LOVE MISSION - 3

Jayce memandangi sosok didepannya tak percaya. Bagaimana tidak, dari sekian banyak pernyataan cinta yang diterimanya. Baru kali ini dia menemukan seseorang yang memintanya, tidak lebih tepatnya memaksa agar jatuh cinta. Hal dimana biasanya terjadi adalah gadis- gadis itulah yang jatuh cinta padanya dan bukan dirinya yang jatuh cinta.

Kimberly memang cantik, dengan bulu mata yang lentik serta berwarna biru laut yang siapapun melihatnya pasti akan merasa tenang. Rambutnya yang coklat panjang dibiarkan tergerai dengan tambahan bandul pink dikepalanya semakin membuatnya tampak sangat cantik dan juga... polos. Ah, Jayce tidak akan terhipnotis dengan wajah tak berdosa yang dimiliki oleh gadis itu itu. Dia mungkin tidak mengenal satupun model dalam hidupnya tapi bukankah semua orang tahu bagaimana kehidupan model tanpa sama sekali harus mengenalnya? Pesta dan kehidupan glamor sudah menjadi gaya hidup mereka.

Jayce sengaja berdehem untuk menghilangkan rasa keterkejutannya akibat sosok dihadapannya. "Jatuh cinta denganmu?" Tanyanya sekedar memastikan. Mungkin saja kalimat barusan bukanlah berasal dari bibir gadis tadi tapi ketika Kimberly mengangguk mantap, barulah ia sadar kalau dia tidak hanya sekedar menguji indra pendengarannya. "Kenapa?" Jayce bertanya lagi.

"Karena kau yang akan membantuku."

Jayce mencoba berpikir logis dalam situasinya saat ini. "Bukan itu maksudku. Kenapa aku yang harus jatuh cinta padamu dan bukannya kau yang jatuh cinta denganku?"

Kimberly memiringkan sedikit kepalanya, berpikir. "Bukankah sudah jelas karena aku tidak menyukaimu."

Fix. Jayce benar- benar melonggo dibuatnya. Bagaimana bisa ada makhluk seperti yang dihadapannya ini?

"Lagipula kau juga tidak menyukaiku kan?" Kali ini Kimberly mengutarakan pertanyaannya.

"Kalau kau sudah mengetahuinya kenapa kau menanyakannya." Jayce tidak tahan untuk tidak menjawab jengkel.

"Kalau begitu tidak ada masalah." Ujarnya riang. Jayce hampir saja mengira kalau dia akan tersenyum tapi alih- alih tersenyum, Kimberly hanya menampakkan wajah datarnya. "Kau tidak perlu jatuh cinta beneran denganku. Kau hanya perlu membantuku. Itu saja."

"Sebenarnya apa yang kau rencanakan?" Jayce dibuatnya bingung dengan kelakuan gadis dihadapannya ini.

"Begini, kau tahu apa profesiku kan?" Walaupun Jayce tidak mengerti tapi dia memilih menganggukkan kepalanya juga. "Ditempatku bekerja aku memiliki sponsor. Nah sponsor itulah yang menerangkan konsep seperti apa yang akan kami maksudku, aku lakukan."

"Seperti bos maksudmu?"

Kimberly mengangguk. "Yep. Aku mendapatkan kontrak kerjasama menjadi model musim semi nanti dan sponsorku ini menginginkan melihat sisi lain dari diriku."

"Sisi lain dirimu?"

Kembali dia mengangguk, "intinya adalah kau harus membantuku."

"Dan bantuan yang kau butuhkan adalah dengan jatuh cinta padamu, begitu?"

Kimberly mengangguk. "Nah karena kita sudah membicarakan hal penting seperti ini meskipun tidak ada hitam diatas putih tapi kuanggap kita sudah setuju."

Apa?!

"Sampai jumpa lagi, Jayce." Ujar Kimberly tanpa memperdulikan Jayce yang saat ini diam tak berkutik ditempatnya.

***

Jayce sedang asyik memandangi bintang- bintang diatap rumahnya ketika merasakan seseorang menimpuknya dengan sesuatu. Diraihnya benda itu perlahan yang diketahui sebagai bola pingpong ketika secara bersamaan pelakunya juga muncul.

"Apa yang kau lakukan disini?"

"Bunuh diri."

London tergelak mendengarkan jawaban sahabatnya yang ketus.

"Kalau kau memikirkan tentang gadis yang kau tolak tadi, seharusnya jangan kau tolak." Komentar London seraya ikut membaringkan kepalanya, memandangi langit diatasnya.

"Jangan sok tahu. Bukan itu yang kupikirkan sekarang."

London tertawa. Tidak ada yang tidak diketahuinya dari sahabatnya yang satu ini selain betapa seringnya Jayce memberikan harapan pada gadis- gadis itu kemudian mematahkannya dengan telak tapi herannya, tidak ada seorangpun yang pernah marah dan justru membuatnya mendapatkan julukan pangeran. Belum lagi dia ketua senat semakin membuat para gadis tergila- gila.

"Ah sayang sekali padahal kupikir Sue lah orang yang bisa menaklukkan pangeran kita ini." Goda London yang langsung mendapatkan tatapan mendelik dari laki- laki disampingnya.

"Baiklah. Aku akan menutup mulutku." Ujar London merapatkan bibirnya. Kalau sahabatnya itu sudah memberikan tatapan seperti singa maka itu berarti dia harus diam jika tidak ingin mengalami kerusakan permanen seperti mungkin ditendang dari atap lantai 3 rumah Jayce.

London beruntung mood Jayce tidak berlangsung hingga keesokan paginya. Dia butuh Jayce yang berpikiran logis dan bukannya seperti Garfield yang tidak diberi lasagna seharian ini. Mereka baru saja keluar setelah mengikuti perkuliahan ketika tiba- tiba Kimberly menyergapnya.

London yang memang sangat menyukai Kimberly hingga menjadi fans seketika merasa berada di atas awan. Kimberly jarang menampilkan make up full dan hanya bergaya seadanya tapi justru dari seadanya itu yang membuatnya menarik. Kali ini Kimberly memadukan sweater rajutan tangan berwarna abu- abu dengan rok mini hitam sepaha hingga memperlihatkan kakinya yang dibalut sneaker. Belum lagi rambutnya yang diikat rumit ke samping. Demi Tuhan, apa yang dipikirkan Tuhan hingga menciptakan makhluk seindah ini?. London memekik dalam hati memperhatikan penampilan Kimberly. Yah, meskipun mereka berada dalam lingkup satu universitas tapi sulit sekali mendekati Kimberly. Selain karena dia model papan atas, gadis itu juga jarang memperlihatkan senyumnya hingga dikatakan sombong tapi terlepas dari itu, semuanya tertutupi dengan parasnya yang cantik. Bukankah orang cantik sah melakukan semuanya?

"Apa yang kau lakukan disini?" Jayce bertanya ketus hingga langsung mendapatkan tatapan kebingungan dari London yang memang berdiri disampingnya. Baru kali ini dia melihat Jayce bersikap ketus pada orang lain dan orang lain itu adalah seorang gadis, ditambah orang lain itu tidak lain adalah seorang Kimberly Moss!. Model sekaligus gadis yang menjadi incaran para laki- laki yang masih normal. Diam- diam London menoleh ke kanan- kirinya, berdoa semoga tidak ada yang melihat kejadian barusan dan untungnya lapangan parkir itu sepi tanpa penghuni.

"Jayce." Ujar Kimberly menatap tepat ke mata Jayce.

"Apa?!"

"Jayce." Ulang Kimberly.

"Apa ada yang ingin kau katakan?" Semalam Jayce sudah memikirkan semuanya dan kesimpulan yang bisa dia ambil adalah dia tidak akan mengikuti permainan makhluk aneh di depannya ini sekalipun bukunya masih berada di tangan si gadis

"Jayce." Kimberly kembali mengucapkan kata itu.

"Hm Kimberly, apa ada yang ingin kau katakan padanya? Kau bisa mengatakannya sekarang." London berusaha menetralkan situasi yang terjadi antara Kimberly dan sahabatnya. Bukankah suatu kehormatan tersendiri jika bisa mengajak ngobrol orang yang kau sukai?

London tahu Jayce bukanlah orang yang mudah marah. Dia baik dan juga akan melakukan apa saja tapi jangan sekali- kali membuatnya marah jika tidak ingin melihat akibatnya tapi tak urung dia heran juga, kapan sahabatnya itu berkenalan dengan seorang Kimberly Moss? Hingga langsung menunjukkan rasa tidak suka secara terang- terangan seperti ini.

"Jayce." Kimberly kembali mengucapkan nama Jayce.

"Apa yang kau inginkan?" Jayce mulai kesal mendengar namanya terus disebutkan.

"Next step...Call my Name." Ujar Kimberly tegas tanpa sama sekali melepaskan tatapannya.

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS