LOVE MISSON - 39

"Kimberly Moss adalah istriku dan aku tidak akan membiarkan pria lain membawanya pergi apalagi... menyentuhnya."

Tidak ada yang bersuara. Semua orang seperti menahan napas ketika mendengar ucapan bernada kepemilikan yang baru saja dilontarkan oleh Jayce, membuat paparazzi semakin membidikkan lensanya kearah mereka berdua.

"Jayce?"

Di sisi lain, Kimberly tidak mengerti mengapa pria disampingnya ini justru menguak semuanya. Bukan berarti dia tidak menginginkannya tapi bukankah Jayce sudah mengatakan kalau ia tidak ingin mempublikasikan hubungan mereka tapi kenapa sekarang...?

Selama beberapa detik, ia memperhatikan wajah Jayce. Ada banyak gurat kelelahan pada wajah tampan itu. Apa terjadi sesuatu padanya selama ini?

Kimberly lantas memperhatikan sekelilingnya dan menemukan Sophie yang juga tampak kaget tapi juga lega disamping Ray yang tampak tidak senang. Ray memperlihatkan wajah tidak sukanya pada Jayce yang bisa di maklumi oleh Kimberly. Semalam adalah hari yang sangat panjang buat Kimberly agar bisa memberikan penjelasan pada pria itu. Tentu saja tidak mudah, karena Ray terus saja membantahnya tapi bukan Kimberly Moss namanya jika menyerah dengan sangat mudah.

Setelah berargumen dengan sangat panjang, Ray terpaksa harus menerima keputusan gadis itu tapi dengan syarat Kimberly harus mengantar kepergiannya ke bandara dan disinilah mereka, dengan situasi yang sama sekali tidak di mengerti oleh Kimberly karena gadis itu tidak mengira akan bertemu Jayce di tempat ini. Rencananya setelah Kimberly mengantar Ray, ia akan ke rumah Jayce dan mengatakan semuanya. Apa yang dikatakan oleh Sophie kala itu, benar dan dia tidak mungkin pergi begitu saja setelah apa yang selama ini ia lakukan. Setidaknya Jayce sudah berbaik hati membantunya agar bisa tersenyum yang kemudian gagal. Ia kembali menghancurkannya ketika di Milan.

"Sudah saatnya." Ucapan Ray kembali menyadarkan Kimberly akan syarat yang diajukan semalam. Sembari menganggukkan kepalanya yang ditujukan pada Ray, ia lalu berpaling pada Jayce yang untungnya ikut menolehkan wajah kearahnya.

"Maafkan aku, Jayce. Bisakah kau melepaskan tanganmu? Aku harus..."

"Aku tidak akan membiarkanmu pergi dengannya." Potongnya

"Tapi aku harus..."

"Apa kau tidak dengar apa yang tadi kukatakan?" Jayce mulai terdengar kesal. Dia sudah tidak peduli lagi dengan orang- orang yang mengambil fotonya dan merekamnya. Yang ada dalam pikirannya saat ini adalah Kimberly, gadis yang akan pergi meninggalkannya.

"Tapi Ray akan..." kedua mata Kimberly membulat seiring ia merasakan bibir Jayce di bibirnya.

"Jayce?" Kimberly tidak tahu harus mengatakan apa. Semuanya terjadi secara tiba- tiba. Otaknya juga tidak bisa bekerja dengan baik, ingin merasakan bibir itu lagi di bibirnya.

"Kau tidak akan pergi. Tidak jika aku tidak menginginkannya." Tekan Jayce.

Kimberly terdiam selama beberapa detik kemudian kedua matanya mengerjap sangat lucu. "Aku... apa?"

"Ugh, aku benci situasi seperti ini. Kimmy! Ayo pergi!" Desak Ray.

"Maafkan aku." Ucapan Jayce kembali membuat Kimberly menoleh. "Kita akan memperbaiki semuanya." Lalu Jayce berbalik agar bisa berhadapan dengan semua orang tapi sebelumnya membawa tubuh Kimberly semakin dekat dengannya, mengindahkan tatapan ingin membunuh Ray. "Sebelumnya aku ingin meminta maaf kepada kalian semua karena telah merahasiakan pernikahan kami. Tapi semua itu aku lakukan karena tahu seperti apa karir yang sedang dijalani oleh istriku, untuk itulah aku memilih untuk tidak menguak kebenarannya." Jeda sesaat. "Entah darimana kalian mendapatkan foto- foto kebersamaan kami dan menpublikasikannya di media cetak." Semakin banyak lampu blitz yang disodorkan kearah mereka berdua. "Tapi itu membuatku berpikir kalau mungkin sudah saatnya untukku untuk memikirkan tentang dirinya, jadi..." semuanya terenyak bahkan beberapa wanita mendesah penuh damba ketika melihat Jayce justru berlutut dengan satu kaki kearah Kimberly sementara sebelah tangannya yang tidak mengenggam tangan Kimberly mulai membuka kancing bagian atas kemejanya dan memperlihatkan sebuah cincin yang tergantung di lehernya. "Kimberly Moss, maaf karena tidak mengerti dengan apa yang kau rasakan. Tidak mengerti apa yang kau pikirkan. Tapi maukah kau memberiku kesempatan sekali lagi agar bisa memperbaiki semuanya? Maukah kau menikah denganku?"

Tenggorokan Kimberly tercekat. Dia pernah melihat adegan seperti ini ketika menonton bersama Sophie beberapa tahun silam tapi dia tidak menyangka kalau film dan kehidupan nyata memiliki situasi yang sangat jauh berbeda. Dia mengira ketika menonton film, maka hatinya akan bergetar tapi sekarang perasaannya jauh lebih dari kata bergetar, seperti ada milyaran kupu- kupu yang berusaha untuk keluar dari perutnya.

"Aku mencintaimu, Kimberly Moss." Lagi- lagi desahan penuh damba terdengar di sekitarnya ketika Jayce mengucapkan kalimatnya.

"Aku juga mencintaimu, Jayce." Balasnya seraya menyunggingkan senyum penuh bahagia.

***

Semuanya tampak sangat indah, dengan kanopi- kanopi yang sengaja di gantung di udara bahkan matahari yang sebentar lagi akan terbenam dengan semburat- semburat jingganya semakin membuat taman, kolam dan sekitarnya menjadi lebih sempurna.

Jayce terkesiap, membuat London yang berada disampingnya terkekeh ketika terdengar alunan musik yang lembut disusul dengan kemunculan Kimberly dengan gaun pengantin yang tampak melekat dan sangat indah di tubuhnya.

"Sialan Jayce! Kau luar biasa sangat beruntung." Bisik London yang ikut terpukau melihat penampilan pengantin wanita sahabatnya itu. Orang- orang serta paparazzi yang sengaja di undang pun tidak hentinya berdecak kagum.

Jayce berusaha sekuat tenaga agar pandangannya hanya berfokus pada wanita yang sebentar lagi akan menjadi miliknya sepenuhnya dan bukan pada pria yang berjalan dengan Kimberly saat ini.

Ya. Ray dipilih menjadi pendamping oleh Kimberly dan meskipun Jayce terlihat sangat keberatan karena Ray sama sekali tidak memperbolehkan dirinya untuk bertemu selama dua hari semenjak kejadian di bandara tempo hari hingga hari pernikahannya.

Jayce juga sudah mengetahui mengenai masa lalu Kimberly tapi tidak bisa menjanjikan kalau baik dirinya maupun Barbara akan menghentikan bantuan yang selama ini diberikan pada panti sosial tempat Kimberly pernah tinggal begitu saja. Biar bagaimanapun ada banyak anak- anak yang membutuhkan bantuan dari dirinya tapi Jayce berjanji akan mengusut tuntas apa yang dulunya terjadi di dalam panti sosial itu sebelumnya.

Mengenai Barbara, wanita itu sangat kaget ketika melihat Jayce muncul pada pemberitaan di televisi dan semakin kaget ketika mendengar pengakuan yang dilakukan oleh cucu semata wayangnya itu.

Banyak yang mengalami patah hati dari pihak Jayce maupun Kimberly. Dari Jayce, karena banyaknya para pengusaha- pengusaha lainnya yang berusaha menjodohkan penerus CW Inc dengan masing- masing putri mereka, selain karena Jayce juga pria yang sangat tampan dan juga diincar di kalangan pebisnis meskipun masih terbilang muda. Dia juga orang yang kompeten pada apa yang dikerjakannya dan pewaris sah perusahaan.

Kembali pada hubungannya dengan Ray. Jayce semakin tidak suka pada pria itu karena entah bagaimana, Ray seperti tidak ingin membuatnya bertemu dengan Kimberly. Tiap kali ia menghubungi Kimberly, gadis itu hanya menjawab sebentar kemudian tiba- tiba mati sebelum ia mengucapkan beberapa kata lagi.

Dan sekarang, Jayce seakan ingin beranjak dari tempatnya sekarang berdiri agar bisa membawa Kimberly disampingnya dan menyatakan kepemilikannya pada gadis itu. Sangat jelas terlihat kalau Ray hanya ingin mengulur waktu agar bisa membawa Kimberly disampingnya.

"Oh, sungguh pembalasan jauh lebih menyenangkan jika dilihat secara langsung." Bisik Ray ketika mereka berhadapan, masih dengan tangan yang memegang Kimberly.

"Kuharap kau menikmatinya, Rios." Balas Jayce geram.

"Tidak ada yang lebih baik daripada ini."

"Apa kau masih ingin memegang tangan istriku?"

"Belum sah. Dan aku merasa tidak ingin melepasnya."

"Kalau begitu akan kubuat kau melepasnya." Dan dengan itu, Jayce menyentak tangan Ray, sangat cepat hingga tak seorangpun yang menyadarinya kecuali si pemilik tangan itu sendiri tapi dengan cepat Jayce menyunggingkan senyumnya dan membawa Kimberly dalam pelukannya.

Terdengar desahan penuh kekaguman sekaligus iri, mengira Jayce sudah tidak sabar mengakhiri acara pernikahan ini.

"... dengan segenap jiwaku, aku membaktikan diriku untuk selalu mencintaimu dan akan selalu seperti itu hingga napas terakhirku untuk seorang malaikat cantik yang dikirimkan Tuhan untukku. Aku mencintaimu, Kimberly Moss." Ucap Jayce dengan penuh ketulusan seraya menatap mata Kimberly.

"Aku juga mencintaimu, Jayce..." ucap Kimberly tersenyum dan seperti terhipnotis, Jayce langsung mengarahkan bibirnya ke bibir merah muda Kimberly dan mengecupnya.

Waktu terasa berhenti untuk mereka berdua hingga kemudian seseorang di samping mereka mengintrupsi adegan paling romantis itu. Jayce terpaksa harus berhenti dan menoleh ketika mendapati London dan Ray yang kompak memasang wajah ingin muntah. Barbara menatap Jayce seperti menyiratkan anak-muda-ini-sama-sekali-tidak-tahu-kapan-dan-dimana-harus-melakukannya, Sophie dengan wajah bahagia dan Rhea yang turut hadir, memberikan senyum sekilas tapi juga terlihat senang.

Tapi dibandingkan ekpresi yang ditampakkan di wajah orang- orang, Kimberly justru tertawa dan tersenyum memperlihatkan kebahagiannya.

Senyum paling indah yang pernah kulihat. #AngelSmile#KimberlyMoss#J.Caldwell

Tetaplah tersenyum seperti itu, Kim. Kau sangat cantik. #AngelSmile#KimberlyMoss#J.Caldwell

Meskipun aku marah karena kau sudah menikah tapi melihat senyummu membuat amarahku meleleh. #AngelSmile#KimberlyMoss#J.Caldwell

Aku mencintaimu, Kim. #AngelSmile#KimberlyMoss#MembenciJ.Caldwell

Love bird Jayce-Kim. Kalian pasangan serasi. Tidak sabar melihat kalian melakukan foto lagi#AngelSmile#KimberlyMoss#J.Caldwell

Too much Cupid in your life. Love ur smile, Kim#AngelSmile#KimberlyMoss#J.Caldwell

Aku membenci pria yang menjadi suamimu. #AngelSmile#KimberlyMoss#J.Caldwell

Bisakah aku berharap agar pria itu menyakitimu sehingga aku bisa memilikimu? #AngelSmile#KimberlyMoss#J.Caldwell

Sangat cantik seperti malaikat. Kau memang malaikat yang diturunkan ke bumi, Kim. #AngelSmile#KimberlyMoss#J.Caldwell

.
.

Empat bulan setelah pernikahan...

Jayce menahan geramnya ketika melihat Kimberly dalam bikini berwarna kuning. Saat ini mereka sedang berada di Yunani, selain karena ingin berbulan madu (Barbara sudah tidak ambil bagian lagi dalam urusan perusahaan, membuat Jayce harus mengurus semuanya dari awal), Kimberly juga ingin mengunjungi Ray dan Sophie. Sebenarnya hanya Ray yang sekarang menetap di Yunani sementara Sophie hanya sekedar liburan dan belum pernah kembali lagi sejak bulan lalu.

Kimberly dan Sophie sedang membuat istana pasir sementara kedua pria itu hanya mengawasi tapi tetap berada dua langkah dari para wanita itu. Terlalu banyak mata yang seakan ingin menelanjangi mereka dan baik Jayce maupun Ray sama- sama tidak suka jika miliknya dan juga saudaranya (ini bagi Ray) dilihat seperti itu.

"Horray!!" Baik Kimberly maupun Sophie sama- sama bersorak ketika berhasil menyelesaikan bangunannya ketika pandangan Kimberly bertemu dengan Jayce dan tersenyum seraya berlari menemui suaminya dan berciuman.

"Kau selalu bisa membuatku ingin melahapmu lagi dan lagi." Ucap Jayce yang bisa didengar baik Sophie maupun Ray. Ray hanya mencibir mendengar ucapan Jayce barusan sementara Sophie tertawa.

"Aku juga," balas Kimberly tidak kalah sensualnya sementara kedua tangannya dikalungkan di sekeliling leher Jayce. "Aku menyukai caramu menciumku."

Jayce sengaja mengangkat sebelah alisnya. "Hanya ciumanku?" Tanyanya menggoda.

Kimberly terkekeh. "Tidak hanya ciumanmu tapi..."

"Tapi?"

"Tapi semua yang kita lakukan selama ini."

"Hm, apakah itu yang terjadi ketika pagi, siang dan malam?" Jayce semakin mengeratkan tangannya di sekeliling pinggang Kimberly, membuat tubuh mereka seperti menyatu.

"Aku..."

"Oh Tuhan! Aku tahu kalau kalian sedang berbulan madu tapi tidak tahukah kalian? Kalian membuat telingaku sakit dengan pembicaraan kalian berdua," lalu mata Ray seketika berpaling pada Kimberly. "Dan bagaimana bisa kau berubah dari gadis lugu menjadi gadis menggoda seperti tadi? Seingatku beberapa bulan yang lalu kau masih baik- baik saja? Apa pria ini memasukkan sesuatu ke makananmu?"

Kimberly mencibir. "Aku kan hanya ingin menikmati bulan maduku saja." Balas Kimberly enteng. "Dan lagipula aku melihat apa yang kau lakukan dengan wanita di bar itu semalam," lanjutnya yang serta merta membuat mata ketiganya membelalak.

"Kau apa?" Suara Ray tercekat, tidak percaya.

"Kau menciumnya dan menggodanya. Kupikir kau juga akan mengajaknya ke ka..."

"Cukup!" Ray berteriak cukup keras. "Okey, tidak usah diteruskan. Aku tahu apa yang akan kau katakan." Kata Ray seraya mengarahkan kedua tangannya kearah Kimberly.

"Kupikir tadinya kau akan mengajaknya ke kabin karena sepertinya dia butuh udara untuk tidak memukulmu." Lanjut Kimberly tanpa memperdulikan tatapan tajam Ray.

Hening selama beberapa detik ketika tidak lama kemudian terdengar suara gelak tawa yang membahana dari Sophie dan Jayce.

"Oh, aku sangat mencintaimu, sayang." ujar Jayce pada Kimberly di sela tawanya.

Kimberly baru saja akan melangkah ketika merasa semuanya berputar.

"Oh!" Kimberly berpegangan pada Jayce. "Kepalaku berputar."

"Kau baik- baik saja?" Jayce bertanya khawatir. "Apakah kau pusing? Kelelahan karena terlalu lama di laut? Kau seharusnya tidak terlalu lama di bawah sinar matahari."

"Tak apa- apa," Kimberly sedikit terengah. "Aku baik- baik saja. Kurasa aku hanya butuh istirahat."

"Astaga, aku pernah melihat hal itu," tahu- tahu Sophie muncul dan lewat di depan Jayce, Kimberly dan Ray. "Ketika Susan hamil."

Dan ketiganya sama- sama membelalakkan matanya.

E  N   D

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS