LOVE MISSION - 10
"Pakai ini."
"Untuk apa?" Tanya Kimberly bingung dengan kacamata dan topi yang baru saja disodorkan Jayce padanya.
"Kau tidak mungkin mau berhadapan dengan paparazzi saat ini kan." Jawabnya seraya memakaikan kacamata yang tadi digunakan Jayce di kampus. "Dan aku juga tipe orang yang tidak suka diganggu ketika sedang berkencan." Kali ini dia memakaikan Kimberly topi miliknya.
Sejenak Jayce tertegun dengan penampilan Kimberly saat ini. Meskipun sudah ada sedikit perbedaan tapi aura kecantikan yang dimiliki gadis itu masih terasa. Dihelanya napasnya panjang lalu membuka dashboard mobil yang dikendarainya. Dia biasanya menyimpan topi didalamnya dan tersenyum lega ketika menemukannya.
"Kau kelihatan tampan dengan topi itu." Ucap Kimberly terus terang.
"Apa kau mengharapkan aku juga mengatakan hal yang sama padamu?" Sejujurnya dia cukup kaget dengan kalimat yang baru saja keluar dari bibirnya dan berharap semoga saja gadis disampingnya ini tidak langsung tersinggung apalagi marah. Entah mengapa, melihat penampilan Kimberly yang berbeda saat ini membuat jantungnya berpacu dengan sangat cepat dan terlebih lagi kenapa dia harus mengajaknya berkencan hanya karena gadis ini mengucapkan kalimat itu di kampus tadi.
Disisi lain, Kimberly mengernyitkan dahinya. "Maksudmu aku tampan? Sama seperti dirimu?"
Serta merta Jacye menoleh, melonggo dan menyadari kalau gadis ini sama sekali tidak bercanda ketika mengatakannya.
"Apa dia benar- benar model papan atas? Bagaimana mungkin dia bisa sepolos ini dalam menyikapi sesuatu?" Gumam Jayce dalam hatinya.
"Kau sama sekali tidak pernah berkencan ya?" Entah apa yang Jayce ingin tekankan tapi melihat bagaimana tidak berekspresinya Kimberly membuat dia yakin kalau ini benar- benar pengalaman pertamanya.
"Sudahlah. Lupakan pertanyaanku tadi. Ayo turun." Ujar Jayce seraya terlebih dahulu keluar dari mobilnya kemudian diikuti oleh Kimberly kemudian.
"Ini dimana?" Tanya Kimberly seraya memperbaiki letak kacamatanya.
"Central Park." Jawab Jayce singkat. "Disini kau bisa melihat bagaimana orang- orang berkencan."
Kimberly memperhatikan sekelilingnya dan benar saja, sudah banyak muda- mudi yang saling berangkulan bahkan ada yang saling berciuman di pinggir jalan.
"Apa kita juga akan melakukan hal itu?" Kimberly menunjuk sepasang muda- muda yang bahkan tanpa malu berciuman tidak jauh dari mereka.
"Kita tidak akan melakukan hal itu disini." Jayce tidak tahu bagaimana harus mengambil sikap jika berada dihadapan gadis ini. Seakan sikap tenangnya diambil paksa darinya. "Dan jangan berharap kalau kita akan berciuman." Kenapa sih dia selalu saja mengatakan kalimat itu. Jayce mengerang dalam hatinya. "Karena yang akan kau lakukan hanya melihat bagaimana orang berkencan."
Kimberly mengangguk. Tidak ingin membuat Jayce semakin kesal. Dia merasa perasaan hati Jayce sedang buruk hari ini.
Mereka mulai berkeliling dan semakin mereka berkeliling, semakin Kimberly merasa bingung. Bagaimana caranya ini bisa membantunya jika dari yang dia amati, hanya saling menatap saja orang- orang itu bisa tertawa dan tersenyum.
"Jangan memelototi orang seperti itu. Kau bisa dianggap sedang marah pada mereka." Ucap Jayce pelan karena beberapa pasangan sedang melihat Kimberly dengan ekpresi wajah bingung. Bagaimana tidak bingung jika mendadak kau merasakan seseorang sedang menatapmu sangat tajam.
Dihembuskannya napasnya pelan. "Ternyata sangat sulit." Gumam Kimberly lirih tapi masih bisa terdengar ke telinga Jayce.
"Kemari." Jayce meraih tangan Kimberly agar mengikutinya dan gelenyar- gelenyar aneh disekitar perut Kimberly kembali muncul. "Aku yakin kau belum pernah mencoba cotton candy." Ujar Jayce tanpa memperdulikan ekpresi wajah Kimberly saat ini.
Beberapa saat kemudian sebuah cotton candy yang lumayan besar sudah berada di sebelah tangan Kimberly sementara sebelah tangannya lagi masih berada dalam genggaman Jayce.
"Apa ini?" Tanya Kimberly sedikit ragu dengan benda pink penuh gumpalan seperti kapas di tangannya.
"Kau akan tahu jika sudah mencobanya." Jayce mengulurkan tangannya yang bebas dan mengambil sedikit dari gumpalan itu kemudian memasukkannya ke dalam mulut Kimberly. "Bagaimana?"
"Manis."
"Tentu saja. Itu kan gula." Jayce mengatakannya sambil tersenyum bangga.
"Bagaimana kau melakukannya?"
"Melakukan apa?"
"Mudah tersenyum seperti itu."
Jayce terdiam beberapa detik. "Apa kau tidak pernah tersenyum sebelumnya?"
Kimberly mengangkat kedua bahunya. "Aku tidak tahu. Yang aku tahu setiap kali aku mencoba melakukannya, Sophie mengatakan kalau aku seperti sedang berusaha menahan kentut." Ungkapnya.
Jayce langsung tertawa terbahak- bahak mendengar penuturan Kimberly barusan hingga perutnya terasa sakit. Jayce tidak pernah mengira akan mendapat jawaban seperti ini dari seorang gadis, terlebih lagi gadis ini adalah seorang model yang tentu saja selalu terlihat sempurna tapi ternyata benar kata orang nobody's perfect.
"Aku tidak tahu kalau kau bisa menjadi orang yang selucu ini." Ucap Jayce disela tawanya. "Baiklah. Biar kuberitahu." Tiba- tiba Jayce menaruh kedua tangannya di pundak Kimberly dan menatap tepat ke matanya, mengindahkan tatapan orang- orang yang saat ini sedang melihat kearahnya. "Dengarkan ini, okey?"
Kimberly mengangguk.
"Tawa dan senyum berasal dari hati. Kau tidak bisa memaksa apa yang sebelumnya tidak kau sukai. Coba ingat, apa dalam hidupmu yang paling kau sukai?"
"Hmm bersama denganmu. Seperti ini. Melihatmu tertawa." Lagi- lagi jawaban terus terang berasal dari Kimberly.
"Apa kau menyukaiku?" Jayce memutuskan untuk mengingatkan kembali gadis didepannya tentang alasannya berada disini.
Kimberly menggeleng.
"Bagus. Tetaplah seperti itu."
"Kapan pemotretanmu dilakukan?"
"Beberapa minggu lagi? Aku tidak tahu."
"Kalau begitu ingat ini. Ketika kau melakukan pemotretan itu. Ingat aku. Ingat rasa cotton candy ini dan bayangkan kalau kau sedang melihatku tertawa dan tersenyum padamu, bagaimana?"
"Meskipun aku sedikit tidak mengerti tapi akan kucoba."
"Bagus. Sekarang mari kita praktekan."
"Eh?"
"Baiklah bertahap. Sementara kita menunggu memorimu tentang diriku dan tempat ini berkumpul, ada baiknya kita jelajahi tempat ini." Saran Jayce kembali Jayce mengaitkan tangannya kesebelah tangan Kimberly yang tidak memegang cotton candynya.
Banyak hal yang mereka berdua lakukan seperti melihat rusa yang kebetulan menjadi icon di Central Park ini, melihat berbagai macam warna balon yang kebetulan di jual dan ketika matahari sudah hampir terbenam, tak sengaja sinarnya menerpa wajah Kimberly hingga membuatnya silau dan serta merta pula tubuh Jayce menghalangi sinar itu.
"Terima kasih, Jayce". Ucap Kimberly seraya merapikan kacamatanya yang melorot tanpa sama sekali menyadari kalau Jayce sejak tadi hanya diam menatap dirinya.
"Eh lihat, apa itu Kimberly Moss?"
"Eh iya. Apa yang dilakukannya disini? Dan siapa laki- laki yang bersamanya ya?"
"Astaga tampan sekali. Apa mereka pacaran?"
"Ayo kita foto bersama mereka. Sangat jarang bisa berfoto dengan Kimberly."
"Jangan mengangkat wajahmu." Ucap Jayce pelan karena melihat beberapa orang sudah mulai berjalan kearah mereka. "Dan jangan juga melepaskan tanganmu dariku." Lanjut Jayce seraya mengetatkan jarinya ke jari Kimberly.
Kimberly mengangguk.
Sisa se meter lagi hingga mereka tiba mereka memarkir mobilnya ketika seorang pria tiba- tiba meraih lengan Kimberly dan sontak Jayce menarik kembali Kimberly hingga Kimberly berada di dadanya.
"Wow bung. Kau hampir saja melukai gadisku." Ujar Jayce sinis.
"Aku hanya ingin memastikan kalau dia adalah Kimberly Moss, model terkenal itu." Balas pria.
Jayce tertawa sinis. "Benarkah? Tapi kurasa kau salah. Dia adalah gadisku."
"Lalu kenapa dia terus saja menundukkan wajahnya?"
"Jangan konyol, bung. Apa kau pikir model sekaliber Kimberly akan datang ke tempat ini? Dan perlu kau ketahui, dia menundukkan wajahnya karena kami sempat bertengkar tadi dan dia tidak mau aku mengetahui kalau dia menangis." Jelas Jayce. "Maafkan aku sayang. Aku benar- benar menyesal." Mengindahkan tatapan orang- orang, Jayce membawa Kimberly masuk ke dalam mobilnya dan diikuti Jayce di kursi kemudi.
Selang beberapa menit, mereka telah tiba di jalan raya ketika Jayce memecah keheningan.
"Kurasa kencan kita berakhir dramatis."
Kimberly mengangguk, sedih. "Ya. Aku bahkan belum menghabiskan seluruh cotton candy yang kau berikan."
***
Comments
Post a Comment