IY - TIGA BELAS

Suara hingar bingar musik klub yang membahana justru tidak membuatnya merasa lebih baik, malah Cassie semakin merasa gamang.

Beruntung ia masih mendapatkan tempat yang jauh dari tatapan orang- orang yang ingin tahu alasan mengenai kesendiriannya. Cassie memang baru kali ini sendirian, biasanya ia selalu bersama Claire tapi ia tidak ingin bertemu dengan siapapun saat ini. Tidak jika dia merasakan perasaan marah.

Sekali...

Dua kali...

Entah berapa banyak cairan kuning itu ia teguk, yang justru membuatnya merasakan jika sekelilingnya mulai berputar.

Apa dia sudah mabuk?

Tidak mungkin.

Tidak mungkin ia mabuk hanya karena beberapa gelas. Cassie menekankan pikirannya dengan tegas kemudian tertawa.

Seharusnya dia tadi memberontak saja. Mengutarakan ketidaksetujuannya pada kedua orang tuanya.

Menikah?

Yang benar saja! Memang dia hidup di abad ke berapa hingga harus menikah di usianya yang ke- 18 dan orang tua mana yang begitu tega ingin menyuruh anaknya apalagi satu- satunya agar cepat menikah?

Setidaknya mereka harus saling mengenal lebih dulu. Berbicara, bertemu dan melihat apakah ada kecocokan diantara mereka tapi menikah? Pasti ada yang salah dengan otak kedua orang tuanya. Ya. Pasti itu.

Jeremiah Culton.

Cassie memaksakan dirinya untuk tertawa tapi yang terdengar dari mulutnya justru tawa sinis sekaligus tidak percaya.

Dia mengenal siapa pria yang akan dijodohkan dengannya. Tidak secara dekat tapi Cassie cukup mengetahuinya.

Jeremiah atau biasa Cassie dengar dipanggil Jerry atau untuk lebih formalnya lagi Mr. Culton adalah seorang pria yang digadang- gadang akan menggantikan posisi Howard Culton di Institute tempatnya berlatih.

Jerry tampan atau begitulah yang sekilas ia lihat. Tinggi dan memiliki badan yang tegap seperti dewa Zeus atau mungkin patung Michael Angelo? Entahlah. Cassie tidak ingin berpikir jauh.

Pertemuan pertamanya bahkan tidak bisa dikatakan sebagai pertemuan karena itu hanyalah ketidaksengajaa. Kala itu ia melihat Jerry sedang berjalan- jalan dengan Howard ketika Howard menyapanya. Cassie tidak terlalu mengenal Howard tapi ia tahu kalau Tessa Culton sangat akrab dengan ibunya. Selama ini waktunya hanya ia habiskan dengan latihan dan konser di berbagai negara.

Sejujurnya ketika Cassie melihat wajah itu. Cassie merasakan perasaan aneh seperti ada butiran- butiran salju yang mengenai tengkuknya. Dingin tapi juga berbahaya ketika mata mereka bertatapan hingga pria itu yang lebih dulu berpaling sambil menyunggingkan senyum mengejek padanya.

Untungnya setelah melalui perdebatan yang panjang antara dirinya dan ibunya, dengan terpaksa Cassie harus menerima kata pertunangan. Setidaknya bukan pernikahan. Dia tidak ingin menikah saat ini. Masih banyak hal- hal yang perlu dilakukannya dan dengan menyetujui pertunangannya, akan memberinya waktu agar bisa membatalkannya sewaktu- waktu.

"Hei, boleh bergabung?"

Sejenak Cassie mendongak dan mendapati seorang pria yang juga tampan tapi memiliki kesan badboy sedang menatapnya sementara sebelah tangannya memegang minuman yang berwarna sama dengan yang ada di tangannya.

"Silahkan." Cassie tidak ingin berdebat hanya karena masalah tempat meskipun ia tahu dengan jelas kalau ia memiliki hak sepenuhnya. Dia sudah menyewa tempatnya selama beberapa jam kedepan dan privasi adalah yang diinginkannya. Setidaknya itu yang ia inginkan tadi.

"Sendirian?"

Sambil mengendikkan bahunya acuh, Cassie mengambil minumannya lagi dan langsung meneguknya.

"Apa yang terjadi?"

Serta merta Cassie menyipitkan matanya dan menatap pria didepannya.

"Aku memperhatikanmu sejak tadi," ujar pria itu tersenyum.

"Dan?"

"Kau tampak sangat marah."

Mau tidak mau Cassie tersenyum. "Apa kau punya bakat cenayang?" Tanyanya bergurau.

Tak disangka pria itu juga tersenyum. "Aku memiliki bakat dalam menemukan wanita- wanita cantik."

"Dan kau menemukanku?"

"Ya. Aku menemukanmu. Kau seperti peri tersesat di tempat terkutuk ini."

Tanpa sadar Cassie terkikik. "Kutebak kau perayu ulung." Ucapnya.

"Tidak semua wanita mendapatkan rayuanku."

"Kalau begitu haruskah aku tersanjung."

Pria itu tersenyum.

"Aku Matt." Katanya seraya mengulurkan tangannya kearah Cassie.

"Aku Case."

.
.

"Matt?"

Cassie begitu terperanjat setelah menyadari siapa yang baru saja menciumnya.

"Hai baby. Aku merindukanmu." Katanya tersenyum.

"Apa yang kau..."

Buk!!!

Tanpa peringatan, mendadak Jerry melayangkan tinjunya pada Matt dan menarik paksa Cassie agar berada dalam jangkauannya.

"Brengsek!" Seru Matt seraya bangkit dan hendak membalas orang yang baru saja memukulnya ketika melihat pria itu telah memegang pinggang Cassie dengan posesif. "Kau punya pacar baru?" Tanyanya seraya melayangkan pandangannya pada gadis didepannya.

"Aku tunangannya. Siapa kau?" Ungkap Jerry semakin mendekatkan Cassie ke dekatnya.

"Tunangan?" Kedua mata Matt menatap bergantian antara Cassie dan Jerry. "Sejak kapan kau bertunangan?" Tanyanya mengarahkan pandangannya tepat ke mata Cassie.

"Sudahlah. Lupakan saja." Cassie melepaskan dirinya dan hendak berjalan kearah Matt ketika tangan Jerry menahannya.

"Mau kemana kau?" Jerry bertanya tajam. Rahang pria itu semakin mengeras ketika gadis itu sama sekali tidak menjawabnya.

"Pulanglah lebih dulu." Ucap Cassie setelah menghembuskan napasnya, merasa tidak habis pikir ada apa dengan pria- pria ini.

"Dan membiarkanmu sendirian?"

"Aku tidak sendirian." Sergah Cassie tidak terima. "Aku bersama Matt."

Jerry yang mendengar hal itu semakin tidak percaya. Bagaimana mungkin gadis didepannya ini sama sekali tidak mengerti apa yang dirasakannya dan dengan entengnya mengatakan kalau dia akan bersama pria yang baru saja menciumnya. Tepat dihadapannya. Di depan mata kepalanya sendiri.

"Tidak."

"Apa?"

"Kau tidak boleh bersamanya."

"Dan apa alasanmu? Demi Tuhan! Tidak bisakah kau berhenti bersikap konyol?" Akhirnya Cassie menumpahkan kekesalannya.

"Aku konyol kau bilang?" Jerry sudah berusaha agar amarahnya tidak semakin tersulut tapi ternyata itu tidak mudah jika dilakukan dihadapan sang tunangan.

Ya. Dia sudah memutuskan akan menjadikan Cassandra Ann Swan sebagai miliknya.

"Ya. Kau konyol." Balas Cassie. "Aku tidak tahu ada apa denganmu hari ini. Kau aneh dan semakin bertambah aneh dengan memukul orang tanpa sebab." Cetusnya marah.

"Apa insting perasamu tidak berfungsi dengan baik hingga tidak menyadari alasan kenapa aku memukulnya."

"Selain kau yang bersikap sangat pemarah dan sok hari ini. Selebihnya aku tidak tahu."

"Itu karena dia menciummu!" Jerry membentak.

Untuk beberapa detik, Cassie merasa seperti jantungnya berhenti berdetak ketika mendengar Jerry mengatakan kalimat itu padanya tapi ekspresinya langsung berubah dan setelah memutar matanya yang memperlihatkan dia tidak mempermasalahkan hal itu, ia kembali berkata.

"Dan?"

"Dan?"

"Itu hanya ciuman. Tidak ada sesuatu yang spesial didalamnya."

Oh! Jerry tidak tahan lagi. Tanpa pikir panjang, ia menyeret Cassie menjauh. Mengindahkan teriakan marah Cassie di telingannya dan memaksanya agar masuk kedalam mobilnya. Ia bahkan melupakan Brandon, Elena dan Claire yang masih berada disana.

"Kalau kau..."

"Tutup mulutmu saat ini, Cassandra." Potong Jerry dan hanya fokus pada jalan didepannya.

Dalam hatinya Cassie merutuk Jerry habis- habisan dan sedang berpikir apakah sebaiknya keluar saja dari mobil Jerry sekarang? Tapi mobilnya saat ini sedang jalan. Jika ia nekat maka besar kemungkinan dia akan mengalami luka dan lecet. Belum lagi ia harus memperkirakan kemungkinan agar kepalanya tidak terbentur trotoar jalan.

"Berhenti memikirkan sesuatu yang tidak- tidak karena jika tidak aku akan melakukan sesuatu yang nekat."

Cassie terperanggah. Tidak percaya.

"Kau bisa..."

"Tidak sulit memperkirakan apa yang sedang kau pikirkan." Ejeknya.

"Oh," Cassie mendekap kedua tangannya di dada. "Jadi selain kau memiliki kafe dan Institute, kau juga bisa membaca pikiran? Apa kau ini Edward Cullen? Vampir? Oh, jika kau Edward Cullen lalu aku ini siapa? Bella Swan? Oh, jangan samakan kami hanya karena nama belakang kami sama, okey? Karena kami..." kalimatnya terhenti seiring Cassie merasakan benda kenyal dan hangat di bibirnya.

"Apa yang harus ku perbuat untuk menghentikan mulut pintarmu ini." Ucap Jerry pelan seraya menyentuh bibir yang baru saja dikecupnya itu dengan jarinya.

Kedua mata Cassie membelalak dan hal selanjutnya yang ia lakukan adalah menampar Jerry dengan keras sebelum keluar dari mobil.

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS