IY - TUJUH

"Apa," Jerry tidak mengerti ada apa dengan gadis yang telah menjadi tunangannya ini tapi tadi pagi sebelum ia berangkat ke Institute, mendadak Tessa Culton mencegatnya masuk kedalam mobil dan menanyakan masalah apa yang terjadi hingga Cassie hendak memutuskan pertunangan mereka. "Apa maksudmu mengatakan hal itu?" Tanyanya.

Jerry terpaksa membawa Cassie menjauh dari para staff dan juga pelajar di Institute karena tahu gadis itu memiliki jadwal latihan dengan Mr. Martin dan meminta pada guru latihan Cassie itu agar memberinya waktu, yang langsung disetujui oleh pria yang terkenal dengan kesabaran dan kemurahan hatinya.

Sejenak Cassie memperhatikan seluruh bagian didalam ruangan yang ditempati oleh Jerry selama hampir beberapa bulan ini semenjak dia paksa oleh Howard untuk mengambil alih tugas Institute sementara dia beserta Tessa, ibu Jerry lebih memilih menghabiskan waktu berdua, menjelajahi tempat- tempat wisata yang eksotis- jauh dari masalah pekerjaan. Lagipula Howard juga memiliki sebuah perusahaan besar dalam bidang pertambangan tapi lebih memilih untuk bekerja dibelakang layar sementara Jerry selalu berada di garis depan.

"Wah, ruangan ini sudah banyak berubah ya? Terakhir kali aku kesini, ada beberapa vas yang tersebar diseluruh penjuru ruangan. Kau dan paman Howard memamg sangat berbeda jauh." Komentar Cassie sarkastik.

"Jangan bertele- tele, Cassandra Swan. Apa maksudmu mengatakan kalau kau ingin membatalkan pertunangan ini."

Cassie mengernyit tak suka- dia sangat tidak menyukai jika seseorang menyebut nama lengkapnya apalagi ditambah embel- embel dibelakangnya. Ia merasa seperti anak nakal yang harus dihukum- Monica juga sering memanggilnya begitu tiap kali dia marah pada putri semata wayangnya.

"Tidak ada. Bukankah sudah tidak ada yang perlu dipertahankan lagi dari hubungan ini?"

"Apa maksudmu?"

"Tidak ada."

"Pasti ada. Katakan"

"Aku tidak perlu mengatakan apa- apa."

Jerry mengusap wajahnya frustrasi. Dia tidak mengerti pada gadis yang berdiri menantang didepannya. Ketika ia menjenguknya di rumah sakit tempo hari, ia melihat gadis itu tampak jauh lebih jinak tapi kenapa sekarang Cassie berubah menjadi tidak dapat dimengerti seperti ini? Dan kenapa Cassie terlihat jauh lebih keras kepala dari pada yang sebelumnya?"

"Aku sudah bosan denganmu, Jerr." Ucapnya tampak sangat lelah.

"Bosan? Apa maksudmu bosan?"

"Menurutku hubungan ini tidak perlu dipertahankan lebih lama lagi."

"Itu menurutmu. Aku tidak merasa seperti itu."

"Apa kau akan menikahiku?" Spontan Cassie bertanya membuat Jerry terdiam, mencerna apa maksud dari kalimat itu. "Kau tidak akan menikahiku jadi buat apa kita meneruskan hubungan ini." Lanjut Cassie sebelum Jerry mengatakan kalimat apapun.

"Apa ini sebabnya? Apa kau hamil?" Tanyanya menyuarakan apa yang terlintas dibenaknya pertama kali.

"Apa?"

"Apa kau hamil anakku?"

"Apa kau sudah gila?"

"Jawab saja, Cassandra. Apa malam itu telah membawa hasil?"

Cassie membulatkan matanya tidak percaya. Dia sudah berusaha untuk tidak mengingat apalagi mengungkit hal itu tapi pria dihadapannya ini dengan mudahnya mengatakan hal itu didepan wajahnya.

"Apa kau tidak pernah membaca kalau bayi tidak akan bisa terbentuk dalam satu kali percobaan? dan kau sudah tahu itu setelah kita melakukannya." Balas Cassie menahan emosi di kedua tangannya. "Lagipula kita sama- sama tidak sadar dan kita melakukannya tanpa ada paksaan dari pihak manapun. Kita berdua sudah dewasa, Jerr. Ada kebutuhan biologis dalam diri kita yang menginginkan hal itu jadi berhentilah mengungkit kejadian malam itu. Bukan kau yang kehilangan keperawanan."

Jerry berusaha untuk tidak ikut tersulut mendengar penuturan Cassie barusan. Dia ingin mengatakan kalau ia menyadari apa yang mereka lakukan dua bulan yang lalu. Dia tidak terlalu mabuk malam itu dan suasana apartemennya yang sepi malah menambah keintiman yang tercipta diantara mereka.

Kala itu hujan. Jerry yang lelah karena berbagai pekerjaan ditambah merasa bosan dan baru mengambil sebotol whiskey dari dalam lemari penyimpanannya ketika mendadak Cassie muncul dengan baju yang basah. Cassie mengatakan kalau mobilnya mogok dalam perjalanannya menuju pesta dan karena letak apartemen Jerry dan mobilnya tidak terlalu jauh maka Cassie memutuskan untuk sekedar berteduh sambil menunggu hujan reda dan menunggu pakaian Cassie selesai di laundry.

Malam itu Cassie meminjam kemeja Jerry dan Cassie yang melihat Jerry ingin minum sendiri segera berbalik untuk menemani pria itu. Mereka tertawa dan mengomentari semua yang ditayangkan oleh televisi hingga tanpa sadar sudah hampir dua botol yang mereka berdua habiskan. Entah siapa yang lebih dulu memulai tapi kehangatan tercipta dari masing- masing bibir mereka dan desahan yang keluar dari bibir Cassie.

Jerry tahu kalau Cassie masih perawan malam itu. Itulah sebabnya dia agak sedikit ragu ketika akan melakukannya tapi Cassie yang telanjang di bawahnya tampak jauh lebih menggoda dengan rambut coklat kemerahan yang bertebaran diatas tempat tidurnya, mirip seorang dewi dan Jerry juga begitu terangsang ingin mengecap bibir merah muda itu lagi.

Dan terjadilah.

Ketika mereka sadar keesokan paginya pun, mereka dengan bijak mengatakan kalau itu adalah sebuah ketidaksengajaan dan meminta untuk saling melupakan terutama Cassie yang menekankan kalau tidak ada yang terjadi pada malam itu diantara mereka hingga pada pesta yang kemudian mereka hadiri. Mereka bersikap seperti tidak ada yang terjadi.

"Jadi apa maksudmu ingin membatalkan pertunangan ini?" Jerry berusaha menahan emosi yang sementara bergejolak didalam dirinya saat ini.

"Seperti kataku tadi, tidak sebaiknya kita mempertahankan hubungan yang absurd ini lebih lama."

"Absurd katamu?" Jerry nyaris tidak mempercayai pendengarannya. Gadis didepannya ini sering sekali membuatnya terkejut dengan sikap dan pengolahan kalimatnya. "Dari segi mana katamu kalau hubungan kita ini absurd?"

"Kutanya sekali lagi, Jerr. Apa kau akan menikahiku?"

"Apa kau ingin menikah denganku?" Balas Jerry menantang.

Tidak ada yang berbicara. Keduanya hanya membisu saling menatap hingga kemudian Cassie menghembuskan napasnya.

"Kurasa sudah jelas." Ucapnya membuat Jerry spontan mengangkat sebelah alisnya. "Kau tidak akan menikahiku. Dan ya, aku tidak ingin menikah denganmu."

Jerry semakin tidak mengerti. Ini seperti Cassie sedang melakukan permainan kata- kata dengannya atau mungkin tangga nada. Do re mi fa sol la si do tapi dia menghilangkan kata sol dan membuatnya hanya terdengar do re mi fa la si do.

Jerry baru saja akan melangkah untuk mendekati gadis itu ketika Cassie justru tampak menghindar.

"Kau tidak pernah menginginkan pertunangan ini, bukan? Jadi aku memberimu kartu yang menyatakan pembebasanmu." Kata Cassie

Jerry terpaksa harus mengepalkan buku- buku jarinya agar tidak menghancurkan apa yang beradi diatas mejanya.

"Aku tidak butuh kartu apapun darimu." Geramnya.

"Terserah. Aku tidak peduli." Ucapnya seraya mengendikkan bahunya, acuh. "Toh, aku juga sudah mengatakan ini pada kedua orang tuaku."

Untuk sesaat Jerry terdiam, mencari celah. Dia mungkin merasa masih belum merasakan perasaan yang pernah dimilikinya ketika bersama Lea tapi satu hal yang pasti, dia tidak ingin memutuskan hubungan ini. Entah untuk alasan apa, dia masih sementara mendalaminya ketika mendadak senyum terukir di bibirnya.

"Aku akan pergi. Mr. Martin sudah menungguku." Ucap Cassie meraih gagang pintu dan membukanya ketika mendadak dia dihentikan oleh suara dalam Jerry dibelakangnya penuh intimdasi dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Cassie ingin berlari.

"Baiklah. Akan kusimpan kartu pembebasan diriku tapi satu hal yang harus kau ketahui dengan pasti kalau aku tidak akan menggunakannya," jeda sesaat dan Cassie mengira pembicaraan mereka telah usai ketika kembali ia mendengar suara Jerry dan terpaksa ia harus menolehkan tubuhnya menghadap sosok yang berdiri tidak jauh darinya. "Kau mengatakan kalau kau bosan padaku? Baiklah. Akan kita lihat sejauh mana kebosananmu akan bertahan."

Hening sejenak.

"Terserah. Lakukan apapun yang kau inginkan!"

Cassie berbalik dan menutup pintu ruangan Jerry dengan sangat keras hingga dia berani bersumpah kalau beberapa lantai di bawahnya telah mendengar suara hantaman itu dan berlari menjauhi tempat tersebut sejauh yang bisa ia lakukan.

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS