IY - ENAM
"Kau gila ya?" Claire berseru tidak percaya. Bagaimana tidak, mendadak sepupunya itu mengatakan kalau dia sudah tidak tertarik lagi menjalani pertunangannya saat ini. "Apa setelah keluarnya kau dari rumah sakit membuat syaraf di otakmu ada yang putus? Darimana semua keputusan ini berasal?" Cecar Claire tidak terima.
Claire tahu, bahkan sangat tahu bagaimana perasaan yang dimiliki oleh sepupunya itu hingga dulu dia salah mengambil keputusan. Keputusan yang membuatnya merasa terjebak tapi itu dulu. Cassie telah kembali dan beruntung hanya dirinyalah dan Elena, istri dari kakaknya- Brandon yang mengetahui. Brandon bahkan sama sekali tidak mengetahui apa yang dulu dilakukan Cassie.
Claire menolehkan kepalanya melihat Elena yang sepertinya juga termenung memandangi sosok yang terpaut lima tahun darinya. Elena dan Claire hanya terpaut beberapa bulan dan pernah kuliah di tempat yang sama tapi keakraban mereka baru saja terjalin ketika Elena melahirkan si kembar- Leo dan Leah.
"Kau tidak mungkin memutuskan hal ini jika tidak sedang berada dalam situasi tertentu, iyakan? Jadi apa yang terjadi?"
Sesaat Claire memutar matanya, jengah. Kadang dia jengkel dengan sikap Elena yang kelewat positif tapi kemudian dia berasumsi, mungkin saja karena Elena telah memiliki tiga anak jadi dia selalu bersikap selayaknya melihat dari segala sudut pandang ketika kembali pikirannya menyuarakan hal konyol lainnya. Masa dia harus melahirkan dulu baru bisa bersikap positif? Teori macam apa pula itu. Omong kosong!
Cassie terdiam, mengendikkan bahunya tampak acuh seraya mengaduk- aduk smoothiesnya sementara pandangannya terarah pada si kembar yang sedang bermain dengan Shane.
"Akan lebih manusiawi kalau kami bisa melepaskan ikatan yang tidak sehat ini." Jawab Cassie kalem, membuat Claire ingin memuntahkan kembali pizzanya ketika Cassie mendelik, tersinggung. "Hei, bukankah Chandra sendiri yang mengatakan kalau jiwaku tidak manusiawi, eh salah duniawi? Aku memiliki jiwa yang indah, tahu?" Sergah Cassie tidak terima.
Baik Claire maupun Elena sejenak terdiam, memandangi Cassie lekat ketika Elena kembali berujar.
"Kau akan jauh merasa sakit jika terus menahannya."
Lagi- lagi Cassie tampak tidak peduli tapi sejujurnya jauh dari lubuk hatinya dia mengiyakan apa yang baru saja terucap dari bibir Elena barusan.
"Apa salahnya sih kalau kau mengatakan hal yang sebenarnya padanya? Katakan kau mencintainya. Toh, kalian juga sudah lama bertunangan dan tidak ada salahnya dengan seorang wanita yang lebih dulu mengungkapkan perasaannya pada orang yang disukainya. Emansipasi, ingat? Hillary Clinton sudah menjadi senator mengalahkan para pesaing pria, belum lagi Ratu Elizabeth juga masih tetap menjadi ratu dan menurut kabar, dia tidak berniat menyerahkan tahtanya pada pangeran Charles dikarenakan beberapa skandal yang baru- baru ini muncul di permukaan." Cecarnya membuat Elena dan Cassie melonggo selama beberapa detik disusul suara tawa membahana di seluruh penjuru kafe tempat mereka berkumpul dan semakin tertawa ketika menyadari ketiga bocah yang bermain di taman, tidak jauh darinya sedang menatap mereka kebingungan.
"Astaga kupikir kau hanya tertarik dengan segala gosip artis dan bukannya urusan politik yang membingungkan." Cassie berujar disela tawanya.
"Itulah sebabnya aku mengikutsertakan skandal pangeran Charles. Toh, tetap saja itu gosip." Jawab Claire semakin membuat keduanya tertawa.
"Aku sudah mengatakannya." Cetus Cassie tiba- tiba ketika lama ia terdiam.
"Mengatakan apa?" Elena yang pertama kali menyadari nada suara Cassie yang mendadak berubah kemudian tidak lama kemudian disusul Claire yang memandangnya curiga.
"Aku mengatakan kalau aku mencintainya." Jawabnya berusaha terlihat acuh tapi sebenarnya dia merasa perih di dalam relung hatinya.
Lama tidak ada yang bersuara ketika Claire mendadak bersuara.
"Kau... apa?"
"Aku mengatakan kalau aku, mencintainya." Ulang Cassie pelan seraya mengatakan seakan menjelaskan satu ditambah satu sama dengan dua pada Claire yang tampak terperanjat.
"Tidak mungkin."
"Wah, kau membuatku tersanjung, sepupu." Cassie menampakkan wajah pura- pura tersinggungnya. "Apa kau menganggapku tidak sanggup mengatakannya?"
Tidak ada jawaban.
"Lalu apa yang dikatakannya?" Suara Elena mulai mengambil alih.
Kembali Cassie mengendikkan bahunya. "Dia mengatakan kalau dia juga mencintaiku."
Hampir saja Claire berteriak girang ketika menyadari pembicaraan pertama kali. "Oh, tidak lagi. Jangan bilang kau..."
"Itukah sebabnya kau berniat melepaskannya?" Sahut Elena menyuarakan apa yang baru saja Claire pikirkan.
"Kurasa begitu. Bagaimana menurut kalian?" Cassie mengatakan seolah- olah tidak ada masalah dengan itu.
"Menurutku? Menurutku kau gila!" Jawab Claire kesal.
"Aku setuju." Timpal Elena menyetujui pendapat Claire barusan hingga membuat keduanya bertos ria.
"Thanks ipar." Ucap Claire yang dibalas hal yang sama pada Elena, membuat Cassie memutar kedua bola matanya.
"Sama- sama ipar."
"Aku kan punya alasan."
"Tapi alasan yang kau miliki itu tidak masuk akal." Balas Elena, tidak ada lagi Elena si wanita positif. Sekarang yang ada adalah wanita sama seperti Claire dan itu berarti 2:1 untuknya.
"Memang alasan apa lagi yang harus kumiliki, dia tidak di takdirkan menjadi milikku." Seru Cassie putus asa. "Hubungan yang terjalin tanpa adanya kesamaan perasaan didalamnya bukanlah sebuah hubungan melainkan sebuah paksaan dan kalian sendiri tahu, setiap paksaan itu tidak akan pernah berakhir dengan baik." Ucapnya.
"Tapi... tapi dia sudah mengatakan padamu kalau dia juga mencintaimu, bukan? Jadi..."
Cassie tertawa miris. "Dia melakukannya karena terpaksa."
"Apa maksudmu?"
"Aku sedang sakit dan kemungkinan besar itu karena flu yang ku derita atau apalah itu. Dia ingin menghiburku lagipula ada ibuku juga disana jadi ya, seperti itulah."
Claire tampak tidak terima. Ia baru saja akan membalas ketika lengannya dipegang oleh Elena, menghentikan dirinya dari kalimat yang hendak diucapkannya lalu menghela napas.
"Ini tidak adil buatnya. Kau menghakiminya seakan- akan pernyataannya hanya sekedar ingin menenangkanmu," Ujar Elena yang hampir saja membuat Cassie mengangguk ketika kembali mendengar kalimat selanjutnya dari istri sepupunya itu. "Bisa saja dia memang memiliki perasaan padamu. Bayangkan jika dihitung kalian sudah lama bertunangan. Tidak mungkin Jerry tidak merasakan apapun padamu dan percaya padaku, sewaktu dia akan menjengukmu. Dia menanyakan pada Claire apa yang kau sukai."
Cassie tersenyum lemah. Dia sudah lama memikirkan hal ini dan ketika pikirannya sudah mulai merasa yakin, dia mulai kembali dilanda kebimbangan. Dia mengakui ada bagian, bagian terkecil- sangat kecil (dia sudah tidak ingin melambungkan harapannya terlalu tinggi) yang mengharapkan apa yang dikatakan oleh Elena benar tapi itu tidak mungkin.
Karena faktanya hubungan mereka sangat jauh berbeda dan ada wanita lain yang sudah sejak dulu disukai oleh Jerry dan itu diketahui dengan baik oleh dirinya sendiri.
Cassie memutuskan untuk tidak menanggapi karena semakin sering ia berharap maka semakin sering pula dia akan terjatuh dan jatuh bukanlah bagian dari favoritnya.
"Mau kemana?" Tanya Elena ketika dilihatnya Cassie berdiri dari tempat duduknya.
"Ke tempat Josh. Aku sudah berjanji akan menemaninya hari ini. Kau mau ikut?" Cassie berbalik menanyai Elena.
Sesaat Elena terdiam. "Aku tidak yakin. Brandon mengatakan kalau dia akan mengajakku ke suatu tempat."
"Oh jangan membuat anak lagi, okey?" Erang Claire tampak jengah ketika disambut tawa oleh Elena.
"Tidak. Hanya pesta perusahaan." Jelas Elena tersenyum.
"Kau sepertinya akur dengan sepupuku. Jangan ragu mengatakan pada kami kalau dia menyakitimu lagi." Ujar Cassie membuat Elena kembali tersenyum.
"Dia suamiku. Aku masih bisa menanganinya tapi terima kasih atas perhatiannya."
"Aku masih belum memaafkan kelakuannya ketika kau hamil si kembar dulu."
"Apanya yang si kembar?" Mendadak Brandon muncul dari arah belakang Cassie dan selangkah untuk mengecup kening istrinya. "Apa yang kalian bicarakan?" Tanyanya kemudian.
"Sebuah ancaman yang ditujukan padamu jika kau menyakiti Elena lagi." Jawab Cassie menatapa tajam Brandon.
Brandon terdiam, terlihat seolah- olah kaget. "Kau ternyata pendendam ya?"
"Pendendam adalah nama tengahku kalau kau mau tahu."
Brandon tertawa seraya mengacak- acak rambut Cassie dengan sayang, yang justru semakin membuat sepupunya yang dikenalnya sangat manja itu cemberut.
"Oh iya, kau dapat salam dari tunanganmu."
"Ya, ya, ya," Cassie membalas dengan malas. "Seperti aku tidak tahu saja seperti apa tunanganku itu." Lagi- lagi Brandon terkekeh mendengar penuturan Cassie. Dia hanya berusaha untuk menggoda sepupunya itu tapi tidak biasanya dia tampak acuh ketika nama Jerry disebutkan.
Brandon lalu menolehkan kepalanya untuk melihat Elena dan Claire yang hanya dibalas dengan kedikan di masing- masing bahu mereka. Mereka tidak ingin Brandon mengetahui hal tadi mereka bertiga bicarakan, Cassie hanya merasa bimbang dengan apa yang dirasakannya dan jika Brandon sampai mengetahuinya, bukan tidak mungkin kalau masalahnya akan menjadi lebih rumit daripada ini.
"Mau kemana?" Tanya Brandon lagi ketika melihat Cassie sudah beranjak dari tempatnya.
"Mencari pria yang bisa memuaskanku." Jawabnya setengah berteriak tanpa sama sekali berpaling.
"Anak itu. Ada apa dengannya? Apa dia bertengkar lagi dengan Jerry?" Tanyanya seraya menatap istri dan adiknya.
"Baiklah. Sudah saatnya aku pulang. Aku tidak mau mama mencariku." Elak Claire seraya beranjak dari tempatnya menuju ketiga bocah yang masih bermain di taman.
"Aku mengendus aroma penuh kerahasian antar wanita saat ini." Ujar Brandon seraya melihat Claire yang seperti menghindarinya.
Elena tertawa, berdiri dari tempatnya duduk dan mengecup pipi Brandon. "Baiklah Mr. Pengendus, sudah saatnya kita pulang."
"Apa itu berarti aku akan mendapatkan hadiah sepulangnya kita?" Brandon bertanya menggoda.
"Hahaha apa kau tahu apa yang dikatakan Claire ketika aku mengatakan akan pergi bersamamu malam ini?" Tanyanya tapi tak urung melingkarkan kedua tangannya di leher Brandon.
"Apa?"
"Jangan membuat anak lagi."
Brandon mengangkat sebelah alisnya. "Seharusnya dia tidak mengatakan itu." Ucapnya seraya melingkarkan tangannya di pinggang Elena.
"Kenapa?" Kali ini gantian Elena yang menautkan alisnya.
"Karena meskipun aku ingin, aku juga tidak bisa mengijinkannya."
"Oh tidak lagi, Brandon. Aku baik- baik saja."
"Oh Tuhan!" Sela Claire tiba- tiba. Elena dan Brandon terpaksa memalingkan wajahnya dan mendapati ketiga anaknya sedang melihat kearahnya. "Tidak bisakah kalian melakukannya di tempat privasi? Ada anak kalian disini." Sungutnya. "Oh, aku akan sekalian membawa ketiganya ke rumah. Elena bilang kalau kalian akan ke suatu tempat malam ini." Elena mengangguk setelah melepaskan kedua tangannya dari tubuh Brandon lalu menghampiri ketiga permata kecilnya. "Pastikan jangan terlalu lama disana. Aku tidak mau ketiganya kelelahan karena menunggumu." Sekali lagi Elena mengangguk
Lalu Elena mendekatkan bibirnya ke telinga Claire, sehingga tampak seperti dia sedang memeluk Claire ketika berbisik pelan. "Hubungi Cassie dan usahakan bicara dengannya. Kita tahu apa yang sedang dipikirkan anak itu, yang cenderung langsung tanpa berpikir."
"Tentu." Angguk Claire nyaris tak kentara.
***
Comments
Post a Comment