LOVE MISSION - 37

Sebenarnya jika bisa memilih, Sophie ingin supaya ia bisa kembali memutar waktu. Waktu dimana ia memberikan saran yang sangat konyol pada Kimberly. Jika ia tahu kejadiannya akan menjadi seperti ini maka ia lebih memilih Kimberly dengan gayanya yang seperti semula, tanpa ada perubahan seperti beberapa bulan terakhir ini tapi nasi sudah menjadi bubur dan tidak ada lagi yang bisa ia lakukan untuk mengembalikan bubur itu menjadi nasi.

Meskipun bagi sebagian orang acara Fashion Show di Milan beberapa hari yang lalu tergolong sukses tapi sebagian yang lainnya juga mulai bertanya- tanya dengan perubahan yang dialami sang model yang karirnya menanjak sangat pesat itu. Kimberly memang tetap datang menjalani pemotretan dan Fashion Shownya tapi tanpa ada sedikitpun senyum yang tersungging di wajah cantiknya itu. Bahkan kejadian itu terus menjadi headline di setiap pemberitaan baik di media cetak maupun eletronik. Semua orang dan para penggemarnya mulai bertanya- tanya meskipun beberapa orang ada yang menilai hal itu wajar karena dulunya Kimberly sudah dikenal dengan wajah tanpa ekspresinya tapi sehari setelahnya, orang- orang dibuat kaget dengan munculnya berita tentang Kimberly yang tinggal serumah dengan pria yang tak diketahui identitasnya meskipun Sophie bisa langsung mengenal siapa pria yang menjadi hot topic saat ini.

Sophie juga tidak mengerti dengan Jayce. Kalau memang Jayce sangat peduli dengan Kimberly, kenapa hingga sekarang pria itu tidak pernah lagi menunjukkan batang hidungnya? Apa sekarang dia juga mulai menyesali hubungannya dengan Kimberly? Memikirkan hal itu kembali membuatnya geram. Apa yang selama ini ia pikirkan tentang pria itu adalah salah. Seharusnya dia berusaha lebih keras untuk tidak memperbolehkan Kimberly berdekatan dengan Jayce, terlepas dari ikatan pernikahan yang mereka berdua telah jalani.

Sebenarnya, ketika Sophie mengetahui kalau Jayce mengajak Kimberly ke tempat neraka itu lagi, membuatnya mengamuk dan menghancurkan semua tempat sampah bandara hingga terpaksa ia harus dihentikan oleh beberapa petugas keamanan tempat itu.

Ia tidak peduli apakah Jayce tahu atau tidak, yang dia pedulikan adalah gadis yang telah dianggapnya seperti adik kandungnya itu mengeluarkan air mata. Ia bahkan tidak pernah melihat Kimberly menangis sebelumnya dan pria yang baru dikenalnya itu telah berani melakukan hal itu pada adiknya. Tak termaafkan!

Hari ini Kimberly tidak diperbolehkan untuk keluar dari apartemennya oleh Sophie. Selain karena khawatir paparazzi akan mengerubunginya layaknya semut yang mendapatkan gula. Ia juga takut kalau hal itu akan semakin berdampak dengan trauma yang dulu Kimberly alami. Sophie sedang memperhatikan Kimberly yang sedang menonton televisi. Meskipun layar pada televisi itu menampilkan cerita komedi tapi Kimberly sama sekali tidak mengeluarkan suara tawa, bahkan suara goyangan dari tempat duduknya pun sama sekali tidak terdengar. Nyaris saja Sophie terlonjak dari dudukannya ketika ia mendengar suara bel dibunyikan dari luar. Cepat- cepat ia melangkahkan kakinya untuk membuka pintu apartemennya, tahu siapa yang berada di luar sana.

"Astaga! Bisakah kau lebih cepat lagi membuka pintunya? Aku hampir saja mati saat menerobos kerumunan orang- orang disana." Cecar Ray langsung setelah Sophie mempersilahkannya masuk. "Dan berhentilah bersembunyi. Kau tahu kalau itu sama sekali tidak ada gunanya." Lanjutnya memarahi saudaranya itu.

"Kami tidak bersembunyi," balasnya jengkel membuat Ray terpaksa mengangkat alisnya. "Hanya menunggu hingga situasi menjadi aman." Segera saja Ray memutar matanya.

"Aku merindukanmu, Ray." Ujar Sophie seraya memeluk saudaranya itu.

"Ya. Ya terserahlah. Jadi kenapa kau menyuruhku tentunya dengan beberapa paksaan yang tersirat kemari? Tidak tahukah kau kalau di Yunani aku sudah sangat sibuk."

"Aku membutuhkan bantuanmu." Ray mengikuti arah pandangan Sophie ke sofa depan televisi ketika sedetik kemudian menghela napas panjang.

"Ya. Tentu saja!" Erang Ray dalam hati.

Ray melangkahkan kakinya pada sosok yang seperti patung itu dan tanpa banyak bicara langsung duduk di samping Kimberly, membuat gadis itu menoleh dan terbelalak.

"Jangan tanyakan keadaanku. Aku tahu bagaimana penampilanku saat ini." Ujar Ray sebelum Kimberly mengucapkan sepatah kata.

"Kau terlihat kacau."

Ray memperlihatkan wajah pura- pura marahnya karena gadis di sampingnya ini tetap mengatakan apa yang ada dalam pikirannya. Harus Ray akui, ia memang terlihat kacau dengan banyaknya bulu yang mengelilingi dagunya. Rambutnya juga sedikit lebih panjang dari yang terakhir ia ingat.

"Bagaimana kabarmu?" Tanyanya kemudian.

"Tidak baik." Jawab Kimberly kembali menatap televisi.

"Bisa di mengerti. Apa tidak apa- apa kau menonton televisi?"

Sejenak Kimberly menolehkan kepalanya. "Tidak ada yang salah dengan menonton televisi."

"Oh benar juga."

Tidak ada yang bersuara hingga beberapa menit ketika Kimberly kembali bersuara.

"Kau mengatakan hal yang benar."

"Hm sepertinya begitu tapi aku masih belum mengerti kemana arah pembicaraan ini." Balas Ray membuat Kimberly mendengus. Tentu saja perubahan ini membuat Ray menatap gadis itu tidak percaya. Kimberly tidak pernah mendengus sebelumnya.

"Kami memang tidak saling mengenal." Ucapnya membuat Ray dan Sophie yang ikut mendengar sama- sama terdiam. "Aku menyukai Jayce tapi ternyata itu saja tidak cukup." Lanjutnya.

Untuk sesaat baik Ray maupun Sophie sama- sama saling bertukar pandang. Menurut mereka Kimberly sama sekali tidak pernah memperlihatkan sikap yang seperti yang ditampilkannya saat ini. Kimberly selalu saja menunjukkan sikap lugu dan polos dan kali ini sikap seperti itu sama sekali tidak terlihat dalam diri Kimberly melainkan seperti ada sosok lain yang bernaung dalam tubuh gadis itu. Kimberly terdengar dewasa ketika mengatakan hal barusan.

"Kimmy..." Sophie lah yang pertama kali berujar.

"Aku tidak bisa melupakannya, Sophie," Ada air mata yang mengenang di pelupuk mata Kimberly. "Sekalipun kau memaksaku. Ini salahku karena tidak pernah memberitahukan tentang diriku yang sebenarnya pada Jayce."

"Kimmy..."

"Kalian menjagaku tapi aku malah mengacaukannya." Kimberly mulai terisak. "Apa yang harus kulakukan?"

"Lepaskan dia." Ray menjawab dengan dingin. Membuat Sophie membelalakkan matanya tapi Ray menolak untuk memperhatikannya. "Aku sudah pernah mengatakan padamu kalau kau akan mengalami sakit hati tapi kau tetap tidak memperdulikanku."

"Ray!" Sophie membentaknya, mencoba menghentikan ucapan Ray.

"Kalau kau tidak ingin mendengar apa yang ingin kukatakan, buat apa kau memanggilku kemari, Soph?" Tanya Ray tidak kalah kerasnya. "Itu karena kau tidak tahu lagi apa yang harus kau lakukan! Dan buatmu, Kimberly Moss. Berhenti menangisinya. Kalau dia juga mencintaimu, dia tidak akan membuatmu menangis seperti saat ini."

"Apa aku bisa melepaskannya?" Kimberly bertanya ragu.

"Tentu saja kau bisa."

"Tapi..."

Tiba- tiba saja Ray menangkup wajah Kimberly dengan kedua tangannya, membuat kedua mata gadis itu terpaksa melihat kearah dua bola mata milik Ray.

"Kau baik- baik saja sebelum bertemu dengannya dan begitupun selanjutnya." Kata Ray tegas.

"Tapi pernikahan kami?"

Ray mengerang jengkel. "Kau bisa membatalkan pernikahan kalian. Hanya sedikit yang mengetahui tentang pernikahan kalian. Tidak akan menjadi masalah besar dan orang- orang yang mendapatkan gambarmu bersamanya tidak akan menduga kalau kalian sudah menikah. Semua orang akan melupakan hal ini kelak."

"Benarkah?"

Ray mengangguk yakin. "Percaya padaku. Hanya aku dan Sophie yang akan berada di sampingmu."

"Tanpa Jayce?"

"Ya. Tanpa Jayce." Sahut Sophie ikut menimpali. "Hanya kita bertiga. Kau, aku dan Ray." Lanjutnya. Sudah cukup Sophie melihat semuanya dan seharusnya ia sudah memikirkan hal ini jauh sebelum semuanya terbongkar.

Suasana kembali hening. Kimberly memperhatikan wajah dihadapannya secara seksama. Sophie dan Ray adalah keluarganya dan sudah seharusnya keluarga saling menjaga.

"Ikut aku ke Yunani, Kim."

Baik Kimberly maupun Sophie serentak melihat Ray. Sophie bahkan harus membelalakkan matanya ketika mendengar kalimat Ray tadi.

"Tidak ada gunanya kau berada disini lagi. Ikut aku dan kita akan memulai semuanya dari awal lagi." Lanjutnya.

"Ray, kau tidak bisa memutuskan secara sepihak seperti itu. Kimberly memiliki kontrak disini." Ujar Sophie

"Kalau begitu batalkan semuanya."

"Apa?"

"Kalau begitu biarkan Kimberly pergi dan kembali lagi setelah beberapa tahun. Setidaknya sampai berita tentangnya dilupakan oleh orang- orang."

"Tapi..."

"Bagaimana menurutmu, Kim?"

Kimberly terdiam. Tidak tahu harus menjawab apa.

"Bagaimana pendapatmu, Soph?" Alih- alih menjawab, Kimberly justru balik bertanya pada Sophie yang kebingungan.

"Aku tidak tahu. Apa yang kau rasakan?" Sophie balik bertanya.

"Bingung."

"Begitupun yang kurasakan."

"Tapi..."

"Aku tentu saja ingin kau menenangkan diri tapi sebaiknya kau juga menceritakan hal ini pada Jayce."

"Sophia Rios!" Mendadak Ray bangkit dari duduknya. "Apa yang sebenarnya ingin kau lakukan?"

"Aku hanya tidak ingin Kimberly menyesali keputusannya lagi."

"Kalau pada akhirnya kau akan mengusulkan hal itu padanya, kenapa kau memintaku datang kemari?"

"Karena Kimberly membutuhkan keluarganya saat ini."

"Kau bercanda."

"Kau tahu apa yang sudah dialami Kimberly dulu dan sudah seharusnya keluarga berkumpul untuk mendiskusikan sesuatu."

"Tahukah apa yang kupikirkan tentangmu, Soph? Kau semakin bertele- tele ketika mengusulkan sesuatu."

"Apa?"

"Kau mengusulkan sesuatu yang tidak masuk akal padanya agar dia tersenyum yang justru malah membawanya kepada penderitaan dan sekarang kau mengusulkan padanya dan hal itu agar dia bertemu dengan pria itu lagi? Apa kau sudah gila?"

"Tapi pria itulah yang disukai Kimmy."

"Kimmy akan bisa dengan mudah melupakannya."

"Aku mungkin membutuhkan waktu," sahut Kimberly mencoba meredakan ketegangan diantara dua orang saudara itu. "Tapi apa aku harus pergi dari sini?"

"Jika kau ingin cepat sembuh maka sebaiknya kau pergi." Jawab Ray

"Tapi..."

"Tidak ada waktu untuk memikirkan semuanya," Ray memotong. "Besok sore aku akan kembali ke Yunani jadi kalau kau mau ikut bersamaku maka sebaiknya kau bersiap- siap dari sekarang." Ray berkata tegas kemudian pria itu kembali menangkup kedua pipi Kimberly dengan kedua tangannya. "Manusia memiliki ketahanan yang sangat baik dalam menghadapi rasa sakit. Semua yang kau alami ini akan mudah sembuh dan terlupakan seiring berjalannya waktu. Percaya padaku."

"Kau yakin?"

"Ya." Ray mengangguk pasti. "Kau baik- baik saja sebelum bertemu dengannya dan akan selamanya begitu selama kau tidak memikirkannya."

"Tapi Ray..."

"Ada aku. Aku tidak akan membiarkanmu sedih."

"Tapi..."

"Putuskan hari ini dan kita pergi besok!" Potongnya melepaskan dirinya dari Kimberly.

"Bagaimana dengan Sophie?"

Untuk sesaat Ray melirik Sophie yang berdiri diam disampingnya ketika dillihatnya Sophie justru menghembuskan napasnya panjang.

"Aku akan menyusul setelah menyelesaikan seluruh kontrak yang bisa dan tidak bisa dibatalkan terlebih dahulu. Apa kau akan pergi?" Tanya Sophie memandangi Kimberly lekat.

"Aku rasa apa yang dikatakan oleh Ray benar. Mungkin sebaiknya aku pergi." Jawabnya.

"Baiklah kalau itu sudah menjadi keputusanmu."

"Berapa hari yang kau butuhkan untuk menyusulku?"

"Entahlah. Mungkin sekitar dua atau tiga hari. Tidak terlalu banyak kontrak yang tersisa buatmu saat ini."

"Dan jadwalku?"

"Kita mungkin bisa mengalihkannya di tempatmu berada nanti atau bisa saja kita hanya sesekali datang kemari untuk melakukan pemotretan tapi sepertinya tidak dalam waktu dekat ini, mengingat banyaknya paparazzi yang berusaha mengerubungimu."

"Aku mengerti."

"Baiklah. Istirahatlah kalian berdua sementara aku akan menghubungi Walker mencari tahu apakah besok pagi kau bisa melakukan pemotretan untuk yang terakhir kalinya sebelum kau berangkat ke Yunani."

Kimberly mengangguk. "Ya. Terima kasih, Soph."

"Nikmati waktumu selama berada disana sebelum aku datang. Ray jaga dia."

"Kau tahu aku selalu menjaganya." Imbuh Ray menjawab.

"Sampai nanti, Kimmy."

"Sampai nanti, Sophie dan cepatlah menyusul."

"Pasti!"

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS