BTY - DUA PULUH EMPAT
Cover made by greyanakim@gmail.com
*
"Kau berbohong padaku!" Teriakan histeris itu seakan hendak menulikan pendengaran Anna sekaligus membuatnya sakit kepala.
Tepat setelah tiga hari tanpa ada perlawanan dari Patricia dan hanya melakukan sikap seperti yang dikatakan oleh Betrice sebagai 'sikap dingin khas anak remaja', akhirnya pertahanan itu luluh juga dan sebagai gantinya Patricia berteriak tanpa peduli dimana keberadaan mereka sekarang.
Untunglah pelanggan terakhir sudah pulang dari tadi sebelum Patricia masuk dan menghancurkan semua yang bisa diraihnya. Betrice hanya menatap nanar bunga yang tadinya di pegang oleh Anna sebelum Patricia merampasnya dan melemparnya ke sudut ruangan.
"Kau berbohong padaku! Kau adalah pembohong yang brengsek, Ann dan aku sangat membencimu." Patricia mengucapkan semua katanya dengan penekanan yang semakin membuat Anna sedih.
"Patricia..."
"Jangan sebut namaku dengan mulut penuh kebohonganmu itu!"
"Kau salah," Anna mencoba melangkahkan kakinya untuk menyentuh Patricia, menenangkannya yang seketika ditepis oleh adiknya itu. "Kenyataannya tidak seperti itu."
Patricia mendengus. "Kau bersedia menikah dengannya. Apa lagi yang salah dari itu, hah?!"
"Tidak. Kau salah. Aku tidak akan menikah dengannya."
"Kalau begitu kau sudah menolaknya." Dan ketika tidak ada balasan dari Anna, Patricia kembali meradang. "Aku tidak akan membiarkannya. Aku tidak mau kau menikah dengannya."
"Patricia," Anna mendesah putus asa. Semua tekanan ini membuat kepalanya selalu terasa sakit dan kadang tak tertahankan hingga kadang ia mendapati Betrice menatap curiga kearahnya tapi langsung diubah menjadi senyum tipis, seakan memberitahukan kalau dia masih baik- baik saja. Dia juga tidak bisa memberitahu Jerry mengenai hal ini mengingat sikap Jerry yang seakan entah bagaimana seperti siap menghadapi apapun jika menyangkut dirinya atau Patricia. Dan apa lagi yang harus dilakukannya sementara dua pihak seakan siap melemparkan bom sementara dirinya berada ditengah. "Tenanglah," Anna mencoba menenangkan. "Belum ada kepastian tentang kami. Aku juga tidak akan menikah jika kau tidak setuju."
"Aku tidak percaya!" Lalu Patricia menatap tajam Anna dan mengeluarkan suara yang kemudian seakan mencekik Anna saat itu juga. "Jangan kira aku tidak tahu kalau kau ke negara ini agar bisa menghindari para lintah darat itu yang mengejar kita karena utang- utangmu. Aku tidak ingin menjadi pelacur untuk menggantikan dirimu dan berharap supaya kau saja yang menjadi pelacur itu." Setelah itu Patricia pergi meninggalkan Anna beserta Betrice yang tercengang.
*
Flashback on...
"Kumohon Anna, jangan pergi. Dia bukan pria yang tepat untukmu."
"Masa bodoh, Patricia. Aku harus pergi."
"Bagaimana dengan ibu dan ayah? Bagaimana dengan aku? Kau kakakku."
"Aku tidak mau lagi tinggal di tempat ini!" Gadis itu tetap memasukkan bajunya kedalam tas tanpa memperdulikan usaha adiknya yang berusaha mencegah. "Aku muak berada dalam kemiskinan seperti ini terus- menerus."
"Aku tahu... Aku tahu... A-aku... Aku akan bekerja tapi kumohon jangan pergi. Hanya kau yang kupunyai."
"Berhentilah merengek, Patricia!" Bentaknya tidak tahan. "Bukan hanya aku yang kau punyai tapi ada ayah dan ibu."
"Tapi ayah dan ibu sibuk. Dia tidak selalu ada denganku. Hanya kau yang bisa kuajak bicara dan kaulah yang paling mengerti aku."
"Sudah saatnya kau bersikap dewasa, Patricia."
"Aku tidak mau dewasa! Aku mau kau tetap disini. Bersamaku. Sebagai kakakku. Kumohon, Anna."
Anna mendesah. Dia menyayangi adik semata wayangnya. Baginya Patricia adalah adik sekaligus sahabat terbaik yang pernah dimilikinya tapi semuanya tidak lagi berarti karena ada pilihan lain yang harus dipilihnya dan itu berhubungan dengan...
"Aku akan menjaga bayimu."
"Apa?!" Anna terperanjat, tidak menyangka mendengar ucapan Patricia barusan.
Patricia menatap Anna gugup. "A-aku minta maaf. Aku mendengarmu bicara di telpon tempo hari. Dan.. Dan aku melihatmu muntah pagi itu."
"Berani sekali kau!" Raung Anna marah. "Berani sekali kau menguping pembicaraanku!"
"A- aku tidak sengaja. Maafkan aku. Aku melihatmu pucat dan ketika aku keluar, aku mendengar kau mengatakan kalau kau hamil."
"Brengsek, Patricia! Siapa saja yang sudah kau beritahu."
"T- tidak ada. Sungguh. Hanya saja dia bukan pria yang baik."
"Dia baik atau tidak itu bukan urusanmu."
"Tapi aku pernah melihatnya mencuri di supermarket."
"Brengsek, Patricia! Dia melakukannya karena terpaksa! Tidak ada lagi yang bisa dilakukannya untuk bertahan hidup."
"Ta- tapi,"
"Bahkan jika aku mati sekalipun, kau tidak berhak melarangku."
"Anna?"
Tapi terlambat, Anna sudah keluar dari rumah sambil menenteng tasnya menuju mobil yang ternyata sudah sejak tadi menunggu.
Beberapa hari kemudian, Patricia berusaha mencari tahu keberadaan Anna. Berharap bisa membawa kembali kakaknya karena menurut yang didengarnya dari teman- temannya, pria itu sangat berbahaya hingga pernah ditahan karena kasus pembunuhan.
Tepat dihari kelima semenjak kepergian Anna, Patricia akhirnya tahu bahwa sudah terlambat baginya untuk menyelamatkan kakak satu- satunya itu.
Flashback end
"Maafkan aku," sela Patricia menahan isak tangisnya. "Jika kau pergi lagi, aku tidak tahu apakah aku sanggup kehilangan seorang kakak lagi."
***

Comments
Post a Comment