LOVE MISSION - 15
"Apa yang dia lakukan di sini?" Tanya Ray tidak dapat menyembunyikan perasaan kesalnya melihat Jayce yang berdiri membelakangi tembok samping pintunya. "Aku tidak pernah ingat kalau aku mengundangnya datang kemari."
Sejenak Kimberly berbalik untuk melihat Jayce dan menghela napas. Dia tidak mengerti kenapa Ray selalu memperlihatkan sikap permusuhan pada Jayce.
"Jangan begitu, Ray. Aku yang mengundang Jayce untuk ikut." Ujar Kimberly lembut.
"Kenapa?" Tanya Ray lagi seraya menatap lekat gadis didepannya.
"Kenapa apanya?" Kimberly bertanya balik, tidak mengerti.
"Kenapa kau mengundangnya?"
"Itu karena..."
"Itu karena aku mendengar kalau hanya kalian berdua yang akan berada disini." Timpal Jayce memotong ucapan Kimberly.
"Dan kau ingin memposisikan dirimu sebagai orang ketiga, begitu?" Cemooh Ray sengaja.
Sekilas Jayce mengangkat sebelah alisnya kemudian tersenyum menyeringai. "Well, sebenarnya aku tidak sampai berpikir seperti itu tapi sepertinya ucapanmu tadi benar tapi ada satu yang perlu kutambahkan. Aku tidak hanya datang sebagai orang ketiga tapi juga untuk melihat sejauh apa yang akan kau lakukan dengan milik orang lain." Tekan Jayce tersirat.
Dia tidak akan peduli apakah pernyataan Kimberly dulu adalah sebuah pernyataan cinta atau bukan, tapi apapun itu tidak seorangpun yang boleh menyentuhnya dan dia sudah menyatakan kalau Kimberly adalah miliknya.
Disisi lain, Ray yang mendengar kalimat Jayce barusan memperlihatkan ekspresi wajah seperti ingin menonjok orang. Keras dan kaku hingga tanpa sadar menekan knop pintu kuat- kuat. Dia ingin sekali meninju mulut orang yang dengan seenaknya mengklaim apa yang belum pasti menjadi miliknya. Dia tahu kalau Kimberly hanya membutuhkan Jayce untuk misinya dan dia nyaris saja meledak ketika dulu Sophie mengusulkan hal yang tidak masuk akal pada Kimberly. Mungkin situasinya akan sangat berbeda jika saudara perempuanya yang serba menyebalkan itu justru menyebut namanya alih- alih orang lain. Toh, dia juga adalah pria dan sudah pasti dengan keakraban yang tercipta antara dia dan Kimberly akan lebih memudahkannya.
"Begitukah? Atas dasar apa kau mengatakan kalau dia milikmu?" Tantang Ray sinis.
"Bukankah sudah jelas, aku dan dia..."
"Ya. Dia memintamu untuk membantunya. Aku tahu tentang itu." Ray mengangguk penuh khitmad, tidak memperdulikan raut wajah Jayce. "Jadi kau sudah menciumnya?"
Apa?.
Ray sengaja berjalan beberapa langkah agar bisa sejajar dengan telinga Jayce dan berbisik sangat pelan hingga Ray yakin Kimberly tidak akan mendengarnya.
"Karena aku sudah."
Brengsek!
Ray menyunggingkan senyum penuh kemenangan pada Jayce yang berusaha untuk tidak mengertakkan giginya. Sebenarnya dalam hati Ray, dia berharap kalau Kimberly belum menceritakan apa yang terjadi di kebun binatang waktu itu dan hanya bertaruh tapi melihat ekspresi Jayce barusan. Dia bisa bernapas lega ditambah lagi dia tahu bahkan sangat yakin kalau laki- laki ini belum pernah melakukan apapun pada Kimberly meskipun dia juga sedikit heran, bukankah Sophie mengatakan kalau Jayce adalah playboy? Jadi mana mungkin dia tidak pernah melakukan sesuatu pun mengingat sikap Kimberly yang begitu gamblang memintanya untuk langsung menciumnya tempo hari.
"Apakah kalian akan masuk atau tetap meneruskan pembicaraan kalian? Aku tidak tahu apakah aku membeli bahan- bahan dengan benar atau tidak." Gumam Kimberly tanpa sama sekali menyadari atmosfer yang tadinya mendadak tegang dan hanya memperhatikan isi paper bag di tangannya.
Ray lantas berbalik menghadap Kimberly dan tersenyum. "Tidak apa- apa, beauty. Kita akan memasak apa saja yang kau beli." Jawabnya tak lupa dia mendaratkan bibirnya di puncak kepala Kimberly.
"Baiklah. Ayo masuk." Kimberly masuk lebih dulu bersamaan dengan Ray ketika menyadari kalau Jayce tidak ikut bersamanya.
"Kita melupakan Jayce. Tunggu disini, aku akan kembali." Katanya seraya menyerahkan sepenuhnya paper bag itu ke tangan Ray.
"Aku justru berharap kalau dia langsung pulang saja." Balas Ray bersamaan dengan Kimberly yang melesat menjemput Jayce di depan.
Beberapa menit kemudian, Kimberly datang dan satu hal yang membuat Ray muak adalah Kimberly selalu menampilkan raut wajah yang berseri- seri ketika laki- laki itu berdekatan dengannya.
"Ray sangat jago mengolah bahan- bahan ini menjadi sesuatu yang dapat di makan" ujar Kimberly menperkenalkan setelah Jayce mengikutinya ke dapur.
"Bagaimana denganmu?" Tanya Jayce datar. Dia masih merasa kesal dengan apa yang dia dan Ray bicarakan tadi. Jika bukan mengingat alasan dia kemari, mungkin sudah sejak tadi dia pergi tapi dia harus mengawasi gadis bodoh ini dari sesuatu yang bisa saja menghampirinya, mengingat Kimberly sering saja meminta hal- hal yang menurutnya di luar batas pikiran manusia.
"Aku? Aku tentu saja lebih suka menghabiskan seluruh makanan yang disiapkan."
"Kau... bukankah kau harus menjaga bentuk tubuhmu? Kau masih perlu melakukan pemotretan, bukan?" Jayce tidak dapat memungkiri kalau dia agak terkejut mengetahui kalau Kimberly menyukai makanan. Bukankah seorang model harus memperhatikan apa yang dia makan? Bahkan Rhea sendiri sangat menjaga pola makannya dan hanya memakan salad sebagai makan malam.
"Jangan khawatir. Setelah ini aku bisa membakarnya, iyakan Ray."
"Tentu saja. Aku akan membuatmu sangat berkeringat malam ini." Sahut Ray seraya memotong- motong buncisnya.
Ray juga mengatakan kalau dia hebat diatas tempat tidur dan aku penasaran dengan itu.
Sekelebat kalimat Kimberly tadi siang langsung menyeruak dalam otaknya dan hampir saja mengebrak meja jika bukan merasakan Kimberly yang menyentuh lengannya.
"Kau tidak apa- apa?" Kimberly bertanya seraya memperlihatkan kedua matanya yang polos.
Apa aku terlihat baik- baik saja sekarang?.
"Jam berapa kau pulang?" Tanya Jayce tidak memperdulikan kalau Ray baru saja menghentikan dirinya dari membolak- balik daging stek di atas kompor.
"Eh? Bukankah aku sudah mengatakan kalau aku akan menginap? Aku juga mengundangmu." Kimberly bertanya bingung.
"Aku tidak keberatan kalau dia pergi. Akan lebih baik kalau hanya kita berdua." Sahut Ray.
Sekilas Kimberly memutar matanya yang jika saja Jayce bukan dalam keadaan kesal, maka dia akan menganggap kalau itu tampak lucu.
"Akan lebih baik kalau kita melakukannya bertiga. Itu akan menjadi lebih seru." Balas Kimberly.
"Ah, jadi kau menyukai permainan yang ramai?"
"Tentu saja. Sophie selalu mengatakan..."
"Baiklah. Kau boleh tinggal, begitu pun dengan aku." Potong Jayce. Kepalanya terasa pusing dengan segala macam omongan mereka berdua dan mengutuk bagaimana bisa gadis ini menjadi seorang model papan atas jika pola pikirnya sepolos ini?.
"Benarkah? Kau mau tinggal. Pasti sangat menyenangkan." Dan Kimberly tersenyum. Ini bukan pertama kalinya dia melihat Kimberly tersenyum tapi tetap saja melihat gadis itu tersenyum semanis itu padanya, membuat perasaannya jika ikut senang dan tanpa sengaja dia mengusap sebelah pipi Kimberly dengan lembut.
"Kau cantik kalau tersenyum seperti ini." Ujar Jayce lembut semakin membuat Kimberly melebarkan bibirnya.
"Dengar kalian berdua," seru Ray memotong. "jika kalian ingin makan malam kita tidak segera berakhir mengerikan maka ada baiknya kalian ikut membantuku. Aku tidak menyewa seorang koki di sini dan aku juga bukan koki kalian. Dan kau... " Lalu tatapan matanya menatap lekat Jayce. "Bersikaplah selayaknya tamu meskipun aku sama sekali tidak pernah mengundangmu."
"Ray! Jangan..."
"Baiklah... baiklah... aku minta maaf tapi itulah yang kurasakan."
Kimberly menggelengkan kepalanya putus asa. Dia akan melaporkan ini pada Sophie ketika pulang nanti dan menanyakan perihal kenapa Ray selalu terlihat seperti remaja perempuan yang sedang mengalami siklus bulanannya alias uring- uringan setiap waktu apalagi jika dia mendengar nama Jayce disebutkan.
"Jangan dipikirkan. Mungkin Ray sedang menghadapi masalah. Itulah sebabnya dia sering berbuat jahat." Ucap Kimberly.
Disebelah Ray mendengus keras lalu berbalik ketika matanya berhadapan dengan Jayce dan tersenyum penuh misteri kearah Kimberly.
"Aku tidak jahat kok, beauty."
Dan...
Cupp...
Ray mengecup sebelah pipi yang tadi diusap oleh Jayce.
Dengan susah payah, Jayce berusaha untuk tidak meraih pisau terdekat darinya dan langsung mengoyak bibir kurang ajar itu. Dan kenapa dia selalu saja mendaratkan bibirnya ke bagian wajah gadisnya padahal dia sudah sangat jelas mengatakan hal itu di depan pintu tadi?
Seketika amarahnya mendadak buyar dan dari sudut matanya dia menangkap kalau Ray ikut terdiam ketika untuk pertama kalinya, mereka berdua melihat semburat pink yang muncul dari kedua pipi Kimberly secara tiba- tiba.
Sial.
***
Comments
Post a Comment