BTY - DUA



"Aku tahu kenapa kau membawaku kemari," ujar Jerry setelah hampir satu jam tidak ada yang bersuara diantara mereka. "Dan keputusanku masih seperti semula. Aku tidak akan kembali."
Untuk sesaat Jullian menghembuskan napas. "Aku tahu," katanya seraya menyeruput Americano-nya. "Dan aku bisa mengerti dengan keputusanmu itu."
Jerry menghembuskan napas, ikut mengangkat Americano- nya dan meminumnya. "Itukah sebabnya kau menyebut nama Cassandra agar bisa membawaku keluar?" Katanya lagi.
Jullian tidak menjawab dan hanya mendengarkan sebuah lagu yang sengaja diputar oleh si pemilik kafe tempatnya duduk.
"Jerry,"
"Tidak. Jangan katakan, Anderson." Potong Jerry. Ada nada getir dalam suara Jerry ketika mengatakannya. Membuat Jullian terpaksa mengangguk.
"Maafkan aku."
Sesaat Jerry menutup matanya. Mungkin. Hanya mungkin jika pertemuannya dengan Jullian dulu bukan di mulai dengan kebencian dan salah paham, sudah pasti mereka akan menjadi teman akrab saat ini tapi baik dirinya maupun Jullian sama- sama memiliki tingkat ego yang sama besarnya satu sama lain.
"Dan aku turut berduka cita." Lanjut Jullian. "Mungkin kau merasa aku terlambat mengatakan ini tapi..."
"Itukah yang ingin kau katakan hingga mengajakku kemari?" Sentak Jerry. Tidak. Tidak seorangpun yang boleh mengoyahkan pertahanan yang sudah dibangunnya selama ini. Dia sudah berusaha hingga mencapai tahap ini dan tidak berniat menghancurkannya hanya karena orang lain mengatakan kalimat tidak masuk akal untuknya.
"Aku bisa mengerti kenapa kau melakukannya."
Sejenak Jerry mengangkat alisnya lalu mulai mengeluarkan tawa sinisnya. "Benarkah? Setahuku Lea masih bernapas dan baik- baik saja disampingmu." Katanya
Jerry bisa merasakan tubuh Jullian mendadak tegang dan melihat kedua tangan pria itu terkepal sangat erat ketika kemudian melihatnya menghembuskan napasnya.
"Aku kesini karena Lea mengajakku." Katanya dalam suara tenang dan dalam.
"Kalau begitu selamat." Jerry sangat marah dan tidak perduli dengan apa yang akan dilakukan Jullian. Jauh didalam hatinya, dia tahu kalau semua orang mengkhawatirkannya tapi itu tidak bisa menutup lubang yang terlanjur menganga didalam dadanya.
"Dan apapun yang kau lakukan, itu tidak akan membuatnya kembali." Lanjut Jullian yang serta merta membuat Jerry mengebrak meja, membuat orang- orang disekelilingnya menoleh.
"Dengar, Anderson," Jerry mengeluarkan suara dingin dan berbahaya tapi bukan berarti Jullian takut. Untuk satu hal, Jullian bisa mengerti alasan dibalik kemarahan pria didepannya ini. Dia bahkan akan bersikap sama jika Lea, tidak. Dia tidak akan memikirkan hal lain. Sudah cukup minta buruk yang dialaminya dulu. Dia tidak ingin memikirkan sesuatu yang lebih dari itu.
Jullian ikut berdiri kemudian menaruh kunci mobilnya diatas meja. "Gunakan ini. Lampiaskan apa yang kau rasakan di luar sana. Aku bahkan tidak peduli jika kau membakarnya tapi pastikan ketika kau kembali, kau sudah lebih baik dari yang tadi. Semua orang khawatir melihatmu. Tidak terkecuali istriku." Setelah itu Jullian berlalu meninggalkan Jerry yang masih berdiri diam di tempatnya seraya memandangi kunci mobil yang sengaja ditinggalkan oleh Jullian.
"Masa bodoh!" Jerry langsung meraih kunci itu dan hal pertama yang akan ia lakukan adalah mencari tempat untuk menghancurkan mobil itu hingga akan sulit dikenali lagi.
Jerry belum menemukan tempat yang pas untuk menghancurkan mobil yang saat ini sedang dikendarainya dan hanya terus menelusuri jalan- jalan sekitar London. Jullian benar, dia perlu melampiaskan semuanya dan udara segar cukup bisa membantunya meredakan kemarahan yang selama ini dirasakannya.
Entah berapa lama ia sudah berkendara. Langit juga sudah mulai berwarna jingga yang menandakan kalau sebentar lagi malam akan tiba ketika sebuah benturan dari arah belakang tiba- tiba menghantamnya. Dia cukup lihai hingga tidak sampai menabrak mobil disekitarmya tapi apapun itu sudah cukup membuatnya tertawa. Tertawa karena orang yang tadi menabraknya tidak membuatnya sampai meregang nyawa. Sayang sekali.
Jerry keluar dari mobilnya dan berjalan menuju belakang mobilnya dan tersenyum. Dia sudah menghancurkan mobil milik Jullian meskipun tidak terlalu parah tapi memerlukan banyak biaya untuk mengembalikannya seperti semula.
Jerry berbalik untuk melihat orang yang menabraknya. Sebuah mobil yang bagian belakangnya terbuka dan tampak seperti mobil rongsokan. Jerry memperhatikan kalau pengendaranya hanya diam sementara kedua tangannya memegang setir kuat- kuat lalu mata Jerry bersirobok dengan sepasang mata yang memandangnya penuh ketakutan.
.
.
Jerry tidak ingin membuat masalah ini berlanjut tapi dia terpaksa harus melakukannya. Polisi datang tidak lama setelah kejadian yang menimpanya dan sialnya lagi, yang menabraknya masih tergolong dibawah umur. Hal itu membuatnya mau tidak mau harus ikut dimintai keterangan.
Jerry terus memperhatikan gadis yang diperkirakan berusia 16 tahun itu. Kentara sekali kalau dia sangat gugup berada di kantor polisi. Jerry sudah mengatakan kalau dia tidak akan memperkarakan masalah ini ke penjara atau pengadilan, biar bagaimanapun mobil yang ditabrak oleh gadis itu bukanlah miliknya. Toh, dia sudah berniat menghancurkan mobil itu sebelumnya tapi polisi yang menangani masalahnya bersikeras agar gadis itu menerima hukuman atas perbuatannya.
"Dimana orang yang bertanggung jawab atas dirimu?" Polisi itu mulai menanyai si gadis yang semakin bertambah gusar didekatnya.
"Se-sebentar lagi pak."
"Jika dia tidak ada disini maka kau harus dimasukkan dalam penjara dan menginap malam ini."
Si gadis semakin terlihat gugup dan berkali- kali melihat pintu didepannya.
"Kakak saya sebentar lagi akan tiba." Cicitnya sementara matanya diam- diam melirik kearah Jerry.
Jerry menghela napas pelan kemudian berkata pada si polisi. "Aku yang akan bertanggung jawab atas dirinya."
Baik si polisi dan si gadis penabrak sama- sama menoleh kearah Jerry.
"Tapi Mr. Culton. Anda disini adalah korban." Ujar si polisi bingung.
"Apa tidak boleh?" Jerry menatap tajam kearah polisi itu. Dia sudah muak dengan segala tetek bengek birokrasi. "Aku akan menyelesaikan masalah ini dengan keluarga gadis ini. Secara kekeluargaan," Jerry sengaja menekan kalimat terakhirnya. "Dan tentu saja aku berhak mencabut apapun itu jika aku merasa tidak ingin mempermasalahkannya."
"Tapi..."
"Dan lagipula aku mengenal kakaknya." Entah apa yang sedang dipikirkan oleh Jerry ketika mengatakan hal itu tapi dia benar- benar sudah lelah dengan segala macam yang menyangkut kepolisian.
"Tapi..."
"Benarkan, Patricia?" Jerry sengala menolehkan kepalanya untuk menatap si gadis. Untung saja dia tadi sempat mendengar ketika gadis itu menyebutkan namanya pada si polisi. "Sebenarnya aku tidak ingin mengatakan hal ini tapi gadis ini-" Jerry sengaja menunjuk Patricia, yang membuat gadis itu terlonjak. "Sangat marah padaku. Aku dan kakaknya baru saja putus dan sepertinya dia tidak terima ketika aku memutuskan kakaknya sehingga tanpa pikir panjang dia membalasku dengan menabrak mobilku." Kedua mata Patricia membelalak karena kaget. "Jadi bisa kutebak ini karena dia masih marah padaku."
Kedua kening polisi itu mengernyit, seakan tidak mempercayai apa yang baru saja diceritakan oleh Jerry, membuat Jerry mengeram jengkel. Diraihnya ponselnya dan memencet sebuah nomor.
"Wilson, urus ini." Ucap Jerry tepat setelah telponnya diangkat dan langsung memberikan ponselnya pada si polisi yang menerimanya dengan kaget. Jerry benci sesuatu yang membuatnya berbelit- belit dan keluar membiarkan si polisi itu berbicara dengan pengacara pribadinya.
Tidak sampai lima menit, si polisi keluar bersama Patricia menemui dirinya.
"Maaf Mr. Culton. Saya tidak tahu kalau anda."
Jerry mengangguk tidak ingin mendengar kalimat selanjutnya dari polisi itu dan menerima kembali ponselnya dari si tangan polisi.
"Pastikan kau menyuruh kakakmu menemuiku lebih dulu sebagai laporan kalau dia akan bertanggung jawab atas dirimu." Kata si polisi menoleh pada Patricia yang mengangguk cepat- cepat.
Jerry memutuskan untuk pulang naik taksi. Dia akan menyuruh orang untuk mengambil mobilnya nanti. Dia sudah sangat lelah dengan apa yang dilakukannya hari ini. Lea mungkin sudah kembali ke tempatnya bersama Jullian meskipun tidak menutup kemungkinan kalau dia akan kembali keesokan harinya.
Jerry baru saja melangkahkan kakinya beberapa langkah ketika merasakan lengannya dipegang, membuatnya terpaksa menoleh dan melihat si penabraknya melihatnya dengan gugup.
"M-maaf." Katanya. Jerry memperhatikan kalau di kening gadis itu terdapat luka memar yang kemungkinan besar akibat tabrakan tadi. "A-aku belum sempat mengatakan kata maaf tadi dan... terima kasih."
Jerry menyentak tangannya hingga terlepas. "Lebih baik urus memarmu dulu." Ujar Jerry dingin.
Kedua mata Patricia mengerjap kaget. Tentu saja dia tidak menyangka akan menerima tanggapan sedingin ini dari pria yang tadi ditabraknya tapi sedikit bisa mengerti sikap itu.
Sejujurnya Patricia sejak tadi terus memperhatikan wajah pria itu dan satu kata yang bisa dikatakannya adalah sangat tampan meskipun ada kesan dingin dari wajah itu tapi dia yakin kalau itu bukanlah wajah aslinya. Seketika jiwa mudanya tergelitik karena merasakan perasaan menggebu- gebu ketika mendadak ia merasakan sentakan keras dibelakang kepalanya dan meringgis mengetahui siapa yang baru saja memukulnya.
"Jadi katakan, bagian mana dulu dari bagian tubuhmu yang perlu ku kuliti sebelum mendengarkan penjelasanmu, Patricia Wildblood?" Tanya si pendatang baru dengan tajam dan membuat bulu kuduk siapapun merinding.
***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS