BTY - DUA PULUH LIMA
Cover made by greyanakim@gmail.com
**
Anna sadar, semakin lama Patricia mendiamkan dirinya maka bukan tidak mungkin jika hubungan yang terjalin diantara mereka akan semakin renggang. Dan tentu saja itu hal terakhir yang diinginkannya.
Jadi ketika Anna melihat Patricia keesokan harinya, Anna cepat- cepat mengajak keluar adiknya. Menuju taman tidak jauh dari tempat Betrice.
"Bagaimana sekolahmu?" Sahut Anna memulai pembicaraan setelah sekian lama mereka duduk disebuah bangku, memandang kejauhan. "Apakah ada yang sulit?"
Tidak ada jawaban. Patricia hanya memandang pohon didepannya tanpa sama sekali memperdulikan lawan bicaranya.
Untuk sesaat, Anna mengikuti apa yang diperhatikan Patricia, memandang kejauhan. Rasanya lama sekali mereka duduk berdampingan seperti ini. Anna bahkan tidak ingat kapan terakhir kali mereka melakukan kegiatan bersama, mungkin karena Anna harus lebih keras menghasilkan uang dan semakin bertambah sejak kematian orang tua mereka.
"Aku merindukan mereka," kembali Anna bersuara. Masih tetap memandang kejauhan. "Apa kau juga merindukan mama dan papa?"
Patricia tetap bergeming tapi dari sudut matanya, Anna tahu Patricia juga merindukan kedua orang tua mereka.
"Aku minta maaf." Akhirnya kalimat itu terucap dari bibir Anna. Sejujurnya ia juga melakukan itu karena hanya itulah satu- satunya yang terpikir olehnya. Dia tidak ingin adiknya semakin menjauh. Mereka hanya saling memiliki, tidak ada yang lain.
"Aku tidak ingin kau melupakanku." Kalimat itu ikut juga terlontar dari bibir Patricia yang bergetar. Jelas sekali Patricia berusaha meredam perasaannya, membuat Anna membalikkan tubuhnya dan meraih tubuh Patricia dalam pelukan. "Aku tidak mau kau pergi." Patricia mengatakannya dengan suara yang nyaris tercekat dan Anna merasa seperti dirinya tercabik- cabik.
Dulu, dulu sekali ketika ia baru terbangun dari rumah sakit dan tidak tahu apa yang telah terjadi. Wajah Patricia lah yang pertama dilihatnya. Wajah itu menyiratkan luka yang teramat sangat dan Anna tidak mengerti apa penyebabnya. Hanya saja saat itu Patricia langsung memeluknya sambil terisak dengan hebat. Sayup- sayup ia mendengar permintaan maaf dan penyesalan seakan apa yang terjadi adalah salahnya.
Dan sekarang, raut wajah itu kembali lagi. Seakan Anna akan menghilang saat itu juga, langsung dihadapannya.
"Kau tahu itu tidak mungkin terjadi," ujar Anna seraya mengelus punggung Patricia lembut. "Hanya kau yang kumiliki. Aku tidak mungkin begitu saja berpaling darimu. Melupakanmu? Itu adalah hal terakhir yang kupikirkan. Memikirkannya pun aku tidak pernah."
Patricia melepaskan diri dan menggeleng. "Kau pasti akan melakukannya."
"Patrica," Anna mengenggam kedua tangan Patricia dengan erat. "Aku tidak akan melakukannya. Kau adikku. Tidak mungkin aku melakukannya."
Sekali lagi Patricia menggeleng. "Aku minta maaf, Ann." Lalu Patricia bangkit, meninggalkan Anna yang masih terpaku.
**
"Kau kelihatan pendiam hari ini."
Anna mendonggak, menyadari kalau Jerry sejak tadi memperhatikannya.
"Ada apa?" Tanya pria itu seraya membawa sebelah tangan Anna ke bibirnya. "Patricia?"
Anna tidak perlu menjawab itu. Entah bagaimana Jerry selalu bisa menebaknya. Mungkin itu hanya perasaannya saja tapi ada saat dimana Anna merasa tubuh Jerry akan seketika menegang jika topik mengenai ini dibicarakan meskipun Jerry berusaha menyembunyikannya.
"Apa dia masih marah?" Seperti biasa Jerry bisa menebaknya dengan tepat.
"Tidak. Hanya saja-"
"Hanya saja?"
"Aku tidak tahu."
"Kau tidak tahu?"
Mendengar pertanyaan yang dilontarkan Jerry tadi, seketika membuatnya mendelik.
"Ada apa?" Tanya Jerry tapi jelas dia berusaha menahan ekspresi geli yang terpampang jelas di wajahnya. "Aku kan hanya bertanya."
Anna memutar kedua matanya. "Itu bukan pertanyaan. Kau hanya mengulang perkataanku dan membuatnya seperti pertanyaan."
Jerry tersenyum, lalu membawa Anna ke pangkuannya. Untung saja mereka tidak sedang berada di kamar tidur. Pasti akan sulit baginya untuk berkonsentrasi sementara Jerry memakai kaos serta celana dan terlihat sangat tampan sementara dirinya hanya memakai kemeja milik Jerry yang diambilnya secara acak.
Pakaian Anna tadi terkena noda saus ketika membuat pasta, dan karena tidak memiliki pakaian ganti dengan acak dia membuka lemari pakaian Jerry dan mengambil kemeja yang pertama dilihatnya. Belakangan Jerry muncul setelah dari luar dan menyipitkan kedua matanya tapi tidak berkomentar apa- apa. Untung saja pasta yang dibuatnya sudah siap sehingga mereka akhirnya menyantap bersama.
Tapi sekarang, tidak ada lagi yang bisa mereka perbuat bersama. Mereka sudah membersihkan dapur, mencuci piring dan apapun yang tadinya membuat mereka berdua sibuk tapi saat ini, dengan posisi seakan menggoda, Anna tidak yakin bisa mengikuti pembicaraan mereka tadi.
"Jadi kenapa kau tidak tahu?" Tanya Jerry seraya mendekap tubuh wanita itu. Jerry hampir saja meledak dalam tawanya. Tahu kalau wanita dalam pangkuannya itu tidak lagi berada di dunia yang tadi.
"A-apa?"
"Kau tadi mengatakan kau tidak tahu. Ingat? Mengenai Patricia." Anna mengerjapkan kedua matanya, dan Jerry harus berusaha mati- matian untuk mengendalikan tubuhnya dan membuat mereka berdua melupakan segalanya. Lagipula sudah lama sekali dia tidak merasakan tubuh hangat wanita dalam pangkuannya itu lagi. Bukan karena tidak bisa tapi Jerry menghormati wanita itu dan melihat pakaiannya yang dikenakan oleh Anna tadi, membuatnya ingin menghempaskan tubuh itu ke sofa atau di karpet atau dimana saja dan merasakan kehangatan itu lagi. Lagipula sah- sah saja dia melakukannya, Anna adalah istrinya dan itu masih berlaku hingga sekarang. Meskipun sepertinya ia harus memulai lagi dari awal karena situasi yang mereka berdua alami.
"Oh." Anna tersadar lalu setelah menghembuskan napasnya yang terdengar lelah hingga semakin membuat Jerry penasaran. Jika bukan karena situasi yang Anna alami ini, Jerry mungkin tidak akan terlalu memperdulikannya. Tapi Anna masih beranggapan jika Patricialah keluarga yang dimilikinya meskipun bukan seperti itu yang sebenarnya. "Dia minta maaf." Ucap Anna akhirnya. "Aku tidak tahu tapi Patricia terlihat sangat sedih. Seakan... Entahlah, aku akan pergi darinya."
Jerry mungkin membenci sikap keras kepala Patricia tapi jika itu berarti satu hal, maka Jerry akan berusaha memahaminya.
"Apa kau tahu? Kau... Kakak yang baik." Ujarnya kemudian.
Kedua mata Anna menyipit. "Dan apa artinya itu?"
Jerry kembali tersenyum. "Artinya sayang," Jerry mendekatkan wajahnya ke wajah Anna. "Aku sudah tidak sabar menunggu kau menjadi istriku," lagi. "Dan karena kau sudah berpakaian dengan sangat menggoda sejak kedatanganku tadi maka jelas aku tidak ingin menyia- nyiakannya."
Serta merta Anna tertawa. "Jangan konyol. Kau tahu bajuku terkena saus..."
"Dan aku mungkin akan berterima kasih pada saus itu. Atau mungkin pada pabriknya sekaligus."
"Dasar konyol."
"Ya. Selama denganmu." Jerry mengecup bibir Anna lembut hingga Anna membuka kedua bibirnya dan menerima ciuman Jerry. "Tahukah apa yang kupikirkan ketika melihatmu dalam balutan kemejaku?" Ujar Jerry berbisik.
"Oh ya?" Kedua pipi Anna terlihat merona dan luar biasa bergairah dihadapan Jerry. "Apa?"
"Hm, aku lebih memilih menunjukkannya." Dan tanpa memperdulikan pekikan kaget disertai suara terkesiap Anna, Jerry membuka paksa semua kancingnya hingga terlepas dan nyaris menahan napas setelah melihat apa yang ada dibaliknya. "Sudah kuduga kau akan membunuhku dengan ini." Katanya parau seraya membawa kedua tangannya di pinggiran bra berenda yang terlihat sangat seksi.
Anna membalas dengan tersenyum. "Sudah kuduga kau akan menyukainya."
"Sangat."
"Kalau begitu tidak sia- sia aku membelinya."
Jerry memperlihatkan wajah pura- pura terkejutnya seraya menatap kedua mata wanita itu. "Kau membelinya hanya untukku."
"Ya, mengingat hanya kau pria yang kurindukan dan satu- satunya yang kupikirkan ketika melihat bra ini jadi well, sementara itu hanya itu."
Wanita ini licik. Pikir Jerry tapi aku menyukainya. "Kalau begitu tidak akan kubiarkan kau menjadikanku sementara." Dan tanpa menunggu, ia membawa bibir wanita itu ke bibirnya dan melumatnya dengan ganas.
"Aku juga merindukanmu, sayang."
"Aku tahu." Balasnya terkikik.
"Always my girl." Jerry tersenyum sembari membawa tubuh Anna ke kamar tidur, tanpa sama sekali melepaskan ciuman mereka.
***

Comments
Post a Comment