SHADOW - DUA TUJUH

Ara melangkahkan kakinya sangat pelan. Untuk satu hal yang tak diketahui dan dimengertinya adalah bagaimana mungkin Alex berada di kediaman Nick dan terlebih lagi menyodorkan pistol di masing- masing kepala para penghuninya.

"Apa yang kau..." Ara dan Alex seketika terdiam ketika sama- sama menyuarakan kebingungan diantara mereka.

"Kau..." diam lagi.

"Katakan saja yang ingin kau katakan, S." Ucap Alex akhirnya, membuat kedua mata Ara mengernyit. Mengalihkan pandangannya dari Alex, Ara lantas mengedarkan pandangan pada orang- orang yang sedang menyodorkan pistol dan ia mengenali salah satunya lalu kembali berpaling pada Alex.

"Kami sedang dalam misi, S." Kata Alex seperti menjawab pertanyaan tak terucap Ara.

"Misi?" Ara semakin memperlihatkan wajah bingung. "Misi ap...?"

"Kau...S?" Ian lah yang pertama kali bersuara. Dia hanya tidak menyangka jika orang yang selama ini dikejarnya berada begitu dekat dengannya dan juga bagaimana mungkin gadis yang tampak lembuh dan juga lemah ini bisa menjadi pembunuh. Tidak mungkin! Itu adalah hal yang mustahil untuk dipercayainya.

Ara yang baru menyadari kalau saat ini dia dipanggil dengan codenamenya seketika berubah. Alex tidak pernah memanggilnya dengan codenamenya selain menjalankan tugas dari organisasi dan apapun yang terjadi, itu sudah membuat identitasnya terbongkar. Lalu pandangannya berada pada Ethan. Ethan sedang menatapnya seakan menyiratkan ketidakpercayaan yang nyata dan wajar saja jika ia merasakan hal itu. Pikir Ara. Jelas sekali Ethan akan membencinya kali ini.

Masih tanpa ekspresi Ethan mengalihkan pandangannya lebih dulu kearah pria yang sedang menodongkan pistol kearah Nick- pria yang pernah dipukulnya dan dibela oleh Ara.

A.

Ethan bisa langsung menerka inisial pria itu ketika melihat tatto yang memiliki gambar yang sama persis di pergelangan tangannya, yang pernah ditunjukkan oleh Ian dan menerka siapa yang dipanggil sebagai S.

A dan S atau Alex dan Aurora. Si pembunuh yang terkenal berdarah dingin.

Sepanjang yang Ethan perhatikan, meskipun pria dengan codename A atau yang didengarnya ketika Ara memanggil namanya sebagai Alex. Tidak sedikitpun pria itu memalingkan tatapannya dari wajah Ara, seakan dalam tatapan itu, ia memberitahukan kalau ia sangat merindukan gadis itu.

"Misi seperti apa yang kau bicarakan, A?" Kali ini Ara mulai meninggalkan memanggil dengan nama dan beralih ke inisial seperti yang tadi dilakukakan oleh Alex. "Aku tidak diberitahu."

"Sudahlah. Lupakan tentang pemberitahuan ini. Bergabunglah bersama kami dan selesaikan ini semua."

Kedua mata Ara seketika menyipit. Sama halnya dengan Alex, dia juga tidak suka jika ada orang lain yang ikut campur dalam pembicaraannya.

Key. Itulah codename yang diberikan oleh organisasi padanya dan semakin dipertegas dengan tatto berlambang kunci di leher sebelah kirinya.

"A-Ara..." Ara kembali memalingkan wajahnya dan mendapati wajah ketakutan Chleo dalam pelukan ibunya. Jelas sekali kalau Ana berusaha untuk menenangkan putrinya itu kemudian berpaling untuk melihat Nick yang memberikan tatapan tanpa ekspresi dan Alex yang seakan menunggu apa yang akan dilakukan oleh gadis itu.

"Jadi?" Ara berkata lambat- lambat dan Alex tahu kalau gadis itu hanya berusaha mengulur waktu. Jika tidak, sudah sejak tadi mereka akan melihat orang- orang tak bernyawa. Lagipula dia juga merasa heran, jika organisasi menginginkan kematian, kenapa harus membuat sebuah kelompok dan semuanya itu adalah pembunuh yang profesional.

Key adalah orang dengan tubuh kekar berwarna kecoklatan, memiliki tatto seperti inisialnya di leher sebelah kiri dan sedang menodongkan pistol ke kepala Emma.

Scorps, sama halnya dengan Key juga berbadan kekar dan kecoklatan. Memiliki tatto bergambar kalajengking di lengan bagian kiri dan sedang menodongkan pistol kearah Ian.

Spider, berhidung bengkok dan memiliki tinggi yang sama dengan Ethan, tatto di lengan kiri dan sedang menodongkan pistol ke arah Ethan.

Dan dua orang- Ty dan Wolf, yang menjaga Ana dan sepasang anak kembarnya.

Juga dirinya, A sebagai orang yang ditunjuk langsung untuk memimpin eksekusi ini dan kesemuanya itu adalah tergolong misi besar yang sebenarnya tidak perlu dilakukan jika korbannya hanya...

"Jadi... ini termasuk misi besar, heh?"

"Jangan bertele- tele, S jika...."

Dor!

Tanpa memperdulikan teriakan Emma yang kaget. Alex sudah menarik pelatuknya dan melayangkannya pada Key yang seketika itu juga tewas dengan lubang tepat di jantungnya berada.

"A! Apa yang kau..."

"Terlalu berisik," Alex memotong ucapan Scorps langsung. "Sekarang singkirkan mayat itu. Sangat menganggu pemandangan." Ucapnya.

Semuanya menahan napas melihat betapa dinginnya Alex ketika melepaskan pelurunya kecuali Ara yang sepertinya tidak mempermasalahkan kematian dari kelompoknya, sebaliknya ia juga sependapat dengan Alex. Seharusnya pria itu tidak memilih Kunci sebagai inisialnya kalau akan secerewet ini.

Meskipun Scorps merasa sangat kesal tapi dia juga tidak ingin mencari masalah dengan ikut terbunuh. Seraya memberi kode pada Ty, ia menyuruh Ty agar membawa mayat Key agak menjauh setelah itu menyuruh Ty menggantikan Key mengurus Emma. Emma yang sudah sejak tadi merasa ketakutan hingga kakinya terasa tidak menyentuh tanah dan semakin ketakutan ketika melihat penembakan yang dilakukan oleh Alex tepat didepan matanya. Dia merasa tubuhnya tidak bisa digerakkan lagi ketika lagi- lagi ia merasakan benda dingin yang tak lain adalah pistol di kepalanya.

Scorps lalu melayangkan pandangannya pada wanita yang dipanggil sebagai S. Ini pertama kalinya ia melihat S secara nyata. Dulu, ketika ia baru bergabung di organisasi. Ia sering mendengar cerita jika S orang yang sangat kejam dan juga kaku tapi siapapun yang melihat penampilan S saat ini dengan mata besar, bibir kecil dan rambut yang sengaja digulung seakan memamerkan keseksian yang terpancar dalam diri wanita itu tidak akan mempercayai kalau S adalah pembunuh.

"Hentikan pandanganmu untuknya. Dia milikku." Tepat setelah Ethan mengatakan kalimatnya, serta merta Alex melayangkan sikunya kearah wajah Nick, membuat pria itu meringgis kesakitan tapi tidak membuat Alex mengalihkan pandangannya yang justru malah berbalik menyorongkan pistolnya kearah jantung Ethan.

"Dia bukan barang kepemilikan, Blackstone." Ucapnya semakin menekankan pelatuknya ke jantung Ethan.

"Astaga A! Apa yang..."

"Jangan coba- coba mendekat, S." Perintah Alex tegas ketika melihat Ara yang akan berjalan kearahnya. "Kalau kau tidak mau bergabung bersama kami maka kami tidak punya pilihan lain selain kau juga harus mati bersama mereka."

Ara terdiam di tempatnya berdiri tampak berpikir kemudian menghela napas. "Baiklah." Katanya menyerah lalu melangkahkan kakinya kearah meja dan meletakkan botol wine yang sejak tadi dipegangnya keatas meja. Semua itu ia lakukan dengan santai seperti tidak ada kejadian menegangkan terjadi didepannya.

Sejujurnya jauh didalam hatinya dia juga ikut berdebar. Dia tidak mengerti mengapa organisasi menyuruh orang sebanyak ini untuk melakukan misi? Apa organisasi diperintahkan untuk membunuh para agen ini? Tapi untuk apa? Tapi diantara semuanya, kenapa mereka justru malah menunjukkan jati diri mereka? Itu akan menjadi sesuatu yang berbahaya jika ada saksi yang melihat atau bisa dikatakan hidup meskipun itu juga tidak akan membuat perbedaan yang besar karena jelas organisasi akan menyuruh pembunuh lain untuk membunuh saksi tersebut.

"Lakukan yang kau inginkan."

"Ara!" Emma terbelalak, tidak menyangka dengan jawaban yang baru saja dilontarkan oleh Ara barusan bahkan Ana juga tidak bisa berkata apa- apa.

"Tapi sebelum kalian membunuh orang- orang ini, adakah yang mau memberitahukan padaku mengenai hubungan mereka dengan organisasi? Kenapa misi ini harus melibatkan banyak orang?" Tanya Ara tidak memperdulikan pelototan baik dari Emma maupun Ana.

"Karena tidak seorangpun yang boleh hidup malam ini, mereka hanya orang- orang malang yang berada di tempat dan waktu yang salah, " jawab Alex menatap tajam kearah Ara. "Dan juga tujuan organisasi yang sebenarnya adalah ingin melenyapkan gadis itu."

Ara berpaling mengikuti arah telunjuk Alex ketika alisnya sama- sama saling bertaut, bingung ketika menyadari kalau Emma lah yang menjadi target utama.

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS