BTY - EMPAT BELAS



Anna kesulitan mengambil napas.
Dia tidak bisa percaya. Dia wanita yang sudah menikah?
Dan... Dan suaminya...
Oh, pasti ada yang salah dengan pendengarannya saat ini? Dia pasti salah dengar. Bagaimana mungkin...
"Apa ini semacam reality show?" Tanya Anna akhirnya.
Keempat orang yang berada di ruangan itu seketika saling melihat tapi Jerry lah yang kemudian bersuara.
"Sayang," Jerry melangkah pelan.
"Tidak," Anna mengangkat kedua tangannya. Menghentikan langkah Jerry tapi ketika tangannya menyentuh dada Jerry, ada perasaan aneh yang seketika merayap ke ujung- ujung jarinya dan dia tersentak. "Ku- kumohon. Ja- jangan mendekat." Anna tergagap dalam usahanya menenangkan diri.
"Aku tahu apa yang kau rasakan, sayang. Maafkan aku." Suara Jerry terdengar sendu tapi tidak bergerak. Dia bisa melihat bagaimana wanita di depannya sangat syok dengan apa yang baru saja didengarnya. Jerry bisa mengerti itu.
"Kau-," Anna menggelengkan kepalanya sesaat. "Kau tidak tahu apa yang kurasakan, Culton."
"Cassandra..." Desah Jerry dan langsung menangkup pipi Anna dengan kedua tangannya. "Kumohon. Jangan biarkan ini membebanimu."
Rasanya Anna ingin tertawa saat itu juga. Membebaniku? Oh bagian mana mungkin dia tidak bisa terbebani. Mendadak saja statusnya berubah menjadi wanita yanh sudah menikah.
Mungkinkah Jerry salah?
"Aku tidak pernah salah dalam mengenal istriku, sayang."
Anna membelalak kemudian menyipit. "Bagaimana kau...?"
Jerry tertawa seraya tangannya menarik Anna ke dalam dekapannya lalu mencium kening wanita itu lembut. "Karena seperti yang tadi kukatakan. Aku mengenal istriku."
Untuk sesaat Anna menutup matanya, mencium aroma parfum yang digunakan oleh Jerry sekaligus menelaah perasaannya tapi yang dirasakannya hanya perasaan tenang yang sulit dijelaskan.
"Case?"
Anna melepas pelukan Jerry lalu berbalik ketika mendapati Brandon yang melihatnya.
"Aku senang kau bisa menerima ini dengan tenang." Ucap Brandon.
Anna ingin mengatakan dia tidak tenang. Semua ini sangat membingungkan baginya tapi diurungkannya.
"Aku tidak tahu apa yang kurasakan." Ujar Anna
Brandon membalas dengan senyum lembut dan hangat. "Tidak apa- apa. Aku mengerti. Kami mengerti."
Apakah ini normal? Apakah aku normal? Kenapa aku tidak langsung keluar dari tempat ini? Bagaimana kalau ini semua adalah jebakan?
"Bisakah aku pergi sekarang?" Tanya Anna seketika. Bukan hanya dirinya yang terenyak tapi juga semua orang.
"Sayang,"
"Dengar, jangan salah paham tapi ini semua masih membingungkan untukku." Anna menjelaskan sebelum Jerry mencoba untuk menahannya. "Aku mencintaimu, Jerr. Masih mencintaimu hanya saja... Kupikir... Kupikir aku butuh waktu. Waktu untuk lebih menyakini apa yang saat ini kurasakan."
Tidak ada suara.
"Jadi, hm.. Bisakah aku keluar sekarang?"
"Aku akan mengantarmu."
"Tidak perlu," kata Anna cepat- cepat. "Ku- kurasa aku membutuhkan waktu... Waktu untuk sendiri."
Jerry terdiam, seakan menimbang sesuatu. "Setidaknya biarkan orang lain mengantarmu."
"Jerry, please?"
Sesaat Jerry mengambil napas kemudian menghembuskannya. "Baiklah." Ucapnya kalah lalu kembali menarik Anna dan mengecup bibir lembut wanitanya. "Aku juga mencintaimu, Cassandra." Dia berkata masih dengan bibir mereka yang saling menyentuh.
.
.
Dikatakan, bahkan jika pikiran tidak mengingat maka hati akan mengenal.
Jerry mungkin tidak mengatakan apa- apa setelah itu tapi Lea dan Elena dengan senang hati menceritakan semua tentang dirinya yang dulu.
Pianis terkenal?
Hampir saja Anna mencemooh jika saja Elena tidak langsung memperlihatkan seseorang yang berwajah mirip dengannya. Hanya saja wajah itu terlihat lebih bercahaya dan sangat cantik. Senyum di wajahnya sangat menawan dan terlihat lebih menawan ketika berada diatas panggung dengan sebuah piano didepannya.
"Kau lihat? Inilah dirimu yang sebenarnya." Ujar Elena ketika mereka selesai menonton pertunjukkan dari dalam kaset.
Anna bahkan masih kesulitan mempercayai semuanya. Rasanya ini seperti mimpi. Jika dia memang memiliki keluarga, jadi bagaimana dia bisa berakhir di tempat lain? Apa yang terjadi? Bahkan jika Anna bertanya, tidak ada seorangpun yang berniat memberitahunya.
Kening Anna terasa tertusuk- tusuk. Sudah beberapa hari ini dia dihinggapi oleh mimpi- mimpi tak kasat mata.
Tempat dimana keramaian memuncak. Suara orang yang saling bersautan. Suara gitar dan tawa dan terakhir air dan pria.
Semuanya itu sangat membingungkan.
Dikatakan Anna kehilangan ingatan tapi ingatan yang mana? Dia ingat masa kecilnya. Dia ingat kedua orang tuanya sebelum mereka meninggal dan dia ingat Patricia.
Ya, Patricia. Dia dan adiknya itu sering bermain di lumbung bagian belakang rumah jadi bagaimana mungkin dia bisa menjadi seorang pianis jika saja dia tidak pernah bergaul di kalangan dimana sangat berbeda dengannya?
"Apa kau sudah bertanya pada Betrice atau Patricia?"
Sejenak Anna menggelengkan kepalanya. "Tidak." Dia menjawab pertanyaan Elena. "Aku bahkan tidak tahu harus memulai darimana."
Baik Elena maupun Lea sama- sama saling menatap.
"Aku tahu rasanya, Ann." Ujar Lea.
Tidak. Kau tidak tahu rasanya. Anna menjerit dalam hati. Tidak ada yang bisa mengerti apa yang dirasakannya. Semua ini sangat membingungkan.
"Kurasa sebaiknya aku pulang. Aku tidak mau Patricia curiga jika sering bertemu kalian."
Elena menghela napas sementara Lea mengangguk.
"Baiklah. Apa perlu kami antar?"
"Tidak. Tidak perlu." Tolaknya. "Sepertinya aku perlu waktu untuk sendiri."
Lea mengangguk.
"Hati- hati, Ann." Ujar Elena sembari memeluk Anna. "Sungguh. Aku senang melihatmu masih hidup."
Anna mengangguk dan melepaskan pelukan Elena darinya.
Selama perjalanan menuju toko bunga. Tidak henti- hentinya Anna mengelus keningnya. Seharusnya dia tidak bertemu dengan Jerry. Pria itu memberikan banyak pertanyaan dalam benaknya dan setiap kali Anna menanyakan satu pertanyaan padanya, Jerry dengan sigap mengalihkan percakapan dan kemudian tanpa sadar beralih pada pembicaraan yang sama sekali tidak ada artinya.
"Well.. Well.. Well..." Langkah Anna seketika berhenti dari pintu masuk. Tubuhnya mendadak membeku sesaat ketika melihat orang yang duduk dengan sangat santai di kursi yang biasa di tempati oleh pelanggan. "Sudah lama aku menunggumu. Kau terlihat sangat cantik seperti biasa, Annabelle."
Anna menelan ludah. "Ba-bagaimana kau bisa..."
"Menemukanmu? Oh. Tidak mudah. Kau melompat selihai kangguru, sayangku."
"A-pa yang kau inginkan?"
"Apa yang kuinginkan? Menagih janji di masa lalu. Kuharap kau tidak melupakannya."
***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS