BTY - DUA PULUH SEMBILAN
"Maafkan aku, sepertinya hari ini tidak bisa."
Untuk kesekian ratus kalinya dalam kurun waktu satu minggu Jerry mengerutkan keningnya. Dia sama sekali tidak mengerti kenapa wanita itu seperti berusaha menghindarinya dan itu semakin meresahkannya.
Apakah pada akhirnya dia mulai menyadari kalau adik yang sama sekali bukanlah adiknya lebih penting daripada dia yang secara hukum masih berstatus sebagai suaminya dan menyerah?
Apa yang harus dilakukannya tanpa sama sekali melibatkan masalah?
"Kau kelihatan kacau?"
Jerry berpaling kearah suara baru dan lagi- lagi mengerutkan kening (entah kenapa akhir- akhir ini dia selalu melakukan hal itu) dan mengernyit melihat kehadiran Jullian disamping Lea. Jullian juga ikut mengernyit menyadari arah pandangan Jerry dan berguman tanpa sama sekali berusaha mengecilkan suaranya.
"Jika kau belum lupa, Lea masih berstatus istriku dan ibu dari anak- anakku." Yang langsung mendapatkan sodokan pelan dari siku Lea.
"Dasar pria,"
"Dan pria ini masih berstatus suami yang mencintaimu."
Mau tidak mau Lea tersenyum mendengar penuturan suaminya. "Jangan khawatir, aku juga mencintaimu, Mr. Anderson." Ucap Lea seraya mengecup sebelah pipi suaminya. "Dan jangan melihatku seperti itu, aku tidak mungkin bisa menolak jika kau melihatku dengan pandangan seperti itu."
Disisi lain, Jerry yang mendengarnya seakan ingin melepaskan diri dari kedua pasangan didepannya. Bahkan setelah memiliki dua anak, kedua pasangan itu semakin memperlihatkan kemesraan mereka. Membuat Jerry kadang berpikir apakah kehidupannya akan seperti itu jika kejadian yang menimpa dirinya dan Cassie tidak pernah terjadi?
Pemikiran itu kembali mengingatkan Jerry akan sikap aneh yang ditunjukkan oleh wanita itu akhir- akhir ini.
"Apa ada masalah?" Pertanyaan itu kembali menyadarkan Jerry dari lamunannya dan melihat baik Lea maupun Jullian sama- sama menatap kearahnya. "Apa sesuatu yang buruk telah terjadi?" Lea memperlihatkan raut wajah khawatir, sesuatu yang selalu Lea berikan padanya. Hubungannya dengan Lea bisa dikatakan melebihi seorang sahabat karena Lea sudah menganggapnya seperti keluarga. Keluarga yang dimiliki Lea dulunya tidak bisa dikatakan sebagai keluarga dan memiliki saudara seperti Jerry merupakan anugrah melimpah yang diberikan Tuhan setelah sekian lama. "Jerry?" Suara bernada khawatir itu semakin terlihat jelas di wajah Lea. "Apa kau baru saja berbicara dengan Cassie?"
Cassie?
Ah. Jerry ingat dan melihat kearah ponselnya yang telah mati. Wanita itu menutup telponnya tanpa pemberitahuan. Lagi. Ujar Jerry geram. Sebenarnya apa yang terjadi?
"Culton," kali ini suara itu berasal dari Jullian. Jerry menatap Jullian lalu kemudian mengangguk. "Aku harus pergi."
"Eh tapi," Lea menatap Jerry dan Jullian secara bergantian. Menghela napas. "Baiklah." Ucapnya menyerah lalu kemudian kembali berbicara tepat sebelum Jerry melangkah keluar. "Aku dan Jullian berencana kembali ke New York besok. Apakah kau bisa datang malam ini? Aku mengundang Elena dan Brandon."
"Akan kuusahakan." Balas Jerry lalu menutup pintu dibelakangnya.
**
Butuh usaha yang keras untuk membuat Patricia mengerti. Patricia menolak untuk mengerti dan semakin menutup diri tapi setelah hari kelima- tentu saja tanpa lelah akhirnya semua berakhir. Betrice mengerti dan mengatakan permintaan maaf yang sebesar- besarnya sementara Patricia, yah dia sudah berjanji akan tetap menjadikan Patricia sebagai adiknya, terlepas dengan apa yang terjadi dulunya.
Dia masih belum bisa menemui Jerry. Tidak setelah apa yang dilakukannya dulu. Karena kenaifan dan kebodohannya hingga semuanya berakhir bencana. Matt? Meskipun pria itu sudah meninggal tapi pria itulah yang ada didekatmya ketika dia berada pada saat- saat dimana dia membutuhkan seseorang.
Dan mengenai bayi. Bayi yang seharusnya dimilikinya. Yang hampir dimilikinya. Hal itu masih menyisahkan perasaan yang sedih. Dia masih menganggap hal itu sebagai kesalahannya.
Dan tidak mungkin baginya untuk kembali pada pria itu.
"Jadi jelaskan padaku, Cassandra." Peter mengatakannya dengan lambat dan jelas. "Kenapa kau bisa berada disini?"
Satu hal yang membuatnya terkejut adalah bagaimana pria yang dulunya dikenal sebagai pria yang sangat menakutkan ternyata tidak seperti yang diduga. Lucu sekali bagaimana dunia ternyata sangat sempit.
Cassie masih ingat bagaimana awal pertemuannya dengan pria itu dan tidak terkejut ketika ia memberitahu pria itu kalau dirinya dulu adalah seorang pianis, yang juga bisa memainkan beberapa instrumen musik.
"Beberapa hal terjadi secara tiba- tiba." Dia menjawab dengan kalem seraya menyeruput minumannya di tengah kota setelah sebelumnya Peter menuntut untuk bertemu lagi setelah pertemuan mereka yang terakhir.
"Dan bukankah kau sudah menikah?"
"Itu dulu."
Kening Peter mengernyit. "Jadi kalian bercerai?"
Cassie mengangkat bahunya. "Situasinya agak sulit." Jawabnya.
"Tidak sesulit ketika yang kudengar adalah pria yang diketahui adalah mantan pacarmu menodongkan senjatanya padamu dan kemudian mendorongmu ke jembatan." Seketika tubuh Cassie gemetar mengingat kejadian itu lagi, tapi Peter tetap melanjutkan. "Kutebak itu menjadikanmu akhirnya berubah."
"Semuanya karena takdir."
Peter memberi wanita dihadapannya tatapan yang sangat lama dan menghembuskan napas setelahnya. "Ya. Takdir. Takdir memang terkadang sangat kejam untuk beberapa orang."
"Bagaimana kau bisa dikenal sebagai orang yang sangat kejam?" Cassie mendadak bertanya, tanpa sama sekali melepaskan pandangannya dari pria itu. "Aku yakin sekarang pun orang- orang pun sedang melihat kita dan bertanya- tanya apakah aku termasuk dalam komplotanmu atau tidak."
Peter mengalihkan pandangannya. Beberapa orang bahkan terang- terangan memperhatikan dirinya. Seakan- akan dia sedang melakukan transaksi dengan banyaknya saksi disekeliling mereka. Pemikiran itu membuatnya geli dan tanpa sadar tertawa.
"Ya," Cassie menghembuskan napas. "Kutebak mereka sedang berpikir apakah aku sedang terlibat sesuatu yang jahat atau tidak. Atau bisa saja aku seperti sedang diintimidasi oleh seorang pria tua saat ini."
Peter kembali tertawa. "Sejak dulu kau selalu memiliki lidah yang tajam, miss Swan atau haruskau kubilang Mrs. Culton?"
Kedua pipi Cassie merona. "Tidak penting dengan nama."
"Oh kau seorang pianis terkenal dan istri dari pria yang tidak bisa dikatakan sebagai orang yang biasa saja. Seharusnya aku menuntut pengembalian uang yang sangat banyak darimu."
"Ya, mengingat banyaknya kesulitan yang harus kulalui. Sungguh beruntung kau tidak melakukannya."
Lagi- lagi Peter tertawa. "Jadi katakan padaku, kenapa kau harus rela menjual cincin pernikahanmu?"
Cassie memperlihatkan wajah terkejut dan mengerjap. "Bagaimana kau? Oh! Jangan katakan kau menguntitku? Itu sangat tidak sopan, Mr. Callaghan."
"Aku harus mencari tahu apakah uang itu halal atau tidak."
"Dikatakan oleh orang sepertimu? Wow. Sangat menenangkan, kau tahu?"
Kembali Peter tertawa. "Sudah kuduga, lidahmu setajam silet."
"Terima kasih." Balas Cassie tapi ikut tersenyum. "Rasanya menyenangkan bertemu kenalan lama."
"Oh jangan salah sangka, sayang. Aku tidak berniat melanjutkan hubungan ini ke tingkat yang lebih lanjut dan meskipun kau gadis yang sangat cantik dan menyenangkan tapi aku sama sekali bukan kenalanmu."
Cassie tersenyum. "Jika kukatakan aku menyukaimu, pak tua. Apakah kau akan memikirkannya?"
Sebelum mendengar jawaban, mendadak Cassie merasakan sebuah tangan dan di lengannya. Memaksanya untuk berdiri.
"Jadi ini alasan kenapa kau tidak punya waktu untuk menemuiku?" Jerry memperlihatkan wajah merah padam yang menunjukkan kemarahan yang sangat dalam pada wanita didepannya.
"Jerry? Apa yang kau lakukan disini?"
***

Kayanya jerry-cassie paling complicated diantara pasangan yg lain, poor jerry 😓, semangat jer, kamu butuh perjuangan yang lebih kuat 💪
ReplyDelete😅😅😅
Delete