IY - LIMA

"Maaf."

"..."

"Oh tidak. Aku baik- baik saja."

"..."

"Ya. Maafkan aku. Aku mungkin tidak bisa ke tempat Josh selama beberapa hari ini."

"..."

"Tidak. Akan kuusahakan minggu depan."

"..."

"Ya. Terima kasih. Aku berutang padamu kali ini."

Klik.

Untuk sesaat Cassie menghela napasnya panjang. Satu hal dari sekian banyaknya perlindungan yang diterapkan oleh Monica padanya adalah hari dimana dia sakit. Sebenarnya bukan sakit yang parah tapi ibunya itu akan melakukan segala macam pengobatan layaknya dia terserang virus flu burung dan bukannya flu biasa.

Sudah dua hari ini dia dirawat inap di salah satu rumah sakit terkemuka di New York karena alasan yang tidak masuk akal. Flu. Dan apapun yang dilakukannya agar ibunya itu tidak terlalu melebih- lebihkan sama sekali tidak membantu. Dia baru saja akan kembali naik ke ranjang rumah sakit ketika mendengar suara pintu yang di geser, menampilkan sosok yang berusaha dengan keras dihindarinya jika sakit.

"Tidak kusangka akan melihatmu dengan penampilan seperti ini." Ujar Jerry melangkahkan kakinya menuju sisi ranjang untuk menyimpan mawar putih ke dalam vas.

Sebenarnya Jerry sedikit terkejut mendapati penampilan sang tunangan yang jauh dari yang biasanya. Cassie selalu memoles wajahnya dengan polesan yang membuatnya terlihat jauh lebih tua dibanding usia dirinya yang sebenarnya dan melihat Cassie tanpa polesan sama sekali seketika membuat jantungnya berdetak lebih kencang. Siapa yang menyangka dibalik polesan yang selalu ditampilkan oleh Cassie terdapat sesuatu yang sangat polos juga natural dalam diri sang tunangan.

Cassie berdehem satu kali untuk meredakan debaran jantungnya setiap kali ia bertemu dengan Jerry, berusaha bersikap tidak peduli dan itu cukup membuat Jerry tersadar dari apa yang baru saja dipikirkannya.

"Bagaimana kau tahu aku berada disini? Bukankah kau sedang berada di Denmark?" Tanya Cassie naik keatas tempat tidurnya dan duduk dengan bersandarkan bantal di belakangnya sementara Jerry mengambil kursi di sisi ranjang dan menempatkan pantatnya diatas.

"Tadinya seperti itu tapi orang tuaku menghubungiku dan menyuruhku untuk segera menjengukmu." Jawab Jerry terus terang.

Ada sedikit perasaan getir ketika Cassie mendengar jawaban dari Jerry barusan kemudian menutupinya dengan senyuman tidak peduli.

"Ya. Selain ibuku yang bersikap melebih- lebihkan, ternyata orang tuamu juga sepertinya sama. Aku baik- baik saja. Seharusnya kau tidak perlu repot- repot melakukannya."

"Aku tidak masalah" Jerry menjawab langsung yang seketika membuat jantung Cassie berhenti berdetak. Apa sekarang dia mulai peduli padaku?. "Toh, aku juga tidak mempunyai jadwal apapun hari ini." Lanjutnya yang langsung membuat Cassie tersenyum miris. Tentu saja. Sudah jelas aku tidak punya arti dalam hidupnya. Batinnya mengingatkan.

"Oh. Terima kasih atas bunganya. Aku menyukainya." Ucap Cassie tersenyum.

"Aku tahu. Claire yang menyuruhku membawanya tadi. Dia mengatakan kalau kau menyukai mawar putih."

Lagi- lagi Cassie tersenyum. "Kalau begitu aku juga harus berterima kasih pada Claire nanti."

Selama beberapa menit, Jerry terus memandangi Cassie dengan kening yang saling bertaut. "Apa dokter mengatakan sesuatu yang aneh tentang penyakitmu kali ini?" Jerry memutuskan untuk mengatakan apa yang sejak tadi terlintas dalam benaknya.

"Apa?"

"Apa flu mu parah?"

"Aku baik- baik saja."

"Kalau begitu kenapa kau tampak jauh lebih jinak hari ini dibandingkan hari yang biasanya? Apa kau demam lagi?" Jerry hendak menyentuh kening Cassie dengan telapak tangannya ketika langsung ditampik oleh gadis itu.

"Tidak ada yang salah dengan penyakitku. Ini hanya demam dan flu biasa." Dengus Cassie jengkel karena sikapnya yang lemah lembut justru ditanggapi sebagai hal yang aneh oleh pria disampingnya.

"Ah, tentu saja. Kau bahkan bisa terkena flu di cuaca yang sepanas ini. Kurasa itu hal yang normal buatmu, iyakan?"

"Apa kau kesini untuk menyindirku?"

"Tidak tunanganku sayang, " mendadak Jerry menjawil hidung Cassie gemas, membuat kedua mata Cassie terbelalak karena perlakuan Jerry yang tak diduganya. "Aku kesini karena aku peduli padamu."

Tubuh Cassie rasanya ingin melayang karena bahagia ketika kembali ia mendengar suara pintu yang digeser, menampilkan sang ibunda tersayang yang tersenyum padanya.

"Hai Monica." Sapa Jerry tersenyum setelah melepaskan tangannya dari hidung Cassie.

"Hai Jerry. Senang melihatmu disini, sayang. Apa kabar?" Monica berjalan menuju antara Jerry dan Cassie ketika Jerry berdiri dan memeluk tubuh Monica dengan hangat.

"Aku baik. Bagaimana denganmu? Bagaimana keadaan Wilson?"

Satu hal yang perlu diketahui, Jerry selalu menyebut kedua orang tua Cassie dengan nama begitupun sebaliknya,sebaliknya, Cassie juga selalu menyebut Mr dan Mrs. Culton dengan nama depan.

"Ya. Dia baik- baik saja, sayang," jawab Monica setelah melepaskan pelukannya. "Kudengar dari Tessa kalau kau sedang berada di Denmark, benarkah?"

Jerry tersenyum. "Ya."

"Bagaimana dengan kafe yang baru saja kau buka? Apa ada kendala?" Monica memang tahu selain mengelolah institute yang diwariskan kepadanya, Jerry juga membuka sebuah kafe dengan live music didalamnya.

"Bukan kendala yang berarti. Aku sudah pernah melakukan ini ketika di Prancis, ingat?"

Monica tertawa. "Aku lupa. Setidaknya kau sudah memiliki pengalaman dalam bidang ini sebelumnya."

Tidak ada yang memperhatikan Cassie selama pembicaraan yang terjalin diantara calon mertua dan calon menantu itu ketika Cassie memutuskan untuk membaringkan tubuhnya ketika Jerry berpaling.

"Kau lelah?" Tanyanya.

Dengan susah payah Cassie berusaha untuk tidak mendengus keras- keras. Dia tahu betapa Jerry adalah calon menantu kesayangan yang dikirimkan tuhan untuk kedua orang tuanya dan jika Cassie mencoba untuk melawan maka bukan tidak mungkin dia akan terkena amukan berupa nasehat penuh didikan akan betapa sempurnanya seorang Jeremiah Culton.

"Ya." Jawab Cassie lemah

"Baiklah. Istirahatlah. Aku juga harus kembali ke Institute lalu ke kafe hari ini." Balas Jerry seraya menepuk puncak kepala Cassie lembut.

Jerry baru akan berpamitan pada Monica ketika mendadak tangannya di pegang oleh Cassie. Seakan bertarung dengan keberuntunganya, Cassie memutuskan untuk mengatakan apa yang sejak lama sudah dia rasakan.

"Aku mencintaimu, Jerr"

Sesaat Jerry terdiam, menatap kedalam mata Cassie ketika kemudian tersenyum. "Aku juga mencintaimu Cassandra Ann Swan." Balasnya seraya membungkukkan badannya untuk mengecup kening Cassie.

Dan untuk satu alasan yang tidak diketahuinya, Cassie merasa terpuruk dan sedih mendengarnya.

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS