BTY - SEPULUH
"Maaf," Jullian merasa tidak ada yang salah dengan pendengarannya saat ini tapi setelah mendengar permintaan dari orang itu membuatnya kaget dan tidak yakin dengan pendengarannya saat ini.
"Aku tahu apa yang kau pikirkan, Anderson." Jerry membalas, merasa jengah dengan tatapan yang diberikan Jullian padanya saat ini. Setelah meninggalkan Cassie tadi pagi, ia langsung menuju ke apartemennya untuk sekedar membersihkan tubuhnya dan berganti pakaian. Dia tidak ingin meninggalkan wanita itu terlalu lama, tahu kalau dia tidak akan bisa berpisah dengannya tapi dia juga harus menjalankan rencananya dan itu meminta bantuan pada Jullian. "Hubungan kita memang..."
"Berhenti bicara seperti kau perempuan, Culton," Jullian mengibaskan tangannya agar bisa memotong ucapan Jerry. "Kau memintaku untuk mencari tahu tentang Anna? Kenapa?"
"Karena Anna adalah Cassandra."
Kening Jullian seketika mengernyit. "Aku tahu apa yang kau pikirkan. Aku hanya..."
"Bisakah kau berhenti mengatakan kau tahu apa yang kau pikirkan setiap kali aku bersuara?" Sergah pria itu tidak sabar. "Apa kau yakin itu dia?"
Tidak ada ketegangan ketika Jullian menanyakan hal itu dan apapun itu, Jerry mengerti. Benar kata Lea dulu, baik Jerry maupun Jullian sama- sama memiliki sifat yang sama. Sama- sama keras kepala, tidak mau ditentang tapi sangat perhatian dengan apa yang sudah dianggapnya menjadi miliknya. Tapi bukankah semua pria memang seperti itu? Akan melakukan apa saja demi wanita yang dicintainya.
Jerry mengusap wajahnya, tampak sangat lelah sebelum menganggukkan kepalanya. Untung saja Jullian menyuruhnya untuk datang ke kantornya. Jerry tidak yakin bisa menceritakan semuanya jika Lea ada. Wanita itu akan histeris dan jelas akan langsung menemui wanitanya di rumah sakit.
"Dengar, aku minta maaf atas perkataanku dulu yang tidak mengerti ketika Lea melupakan dirimu," mendadak tubuh Jullian menegang mengingat kembali mimpi buruk yang pernah dialaminya beberapa tahun yang lalu. Lea sama sekali tidak mengingatnya kala itu dan menyangka kalau anak yang dikandungnya adalah anak Jerry. Dia bahkan berniat membunuh Collin jika saja kedua orang tuanya tidak mencegahnya. "Sekarang aku bisa mengerti apa yang kau rasakan waktu itu."
"Apa kau yakin Anna itu adalah Cassie?" Jullian bertanya. Biar bagaimana pun dia juga tidak mengerti. Jika Cassie kala itu masih hidup, bagaimana dia bisa selamat setelah terjatuh dari ketinggian seperti itu? Dan kenapa tidak ada yang memberitahukan tentang adanya wanita terluka yang ditemukan padahal seluruh stasiun TV menayangkan tentang hal itu, bahkan foto sang pianis tersebar di semua layar televisi.
Jerry memperlihatkan senyum lemah pada Jullian. Dia tahu apa yang ada dalam benak pria itu dan maklum. Dia juga masih belum bisa mempercayai takdir yang terjalin antara dirinya dan Cassie.
"Sama seperti kau yang mengenal seluruh lekuk dan bentuk tubuh Lea, aku juga bisa mengenal apa yang ada dan tidak adanya dalam tubuh istriku." Jawab Jerry dengan cengiran di bibirnya.
"Oh aku lupa tentang itu." Jullian membalas. "Kalau kau sudah yakin tentang itu, kenapa kau masih membutuhkan bantuanku?"
Sekali lagi Jerry mengusap wajahnya, kembali merasa frustrasi. "Karena aku tidak mau meninggalkannya lagi. Tidak setelah apa yang sudah kualami selama dua tahun ini. Terlalu sulit ketika aku meninggalkannya masih tidur di rumah sakit tadi dan menemuimu tapi aku juga tidak ingin membicarakan tentang ini melalui telpon."
Jullian menatap Jerry, mengerti apa yang dirasakan oleh pria itu. Entah siapa yang lebih menderita diantara mereka berdua. Dulu Lea sempat tidak mengingatnya tapi dia masih bisa melihat wanita yang dicintainya, berada di sampingnya, merasakan kehadirannya tapi Jerry? Pria itu mengira dia telah kehilangan wanita itu sepenuhnya dan ketika mengetahuinya, dia justru dilupakan.
"Dia sama sekali tidak memiliki ingatan tentang diriku," ujar Jerry melanjutkan. "Dan apa kau tahu apa artinya itu bagiku? Itu berarti seluruh yang telah kami lalui ikut terhapus dalam ingatannya."
"Apa kau sudah menemui dokter dan menanyakan hal ini?"
Jerry menggeleng. "Tidak. Karena itu berarti keluarganya juga harus dilibatkan."
"Kurasa Mr dan Mrs. Swan tidak akan keberatan. Justru mereka akan merasa senang karena melihat Cassie hidup."
"Aku tidak membicarakan tentang keluarganya yang itu."
Jullian terdiam, menatap Jerry. "Apa yang kau bicarakan? Apa dia sudah menikah lagi?"
"Tentu saja tidak." Sergah Jerry marah dan merasa bersyukur Cassie tidak melakukannya. Akan sangat sulit baginya jika wanita itu telah menikah dan bahagia. Memikirkannya saja membuat tubuhnya seketika bergidik. "Dia memiliki seorang adik dan teman dari orang tuanya."
"Aku tidak tahu kalau Cassie memiliki adik."
"Sebelumnya memang tidak, tapi di kehidupannya sekarang. Ya. Dia memilikinya. Usianya 16 tahun dan bernama Patricia."
"Apa kau tahu siapa nama keluarganya?"
"Wildblood. Setidaknya itu yang dulu dia katakan."
"Dan kemana Mr dan Mrs. Wildblood sekarang?"
"Didalam tanah. Meninggal setahun yang lalu akibat kecelakaan."
Jullian bisa mengerti bagaimana sulitnya situasi ini. Tidak ada orang yang bisa ditanyai tentang Cassie kecuali ada orang yang bisa menghidupkan orang mati, yang mana itu mustahil.
"Apa adiknya ini. Patricia tahu kalau Cassie itu adalah Anna, yang berarti dia sama sekali tidak memiliki hubungan dengannya?" Tanya Jullian kemudian.
"Aku tidak tahu," Jerry mengangkat bahunya lemah dan menghembuskan napas berat. "Tapi melihat bagaimana Patricia menyayangi Cassie dan Cassie menyayangi Patricia. Kuduga tidak seorangpun yang tahu."
"Atau pura- pura tidak tahu."
Kedua kening Jerry bertaut, "apa maksudmu? Apa kau mau bilang kalau Cassie pura- pura hilang ingatan? Begitu?" Jerry meradang.
"Tidak seperti itu," Jullian mengangkat sebelah tangannya, menghentikan Jerry dari amarah yang tiba- tiba timbul. Seraya memperbaiki letak duduknya- Jerry juga melakukan hal yang sama, ia melanjutkan. "Bagaimana jika adiknya itu tahu segalanya tapi memilih untuk tidak memberi tahu?" Tidak ada jawaban. Jadi ia kembali berkata, "Coba pikir, dia tidak memiliki siapapun didunia ini. Dia kehilangan orang tuanya di masa remaja dan ketika ada orang lain yang dekat dengannya, dia lebih memilih untuk menutupinya."
"Tapi itu tidak mungkin. Dia masih 16 tahun saat ini."
"Yang berarti ketika orang tuanya meninggal dia berumur 15 tahun. Usia dimana dia membutuhkan seseorang untuk menjadi tempatnya bergantung."
Jerry terdiam. Tidak tahu apa yang harus dikatakan.
"Kau bilang kalau dia juga memiliki orang lain, teman dari kedua orang tuanya, bukan begitu?"
"Ya."
"Dan menurutmu dia tahu tentang latar belakang Cassie?"
"Aku tidak tahu." Lalu Jerry menghela napasnya. "Betrice akan menaruh curiga jika aku langsung menanyakan tentang Cassie padanya."
Tidak ada yang berbicara diantara mereka. Semuanya sibuk dengan pikirannya masing-masing.
"Apa ada daerah tertentu seperti misalnya dimana mereka tinggal sebelumnya padamu?" Tanya Jullian.
"Dia menyebutkan Seattle dan Minnesota."
"Kalau begitu kita akan mulai dari kedua tempat itu. Aku akan meminta ibuku memberitahukan nama detektif yang pernah membantunya mencari tahu tentang keberadaan Lea dulu."
"Terima kasih."
"Tidak masalah. Tapi apa yang selanjutnya yang akan kau lanjutkan, Culton? Setelah kau mengetahui semuanya. Apa rencanamu?"
Jerry terdiam, kemudian berbicara. "Untuk saat ini aku tidak memiliki rencana apapun." Jawabnya. "Aku hanya ingin tahu keluarga macam apa yang pernah tinggal bersamanya. Hanya itu."
Jullian ikut diam lalu mengangguk. "Aku mengerti."
Jerry balas mengangguk, berdiri dari tempat duduknya. "Terima kasih karena mau membantuku, Anderson." Katanya seraya menjabat tangan Jullian.
"Ini sebagai balasan atas apa yang dulu pernah kau lakukan pada Lea. Melindunginya ketika aku sama sekali tidak bisa melindunginya."
Jerry tersenyum. "Jadi gencatan senjata diantara kita berakhir sampai disini?"
"Sepertinya ini akan menjadi permulaan yang cukup signifikan diantara kita, heh?" Sahutnya sembari tertawa.
"Sepertinya begitu." Jerry balas tertawa. "Lea pasti akan terkejut kalau mendapati kita bisa berbicara tanpa ada kata- kata sinis dan pertumpahan darah."
"Ah wanitaku memang kadang suka menjadikan imajinasinya berkembang liar."
Jerry dan Jullian sama- sama menganggukkan kepalanya.
"Jerr?" Panggil Jullian ketika Jerry baru saja melangkahkan kakinya melewati pintu ruangan Jullian dan berbalik melihat wajah Jullian, yang tampak kesulitan menemukan kalimat yang tepat. "Aku turut berduka atas.... calon anakmu dulu." Katanya.
Ini pertama kalinya Jullian menyatakan belasungkawanya pada pria itu. Tahu bagaimana rasanya ketika melihat anak yang bahkan sebelumnya belum diketahuinya terenggut paksa di depan matanya sendiri.
Jerry mengangguk pelan, "terima kasih." Ujar Jerry bersamaan dengan dirinya menutup pintu dibelakangnya.
***

Comments
Post a Comment