LOVE MISSION - 1
"Hey... hey lihat disana. Bukankah itu Kimberly Moss?"
"Mana? Astaga, apa yang sudah dia makan hingga bisa secantik itu ya?"
"Tapi sayang sekali dia tidak pernah tersenyum."
"Apa menurutmu rumor itu benar?"
"Kalau dia sombong?"
"Tentu saja. Kalau dia tidak sombong, tidak mungkin dia tidak pernah tersenyum bahkan aku dengar kalau dia bahkan tidak tersenyum pada wartawan setiap kali dia diwawancarai. Dia lebih sering menghindar."
"Apa mungkin agensinya yang berusaha menutupinya? Kau tahu, agar dia terkesan misterius."
"Kalau memang begitu, kasihan sekali dia."
"Tapi biarpun begitu tetap saja dia cantik ya?"
"Orang cantik mah mau diapain juga sah. Tidak peduli dia tersenyum atau tidak."
Kimberly hanya bisa menghela napas panjang mendengar ocehan kedua gadis yang baru saja dilewatinya. Koridor tempatnya berjalan memang tergolong ramai dan semakin ramai karena bertepatan dengan selesainya perkuliahan. Rencananya hari in dia hanya akan menyerahkan jurnal pada dosen sastranya dan setelah itu kembali ke agensi. Baru saja Sophia Rios, sang manager menghubunginya dan menyuruhnya untuk langsung saja ke agensi dan mengatakan kalau dia tidak bisa menjemput.
Nama Kimberly Moss sudah tidak asing lagi dalam dunia permodelan. Entah sudah berapa ribu kali dia menjalani pemotretan dan membawa beberapa hasil rancangan designer terkenal ke dunia model. Parasnya yang cantik serta tubuh yang putih mulus membuatnya sering kali mendapatkan decak kagum plus iri dari kaum hawa tapi mendapatkan tatapan seperti srigala lapar yang melihat daging segar di padang sahara dari kaum adam.
Kimberly baru saja mengetuk pintu ruangan yang di sudut dan mendengarkan deheman pelan yang mengijinkannya untuk masuk.
"Maaf professor, saya datang untuk memberikan tugas saya." Kimberly menyerahkan tugasnya pada pria hampir botak itu dengan kacamata gagang tanduk.
Professor Noor atau professor bergagang tanduk, begitu mahasiswanya memanggilnya mengangguk seraya mengambil tugas dari tangan Kimberly dan memeriksanya.
"Kau terlambat sehari, Miss Moss?" Ucapnya setelah melihat lembaran kertas ditangannya.
"Maaf professor." Hanya itu yang bisa dia katakan. Memang alasan apa lagi yang harus dia katakan? Ini pertama kalinya dia melakukan kesalahan seperti ini. Biasanya dia akan mengumpulkan tugasnya tepat waktu tapi beberapa bulan yang lalu dia sibuk mempersiapkan fashion show di Milan hingga nyaris melupakan tugas kuliahnya.
Professor Noor menatapnya, "baiklah. Saya akan membiarkan ini tapi tidak akan ada lain kali, Miss Moss."
Kimberly mengangguk dan keluar dari ruangan itu tanpa menoleh lagi.
"Anak itu. Tidak bisakah dia sedikit saja tersenyum pada orang tua?" Ucap Professor Noor melihat kepergian salah satu mahasiswinya yang dikenal cantik dan cerdas tapi terkesan arogan.
**
"Okey, a little more chic.... okey... beautiful... beautiful..."
Klik... klik..
"Go change outfit and we begin with new cuts."
Kimberly berjalan mengikuti instruksi dari sang fotografer untuk mengganti pakaian sesi keduanya dan keluar beberapa menit kemudian. Para penata rias hanya menambahkan sedikit make up. Rambut Kimberly yang coklat dibiarkan tergerai berantakan supaya menampilkan sikap misterius sekaligus kecantikan alami dari sorotan mata seorang Kimberly Moss. Disudut ruangan, Sophia sedang berbincang- bincang dengan salah satu sponsor sambil sesekali mereka berdua melemparkan pandangan kearah Kimberly.
Tiga jam kemudian pemotretan itu akhirnya selesai juga. Kimberly baru saja keluar setelah mengganti pakaiannya ketika mendapati sang manager berdiri menunggunya.
"Ayo. Kuajak kau makan. Kau belum makan kan?"
Kimberly rasanya ingin melonjak gembira. Dia memang sudah sangat lapar sejak tadi dan makanan adalah hal pertama yang diinginkannya sama halnya dia butuh udara untuk bernapas.
Mereka berdua mengambil tempat duduk disudut kafe. Beberapa orang yang melihat adanya seorang Kimberly Moss segera berbondong- bondong untuk ikut berfoto bahkan beberapa diantaranya, khususnya laki- laki tidak segan- segan memeluk gadis itu. Kapan lagi mereka bisa berkesempatan menyentuh gadis itu di dunia nyata. Sophia bahkan harus memesan tempat yang lebih privasi pada pemilik kafe karena kejadian tak terduga ini.
"Kau harusnya menolak jika mereka menyentuhmu seperti tadi." Ujar Sophia jengkel.
Kedua kening Kimberly terangkat. "Lho, mereka kan cuma minta foto. Apa salahnya?" Tanyanya seraya memasukkan gulungan pastanya kedalam mulut.
Sophia seperti ingin membenturkan kepalanya ke tembok saat mendengar jawaban polos dari gadis itu. Dia tidak pernah menyangka kalau gadis yang dia temukan secara acak 17 tahun silam bisa sepolos ini meskipun dia bergelut di bidang yang bahkan tidak sesuai dengan kepolosannya.
"Sudahlah. Lanjutkan saja makanmu."
Kimberly mengangguk kembali melanjutkan makan siangnya yang tidak bisa dibilang makan siang lagi karena waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore.
"Bagaimana kuliahmu?" Tanya Sophia tanpa sama sekali tidak melepaskan pandangannya dari gadis lapar yang sudah dianggapnya seperti adik dihadapannya itu.
"Baik. Aku ke kampus dan menyerahkan tugas yang telat sehari tadi."
"Kau tidak membuat masalah kan?"
Kedua bibir Kimberly mencebik hingga terkesan lucu. Sulit sekali menolak keluguan gadis dihadapannya ini.
"Memamg masalah apa yang bisa kulakukan kalau orang- orang sendiri malah menghindariku?"
Sophia bukannya tidak tahu tentang itu tapi kebanyakan orang akan lebih memilih untuk menghindar jika dihadapkan pada gadis itu. Gadis itu sebenarnya baik bahkan lebih polos dari yang terlihat. Hanya satu kekurangannya yaitu dia jarang tersenyum, ralat dia hampir tidak pernah terlihat tersenyum. Pernah suatu hari Sophia menyuruhnya tersenyum tapi yang ada Kimberly seperti orang yang sedang menahan kentut. Bisa kau bayangkan bagaimana orang yang menahan kentut itu? Terlihat lebih mengerikan daripada yang bisa dibayangkan.
"Kau harus bersikap friendly pada mereka."
"Friendly?"
Okey, kuharap ini tidak membutuhkan waktu yang lebih lama. Doa Sophia dalam hati.
"Apa kau lihat sponsor yang tadi kuajak bicara?" Tanya Sophia.
Sejenak Kimberly seperti berpikir dan mengangguk pelan.
"Dia ingin melihat sisi lain dari dirimu."
"Sisi lain?"
Sophia mengangguk. "Ya. Sebentar lagi musim semi." Dia sengaja menjeda kalimatnya untuk melihat respon gadis didepannya. "Sponsor tadi menginginkanmu untuk tersenyum atau lebih baik lagi tertawa."
"Tertawa?"
"Bukan tawa seperti orang yang kena penyakit malaria atau penyakit mengenaskan lainnya tapi tawa yang tulus."
"Tulus?"
Sudah kuduga ini akan membutuhkan waktu yang lama. "Kau harus bisa tertawa dan tersenyum seperti orang yang sedang jatuh cinta."
Kedua mata Kimberly mengerjap. "Jatuh cinta? Bagaimana aku bisa melakukannya?" Mendadak Kimberly ingin menangis.
Sophia juga tahu diumur Kimberly yang hampir menginjak 20 tahun, tidak sekalipun dia pernah berpacaran. Berpacaran pun tidak pernah apalagi harus jatuh cinta.
"Bagaimana perasaan jatuh cinta itu?" Mendadak Kimberly bertanya.
"Well, itu seperti perasaan suka dan sayang yang dijadikan menjadi satu. Yah, seperti itu." Sophia agak bingung juga bagaimana harus mendefinisikannya.
"Aku menyukai dan menyayangimu. Apa berarti aku jatuh cinta denganmu?"
Sophia merasakan rahangnya hampir jatuh mendengar ucapan Kimberly barusan.
"Bukan seperti itu!. Itu seperti ada kupu- kupu di perutmu dan..."
"Bagaimana bisa kupu- kupu berada di dalam perutku?" Pekik Kimberly ketakutan. Kupu- kupu adalah makhluk yang sangat ditakutinya.
Gawat. "Maaf. Maaf. Bukan itu maksudku." Sophia berusaha menenangkan gadis dihadapannya hingga sebuah ide aneh tapi briliant tercetus di kepalanya.
"Bagaimana kalau kita jadikan ini tantangan baru untukmu? Kau pasti bisa belajar banyak hal dari ini." Ucap Sophia sambil tersenyum sementara Kimberly hanya menatapnya dengan bingung.
***
Comments
Post a Comment