia. "Kau benar." Ujar Emma malu. "Tapi bagaimana denganmu?"

"Apa yang kau pikirkan tentang diriku selama ini?" Ara balik bertanya.

"Kau cantik juga pintar tapi ada saat dimana kau terlihat mengerikan dan jangan tanya kenapa, aku juga tidak tahu." Ara menyunggingkan senyum misteriusnya. "Tapi lebih dari itu. Aku menyayangimu. Aku menyayangimu seperti sahabat, mama dan juga kakak. Bagiku kau segalanya dan aku pikir, rasa sayangku padamu lebih daripada perasaan sayangku pada kakak kandungku sendiri."

Ara kembali menyunggingkan senyumnya. "Kalau begitu aku seharusnya membalas perasaanmu."

"Jawaban apa itu?" Emma membalasnya dengan memukul lengan Ara, membuat gadis itu tertawa.

"Kau sangat menggemaskan dengan ekspresimu tadi," ucapnya seraya mencubit sebelah pipi Emma, gemas lalu kemudian berubah. "Dengar aku juga menyayangimu," diam dan menghembuskan napas. "Jika terjadi sesuatu seperti yang tadi kau katakan. Aku mau kau mengingat ini."

"Apa?"

"Kau harus menutup matamu, jangan membukanya sebelum aku menyuruhmu dan aku janji akan melakukannya dengan cepat."

"Dengan cepat?"

Ara mengangguk mantap. "Ya. Dengan cepat."

"Bagaimana kalau aku tidak tahan dan ingin membukanya?"

"Maka pikirkan hal- hal yang menyenangkan atau kau bisa menyanyikan lagu twinkle little star kesukaanmu."

"Kau janji?"

"Ya. Aku janji."

"Baiklah. Aku juga janji tidak akan membuka mataku sebelum kau menyuruhku."

"Bagus."

"Dan kau akan melakukannya dengan cepat kan?"

"Ya"

Ara sudah berada diantara Emma dan pria yang menodongkan senjatanya di kepala Emma. Awalnya Ty memandang Ara dengan ragu. Dia merasa sangsi tapi ketika ia melihat ketua yang menganggukkan kepala kearahnya, akhirnya ia memilih untuk mundur selangkah tapi tetap waspada.

"Tutup matamu dan aku janji ini hanya sebentar." Ucap Ara.

Masih mengingat pembicaraan mereka dulu, pelan Emma menutup matanya dan merasakan pisau yang dingin berada di tenggorokannya. Dia ingin mempercayai Ara dan hatinya mengatakan hal yang demikian.

"Ara, hentikan!" Teriak Ian hendak menghentikan ketika disaat yang bersamaan suara tangisan Julie terdengar sampai ke telinga mereka.

Dan crasss...

Kejadiannya begitu cepat. Bahkan tidak ada yang mengedipkan mata ketika Ara yang tanpa ekspresi justru dengan mudahnya menggorok pangkal leher Ty hingga nyaris putus.

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS