BTY - ENAM BELAS



"Bagaimana dia?"
"Dia tidak apa- apa. Hanya terlalu terkejut dan kelelahan. Sekarang dia sudah tidur."
Jeda selama beberapa menit, hingga kembali Jerry mendengar suara helaan napas diseberang.
"Maafkan aku, Jerry." Ucap Anna. "Aku tidak tahu ada apa dengannya. Dia hampir tidak pernah meledak- ledak seperti ini."
Tidak ada balasan hingga kembali Anna melanjutkan.
"Sepertinya dia memiliki masalah di sekolahnya. Mungkin itu yang membuat Patricia begitu sensitif. Kuharap kau tidak tersinggung mengenai itu, oh dan juga Claire."
"Cassandra..."
"Jerry, dengar." Sahut Anna cepat. "Segalanya masih terlalu, kau tahu- membingungkan bagiku. Aku tidak tahu apa yang terjadi. Aku bahkan tidak yakin apakah aku orang yang sama seperti yang kau pikirkan- jadi..."
"Apa kau pikir aku tidak bisa mengenali istriku sendiri?"
"Bukan itu maksudku."
"Oh ya. Itu yang kau maksudkan." Timpal Jerry. "Dengarkan aku, Mrs. Culton. Jika kau masih meragukan tentang dirimu padaku seperti tadi maka bukan tidak mungkin aku mengambil kunci mobilku sekarang juga, mengendarainya ke tempatmu saat ini- tidak peduli jika para tetangga berdatangan atau Patricia atau Betrice atau siapapun juga- karena aku tidak peduli semua itu. Yang kupedulikan adalah bagaimana caranya menyekapmu didalam kamar kecilmu dan bercinta denganmu, tidak peduli kau ingat padaku atau tidak karena aku yakin kaulah istriku dan jangan salahkan aku jika itu terjadi!" Katanya sembari menutup sambungan telponnya dan melemparnya ke sofa hingga menghasilkan suara pelan.
"Well,..."
Jerry mengalihkan pandangannya yang langsung bertatapan dengan mata Brandon sementara disampingnya berdiri Claire dengan mata yang terbelalak.
"Tadi... Kau kasar sekali." Ucap Claire akhirnya kembali menemukan suaranya.
Jerry langsung membuang tubuhnya dan menghela napas. "Aku pasti akan membayarnya besok."
"Sudah jelas. Cassie tidak akan memaafkan perbuatanmu tadi." Timpal Claire menganggukkan kepalanya. "Dan ngomong- ngomong adakah yang bisa menjelaskan padaku apa yang sebenarnya terjadi? Siapa gadis yang mengamuk tadi dan kenapa dia justru bersikap seperti Cassie adalah miliknya? Dia tidak mungkin menyukai Cassie dalam artian, yah kau tahulah seperti..."
"Justru itu yang ingin kutanyakan padamu. Kenapa kau kesini?" Sergah Jerry masih merasa jengkel karena sikap Claire yang mendadak datang tanpa pemberitahuan sebelumnya.
"Tentu saja aku harus datang." Suara Claire tidak kalah kerasnya. "Dia sepupuku dan hal pertama ketika aku tahu kalau dia masih hidup adalah sesegera mungkin menemuinya. Aku tidak berbuat salah."
"Mungkin situasinya akan berbeda jika kau memberitahuku dulu."
"Oh tentu saja! Mana aku tahu kalau Cassie melupakan kita. Tidak ada yang mengatakan apapun padaku." Kata Claire sembari memberi pandangan tajam pada Brandon. "Kalian semua berkomplot untuk tidak mengatakan apapun. Pantas saja Elena lebih sering kemari dibandingkan bersamaku di New York dan berterima kasihlah padaku, Culton karena aku ikut membantumu mengelolah Institutemu itu dimana kau sendiri nyaris tidak ingin mengelolahnya selama beberapa tahun belakangan ini."
"Jadi kau berpikir aku tidak berterima kasih padamu? Begitu?" Jerry bertanya sinis- tanpa sadar berdiri dari tempatnya duduk.
"Jika tidak, kenapa kau di-"
"Sudahlah kalian berdua!" Hardik Brandon seketika, menatap mereka berdua. "Tidak bisakah kalian berdua berpikir secara tenang?- Jerry duduklah." Jerry kembali duduk. "- aku tahu apa yang kalian berdua rasakan. Dan bukan hanya kalian saja. Aku, Elena bahkan Jullian dan Lea pun merasakan hal yang sama tapi tidak seorangpun yang bertengkar karena masalah ini. Dan Jerry-" Brandon mengalihkan tatapan agar bisa melihat Jerry. "-Cassie memang istrimu tapi dia juga bagian dari keluargaku. Apa kau pikir kami akan tinggal diam sementara kami tahu jika salah satu dari anggota keluarga kami ada yang berada di luar. Kau bisa lihat sendiri bagaimana keadaan Cassie- sangat jauh berbeda dengan yang dulu- kuharap kau memperhatikannya tapi itu tidak berarti kita harus menyelesaikannya dengan amarah dan emosi, dan Claire-" Claire yang tidak menyangka akan dipanggil seketika mendongak. "-sebenarnya apa yang kau lakukan disini?"
Kedua mata Claire seketika membelalak dan bibirnya menjadi tipis. "Bukankah aku tadi sudah mengatakannya. Aku kesini karena aku ingin bertemu Cassie."
"Tanpa memberitahu salah satu dari kami?"
"Apa bedanya? Toh, kalian bersenang- senang disini- well, sebelum aku tahu apa yang terjadi."
Brandon mengambil napas dan menghembuskannya, sangat pelan. "Jelas kita harus memikirkan cara lain." Katanya kembali melihat kearah Jerry. "Apa yang terjadi setelah kedatangan Claire?" Tanyanya.
Jerry ikut mengambil napas dan menghembuskannya. "Patricia datang dan dia mengamuk. Mengusir kami- menahan Cassie dengan tangannya." Jawab Jerry.
"Sebenarnya siapa gadis itu? Kenapa dia-"
"Dia adiknya Cassie." Jerry memotong ucapan Claire sekaligus menjawabnya.
"Aku tidak tahu kalau Cassie punya adik." Kedua kening Claire mengernyit, curiga. "Seingatku dia anak tunggal. Itu yang dikatakan oleh paman dan bibi."
Brandon dan Jerry sama- sama saling berpandangan.
"Claire," ucap Jerry kemudian. "Apa kau juga mengatakan pada mereka berdua tentang Cassie?"
"Tidak. Bibi masih kelihatan berduka meskipun kejadian itu sudah lama berlalu dan paman, paman menolak untuk membicarakannya."
Jerry mengangguk. "Jangan katakan pada mereka dulu. Kita tidak mau keadaannya semakin sulit nanti."
Meskipun Claire terlihat tidak setuju tapi dianggukkan juga kepalanya.
"Kurasa aku ingin bertemu Lea dan Elena. Menurut kalian dimana mereka sekarang?" Tanyanya kemudian.
.
.
Segaris darah mengalir dari sela- sela betisnya yang pucat dan semakin lama semakin banyak, melewati satin putih yang dikenakannya.
Dia terengah. Sementara suara dengung disertai pekikan mengelilingi indra pendengarannya.
Harusnya ini menjadi hari paling bahagianya. Harusnya dia bisa bersikap tenang tapi nyatanya tidak. Sebelah lengannya rasanya ditekan dengan sekuat tenaga oleh sesuatu atau mungkin seseorang. Penglihatannya kabur dan bahkan sulit untuk dicerna. Sebenarnya apa yang terjadi? Batinnya bertanya.
Konsentrasinya terpecah, seiring suara teriakan disampingnya. Helai- helai rambutnya menutupi kedua matanya, menusuk- nusuk hingga rasanya perih.
Jantungnya berdegup kencang. Kepalanya juga semakin terasa sakit hingga berdenyut- denyut. Ingin dia teriak- mengatakan pada semua orang tentang rasa sakit yang dialaminya - tapi bahkan untuk bersuara pun dia tidak sanggup. Seakan mulutnya ditutup oleh lakban tak kasat mata.
Lepaskan.
Dia sudah kehilangan hal yang berharganya dan meskipun itu menyakitkan hati tapi dia harus tetap fokus atau tidak akan ada lagi keberuntungan baginya- atau memang takdir sedang mempermainkannya? Siapa yang tahu.
Dan saat itulah dia melihat. Seperti tangan- tangam raksasa mencengkramnya seperti kaitan, membuatnya terengah- kehabisan napas karena hawa dingin dan basah yang menyelubungi tubuhnya hingga kemudian kesadaran yang sudah setengah mulai akan menyelimutinya. Menariknya semakin kedalam. Kedalam... Semakin kedalam... Kedalam kegelapan.
Bertahanlah. Kumohon.
Suara- suara yang meneriakinya semakin keras, seakan mengatakan untuk terus berjuang. Jangan menyerah!
Tangannya menggapai mencari pijakan, benar- benar bahaya. Pikirnya. Dia lalu menarik napas- mencoba menghirup udara sebisa mungkin sekaligus menunggu dunia berhenti berputar ketika secara bersamaan dia juga mendengar suara keras diatasnya. Seperti suara kematian yang sengaja didengungkan dan melihat apa yang diperlihatkan oleh matanya, membuatnya berteriak sekencang- kencangnya.
"Arghhhh!!!!"
Disaat yang bersamaan, suara teriakan juga ikut membahana di seluruh ruangan tempat tinggalnya, membuatnya bangun dengan peluh yang bercucuran- membasahi sekujur tubuhnya.
"Cassandra...?"
***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS