IY - TIGA
Baik Jerry maupun Cassie sama- sama tidak ada yang mau melepaskan pandangan mereka. Mereka berdua tahu jika salah satu dari mereka ada yang mengalah maka pihak yang kalah akan mendapatkan cemohan dari pihak yang menang dan tidak seorang pun diantara mereka yang ingin menjadi pihak yang kalah.
"Jadi?" Cassie mulai mengawali pembicaraan diantara mereka. "Apa yang kau inginkan?" Tanyanya.
"Apa yang bisa kau lakukan?" Jerry membalasnya dengan seringaian yang membuat gadis itu muak.
"Bukankah akan lebih terhormat jika gentleman lebih dulu?" Sarkasmenya
Jerry menyunggingkan senyum penuh arti. "Bukankah selalu kata ladies first yang mengawali?" Balasnya tidak mau kalah.
Cassie dapat merasakan kalau dia mulai tersulut dengan keadaan yang seperti ini dan dalam hati mengutuk apapun yang ada dihadapannya, termasuk kucing yang sedang lewat karena kucing itu telah berhasil mengalihkan pandangannya.
"Kenapa kau mengikutiku?" Tanya Cassie sementara dalam otaknya sibuk memikirkan rencana agar bisa meloloskan diri dari situasi ini. Dia tidak ingin kelepasan dan membuat Jerry tahu yang sebenarnya.
"Mengikutimu?"
"Ya. Kau mengikutiku kemari"
Seperti yang Cassie bisa duga, Jerry justru tertawa geli. "Untuk apa aku mengikutimu?"
"Aku tidak tahu. Kau yang tahu"
Jerry terus memperhatikan gadis yang telah menjadi tunangannya itu secara seksama. Sadar atau tidak sadar, Jerry mulai menyadari kalau tunangannya itu yang tidak lain adalah pianist terkenal- Cassandra Ann Swan, selalu memperlihatkan sikap aneh sekaligus tidak dapat dimengerti olehnya.
"Apa kau cacingan?" Akhirnya Jerry menanyakan apa yang selama ini selalu menganggu pikirannya.
"Apa?!"
"Kau selalu mengeliat seperti orang cacingan setiap kali kita berhadapan"
Kedua mata Cassie mengerjap, tidak percaya. "Kau tidak tahu?"
"Apa aku harus tahu?"
Kali ini Cassie total terperangah. Kedua bibirnya terbuka kemudian tertutup kemudian terbuka lagi lalu menutup lagi.
"Kau tahu, kau mirip ikan jika seperti itu"
"Kau...!" Cassie baru saja akan membalas ketika dia mendengar seseorang menyebut namanya dan juga pria yang berada dihadapannya.
"Sudahlah kalian berdua. Berhenti bertengkar," ucap Brandon menengahi. "Dan Jerry, kurasa sudah saatnya kita menemui Mr. Yamamoto." Lanjut Brandon kepada Jerry yang dibalas oleh Jerry dengan anggukan pelan.
"Baiklah, sayang. Sampai nanti di rumah. Aku sudah tidak sabar menemuimu di rumah." Ucap Brandon pada Elena yang tersipu- sipu setelah bibirnya dikecup mesra oleh pria yang telah menjadi suaminya.
"Ya. Aku juga" cicit Elena pelan, membuat Brandon tersenyum lembut dan mencium kening Elena.
Tuk.
Seketika Cassie menoleh dan mendelik jengkel ketika mengetahui siapa yang baru saja menyentil kepalanya.
"Jangan melamun." Tegur Jerry.
"Siapa yang melamun?!" Balas Cassie semakin jengkel ketika sekali lagi kepalanya disentil oleh pria itu.
"Kalau begitu, aku mungkin akan berpikir kau mengharapkan perlakuan yang sama seperti yang dilakukan Brandon dan Elena"
Serta merta Cassie memicingkan matanya, "apa tadi pagi kau sarapan makanan basi? Kenapa ucapanmu menjadi aneh seperti ini?"
Bukannya tersinggung, Jerry justru terkekeh lalu menarik tubuh Cassie dan langsung mencium puncak kepala gadis itu.
"Monica memintaku untuk mengingatkanmu untuk tidak terlambat ke kelas Mr. Martin hari ini." Ucapnya lembut, mengindahkan Cassie yang terdiam tidak tahu harus berbuat apa. "Ayo Brandon" lanjutnya kembali bersikap tidak peduli.
.
.
.
Pertemuan dengan Mr. Yamamoto berlangsung alot. Brandon ingin memperluas jaringan bisnisnya hingga ke Jepang dan Jerry bersedia membantu. Dia juga ingin belajar mengembangkan bisnisnya diluar institute dan ketika tawaran dari Brandon datang maka dia langsung mengiyakan.
Kedua orang tuanya, Howard dan Tessa Culton sudah mati- matian membujuk dirinya agar segera menikah tapi selalu berusaha dia tangkis dengan melibatkan nama Cassie dan mengatakan kalau sang pianist masih sedang dalam tahap karir yang menanjak naik tapi bukan itu yang menjadi alasan yang sebenarnya, melainkan ada hal yang aneh, yang belum bisa dia pastikan.
"Kalau kau begitu menyayanginya. Kenapa kau selalu berusaha ingin membuatnya marah?" Ucapan Brandon seketika membuyarkan lamunannya.
"Siapa?" Tanya Jerry tidak mengerti.
Saat ini mereka telah kembali ke kantor Brandon setelah melakukan meeting dengan Mr. Yamamoto. Masih ada satu jam sebelum Jerry kembali ke Institute dan memilih untuk menghabiskan sisa waktunya dengan pria tiga anak itu.
"Aku sedang membicarakan tentang dirimu" jawab Brandon seraya menyerahkan segelas berisi whiskey pada Jerry.
"Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan?" Jawabnya seraya meneguk whiskeynya.
Brandon terkekeh. "Kau tahu, sikapmu ini bisa menimbulkan salah paham diantara kalian. Kau menyukainya." Itu bukan pertanyaan
"Tapi bukan berarti aku mencintainya" balas Jerry
Untuk sesaat Brandon menghela napasnya panjang. "Kenapa harus membuat segalanya menjadi lebih sulit? Kalian sudah bertunangan lebih lama daripada aku yang mengenal Elena dulu"
"Kau tidak akan mengerti"
"Apa kau masih mencintai wanita yang pernah menjadi pacarmu itu dan telah memiliki suami dan seorang anak. Oh sebentar lagi akan menjadi dua, bukan?"
Untuk satu hal dalam hidupnya, Brandon mengetahui apa yang pernah dilakukannya dan karena dia pulalah termasuk Elena hingga keberadaannya diketahui ketika dia melarikan diri dulu. Jerry tidak pernah menyangka kalau di suatu pagi yang cerah, tiba- tiba saja pintu flat yang ditinggalinya bersama Lea dulu diketuk dari luar dan memperlihatkan sepasang suami- istri itu. Untung saja kala itu Lea baru saja pergi tapi Brandon sempat mengatakan kalau dia melihat gadis muda dengan rambut merah baru saja keluar dari flatnya.
"Kami sudah menjadi sahabat"
"Oh! Biar kutebak, cinta menjadi sahabat? Hmm terdengar menarik"
Jerry memutuskan untuk bangkit dari duduknya. Dia berpikir, semakin lama ia disini maka, semakin cepat pula otaknya menjadi korslet.
"Sampaikan salamku pada Cassie setibanya kau disana" seru Brandon tidak peduli dengan jawaban yang baru saja dilontarkan oleh calon suami sepupunya merangkap menjadi sahabatnya.
Culton Music Institute adalah institute dimana semua pemain- pemain berbakat dalam bidang musik klasik lulus apalagi mengingat sang pianist dalam decade ini- Cassandra Ann Swan juga berada disini dan masih berlatih di tempat ini pula. Tidak heran jika para orang tua rela merogoh kocek yang lumayan besar agar sang anak bisa seperti sang pianist.
Jerry baru saja menyusuri koridor di lantai 5 ketika mendengar dentingan piano di daerah itu dan tahu siapa yang melakukannya. Koridor di lantai 5 adalah daerah terlarang untuk dilalui oleh sembarangan orang. Hanya dia dan orang- orang yang memiliki kepentingan khususlah yang bisa mendatangi tempat itu.
Jerry tidak pernah melihat permainan pianonya secara langsung dan hanya kadang kala mendengarnya. Jerry bahkan tidak pernah tertarik mengambil tiket yang selalu diberikan oleh ibunya tiap kali gadis itu mengadakan konser.
Dengan pelan, Jerry membuka pintu yang membatasi dirinya ketika Mr. Martin, guru yang melatihnya melihatnya dan secepat itu pula Jerry mengangkat jari telunjuknya dan menempelkan di bibir, meminta agar Mr. Martin tidak mengatakan apa- apa.
Cassie terus saja menekan tuts- tuts pianonya tanpa menyadari kalau seseorang telah berdiri tepat dibelakangnya. Tiga hari lagi, dia akan mengadakan mini konser di sebuah rumah sakit khusus anak- anak penderita kanker dan hasilnya akan di donasikan ke rumah sakit itu.
Jerry terus memperhatikan sosok didepannya. Rambut coklat sebahu yang selalu dibiarkan tergerai dan diberi pita atau bandul, dress selutut dengan flat shoes yang selalu dikenakannya, selalu membuatnya tampak feminin sekaligus anggun.
Cassie terus saja memainkan Notturna in Sol KV5254 Mozart tanpa menyadari kalau Mr. Martin, pelatih dan juga pembimbingnya telah beranjak pergi meninggalkan pasangan itu.
"Kau sepertinya telah berusaha sangat keras selama ini." Sahut Jerry tepat setelah Cassie mengakhiri latihannya.
Cassie tersenyum menimpali sama sekali tidak menoleh. Dia tidak terkejut mendapati dirinya diperhatikan, toh lantai 5 bukanlah daerah yang mudah untuk didatangi kecuali kau memiliki akses tak terbatas untuk menjelajahi institute ini.
"Aku tidak pernah mengira kalau akan mendapati seorang Culton, diam- diam mencuri dengar permainan orang lain," lalu Cassie berbalik untuk menatap pria itu. "Dia bahkan menyuruh pelatih sekaligus pembimbingku untuk pergi." Lanjutnya mengejek.
Jerry tertawa lalu mengernyit. "Apa aku baru saja mendengar nada mengejek darimu, Ms. Swan."
"Oh. Aku tidak mungkin berani. Bukankah begitu, Mr. Culton?"
"Baguslah karena jika itu yang terjadi maka bukan tidak mungkin aku menarik kembali aturan di lantai 5 ini."
Cassie memutar kedua bola matanya. "Kalau begitu tidak ada yang bisa kulakukan untuk menolaknya bukan?"
Jerry mengangguk. "Tentu saja tidak ada yang bisa kau lakukan"
"Jadi apa yang kau lakukan disini?"
"Bukankah tempat ini juga adalah milikku?"
Untuk sesaat Cassie memutar matanya, "kau tahu apa yang ku maksud, Culton?"
Jerry mengernyit dan berkata. "Aku heran kenapa kau selalu memanggilku dengan nama belakang."
"Apa kau mengharapkan aku memanggilmu sebagai tunanganku?"
Jerry dan Cassie saling memandang.
"Good idea" ucap Jerry akhirnya.
"Terserahlah" balas Cassie yang justru membuat Jerry terkekeh.
Dia menyukai ekspresi yang selalu ditampilkan gadis itu dan membuat Cassie jengkel merupakan kesenangan tersendiri baginya.
***
Comments
Post a Comment