LOVE MISSION - 14

Jayce nyaris frustrasi menghadapi Rhea belakangan ini. Bagaimana tidak, semenjak Rhea pulang dari Aussie, tidak henti- hentinya gadis itu membuntutinya atau bahkan memeluknya. Tidak peduli apakah mereka didepan umum atau hanya berduaan di sebuah ruangan. Untuk yang terakhir itu, Jayce berusaha menghindarinya. Bukan karena apa, dia tidak ingin terjadi sesuatu yang bahkan mungkin bisa membuatnya khilaf.

Ya. Rhea adalah teman sepermainannya dulu dan juga merupakan orang yang disukainya. Rhea adalah tipikal gadis yang sangat lucu juga manis didepannya dan memiliki tubuh yang seksi bak model papan atas. Dia ceria dan senang tersenyum baik itu pada orang yang belum dikenalnya jadi tidak heran banyak yang menyukai pembawaannya yang seperti ini.

"Rhea, hentikan. Apa kau tidak sadar, kita sedang berada dimana?"

Dan kali ini, entah sudah beberapa kali Jayce berusaha menghindar dari pelukan beruang yang acap kali dilakukan oleh Rhea.

"Kenapa? Kau malu? Padahal aku begitu merindukanmu. Selama di Aussie, aku bahkan tidak pernah berhenti memikirkanmu." Ucapnya memberenggut sedih.

Jayce menghela napasnya lalu menangkup kedua pipi Rhea dengan tangannya. "Dengar Rhea, aku bukannya bermaksud menyakiti perasaanmu. Hanya saja tempatnya tidak tepat." Katanya lembut.

"Kenapa? Bukannya kau sudah selesai menjabat sebagai ketua senat? Tidak ada lagi yang perlu kau khawatirkan."

"Bukan begitu..."

"Atau jangan- jangan kau sudah punya seseorang di kampus ini." Rhea memicingkan matanya curiga yang langsung membuat Jayce mengangkat sebelah alisnya keatas. "Dan kau tahu, aku selalu menyukai kau mengangkat alismu seperti itu. Itu membuatmu semakin tampan." Puji Rhea tersenyum.

"Kutebak kau banyak mendapatkan tangkapan selama di sana." Goda Jayce yang langsung membuat Rhea bergerak untuk memeluk tubuh Jayce.

"Aku tidak tahu. Aku hanya memikirkanmu."

Deg.

"Aku tidak mengerti. Dia selalu melarangku untuk memeluknya tapi dia membiarkan gadis itu melakukannya. Apa kau tahu apa yang membedakan kami, London?"

Baik Jayce maupun Rhea sama- sama berbalik. Jayce terpaksa harus melepaskan pelukan Rhea darinya agar bisa melihat lebih jelas sosok yang berdiri tidak jauh dari depannya. Disamping Kimberly berdiri London yang sedang menatapnya seakan memberikan tanda kau yang mengatakannya. Aku tidak tahu bagaimana harus menjelaskan padanya.

Jayce memandangi Kimberly dari atas ke bawah. Dia masih belum mengerti apa maksud ucapan Kimberly dulu.

.... Aku menyukaimu, Jayce.

Apa itu semacam pengakuan cinta darinya? Karena setelah mengucapkan itu, dia langsung keluar dari mobil dan memberhentikan taksi yang lewat setelah terlebih dahulu melambai penuh semangat padanya dan berdiri lagi dihadapannya setelah berhari- hari menghilang.

"Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Jayce.

"Menemuimu. Siapa dia?"

"Teman. Darimana saja?"

"Jepang. Apa teman bisa melakukan itu?"

"Ya. Untuk apa ke Jepang?"

"Pemotretan. Bukankah kita juga teman?"

"Tidak. Kita bukan teman. Jadi apa Jepang tidak mempunyai sinyal hingga kau tidak bisa memberitahukan dimana kau berada?"

Kimberly terdiam.

"Kurasa mereka punya." Kimberly menjawabnya bingung.

"Dan?"

"Dan apa?"

"Kenapa waktu itu kau tiba- tiba pergi?"

"Aku harus kembali ke Jepang sebelum Sophie atau Ray menemukanku."

"Jadi pria itu juga ikut denganmu?"

"Maksudmu Ray? Kurasa tidak."

"Kau rasa?"

"Aku tidak tahu. Dia punya passport dan juga uang untuk membeli tiket. Dia bisa kemana saja yang dia suka kan?"

"Ya. Selama ada kau didalamnya. Kurasa dia bisa kemana saja." Ucapnya sinis.

"Apa kau... salah makan?" Kimberly sangat bingung dengan sikap Jayce saat ini. Apa setelah berhenti menjadi ketua senat membuatnya gila?

"Apa?"

"Kau marah." Jeda sesaat. "Dan aku tidak tahu kenapa kau marah?"

"Kau tidak tahu?"

Kimberly terdiam, berpikir. "Apa karena aku menganggu kalian berpelukan?"

"Oh sial. Aku melupakan Rhea." Guman Jayce dalam hati dan berbalik ketika didapatinya Rhea yang sedang memberinya tatapan penuh tanda tanya.

Bagaimana mungkin dia bisa kehilangan kendali seperti tadi? Kemudian matanya menangkap London yang sedang berusaha untuk tidak tertawa terbahak- bahak melihat raut wajahnya.

"Siapa dia, Ace?" Ace adalah nama panggilan yang diberikan Rhea untuk Jayce.

"Aku Kimberly." Kimberly maju untuk bersalaman dengan Rhea di depannya, tepat bersebelahan Jayce. "Dan kamu?"

"Aku Rhea." Rhea membalas uluran tangan Kimberly ketika melihat wajah Kimberly yang tidak asing dimatanya. "Apa kau Kimberly Moss yang itu? Model terkenal? Yang sama sekali tidak pernah terlihat menyunggingkan senyum?"

Selama beberapa detik baik Jayce, London maupun Rhea terperangah ketika melihat Kimberly yang tersenyum. Hanya senyum kecil tapi terlihat sangat tulus ketika dia melakukannya.

"Kurasa aku Kimberly yang itu." Ujarnya seraya melepaskan uluran tangan mereka. "Jadi kalian berteman?"

Rhea mengangguk, ikut tersenyum. "Kami sudah lama berteman."

"Seberapa lama?"

"Sangat lama hingga tahu kalau diam- diam dia menyukaiku."

"Rhea. Hentikan!" Hardik Jayce yang justru membuat Rhea tertawa.

"Kurasa dia malu." Bisiknya di dekat Kimberly.

Untuk sesaat Kimberly diam tanpa ekspresi dan Jayce hampir gemas ingin mengetahui apa yang dipikirkan oleh gadis itu di kepalanya ketika kembali mendengar suaranya yang biasa saja.

"Ahh aku mengerti."

"Sudahlah. Lupakan apa yang baru saja dikatakan oleh Rhea. Kau bilang tadi kau ingin menemuiku. Apa yang kau inginkan?" Jayce tidak mau gadis di depannya ini salah paham.

"Oh. Aku hanya ingin mengundangmu."

"Mengundangku?"

"Ya. Malam ini Sophie akan berangkat ke Seattle dan Ray mengajakku menginap di apartemennya."

"Hanya berdua?" Kedua mata Jayce menyipit curiga.

"Kalau kau ikut akan menjadi tiga."

"Dan kalau aku tidak ikut?"

"Maka kami akan menghabiskan malam hanya berdua."

"Kenapa kau harus menginap disana? Kenapa tidak menyuruh orang lain saja?"

"Karena Ray tidak suka orang lain masuk ke kamarnya."

"Dan dia mengijinkanmu masuk ke kamarnya?"

"Ini yang pertama bagiku."

"Dimana kalian akan tidur?"

"Kurasa kami akan tidur bersama. Sophie juga tipe orang yang tidak mau barang- barangnya disentuh jika dia tidak ada."

Jayce nyaris tidak mempercayai kalimat yang baru saja dia dengar ini.

"Dia mengundangmu ke apartemen dimana Sophie tidak ada dan mengajakmu untuk tidur bersamanya?" Pria brengsek itu berusaha mengambil kesempatan dalam kesempitan.

"Ya. Ray juga mengatakan kalau dia hebat diatas tempat tidur dan aku penasaran dengan itu."

Dengan susah payah Jayce berusaha untuk tidak mengepalkan buku- buku jarinya dihadapan Kimberly.

"Jadi kau tidak akan ikut?" Tanya Kimberly memastikan.

Tidak ada jawaban.

"Baiklah. Sampai besok Jayce, London, Rhea." Lalu tanpa menoleh lagi, Kimberly berlari- lari kecil meninggalkan mereka bertiga. Hari ini Ray menugaskannya untuk membeli bahan- bahan masakan lengkap dengan snack persiapannya nanti malam.

"Apa dia tidak sadar kalau dia sedang mengumpankan dirinya ke sarang buaya?" Guman Rhea yang bisa didengar jelas oleh Jayce juga London.

"Kurasa si Ray ini akan menang banyak malam ini." Timpal London tidak bisa menyembunyikan rasa gelinya.

Baginya Kimberly adalah makhluk langka yang perlu dijaga kalau perlu diberi label atau sekalian kotak kaca dan London selalu merasa terhibur tiap kali gadis itu mengeluarkan suaranya

Dan kali ini dia merasa geli karena Kimberly mengatakan semuanya tadi seperti tidak ada yang perlu ditakutkan padahal siapapun tahu. Cewek dewasa dan cowok dewasa bersama dalam satu atap bahkan diatas tempat tidur yang sama, di malam hari bisa mengundang dunia persilatan tanpa sengaja.

"Aku akan pergi." Ucap Jayce seraya mengambil tasnya cepat lalu berlari tanpa memperdulikan dua orang dibelakangnya.

"Lho, Ace mau kemana? Hey Ace." Teriak Rhea. "Dia mau kemana sih?"

London sengaja mengangkat bahunya pura- pura tidak tahu. "Sepertinya si kancil akan menyelamatkan si kelinci dari terkaman buaya di sungai."

"Hah?"

"Oh sial." London langsung menepuk jidatnya. "Kalau Jayce tidak datang malam ini, itu berarti aku akan kalah. Sial!"

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS