LOVE MISSION - 32

"Kalau begitu, apa kau rela melepaskannya?"

Kimberly terdiam. Lidahnya mendadak kelu mendengar kalimat yang baru keluar dari bibir Barbara.

Aku tahu kita belum bisa mengatakan tentang pernikahan kita pada semua orang tapi bisakah kau bersabar denganku? Aku berjanji akan memberitahukan semuanya pada semua orang jadi jangan pernah menyerah. Apa kau sanggup?

Itu adalah kalimat yang pernah dikatakan oleh Jayce padanya di sela dia yang menyuap Jayce karena luka akibat kecelakaan jatuhnya dirinya dari motor tempo hari.

Jangan pernah menyerah...

Jangan menyerah...

"Pernikahan kalian hanya tercatat di catatan sipil," lagi- lagi Barbara memintanya dengan lirih. "Kalian maksudku, salah satu dari kalian masih bisa membatalkan pernikahan ini."

"Tapi..."

Barbara segera merengkuh kedua tangan Kimberly yang berada diatas meja, mengirimkan permohonan didalamnya.

"Kau masih muda, sayang," ucapnya lagi. "Masih banyak yang bisa kau lakukan di usia yang masih tergolong se-muda ini. Tentunya karirmu jauh lebih penting dari pernikahanmu, bukan? Apa jadinya jika paparazzi mengetahui pernikahan diam- diam yang kau lakukan?"

"Grandmere," Kimberly berujar lirih. Dia benar- benar merasa dilema dengan apa yang dihadapinya saat ini.

"Kau mencintai, Jayce, bukan?"

Kimberly mengangguk.

"Kalau begitu pengorbanan kecil yang kau lakukan bisa sedikit membantunya."

"Membantunya?"

Barbara mengangguk. "Saat ini Jayce sedang berusaha memperluas jaringan perusahaan yang sejak dulu dimilikinya. Apa kau tahu CW Automotif Inc?" Kimberly mengangguk. Siapa yang tidak mengenal CW Automotif Inc, perusahaan yang memiliki ribuan karyawan hingga ke berbagai negara dan Kimberly hampir saja di kontrak oleh perusahaan itu untuk menjadi ambassador ketika secara bersamaan tawaran di jepang juga datang. "Saat ini Jayce sedang belajar mengambil alih kepimpinan di perusahaan yang sebelumnya grandmere pimpin."

Kimberly terdiam. Dia tidak pernah menyangka kalau pengaruh Jayce berasal dari keluarga seperti itu dan menyadari kalau tentu saja nama belakang yang dimiliki oleh Jayce memiliki kemiripan.

"Jadi sudah mengertikan, kenapa Jayce tidak cocok denganmu yang hanya seorang model tak penting," sahut Rhea menambahkan. "Pekerjaan yang kau miliki bisa saja mempengaruhi pertimbangan dewan direksi apalagi jika paparazzi mengetahui hubungan kalian."

Kimberly semakin merasa dilema. Apa yang dilakukannya? Apa yang akan kau lakukan, Jayce?

Aku mencintaimu, Kimberly Moss!

Untuk sesaat Kimberly memejamkan kedua matanya dan membukanya beberapa menit kemudian seraya perlahan- lahan melepas genggaman tangan Barbara dari tangannya.

"Aku..."

"Kami bisa mengganti segala kerugian" lanjut Rhea.

Kimberly menggeleng. "Bukan seperti itu. Maaf, aku... aku mencintai Jayce tapi... tapi aku tidak bisa melepasnya. Pernikahan kami sah di mata hukum dan negara jadi aku tidak ingin memberikannya pada siapapun."

Rhea berbisik pelan seraya mengeluarkan sumpah serapah ketika mendadak terdiam ketika melihat Barbara sedang memberinya tatapan penuh peringatan.

"Bagaimana kalau Jayce sendiri yang ingin melepasmu?" Mendadak Rhea bertanya pada Kimberly.

"Eh?"

"Pernikahan kalian bisa saja dibatalkan dan jika bukan berasal darimu maka Jayce mungkin yang akan melakukannya."

Kimberly baru saja akan membantah ketika mendengar suara penuh amarah dari arah belakangnya.

"Rhea!!!"

Kedua mata Rhea mendadak melotot karena kaget sementara Barbara hanya bisa terdiam ditempatnya.

"Apa- apaan ini?!" Seru Jayce marah setibanya ia disamping Kimberly, berdiri sambil menatap dua sosok yang sedang duduk dihadapannya tanpa memperdulikan peluh yang berada di kening dan juga lehernya akibat berlari dari pertemuannya yang tadi dilakukannya.

Kalau bukan London yang langsung menerjang memasuki ruang kantornya, tanpa memperdulikan para klien. Mungkin saat ini Jayce masih duduk sambil tertawa- tawa membicarakan proyek yang akan segera di garapnya di Swedia.

London entah bagaimana mendadak menarik kerah bajunya dan menghempaskannya ke lantai, mengatakan kalimat yang sama sekali tidak dimengerti oleh Jayce- bukankah sudah kuperingatkan untuk berpikir terlebih dahulu sebelum mengatakan hal yang sebenarnya pada Grandmere? Kenapa kau bisa menjadi seteledor ini, Jayce? Kau bukan sahabat yang kukenal. Jayce Caldwell yang kukenal selalu memikirkan konsekuensi dari apa yang akan dilakukannya tapi sekarang kau justru seperti ingin memberikan tanggung jawab sepenuhnya padanya. Pergi ke tempat ini dan segera selesaikan apa yang kau sudah mulai.

"Jayce"

"Kuminta kau diam, Rhea! Sudah cukup aku mendengarmu bicara tadi." Tekan Jayce membuat Rhea seketika bungkam lalu Jayce menolehkan kepalanya pada keluarga satu- satunya yang dia sayangi. "Aku tidak mengatakan hal yang sebenarnya pada grandmere agar bisa menekannya. Apa grandmere tahu itu?" Tanyanya.

"Ya. Tapi grandmere tidak ingin kau menjalin hubungan dengan model ini."

"Astaga grandmere," Jayce mengerang. Benar- benar frustrasi. "Jadi grandmere mengharapkanku selamanya menjadi pasangan London?"

Seketika kening Barbara berkerut, tidak suka.

"Aku tidak begitu tertarik menyukai sesuatu yang mirip dengan milikku, sungguh. Dan kalau grandmere ingin tahu, sepertinya London lebih memilih menancapkan miliknya pada sesuatu yang bisa tertanam dan bukannya saling melakukan jurus pedang dan silat- silat."

Lagi- lagi Barbara mengernyit tidak suka dengan kalimat terus- terang Jayce yang tidak terlalu vulgar tapi tetap mengarah kesana sementara itu Rhea hanya membuka mulutnya, tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.

"Jadi berhentilah menganggu, Kimberly, grandmere," mohonnya lalu menatap Rhea. "Hal yang sama juga berlaku padamu, Rhea." Lanjutnya pada wanita itu kemudian matanya kembali melihat keduanya. "Saat ini Kimberly berstatus sebagai istriku jadi apapun yang menyangkut tentang dirinya adalah urusanku. Katakan padaku keberatan kalian dan kita bisa membicarakannya tanpa ada yang merasa tersakiti."
Tidak ada yang berbicara.

"Aku masih mengingat tanggung jawab yang grandmere inginkan dariku," Jayce mengatakannya pada Barbara yang masih terdiam menatapnya. "Tapi jika grandmere terus mengusik kehidupanku seperti ini, ini akan membuatku sulit berkonsentrasi dengan apa yang grandmere inginkan jadi, kumohon. Kumohon bekerjasamalah denganku."

Lama Barbara menatap Jayce. Apapun kalimat yang keluar dari bibir Jayce seakan menandakan ketegasan didalamnya. Jayce tidak tampak seperti cucu yang selama ini dikenalnya, Barbara seperti melihat ada diri almarhum anaknya dalam diri Jayce saat ini dan itu membuatnya tidak sanggup berkata- kata.

Kemudian pandangannya beralih pada Kimberly yang diam tanpa mengucapkan sepatah kata selain kalimat penolakan tadi. Barbara menyadari kalau Kimberly terlihat rapuh sekaligus polos dalam waktu yang bersamaan dan Barbara mulai mengerti kenapa cucunya itu ingin segera mengikat sang model untuk menjadi miliknya. Selain karena kecantikan yang tidak terlalu dalam polesan make up, gadis itu juga sanggup mengatakan kalimat penolakan dengan caranya yang tidak menuntut tapi dibandingkan itu semua, sekilas tadi Barbara melihat kalau sepertinya gadis ini baru tahu siapa Jayce yang sebenarnya dan tidak mengerti bagaimana bisa mereka menikah padahal salah satu pihak ada yang tidak mengenal latar belakang dari yang dinikahinya ataukah Jayce juga tidak mengenal latar belakang dari sang model? Dia perlu menanyakan hal ini pada Jayce nanti.

"Kurasa pertemuan yang dramatis ini sudah cukup sampai disini. Aku akan mengantar Kimberly pulang." Jayce meraih tangan Kimberly dan menyuruhnya untuk berdiri.

"Tapi Jayce?"

"Sudah tidak ada yang perlu dibicarakan dengan mereka." Ujar Jayce seraya mengelus sebelah pipi Kimberly, seakan menenangkannya. Jayce tidak tahu apa yang dipikirkan oleh gadisnya saat ini. Kimberly hanya terdiam sepanjang pembicaraan mereka dan Jayce menduga kalau ada kemungkinan Kimberly sangat syok menghadapi situasi saat ini.

"Kita akan pulang. Kau sudah tidak ada jadwal pemotretan lagi, kan?"

Kimberly menganggukkan kepalanya atas pertanyaan Jayce barusan, membuat Jayce tersenyum dan tanpa sadar mengecup kening Kimberly, sangat lembut.

Mereka baru saja melangkahkan kakinya beberapa langkah ketika mendengar kembali suara dari Rhea dibelakangnya.

"Bagaimana kalau paparazzi mengetahui tentang hubungan kalian? Apa kau tidak takut? Terutama padamu Kimberly, kau bisa saja kehilangan penggemarmu."

Baik Jayce maupun Kimberly terdiam menatap Rhea yang berdiri dengan sikap menantang. Sekilas Jayce melirik Kimberly yang masih terdiam, tak menjawab lalu menghembuskan napasnya lelah.

"Selama kau tidak mengatakan pada mereka, tidak akan ada yang mengetahuinya, Rhea," Jayce mewakili Kimberly menjawab pertanyaan Rhea barusan.

"Jadi kalian sama sekali tidak ada yang ingin mengatakan pada publik?" Kali ini Barbara tidak tinggal diam, ikut menatap keduanya.

Jayce menggeleng. "Kimberly masih muda dan masih harus mengejar karirnya. Kami belum berpikir untuk mengatakan hal itu pada publik kecuali hanya orang dekat saja. Lagipula orang yang mengatur jadwal Kimberly selama ini juga tidak ingin mempublikasikan hal ini."

Tidak ingin berlama- lama, Jayce berbalik dan menarik tangan Kimberly agar mau mengikutinya sebelum salah satu atau keduanya kembali mengajukan pertanyaan yang mungkin bisa membuatnya kehilangan kesabaran.

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS