IY - DUA PULUH SATU
Hujan masih terdengar dari luar sana, semakin menambah hawa dingin yang berada didalam rumah tapi meskipun begitu, kedua insan yang sedang kasmaran itu sama sekali tidak merasakan apa- apa. Melainkan kehangatan yang masing- masing mereka pancarkan apalagi setelah apa yang baru saja mereka berdua lakukan.
"Jerr?" Cassie menengadah agar bisa wajah pria didekatnya dan tersenyum ketika pria itu justru mencurahkan perhatiannya melalui sebelah tangannya yang sibuk menyingkirkan rambut yang menempel di kening wanita itu.
Cassie tersenyum dan tidak tahan jadi yang dia lakukan adalah bergerak hingga tubuhnya berada diatas Jerry. Kedua tangannya ia silangkan didepan dada Jerry sementara ia menaruh dagunya disana.
Jerry mencoba untuk tidak tergoda dengan apa yang dilakukan oleh wanita itu tapi rasanya sulit jika tubuh hangat Cassie menempel ke tubuhnya apalagi dia tahu dimana kejantanannya saat ini berada tapi sepertinya Cassie tidak memperhatikan itu.
"Seharusnya bukan ini yang menjadi tujuanku kemari." Katanya yang serta merta membuat sebelah kening Jerry terangkat.
"Oh ya?" Jerry bertanya seraya menarik selimut agar bisa menutupi kedua tubuh mereka terutama Cassie. Dia mungkin tidak masalah karena Cassie sudah menghangatkan tubuhnya dengan cara yang lain tapi belum tentu Cassie merasakan hal yang sama apalagi punggung wanita itu bisa saja menjadi dingin.
"Aku kesini untuk meminta maaf." Jawabnya dan Jerry memperhatikan kalau wanita itu sedang mengatakan yang sebenarnya.
"Meminta maaf?" Jerry kembali menyingkirkan beberapa helai rambut yang ada di kening Cassie dan menyampirkannya ke belakang telinga wanita itu. "Untuk apa?"
"Kau tahu, aku sedikit merasa bersalah dengan pertengkaran kita tempo hari."
"Sedikit?"
Cassie memberenggut. "Dasar pria dan egonya! Baiklah. Aku banyak merasa bersalah." Katanya dan mau tidak mau Jerry tertawa.
"Aku juga meminta maaf, sayang." Jerry mendekap tubuh diatasnya. "Kurasa aku juga bersikap egois waktu itu."
"Wow!"
"Ya. Wow. Hebat sekali bukan."
Cassie mengangkat kepalanya. "Bukan wow yang itu. Maksudku wow. Kau bisa mengatakan maaf? Kurasa ini perlu dirayakan. Hore!"
"Apa kau bermaksud menggodaku?"
Cassie menunjukkan wajah pura- pura serius pada pria itu. "Tentu saja tidak. Aku pasti sudah gila jika berani melakukannya."
Kedua mata Jerry menyipit. "Kau memang gadis penggoda." Katanya seraya menarik Cassie agar bisa mencium bibirnya.
"Hmm," sensasinya begitu memabukkan bagi mereka berdua dan tersenyum bahagia terlebih Cassie yang memancarkan rona kebahagian.
"Aku dan Matt bertemu di salah satu pub," Cassie mulai berkata. Membuat Jerry seketika terdiam. "Waktu itu aku sangat marah karena tahu akan dijodohkan denganmu. Maksudku kala itu aku masih muda. Impianku adalah bersenang- senang karena kau tahu, gadis muda seperti aku dulu harusnya punya banyak teman tapi kenyataannya aku sama sekali tidak memiliki teman. Satu- satunya yang selalu kutemani berbicara hanyalah Claire. Oh, Elena juga dan si kembar dan Shane. Tidak ada yang lain." Cassie sejenak diam dan menghembuskan napas. "Aku belum mau terikat Jerr- dengan siapapun dan sialnya lagi. Tidak seorangpun yang mau mendukung keinginanku, seakan kau adalah pria paling sempurna yang ada di muka bumi ini- tapi itu dulu, faktanya aku akhirnya jatuh cinta padamu," Cassie tersenyum membuat Jerry ikut tersenyum. "Dan saat itulah aku bertemu Matt. Dia sangat perhatian denganku dan berita baiknya adalah dia tidak mengenal siapa aku sebenarnya dan itulah yang kubutuhkan." Jerry ingin membantah tapi diurungkannya. "Kami menghabiskan waktu dan bersenang- senang. Aku memperkenalkan namaku sebagai Case karena si kembar memanggilku seperti itu dan kupikir nama itu cukup keren," lagi- lagi Cassie tersenyum. "Tapi setelah hampir tiga bulan bersama kami- maksudku aku memutuskan untuk berpisah. Maksudku aku tidak ingin membohonginya. Aku pernah bilang kalau dia kesepian kan? Ya. Itu benar. Dia hanya seorang diri disini. Ibunya membuangnya ketika masih kecil."
"Sayang,"
"Jadi setelah kupikir, mungkin waktu itu aku hanya merasa kasihan padanya dan tidak ingin terlalu memberinya harapan."
Jerry langsung membalik tubuh Cassie hingga saat ini posisi mereka berubah dengan Cassie berada dibawahnya. Jerry menahan bobot tubuhnya dengan sebelah sikunya dan menyingkirkan rambut- rambut Cassie dengan sebelah tangannya dan mengecup kening, kedua mata Cassie bergantian, hidung dan berhenti di bibir.
"Kurasa aku sudah merasa tertarik padamu ketika melihatmu waktu itu." Katanya setelah melepaskan bibirnya dari Cassie. "Aku seperti sulit melepaskan pandanganku kala itu. Melihat ekspresimu yang tampak terkejut dengan bibir yang seakan mengundang dan malam itu. Malam ketika kau datang dengan pakaian basah karena hujan. Perasaanku semakin tidak terkendali. Kau membuatku sulit untuk bernapas padahal aku tahu udara tidak mungkin habis saat itu juga dan ketika kau tertawa. Tawa yang seperti lonceng kecil di telingaku, itu adalah suara yang paling ingin kudengar dalam hidupku. Kau membuatku menggigil dan merasakan panas dalam satu waktu. Dan ketika melihatmu menyerahkan diri padaku, saat itulah aku tahu kalau kau adalah milikku dan selamanya akan begitu. Kau sudah mengambil hatiku dengan cara yang aneh dan tanpa kusadari tapi itu justru membuatku merasa senang. Aku mungkin memperlihatkan sikap menyebalkan waktu itu tapi itu karena aku merasa tidak nyaman denganmu. Kau terlihat manja dan terlihat seakan keinginanmu harus seluruhnya terpenuhi. Kau seperti putri yang harus dijaga. Brandon bahkan sering mengingatkanku untuk tidak membuatmu kesulitan tapi rasanya godaan ketika bersamamu itu sangat terasa, membuatku kesal setengah mati."
Cassie terdiam. Kedua matanya mengerjap. Dia tidak pernah menduga akan mendengar pengakuan seperti ini dari bibir Jerry lalu kemudian dia tersenyum.
"Kurasa kita setimpal."
"Setimpal?" Jerry mengernyit.
"Kau membuatku kesal. Aku membalasmu dengan berpacaran dengan Matt. Setimpal."
"Itu tidak setimpal."
Cassie mencibir. "Kau juga pernah berpacaran dengan Lea."
Jerry tampak berpikir lalu berkata. "Ya. Kurasa kita setimpal."
"Jadi apakah kau masih memiliki perasaan padanya?"
"Apa? Dengan Lea? Tentu saja Ti-"lalu mendadak senyum muncul dari sudut- sudut bibirnya. "Itukah alasanmu kenapa dulu kau marah? Kau cemburu pada Lea?"
"Meskipun tidak pantas tapi harus kuakui aku sedikit cemburu padanya." Katanya pelan. "Lea cantik dengan rambut merah yang dimilikinya dan dia-"
"Kau juga cantik. Seperti malaikat dan namamu juga seperti ratu mesir yang terkenal akan kecantikannya."
"Itu Cleopatra," Cassie mendengus. "Dan aku Cassandra. Usaha yang bagus, Culton."
Jerry tertawa melihat amarah yang terlihat di wajah tunangannya itu ketika ia ingat akan sesuatu yang sejak lama ia ingin tanyakan.
"Dan tato itu. Tato di pinggulmu. Kenapa kau melakukannya?"
"Oh itu. Aku hanya ingin bersinar terang seperti layaknya bintang dan ketika pijarku habis maka aku berharap seperti bintang jatuh. Cantik dan bisa memenuhi permohonan setiap orang." Jerry terdiam berusaha memaknai arti dari kalimat yang baru saja dilontarkan oleh Cassie. "Dan ngomong- ngomong," Cassie mendadak mengalungkan kedua lengannya ke leher Jerry. "Daritadi aku menunggu apa yang akan kau lakukan padaku mengingat posisi yang tadi kulakukan dan yang sekarang kau lakukan."
Seperti penghapus, seketika Jerry melupakan apa yang tadi mereka bicarakan dan ikut tersenyum.
"Kau memang wanita penggoda."
"Terima kasih atas pujiannya." Cassie membalas semakin mendekap erat Jerry hingga pria itu mendesah karena gairah yang kembali muncul.
"Aku sangat mencintaimu, Cassandra." Katanya disela ia menggerakkan tubuh bagian bawahnya dan menciumi seluruh tubuh Cassie yang bisa diraihnya ketika Cassie mendesah dan mengerang karena pelepasan yang baru saja ia lakukan disusul Jerry kemudian.
***
Comments
Post a Comment