IY - EMPAT BELAS
Cassie tahu semua akan menjadi masalah! atau seperti itulah yang terjadi dimana dia berada diantara Elena dan Claire, oh dan berita baiknya adalah Elena yang baik hati juga memanggil Lea untuk turut serta dalam sesuatu yang lebih sering dianggapnya sebagai persidangan.
"Bagaimana dia bisa tahu kau berada disana?" Elena yang pertama memulai pembicaraan. Untuk yang satu itu, Elena seperti seorang ibu yang mendapati anaknya mencuri mangga di tetangga sebelah.
"Aku tidak tahu." Jawab Cassie
"Dia tidak mungkin seketika langsung..." Elena terdiam mencoba mencari kata- kata yang pantas untuk kalimat selanjutnya ketika Cassie menyelanya.
"Katakan saja, Elena." Cassie mulai tidak tahan dengan tekanan yang diberikan oleh ketiga wanita itu. "Matt menciumku. Selesai! " Membuat kedua mata Elena seketika membelalak sementara Claire terkikik merasa lucu dengan kalimat yang dilontarkan oleh sepupunya itu.
"Kutebak Jerry sangat marah karena ada yang berani mencium tunangannya." Sahut Elena menimpali.
"Dia langsung melayangkan tinjunya pada mantan pacar Cassie itu." Claire menambahkan membuat Lea memandang takjub Cassie.
"Dia pasti sangat cemburu."
"Tidak ada alasan lain." Lalu keduanya sama- sama mengikik.
"Aku meragukan hal itu." sela Cassie menyuarakan pikirannya.
"Apa maksudmu?" Elena kembali memberi Cassie pandangan curiga. "Apa ada yang terjadi diantara kalian?"
"Aku menamparnya."
"Oh bagus... tunggu! Kau menampar siapa?" Claire bertanya bingung.
"Aku menampar Jerry."
Dan mendadak ketiga wanita itu menunjukkan ekpresi tak terbaca. Elena melonggo, Claire yang seketika tersedak minuman yang baru saja diminumnya dan Lea... Lea hanya menggelengkan kepalanya.
"Itu pasti membuat harga dirinya terluka." Imbuh Lea setelah lama tidak ada yang bersuara diantara mereka.
"Aku meragukannya." Balas Cassie tidak percaya. "Maksudku bisa saja kalau dia hanya ingin balas dendam padaku, iya kan?" tambahnya yang seketika membuat ketiganya saling bertukar pandang.
"Sudah kubilang, dia tidak akan mempercayainya." Kalimat Elena lebih ditujukan pada Lea yang hanya bisa terdiam.
"Case," panggil Lea. "Aku tahu kita baru saling mengenal tapi aku mengenal Jerry cukup lama hingga bisa tahu seperti apa dia." Cassie terdiam berusaha mencerna apa yang hendak dikatakan Lea padanya. "Jerry bukan tipe pria yang akan dengan mudah mengumbar kecemburuannya pada orang lain." Katanya. "Kuharap kau tidak marah padaku setelah mendengar ini," tidak! tidak! Jangan katakan. Cassie berteriak dalam hatinya. Dia tidak ingin mendengar kalimat yang akan dikatakan oleh Lea. Dia sudah bisa menduga apa yang akan dikatakan oleh wanita itu. "Aku dan Jerry pernah menjalin sebuah hubungan," Rasanya Cassie ingin pergi saat ini juga. Dia sudah menganggap Lea sebagai kakaknya sama seperti Elena dan dia tidak mau merusak hal itu. "tapi selama kami menjalin hubungan itu. Aku tahu kalau kami tidak saling mencintai. Aku menyukainya karena dia begitu baik dan perhatian, dan dulu ada saat dimana aku membutuhkan kehadirannya untuk mengobati kekosongan dan luka yang kurasakan." Hening. Semua seperti terbawa suasana dengan ungkapan hati Lea. "Jika Jerry sudah pernah mengatakan kata cinta padamu maka, itulah yang dia rasakan. Dia tidak akan berbohong agar bisa membuat lawan bicaranya merasa lebih baik." Jelasnya.
.
.
Cassie tidak tahu harus mengatakan apa. Pikirannya saat ini menjadi buntu mendengar pengakuan Lea barusan. Dia hanya tidak habis pikir kenapa Jerry sampai menciumnya. Jika benar apa yang dikatakan oleh Lea kalau Jerry mencintainya, maka sejak kapan perasaan itu muncul? Cassie memfokuskan dirinya pada jalanan didepannya sementara lagu Into You milik Ariana Grande menghentak memenuhi mobilnya.
Dasar bodoh! Terlepas apakah yang dikatakan Lea itu benar atau tidak tapi setidaknya kau harus meminta maaf. Hati kecilnya mengatakan demikian.
Tapi dia yang lebih dulu memulai. Sisi lain kemudian membalas.
Apa kau berniat untuk membiarkan hal ini terus terjadi? Percayalah, Case setidaknya temui dia dulu. Katakan kalau tanganmu tergelincir atau apalah itu.
Tapi bagaimana kalau dia tidak ingin menemuiku?
Kau ini bodoh ya? Apa sekarang kau takut?
Aku tidak takut.
Kalau begitu kau pengecut!
Aku juga tidak pengecut!
Kalau begitu, ayo buktikan!
"Baik. Akan kubuktikan kalau aku tidak pengecut!" tekad Cassie seraya menekan kemudi mobilnya kuat- kuat.
Tapi...
Ternyata tidak semudah yang tadi dia katakan didalam mobilnya. Bahkan sekarang dia merasa kakinya berubah menjadi jelly ketika melihat pintu apartemen Jerry berada di depannya.
"Mungkin lain kali saja aku datang." guman Cassie dalam hatinya sembari membalikkan badannya hendak pergi ketika dilihatnya orang itu berdiri didepannya.
Crap!
"Apa yang kau lakukan disini?"
"Hah?" Otak Cassie mendadak berhenti memproses.
Kedua kening Jerry serta merta saling bertaut. "Dan apa yang kau bawa?"
"Hah apa? Oh! Ini... ini makanan cina. Hm, kau mau?" tanyanya seraya mengangkat bungkusan di tangannya.
"Kenapa kau membawa makanan cina ke tempatku? Apa kau berniat membawanya untukku?"
"Eh apa? Oh. Oh ini... well, itu.. tadi aku lewat di restoran cina yang baru dibuka jadi... kupikir mungkin aku bisa ikut mencobanya."
"Kau bisa membawanya ke tempatmu. Kenapa harus membawa ke tempatku?"
Grrrr... Tanpa sadar Cassie menatap tajam pria dihadapannya. "Baiklah. Aku akan..."
"Masuklah." potong Jerry seraya melewati Cassie dan mulai menekan kode pada apartemennya.
Cassie termanggu di tempatnya, tidak menyangka Jerry akan mempersilahkan dirinya masuk.
"Apa yang kau lakukan? Kau tidak ingin masuk?" suara Jerry memecahkan lamunannya.
Cassie mengangguk seraya berjalan melewati Jerry dan masuk kedalam apartemen pria itu.
Well, setidaknya tidak seberantakan dulu. Guman Cassie dalam hatinya.
"Aku akan mengambil pi-" kalimat Cassie berhenti di udara ketika melihat tatapan Jerry padanya. "Jika kau mengizinkan, aku ingin meminjam piringmu untuk menaruh makanan- makanan ini." Katanya dengan sangat sopan.
"Silahkan." balas Jerry seraya melangkah pergi.
Sial! Kenapa menjadi secanggung ini?! Cassie merutuk dalam hatinya
Tidak ada yang bersuara diantara mereka bahkan setelah mereka menghabiskan seluruh makanan yang dibawa Cassie -sebenarnya Cassie yang menghabiskan hampir seluruhnya sementara Jerry hanya memandang Cassie dalam diam.
"Biarkan saja seperti itu." Ucap Jerry ketika Cassie hendak membereskan piring- piring bekas makan mereka. "Besok pengurus apartemenku akan datang."
Cassie menggeleng. "Tidak masalah. Aku akan membereskan sekaligus mencucinya."
Jerry terdiam. "Lakukan kalau itu yang ingin kau inginkan." Lalu pergi.
Serta merta Cassie menghembuskan napasnya lega melihat kepergian Jerry. Ia merasa jantungnya ingin melompat keluar setiap kali matanya bertatapan dengan mata Jerry.
"Aku pasti sudah gila."
"Kenapa kau menjadi gila?"
Cassie membeku di tempatnya ketika merasakan dua buah tangan melingkar di sekeliling pinggangnya dan merinding ketika merasakan tubuh Jerry di belakangnya.
Holi Crap! Jerry memeluknya!
"A- apa yang kau lakukan?" Tanya Cassie gugup.
"Aku membantumu." Jawab Jerry membuat tengkuk Cassie seketika meremang. Harusnya tadi dia tetap mengurai rambutnya saja dan tidak mengikatnya.
"Aku bisa melakukannya."
"Aku tidak keberatan."
Cassie tidak tahu harus mengatakan apa lagi jadi dia tetap membiarkan Jerry berada dibelakangnya. Sebenarnya jika dipikir, itu justru membuat pekerjaannya menjadi dua kali lebih berat daripada sebelumnya. Napas Jerry yang terasa di tengkuknya seakan membuat adrenalinnya meningkat, membuatnya harus seketika menahan napas.
"Okey, sudah selesai!" Cassie langsung berbalik dan langsung terdiam ketika wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajah Jerry.
Ingat Case, tarik napas... hembuskan... tarik napas... hembuskan...
"Kau cantik." Ucap Jerry pelan sementara tangannya menelusuri wajah Cassie.
Jika bukan karena dihadapkan pada kecanggungan yang sejak tadi Cassie rasakan, sudah pasti Cassie akan mengatakan kalau sejak dulu dia memang sudah cantik dan Jerry terlalu buta hingga baru menyadarinya sekarang.
"Aku tahu." Cassie menjawab seraya menggigit pipi dalamnya.
Jerry terkekeh. "Kenapa kau membiarkan dia menciummu?"
Hah? Otak Cassie kembali mendadak macet atas arah pembicaraan ini.
"Dia menciummu dan kau tidak memukulnya."
Kali ini kedua mata Cassie mengerjap.
"Kau belum menjawab pertanyaanku."
"Per- pertanyaan yang ma- mana?"
"Kenapa kau membiarkan dia menciummu?"
"Aku tidak tahu." Cassie memang tidak tahu kenapa dia tidak memukul Matt saat itu.
"Tapi kau menamparku ketika aku melakukannya."
"Itu karena aku terlalu terkejut."
"Terkejut?"
"Ya. Aku kaget."
"Dan bukankah itu bukan pertama kalinya kita melakukannya. Maksudku..."
"Aku tahu," Cassie berkata gusar. "Aku tidak mengerti kenapa kau melakukannya. Maksudku kau dalam keadaan marah saat itu jadi..."
"Kau berpikir aku sedang melampiaskan amarahku padamu?"
Cassie mengangguk. "Itu yang kupikirkan."
Tidak ada yang bersuara diantara mereka.
"Tujuanku kemari adalah karena ingin meminta maaf padamu," Cassie mulai mengatakan tujuan awalnya. "Aku tahu kalau aku salah karena telah menamparmu waktu itu tapi tidakkah kau juga harus meminta maaf padaku," Jerry menautkan sebelah alisnya. "Kau menciumku tanpa peringatan dan... dan aku tidak siap untuk itu. Ya. Ya. Ya," Cassie memotong sebelum Jerry membuka mulutnya. "Aku tahu itu bukan ciuman pertama yang kita lakukan tapi waktu itu kita dalam keadaan sadar. Tak seorangpun dari kita dalam pengaruh alkohol jadi..."
"Apa kau akan percaya kalau aku mengatakan kalau aku ingat apa yang sudah kita lakukan hari itu?"
Oh! Seketika Cassie merasa darah naik ke pipinya.
"Dan bagaimana jika kukatakan kalau aku tidak sedang melampiaskan kemarahanku padamu?"
Cassie mengerjap.
"Jika aku menciummu, itu karena aku menginginkannya. Tidak ada alasan lain yang akan mendorong keinginanku itu."
Tuhan! Bagaimana ini? Bagaimana ini? Cassie mulai merasa kakinya sudah berubah menjadi jelly.
"Aku sudah mengatakan hal ini hingga berkali- kali, Cassandra dan aku ingin kau mengingat ini." Cassie merasa udara disekitarnya menjadi panas. "Aku, Jeremiah Culton mencintai Cassandra Ann Swan, sang pianis, multi instrumentalist cantik dan juga tunanganku yang saat ini sedang berdiri dihadapanku."
Cassie ternganga.
"Jadi apakah kau siap jika aku menciummu sekarang?"
***
Comments
Post a Comment