Posts

Showing posts from May, 2017

MASK- DUA TIGA

Image
Apa aku harus mati agar bisa terlepas dari ini semua ? Apa yang akan .... "Nona?" Aku mendongak dari tempatku duduk dan langsung berhadapan dengan seorang wanita dengan kisaran umur 40an berambut pirang stroberi yang baru saja memanggilku. Wanita dengan warna mata biru yang sangat mirip denganku itu sedang menatapku dengan senyum di wajahnya. Kenapa nasib begitu kejam pada kita berdua , ibu ? Aku ingin sekali berteriak. Menumpahkan semua perasaan yang tengah kurasakan. Kau gadis kuat , Azalea . Tidak! Aku tidak kuat. Aku ingin berteriak. Aku ingin menangis. Tidak bisakah aku melakukannya? Aku butuh tempat untuk bersandar. Aku sungguh tidak sekuat itu. "Nona?" Kembali dia mengucapkannya tapi kali ini terselip wajah bingung. Kusunggingkan senyum palsuku. Menahan getaran dan panas di mataku. "Kau baik- baik saja sayang? Kau kelihatan sedih." Kuhembuskan napasku pelan. "Ya. Aku baik- baik...

MASK- DUA DUA

Image
"Kau tidak apa- apa? Apa kau terluka?" "Jullian apa yang....?" Aku mengerjap kaget mendapatinya sudah berdiri di depanku. "Dimana yang sakit?" Dia terus saja meneliti wajah dan lenganku ketika aku melihatnya sedang menatap intens tangan dan lenganku. Kuikuti tatapannya dan menyadari kalau ada goresan kecil di lengan sebelah kiriku dan jari- jariku yang terluka. Oh, mungkin aku tidak sengaja mendapatkannya ketika mencoba bertahan di atas tadi dan tidak sengaja tergores. "Dane, berikan kunci mobilmu." Ucapnya tanpa melepaskan pandangannya. Aku melihat Dane merogoh sakunya dan menyerahkan kunci mobilnya yang langsung diterima oleh Jullian. "Ikut aku." Ujarnya seraya menjauhi kerumunan. "Lepaskan. Apa yang kau lakukan?" Aku menghentaknya cukup keras hingga cengkramannya terlepas. Rahangnya terlihat menegang. Ada apa dengannya ?" "Jangan membantah lagi, Azalea." "Tidak. Jik...

MASK- DUA SATU

Image
Lea PoV ... Sebut aku gila... sebut aku tidak punya otak... atau kau bisa menyebutku pemberani tapi inilah caraku satu- satunya melampiaskan segala apa yang didalam otak dan hatiku, dengan olahraga ekstrim. Kuupayakan tanganku untuk mencari pijakan sementara kakiku juga melakukan hal serupa. Hari ini hari minggu dan sudah lama aku tidak melakukan wall climbing. Sebenarnya aku harus pergi menemui ibuku tapi aku tidak sanggup jika harus menemuinya dalam keadaan kalut seperti ini dan untungnya Mia bersedia menggantikanku untuk sementara waktu. Aku tidak akan melepaskan pengawasanku darinya. Tidak semenitpun, tidak sejak kejadian itu. Tidak akan. Flashback. " Perusahaan membutuhkan sokongan dana." Aku menatap wajah- wajah tanpa ekpresi dihadapanku . Wajah keluarga tiriku beserta ayah biologisku . Mereka semua menatapku seakan akulah penyebab mereka mengalami kekalahan dalam tender yang mereka ikuti . Jujur , semenjak aku me...

MASK- DUA PULUH

Image
"Berhenti mengikutiku. Jullian." Lea memberiku tatapan tajam setajam belati. Sejujurnya aku tidak heran kalau dia pada akhirnya akan mengucapkan kalimat itu dan memang itu yang aku ingin dengar darinya, dia yang mulai berbicara denganku lebih dulu yang selama tiga hari ini dia sama sekali tidak memperdulikanku. "Sebenarnya apa yang kau inginkan?" Tambahnya masih dengan nada kesal. Setidaknya dia tidak melihatku dengan pandangan sedingin kutub utara. "Kau tahu apa yang kuinginkan." Satu lagi yang aku pelajari darinya selain dari sikap tidak pedulinya adalah dia akan berusaha keras bahkan sangat keras melampiaskan semua kemarahannya pada sesuatu dan kali ini dia melakukannya dengan bermain tenis. Oh, jangan kira aku tidak mengetahui kemana dia melampiaskan semua itu karena aku selalu mencari tahu kemanapun dia berada. "Bicara? Tidak ada yang perlu kita bicarakan." "Tentu saja ada. Ada banyak hal yang ingin kub...

MASK- SEMBILAN BELAS

Image
Jullian  PoV . "Hei apa yang terjadi? Kenapa kemarin tiba- tiba kau mengatakan ingin membatalkan kerjasama kita dengan Bernadett?" Kadang kala aku merasa sangat membenci sikap Dane yang seperti ini. Tidak tahukah dia, apa yang ingin pria itu lakukan ketika menatap Lea seperti kemarin? Beruntung aku tidak langsung mencongkel matanya dengan pisau dan garpu kemarin. "Hey jelaskan. Kau tidak mungkin ingin membatalkan proyek besar ini jika tidak ada yang terjadi." Ucap Dane lagi. "Kau sudah mengirimkan proposal pembatalannya?" Dia menggeleng. "Belum. Aku perlu mendengar penjelasanmu dulu." "Tidak ada yang perlu dijelaskan. Kirimkan saja pembatalan itu. Katakan kalau kita tidak membutuhkannya lagi." "Apa? Kau gila!" "Tidak. Tidak jika dia tidak dapat menjaga matanya." "Hah? Tunggu.... dia mencoba merayumu?" Aku yang tadinya marah seketika melonggo. Apa yang baru ...

MASK- DELAPAN BELAS

Image
Kupikir Jullian akan menungguku di dalam mobil tapi ternyata yang ada dia berdiri sambil bersandar di depan pintu mobilnya. Awalnya dia tidak melihatku dan hanya memperhatikan layar di ponselnya. "Apa ada masalah?" Aku bertanya ketika menyadari kalau kerutan dikeningnya semakin bertambah dalam. Jullian mendongak dari ponselnya kearahku dan tersenyum. Kenapa pria ini senang sekali menyunggingkan senyumnya ? "Kau sudah disini?" Apa dia mengira aku hantu . Tentu saja aku sudah disini . Apa perlu penekanan lain?. Aku mengangguk. "Ada apa? Apa ada masalah?" Tanyaku lagi. "Tidak ada. Ayo masuk." Aku tidak membalas dan hanya diam tak bergeming. Sejenak dia menghela napasnya panjang. "Dane baru saja menghubungiku dan memberitahukan kalau salah satu klien yang akan menjadi investor di perusahaanku berada di kota ini." Tuturnya. Aku diam. Dalam hati bertanya- tanya kalau memang seperti it...

MASK- TUJUH BELAS

Image
Kami tiba 10 menit lebih awal dan aku bersyukur karena itu. Kuhirup aroma laut dalam- dalam seakan tidak ada lagi hari esok dan itu benar. Sudah lama aku tidak kesini dan aku sangat merindukan kenangan itu. "Jadi ini yang kau bilang tempat yang normal?" Aku berbalik dan mendapati Jullian sudah berada didekatku. Aku tadi menyuruhnya memesan makanan sementara aku yang mencari tempat duduk. Tempat duduk yang kupilih berada tidak jauh dari laut dimana pemandangan langsung terhampar dan menampilkan matahari yang sebentar lagi akan terbenam. Aku mengangguk mantap. "Yep. Tempatnya juga hebat." Jawabku. Aku tidak tahu apa yang dia lihat diwajahku hingga kemudian aku melihatnya tersenyum. Sejujurnya itu membuatku sedikit merasa terkesima. Dia kelihatan sangat tampan. Sial, apa yang baru saja kupikirkan?! Aku merutuk pemikiran konyolku barusan dan tersenyum getir. Tidak akan ada kebahagian dalam hidupku. Semuanya sudah sirna seiring waktu. "Ya. ...

MASK- ENAM BELAS

Image
Lea PoV ... Aku tahu ada yang aneh dengan dirinya. Sejak dari basement tadi, aku sering mendapatinya sedang memberiku tatapan yang tidak kumengerti. Apa dia benar- benar kesambet penghuni basement tadi? Itulah sebabnya aku tidak pernah mau ke tempat itu sendirian dan lebih memilih bersama Mia. Oh, ngomong- ngomong  tentang Mia, apa dia sudah pulang? Harusnya tadi aku menjelaskan padanya? "Jangan khawatir. Aku sudah menyuruh Dane untuk mengantar Mia pulang." Aku membelalak.  Apa sekarang dia bisa membaca pikiran ? Memikirkannya membuatku mendadak ngeri. Jullian terkekeh seraya kembali mengacak rambutku. Tuh kan dia memang aneh . Masih dengan tawanya ia mengalihkan pandangannya dariku kearah dokter yang sejak tadi memeriksa tanganku. "Bagaimana keadaannya dok?" Dokter Chen, begitu yang tertulis di dadanya menyunggingkan senyumnya yang menurutku aneh. Okey, mungkin saja aku yang terlalu paranoid tapi jujur itu yang kuras...