LOVE MISSION - 7
Ketika mereka tiba disana, sudah banyak buket bunga yang bertebaran disepanjang koridor rumah sakit. Sementara itu London memandang kagum dengan banyaknya buket bunga yang ada.
"Wow."
"Terlalu berlebihan." Ujar Jayce dingin. Sudah dua hari Kimberly menginap di rumah sakit dan beberapa infotaiment hanya menyatakan kalau gadis itu hanya kelelahan akibat aktivitas yang menggunung.
Jayce sebenarnya lebih memilih untuk mempercayai apa yang dikatakan para infotaiment itu, dibandingkan pernyataan Kimberly tempo hari tapi lagi- lagi London terus mendesaknya untuk datang menjenguk sekaligus melihat keadaannya, tak lupa dengan beberapa ancaman yang dilontarkan laki- laki itu jika Jayce tidak ikut dengannya maka dengan sangat terpaksa dia akan melaporkan kejadian ini kepada pihak berwenang atau yang lebih parah pada para awak media itu bahwa laki- laki disampingnya lah sehingga seorang Kimberly Moss harus dirawat. Pasti para media itu akan dengan cepat melahap berita apa saja, tidak peduli apakah itu benar atau tidak.
"Kalau kau melakukannya sekali lagi aku tidak akan segan- segan membuatmu mengalami hal yang lebih parah dari ini!"
Baik Jayce maupun London sama- sama menoleh mendengar nada penuh ancaman dari balik pintu dihadapannya.
"Jangan terlalu keras dengannya Sophie, dia mungkin tidak tahu dengan menu makanan waktu itu." Timpal suara laki- laki menenangkan.
"Apa? Tidak tahu KATAMU?! Orang bodoh mana yang tidak bisa membedakan sup jagung dengan sup asparagus?" Bentak suara itu lagi.
"Kau dalam masalah Kimmy." Timpal laki- laki itu tapi masih bisa terdengar bercanda.
"Kalian berdua jangan main- main! Dan untuk kau, young lady. Cepatlah sembuh dan jika kau melakukannya lagi..."
"Baik... baik. Aku janji tidak akan melakukannya lagi, Mam."
"Cih, pastikan saja mengolesinya dengan rapi."
"Akan kulakukan dengan sepenuh hatiku."
"Argh, aku benci jika harus mengatur ulang jadwalmu seperti ini."
"Kau yang terbaik, Sophie."
Jayce mengenal suara terakhir itu dan baru akan mengetuk ketika pintu didepannya terbuka, menampilkan sesosok wanita dengan kacamata bingkai sedang menatap tajam dirinya.
"Siapa kau? Kurasa aku sudah mengatakan pada security rumah sakit ini untuk tidak mengijinkan wartawan manapun meliput Kimberly." Sungutnya.
Eh?
"Maaf, apa kau Sophia Rios? Manajer Kimberly?" London merasa canggung sekaligus berdebar melihat wanita didepannya, dia sama sekal tidak menyangka kalau manajer Kimberly akan seseksi ini dengan rambut yang digelung keatas. Memperlihatkan leher dan sedikit belahan dada yang tampak penuh. Tanpa sadar London meneguk ludahnya melihat makhluk seksi dihadapannya.
"Siapa kau? Apa aku mengenalmu? Dari majalah mana kau? Apa yang kau inginkan?" Tanya Sophia beruntun menatap London dengan tatapan mengintimidasi miliknya.
"Wow... wow... wow, tenang nyonya." Ucap Jayce menengahi.
"Nyonya?" Sophia membelalakkan matanya tak percaya.
"Baikla... nona?" Ucap Jayce lagi. Keputusan dirinya mengikuti London ke rumah sakit adalah kesalahan paling fatal yang pernah dilakukannya. Bagaimana mungkin dia berani mengumpankan dirinya ke sarang singa betina yang sedang lapar? Apalagi setelah mendengar amukannya tadi pada gadis eh... kenapa dia malah memikirkan perasaan gadis itu?
"Katakan apa yang kau inginkan?" Tanya Sophia seraya menyipitkan matanya, meneliti. Menurutnya laki- laki didepannya ini terbilang tampan, dengan hidung yang mancung, bentuk wajah yang sempurna bak dewa tapi sedikit ada kesan bad boy didalamnya dan tatapan penuh tekad dan intimidasi tapi itulah yang menjadi daya tariknya dan semakin diperkuat oleh rambut perunggunya.
Perfect. Itulah kata yang tepat untuk menggambarkan laki- laki didepannya.
"Dengar, miss..."
"Rios. Sophia Rios."
Jayce mengangguk pelan. "Baik Miss. Rios. Aku tahu aku datang di saat dan waktu yang tidak tepat tapi aku kesini untuk meminta maaf."
Kedua kening Sophia mengernyit. "Meminta maaf?"
"Bukan padamu melainkan pada gadis yang ada dibalik pintu ini."
Lama tidak ada yang bersuara diantara mereka hingga Sophia membelalakkan matanya.
"Apa yang sudah kau lakukan padanya?! Dan siapa kau?! Tidak dapat dipercaya. Gadis itu!."
Jayce dan London sama- sama saling memandang melihat kemarahan yang diperlihatkan wanita didepannya. Kenapa dia menjadi semarah itu? Kimberly tidak sedang sekarat atau mengalami cacat tubuh permanenkan? Memikirkan pemikiran terakhir membuat Jayce bergedik ngeri. Dia memang tidak menyukai gadis itu tapi tetap saja dalam hati kecilnya dia merasakan ketertarikan akan sikap gadis itu yang begitu terus- terang. Tunggu, apa sih yang baru saja kupikirkan?.
"Aku Ortis, London Ortis" sahut London merasa tidak enak. "dan laki- laki ini adalah sahabatku, namanya..."
"Jayce." Sophia langsung menyela kalimat London. "Sial, sudah kuduga. Gadis itu benar- benar!" Geram Sophia dalam hati. Tentu saja, bagaimana bisa dia tidak menyadari lebih awal? Laki- laki inilah penyebabnya. Tidak mungkin Kimberly bisa melakukan hal sebodoh itu pada makanan yang dihindarinya. Dasar bodoh!
Sementara itu Jayce dan London sama- sama kembali saling menatap, tidak mengerti.
"Well, setidaknya kau sudah datang dan melihat sendiri perbuatanmu." Ujar Sophia setelah menghela napasnya seakan dia sudah lelah menghadapi semuanya.
Hah?
"Masuklah. Sebaiknya kau bisa mempertanggung jawabkan apa yang sudah kau perbuat, Jayce."
Belum sempat Jayce menanyakan apa maksudnya ketika tiba- tiba Sophia membuka pintu dibelakangnya, mempersilahkan dirinya dan London masuk.
Hal pertama yang dilihatnya adalah seorang pria dengan kemeja biru langit sedang membelakanginya, duduk di pinggir ranjang rumah sakit, berhadapan dengan si pemilik ranjang tersebut.
"Apa menurutmu bintik- bintik ini akan cepat hilang, Ray?" Jayce mendengar suara pelan milik Kimberly.
"Kalau kau mengolesnya dengan teratur, kurasa tidak masalah. Tapi setelah kuperhatikan, bintik- bintikmu ini manis juga. Sangat cantik dengan kulitmu yang putih." Balas pria itu.
"Benarkah? Apa menurutmu aku perlu menambahnya?'
Pria itu tertawa. "Dan menghadapi amukan kakakku lagi. Kurasa aku tidak bisa mengambil resiko itu."
"Ehem."
Pria itu berbalik dan berdiri dari sisi ranjang dengan mantap.
"Bukankah kau masih lama? Apa terjadi sesuatu?" Tanya pria itu.
"Tidak. Kurasa aku hanya akan mengantar kedua teman kampus Kimberly dan pergi lagi." Jawab Sophia. "Kenalkan dia adikku, Ray. Ray, London dan..."
"Jayce!" Pekik Kimberly. Meskipun tidak ada senyum diwajah Kimberly tapi siapapun yang mengenal gadis itu tahu kalau dia sangat senang dengan kehadiran pendatang baru itu.
Jayce melangkahkan kakinya kearah pinggir ranjang tanpa sadar, mengacuhkan tatapan kaget tak percaya ketiga orang disekitarnya. Diperhatikannya wajah gadis didepannya, ada bintik merah samar diwajahnya dan beberapa dilehernya. Napas Jayce tertahan menyadari kalau dua kancing baju rumah sakit yang dikenakan Kimberly terlepas dan langsung berbalik untuk berhadapan dengan pria yang berdiri tidak jauh darinya. Keduanya saling melempar pandang tidak suka.
Apa yang sudah mereka lakukan diruangan ini?
"Jayce, kau datang menjengukku." Ucapan Kimberly menyadarkan Jayce dari pandangan penuh tidak suka kembali ke wajah gadis didepannya.
"Maaf. Aku tidak membawa sesuatu kemari." Ujar Jayce tanpa sadar menyentuh salah satu bintik merah di pipi Kimberly. "Apa perih?"
Kimberly menggeleng. "Kurasa sudah tidak lagi." Ujarnya seraya ikut mengulurkan tangannya untuk menyentuh lengan Jayce yang menyentuh pipinya.
Deg.
Deg.
Deg.
Baik Jayce maupun Kimberly sama- sama mengerjap. Bagi Kimberly ini adalah perasaan aneh sekaligus menyenangkan tapi tidak bagi Jayce, dia memberi gadis didepannya penuh arti.
Sementara itu, Sophia hampir tidak dapat mempercayai apa yang baru saja dilihatnya. Dia mungkin sering kali menonton film drama romantis tapi kejadian didepannya ini membuatnya tidak bisa percaya. Bagaimana mungkin...?
"Kurasa sudah saatnya kau pergi, teman." Ujar Ray sedikit menyentak tubuh Jayce dari yang dimaksudkan hingga jarak antara Jayce dan Kimberly terpisah.
Kedua mata Jayce melotot marah, "apa yang....?"
***
Woohoooo...love rival
ReplyDelete