LOVE MISSION - 29
"Jayce..."
"Ya?"
"Itu... besar"
Tawa Jayce tertahan di udara melihat Kimberly yang berada di bawahnya, tampak ketakutan.
"Jayce..."
"Ya?"
"Apa akan... muat?"
Ketakutan di wajah Kimberly semakin menjadi- jadi ketika dengan sengaja dia melirik kejantanan Jayce seraya menggigit bibirnya kuat- kuat dan hal itu membuat Jayce tidak tahan untuk tidak tertawa terbahak- bahak dan lebih memilih untuk menyamarkannya dengan ciuman yang diberikan ke bibir yang sudah bertambah volumenya itu- mencoba menenangkan gadisnya yang sebentar lagi bukan menjadi gadis.
"Apa kau takut?"
Jayce terpaksa harus bertumpu pada sikunya agar bisa menatap Kimberly dibawahnya. Dia tidak ingin terburu- buru melakukannya- meskipun dia sudah tidak tahan untuk segera memasukkan miliknya ke tubuh Kimberly. Dia begitu ingin menyatukan tubuhnya segera dan tahu kalau Kimberly pun menginginkan hal yang sama dengannya.
"Ya" angguknya tanpa melepaskan pandangannya dari Jayce.
"Jangan takut, sayang. Milikmu akan menyesuaikan dengan milikku." Lalu Jayce mengarahkan bibirnya untuk mencium bibir itu lagi, sangat lembut- membuat Kimberly kembali mendesah dan Jayce mengerang nikmat karena sentuhan jari- jari lentik di tubuhnya.
Kimberly mengangguk, semakin menempelkan dirinya pada tubuh Jayce- tanpa memperdulikan aroma seks disekeliling kamarnya ketika Kimberly mendadak melepaskan ciumannya dan menatap Jayce dengan penasaran.
"Ada apa?" Tanya Jayce mengira Kimberly tidak ingin melakukannya padahal sebentar lagi dia akan memasukkan kejantanannya itu ke milik Kimberly.
"Lakukan dengan pelan, Jayce. Aku mohon. Aku tidak mau sakit" jawab Kimberly lirih dan dengan itu langsung membuat Jayce tertawa melihat kepolosan di wajah gadisnya.
"Ya. Aku tidak akan membuatmu sakit" tutupnya dan meraih bibir itu lagi agar tidak ada lagi ada pembicaraan diantara mereka.
.
.
.
Kimberly terbangun lebih dulu dan langsung berhadapan dengan wajah lelap Jayce disampingnya. Dia tersenyum dan merasakan perasaan yang luar biasa apalagi ketika menyadari sebelah tangan Jayce masih berada di pinggangnya, memeluknya.
Dengan hati- hati Kimberly menggerakkan tubuhnya dan mengernyit ketika merasakan perasaan kebas di bagian bawahnya tapi ketika matanya menangkap wajah dihadapannya lagi, senyumnya kembali terukir dan menggerakkan tubuhnya agar bisa lebih dekat pada Jayce.
"Apa kau berusaha membangunkan dirinya lagi, sayang?" Jayce membuka matanya dengan tiba- tiba tapi tangannya meraih tubuh Kimberly dan memeluknya. "Selamat pagi" katanya seraya mengecup puncak kepala Kimberly, lembut.
"Apa aku membangunkanmu?" Tanya Kimberly seraya mendongakkan wajahnya- masih dengan tangan yang memeluk Jayce.
"Ya dan tidak" jawabnya. "Bagaimana perasaanmu? Apa aku menyakitimu semalam?" Kimberly telah memintanya untuk tidak membuatnya sakit semalam tapi Jayce tidak terlalu yakin dengan hal itu. Apalagi setelah dia merasakan kejantanannya menembus dinding tak kasat mata dalam diri Kimberly- membuat gadis itu meringgis selama beberapa detik sebelum Jayce melanjutkan apa yang sudah dilakukannya yaitu memerawani sang model cantik yang saat ini telah seutuhnya menjadi miliknya.
Kimberly diam.
"Apa yang kau pikirkan?" Jantung Jayce berdetak sangat kencang. Pemikiran bahwa Kimberly tidak menyukainya mendadak menghantam dirinya.
"Yang mana akan kujawab lebih dulu?" Tanya Kimberly dengan wajah bingung.
"Apa?" Untuk sesaat Jayce terdiam, mencoba menelaah pola pikir Kimberly ketika mendadak dia tertawa, hingga baik tubuhnya maupun tubuh Kimberly yang berada dalam dekapannya ikut terguncang karena tawa Jayce. "Jawab yang pertama dulu" Jayce mengecup bibir Kimberly dengan gemas.
"Perasaanku baik" jawab Kimberly merasa terhipnotis mendengar suara tawa dan ciuman yang baru saja diberikan oleh Jayce. Kimberly masih menginginkannya. "Oh dan kau tidak menyakitiku" lanjutnya seraya membawa bibirnya ke bibir Jayce dan menciumnya sangat lama hingga jari- jarinya menyelinap di sela- sela rambut perunggu Jayce, membuat Jayce mengerang dan tanpa sadar telah berada diatas Kimberly.
"Oh sayang, kau membuatnya terbangun"
Kimberly melepaskan ciumannya dengan suara yang keras dan menatap sekelilingnya dengan horor.
"Siapa? Apa ada orang lain yang melihat kita?" Kimberly menatapnya panik dan mencoba bersembunyi di balik tubuh telanjang Jayce diatasnya.
Dan Jayce tidak tahan untuk tidak menggodanya.
"Ya. Apa yang akan kita lakukan agar membuatnya tertidur lagi?" Tanya Jayce dengan ekspresi yang dilebih- lebihkan.
"Aku tidak tahu. Apa sebaiknya kita menyanyikan lagu nina bobo?"
Jayce menyamarkan tawanya dengan fokus pada sekitar leher dan tulang di bahu Kimberly ketika Kimberly justru mengangkat lehernya, semakin memudahkan Jayce menelusuri lehernya.
"Nina bobo ya?"
"Apa idenya buruk?"
"Tidak" Jayce tertawa kecil. "Idenya sangat bagus, sayang tapi mungkin tidak akan berlaku untuknya"
"Hm..." desah Kimberly ketika Jayce menemukan titik sensitifnya. "Jadi apa yang akan kita lakukan?"
"Kurasa memberikan apa yang dia mau"
"Oh,"
"Apa kau setuju?"
"Hm," Kimberly semakin mendesah tak karuan. "Ya"
Jayce tersenyum. "Ya. Kurasa dia sudah sepenuhnya terbangun, sebaiknya kita membuatnya tertidur lagi"
Lalu Jayce memasukkan kejantanannya ke milik Kimberly yang memang sudah basah hingga Kimberly membelalak kaget.
"Sudah saatnya kita menina bobokan dirinya, Mrs. Caldwell"
"Jayce!!!"
***
Jayce tidak bisa berhenti tertawa melihat ekspresi kesal di wajah Kimberly. Meskipun mereka melakukannya sebanyak dua kali tapi tetap tidak bisa mengindahkan wajah Kimberly yang merasa diperdaya olehnya.
"Oh ayolah, sayang. Aku sedang sakit disini" bujuk Jayce mengikuti Kimberly menuju dapur.
"Sakit?" Kimberly menengadah dari gelas berisi air yang baru saja diminumnya dan memandang Jayce.
"Ya. Aku terluka disini" Jayce menunjuk perban yang berada di dahinya bekas kecelakaan semalam.
Selama beberapa detik, Kimberly terdiam kemudian mendesah.
"Duduklah di sofa sana sementara aku mengambil kotak obat"
"Kau mau?" Jayce tampak terkejut dengan perubahan yang tiba- tiba ini dan berusaha menyembunyikan perasaan senangnya dibalik kesakitan yang ditampilkan di wajahnya.
"Ya" dan tanpa menunggu lagi Jayce setengah berlari menuju sofa di depan televisi ketika tidak lama kemudian Kimberly datang dengan membawa kotak obat.
Kimberly baru saja akan menempatkan pantatnya di sofa samping Jayce ketika tubuhnya ditarik agar duduk diatas kedua paha Jayce.
"Ini akan memudahkanmu untuk mengganti perbanku" sahut Jayce kalem.
Kimberly memutar matanya dan tanpa menaruh curiga segera memperbaiki cara duduknya hingga posisinya sekarang menghadap Jayce. Tentu saja posisi menantang yang dilakukan oleh Kimberly saat ini sama sekali tidak diduga oleh Jayce apalagi Jayce tahu kalau gadis itu tidak memakai apa- apa dibalik kemeja putih yang bahkan dua kancing diatasnya sengaja dibiarkan terbuka.
Dengan susah payah, Jayce meneguk ludahnya sendiri. Dia bisa merasakan ereksinya berteriak hendak membebaskan diri dari celana jeans yang dikenakannya.
"Sial! Aku perlu pengalih perhatian saat ini" batin Jayce.
Dia tidak ingin gadisnya kembali merasa kesal karena dirinya jadi hal satu- satunya yang ia lakukan adalah dengan memainkan jarinya ke rambut panjang milik Kimberly tanpa harus melihat ke bibir si empunya didepannya.
"Kenapa tidak ke rumah sakit?" Tanya Kimberly membuka suara dan dalam hati Jayce bersyukur, Kimberly yang membuka pembicaraan lebih dulu. Otaknya mendadak macet saat ini.
"Fokusku kala itu adalah dirimu. Kau pergi tanpa sama sekali melihatku dan aku benci mengingatnya"
Kedua tangan Kimberly berhenti dari aktivitasnya menempeli plester setelah mengganti perban di kening Jayce ketika dia mendesah lalu melanjutkan kegiatannya.
Ada jeda yang tercipta diantara mereka. Jayce juga tidak ingin membuyarkan pikiran Kimberly saat ini dan memilih untuk terus mempermainkan rambut gadisnya ketika Kimberly bergerak hingga terpaksa Jayce mengalihkan tatapannya ke mata Kimberly.
"Aku minta maaf, Jayce" ujarnya seraya mengalungkan kedua tangannya di sekeliling leher Jayce.
"Kau mau menceritakannya?"
Kimberly tampak ragu ketika kemudian dia mengangguk. "Aku tidak terlalu suka darah"
Jayce tidak terlalu terkejut dengan fakta itu. Siapapun pasti akan takut jika melihat darah akibat kecelakaan apalagi dia sempat mendengar orang- orang yang terkesiap ketika dia membuka helm.
"Tidak hanya itu. Aku juga membenci sesuatu yang melibatkan kecelakaan baik motor ataupun... mobil"
Jayce berupaya mencerna kalimat ini. Selama ini dia memang tidak pernah melihat Kimberly membawa mobil sendiri dan lebih sering diantar atau menggunakan taksi.
"Orang tuaku meninggal karena kecelakaan"
"Oh sayang" Jayce membawa tubuh Kimberly kedalam pelukannya.
"Aku tidak terlalu mengingat kejadiannya kemudian aku dibawa ke panti asuhan karena tidak ada keluarga yang bersedia menampungku lalu kemudian Sophie melihatku dan menawariku pekerjaan sebagai model"
"Itukah sebabnya aku tidak pernah melihatmu mengendarai mobil sendiri?" Tanya Jayce akhirnya menanyakan pertanyaan yang selama ini berada di benaknya. Dia dulu tidak mengerti kenapa Kimberly lebih memilih menaiki taksi dibandingkan memiliki mobil sendiri padahal siapapun tahu, dengan pekerjaan juga nama besarnya, tidak mungkin jika ia tidak mampu membeli mobil.
"Ya"
"Siapa yang biasa mengantar- jemputmu?" Kedua mata Jayce memicing curiga.
"Kadang Sophie dan kadang Ray"
Ugh, sudah dia duga!
"Mulai sekarang aku yang akan mengantar- jemputmu"
"Eh kau mau? Kenapa?"
"Karena aku cemburu jika harus melihat orang lain melakukan hal itu padamu"
Kimberly terdiam lalu kedua matanya mengerjap kaget. "Kau cemburu dengan Sophie?" Pekik Kimberly terperanjat.
Butuh beberapa saat untuk otak Jayce mencerna apa isi otak Kimberly ketika pemahaman memasuki pikirannya, membuatnya tertawa terbahak- bahak.
"Kau tahu, aku selalu menyukai melihatmu yang tertawa" ujar Kimberly dengan senyum di bibirnya.
Jayce membawa bibirnya ke bibir Kimberly dan mengecupnya disana. "Dan aku juga selalu menyukai caramu yang tersenyum"
"Aku tersenyum karena dirimu"
"Aku tahu. Itulah yang membuatku jatuh cinta padamu"
"Aku juga jatuh cinta padamu, Jayce"
"Dan menyebut namaku menggunakan bibir manismu ini"
"Aku menyukai caramu yang menciumku"
"Dan aku tidak akan pernah puas menciummu"
"Benarkah?"
Jayce mengangguk.
"Kalau begitu cium aku, Jayce"
"Sesuai permintaanmu, sayang"
***
Comments
Post a Comment