BTY - TIGA BELAS
"Baby," meskipun pria itu tampak sangat marah tapi juga ada perasaan kasih dan juga kelelahan yang terlihat jelas di wajahnya.
"Apa yang kau lakukan disini?"
"Baby," dengan lembut dia mengulurkan tangannya dan mengusap wajah wanita yang dicintainya itu. "Apakah pernah terlintas dalam hatimu perasaan cinta untukku?"
Wanita itu terdiam. Tidak tahu harus menjawab apa.
"Katakan kalau itu tidak benar, baby." Pria itu tetap mengusap wajah wanitanya- mengindahkan tatapan orang- orang disekeliling ketika mendadak dia mendekatkan kepalanya untuk berbisik. "Aku tahu apa yang kau sembunyikan dan... aku tidak sudi jika ada pria lain yang menyentuhmu selain aku. Hanya kau milikku dan selamanya akan begitu."
"Matt"
"Aku akan membunuh bayi dalam kandunganmu, Case."
**
"- Jadi yang ingin kukatakan adalah kami benar- benar membutuhkan bantuanmu dengan memilihkan bunga untuk kami." Jelas Elena panjang lebar.
Dihadapannya, Anna dan Betrice sama- sama saling menatap. Keduanya menatap bingung dua wanita didepannya tapi kemudian wajah Betrice mendadak berubah sumringah.
"Tapi kenapa?" Cepat- cepat Anna mengambil alih sebelum Betrice mengucapkan apapun yang saat ini bisa Anna tebak.
"Kau tidak mau?" Sahut Lea sembari memperlihatkan wajah sedihnya.
"Tidak. Bukan begitu." Balas Anna cepat- cepat. "Hanya saja ini terlalu mendadak. Kami bahkan tidak pernah mendapatkan pesanan sebanyak ini."
Elena tersenyum tenang. "Brandon dan Jullian berencana mengadakan pesta pembukaan perusahaan disini jadi kupikir bunga bisa menjadi dekorasi yang bagus."
"Lagipula kami belum cukup menjelajahi kota ini jadi kami tidak tahu toko bunga mana saja yang bagus." Lea menambahkan, ikut menyunggingkan senyum yang tampak tulus.
"Jangan konyol, Ann." Sentak Betrice membuyarkan lamunan Anna. "Bukankah ini bagus. Pelanggan baru untuk menyelamatkan situasi kita." Kata Betrice.
"Tapi Betrice..."
"Sudahlah. Aku tidak ingin mendengar kalimatmu lagi." Lalu Betrice berpaling untuk melihat Lea dan Elena. "Baiklah. Kami menerima pesanan kalian. Kapan acaranya dilakukan?"
Elena tersenyum. "Minggu depan." Dia menjawab sembari menatap Anna. "Kuharap itu tidak terlalu menyusahkan kalian."
"Tentu saja tidak, sayang." Betrice membalas dengan bahagia. "Bunga apa saja yang kalian inginkan?"
Sejenak Elena dan Lea saling menatap lalu kembali berpaling melihat Anna. "Bagaimana kalau kau, Ann yang memilihkannya untuk kami?"
"Eh?" Anna nyaris terkejut. Dia pikir Elena tidak akan memintanya, mengingat dia menunjukkan ketidaksetujuan tadi. "Aku tidak tahu. Apa tempatnya sangat besar?" Tanya Anna kemudian.
"Mungkin mencakup tujuh ratus orang." Katanya. "Bagaimana kalau kau ikut kami ke kantor Brandon?"
"Eh?" Sekali lagi Anna terkejut atas keramahan yang ditunjukkan Elena padanya. Semuanya terasa aneh sekaligus entah mengapa membuatnya ikut merasa bahagia juga tapi selain itu- dia merasa jika Brandon- suami Elena selalu menatapnya tapi ketika ia menatap balik. Pria itu justru tampak asyik dengan pembicaraannya. Tidak hanya Brandon tapi juga Jullian melakukan hal yang sama. Hanya Jerry yang tampaknya bersikap biasa tapi selalu ada saat dimana Jerry juga seakan menunggu. Entah apa yang ditunggunya dan itu membuat Anna merasa gusar.
Jangan- jangan Jerry ingin....
"Apa kau masih marah dengan Jerry?"
Anna seperti ditarik paksa dari pikirannya dan mendongak ketika mendapati hanya Lea didepannya.
"Elena ingin membicarakan uang muka dengan Betrice. Sebentar lagi dia akan bergabung dengan kita." Jelas Lea. "Jerry tampak sangat gusar sejak hari itu jadi kutebak itu pasti berhubungan denganmu."
Benarkah?
"Mungkin tebakanmu salah. Sudah pasti kegusarannya bukan karena diriku. Dia memiliki Institute yang harus diurus, belum lagi segala macam kekayaan yang dimilikinya. Sudah jelas itu yang membuatnya gusar. Pusing."
Lea terdiam tapi matanya masih menelusuri Anna.
"Sejak kapan kau memperhatikan kekayaan seseorang sebagai dalih, Ann?"
"Maaf?" Anna mengernyit selama beberapa saat.
"Jerry sangat mencintaimu dan kau tahu itu." Kata Lea. "Dan Jerry mampu melakukan apapun tapi tidak bisa berkutik jika itu berkaitan denganmu. Itu yang aku rasakan ketika aku bersama Jullian." Tambahnya dan tersenyum diakhir kalimat.
"Aku tidak mengerti tapi aku bisa melihat kalau kalian saling mencintai." Imbuh Anna ikut tersenyum.
"Sebenarnya dia cinta pertamaku."
"Benarkah?" Kali ini Anna menampakkan wajah terkejut sekaligus penasaran pada Lea, membuat Lea tertawa dan mengangguk sedetik kemudian.
"Tidak mudah memang ketika pada akhirnya kami saling menemukan. Kami harus melalui banyak rintangan tapi cinta kami ternyata bisa melalui itu semua dan aku senang karena dia mencintaiku sebesar aku mencintainya."
"Kalian sangat manis." Ujar Anna ikut senang tapi kemudian mengernyit. "Tadi kau bilang kalau pada akhirnya kami saling menemukan. Apa kalian pernah berpisah?"
Lea tertawa. "Kau harus selalu bersamaku jika ingin mendengar kisah cintaku selanjutnya dan mungkin Elena juga bisa menceritakan kisahnya padamu." Sahutnya sembari mengedipkan sebelah matanya.
Anna berpaling tepat disaat Elena juga sedang berjalan kearah mereka.
"Sudah selesai!" Kata Elena sumringah. "Sekarang ayo kita makan. C- Anna juga harus ikut bersama kita."
"Kurasa aku tidak bisa. Maaf."
"Jangan menolak, Ann. Kumohon. Betrice memintaku untuk mengajakmu juga."
"Tapi..."
"Betrice mengatakan kalau dia akan keluar dan tidak ingin kau sendirian disini."
"Bukankah kita akan pergi menemui Brandon? Ayolah, Ann." Lea menambahkan, ikut membujuk.
Sesaat Anna mendesah pelan. "Aku kesulitan menolak jika melihat permohonan yang tampak jelas di wajah kalian."
Lea dan Elena sama- sama tertawa.
"Kebiasaan lama tidak pernah berubah bahkan setelah sekian tahun." Ujar Elena, menarik sebelah tangan Anna dan merangkulnya.
.
.
.
"Apa dia masih marah denganmu?" Tanya Brandon sembari sebelah tangannya menyodorkan segelas minuman berwarna merah kepada Jerry yang duduk di sofa ruangan kerjanya.
Sejenak Jerry memijit pelipisnya yang terasa sakit sebelum menerima gelas dari tangan Brandon.
"Ya dan tidak." Jawabnya kemudian.
"Kau tahu, kau terlihat lebih tua dari yang seharusnya bahkan setelah pada akhirnya kau memutuskan keluar dari sarangmu dan menyerap sinar matahari lagi."
"Makin lama cara bicaramu semakin mirip dengan Jullian. Apa kerjasama kalian berjalan lancar?" Jerry menyesap wine di tangannya lalu kembali memperhatikan Brandon yang kali ini memilih untuk duduk dihadapannya.
"Minggu depan adalah pesta pembukaannya. Datanglah."
"Aku tidak yakin. Beberapa hari ke depan aku harus kembali ke New York. Claire sepertinya sudah mendengar tentang Cassie dan berniat untuk datang kesini secepatnya dan marah karena aku mengatakan untuk menunggu beberapa hari lagi."
"Dan dia tidak mau," Brandon terkekeh. "Kurasa aku bisa memakluminya. Dia yang paling syok ketika melihat Cassie didorong dari jembatan itu selain bibi dan paman tentunya. Aku bahkan nyaris tidak bisa mengendalikan diri ketika melihatnya waktu itu. Dia tampak sangat kuat sekaligus rapuh. Aku tidak ingin membayangkan apa yang sudah dialaminya tapi rasanya sulit."
"Aku tahu." Sekali lagi Jerry menyesap winenya. "Aku pun merasakan hal yang sama ketika pertama kali melihatnya. Aku bahkan mengira ini karmaku karena telah memperhatikannya dulu. Maksudku kami memiliki banyak waktu sejak pertunangan kami tapi aku malah menyia- nyiakannya dan hanya bisa bersamanya selama beberapa bulan sebelum pada akhirnya kami menikah."
"Sudahlah semuanya sudah berlalu."
Jerry bangkit dari duduknya dan berjalan menuju ke jendela, melihat kendaraan yang hilir mudik dibawahnya.
"Aku tidak tahu kalau aku sangat mencintainya. Hingga hari itu dan ketika kami menikah. Hanya satu yang ada dalam pikiranku saat itu dan itu adalah karena menyadari kalau dia akan menjadi milikku seutuhnya. Dia cintaku dan juga istriku. Tidak akan yang bisa menggantikan dirinya. Hanya dia."
"Kau sudah menikah?" Suara itu seketika membuat Jerry berbalik dengan cepat.
Hal pertama yang dilihatnya adalah wajah terkejut wanitanya meskipun kedua matanya tampak berkaca- kaca. Dibelakang Anna terlihat Lea dan Elena yang tampak canggung. Tidak tahu harus berbuat apa, begitupula dengan Brandon yang langsung berdiri dari tempat duduknya.
"Sejak kapan kau berada disana?" Tanya Jerry pelan- pelan berjalan mendekati Anna.
"Baru saja. Tapi cukup bisa mendengar kalimat yang mengatakan kau sudah menikah dan hanya mencintai istrimu itu." Jawab Anna pedas
Jerry terdiam ditengah perjalanannya menghampiri wanita itu dan sedetik kemudian di bibirnya terulas sebuah senyum samar.
Anna berbalik agar bisa menatap semua orang yang berada di ruangan itu.
"Apa kau, apa dia- menertawakanku?" Tanya Anna seraya telunjuknya diarahkan pada Jerry dan menatap semua orang tidak percaya.
"Kau terlihat lucu, sayang jika sedang cemburu." Ujar Jerry melanjutkan langkahnya lalu mengenggam telunjuk Anna dalam tangannya hingga Anna mundur.
"Aku tidak sedang melucu, Jeremiah Culton!" Bentak Anna meradang. "Kenapa kau tidak pernah memberitahuku kalau kau sudah menikah?"
"Jika kuberitahu, apa yang akan kau lakukan?"
Anna terdiam.
"Bahkan kau sendiri pun tidak tahu jawabannya."
"Aku pasti akan tahu." Mendadak kepala Anna terasa sakit dan rasanya asam lambungnya mendadak ingin naik.
"Tidak. Kau tidak tahu."
"Kurasa kita hentikan saja sampai disini."
"Apa?" Tidak hanya Jerry yang mengatakan itu tapi juga Elena dan Lea. Dan Anna semakin merasa telah dijebak dalam situasi ini.
Diangkatnya sebelah tangannya dan memijit kepalanya yang semakin terasa pening. Menghela napas, ditatapnya kembali Jerry. Jerry masih terdiam di tempatnya tapi wajahnya entah menyiratkan sesuatu kekhawatiran.
Apa yang dia khawatirkan?
"Sayang, kau terlihat pucat." Jerry berjalan mendekati Anna begitu pula Brandon. Entah kenapa Anna ingin berlindung dibalik tubuh Brandon tapi pemikiran kalau Elena berada di ruangan yang sama dengannya bisa menimbulkan salah paham tentangnya.
"Aku baik- baik saja."
"Kau harus duduk, sayang."
"Aku tidak ingin diperintah olehmu!" Akhirnya Anna meradang hingga membuat semua orang terdiam. Keadaan itu semakin membuat kepalanya berdenyut tidak karuan.
Apa- apaan ini? Aku seharusnya tidak sekaget ini. Kami hanya baru menjalin hubungan. Tidak mungkin bisa membuatku semarah ini.
"Aku harus pergi." Denyutan di kepalanya semakin tidak terkendali hingga bisa saja dia muntah saat ini juga.
Anna baru saja melangkah ketika Jerry menahannya. "Kau salah paham." Sahutnya. "Aku hanya menikah sekali dan selamanya akan begitu." Tekannya dan kalimat itu semakin menohok perasaan Anna.
Air mata seakan ingin merebak keluar dari kedua mata Anna dan Anna tidak tahu apakah ini akibat denyut kepalanya disertai ingin muntah atau karena perkataan Jerry barusan.
"Sayang,"
"Aku harus pergi, Jerr."
Selama seperempat menit Jerry menatap kedalam mata Anna lalu menghembuskan napasnya. "Hanya kau." Ucapnya.
"Jerr..."
"Culton..."
Tanpa mengindahkan peringatan yang dilayangkan oleh Elena dan Brandon, Jerry melanjutkan.
"Hanya kau."
"Apa?"
"Hanya kau. Kaulah istriku selama ini, Cassandra Ann Swan."
***

Comments
Post a Comment