MASK- PROLOG



Cover made by athzee99@gmail.com

*


"Ibu... ibu." Isak seorang gadis kecil di taman rumah sakit.

Beberapa perawat dan orang yang kebetulan lalu lalang hanya mampu melihat tanpa sama sekali berniat untuk mendekati gadis kecil itu seakan dia hanyalah maskot dan suara tangisnya seperti jangkrik yang berbunyi pada malam hari.
Entah sudah berapa lama gadis kecil itu menangis seorang diri hingga kemudian seorang anak laki- laki yang mungkin usianya lebih tua dua tahun mendatanginya.

"Hei, kamu kok nangis?" Tanyanya.

"Pergi." Usir anak perempuan itu tanpa sama sekali mau melihat lawan bicaranya. Wajahnya dia tumpukan diantara lututnya.

"Apa keluargamu sakit?" Tanya anak laki- laki itu lagi.

Hening.

"Apa kau tahu? Aku selalu datang kesini dan menemani kakekku." Ujar anak laki- laki itu lagi lalu tanpa dipersilahkan dia duduk disamping si anak perempuan dan memainkan kakinya.

"Apa dia sakit?" Akhirnya si anak perempuan bertanya.

Yang ditanya hanya mengendikkan bahunya. "Sepertinya begitu."

"Apa parah?" Tanyanya lagi.

"Kurasa tidak. Dia masih bisa menjalankan perusahaannya." Kali ini si anak laki- laki itu terkekeh.

Si anak perempuan itu menghela napasnya. "Kau beruntung. Ibuku sakit dan tidak seorang pun yang peduli baik padaku maupun padanya."

Si anak laki- laki menoleh dan untuk pertama kalinya akhirnya dia bisa melihat rupa lawan bicaranya yang menurutnya sangat... menarik. Bulu mata disertai mata yang besar hingga tampak membuatnya seperti boneka. Pipinya yang tembem semakin membuatnya tampak imut.

Tanpa sengaja si anak perempuan ikut menoleh hingga mereka bertatapan selama tiga menit penuh.

"Tidak sopan menatap orang lain seperti itu." Ucap si anak perempuan itu lebih dulu.

"Oh maafkan aku." Ujar si anak laki- laki sambil mengaruk kepalanya yang tidak gatal.

Si anak perempuan mendesah lalu memalingkan wajahnya kembali. Diam- diam si anak laki- laki itu melirik ke arah sampingnya, takut kepergok curi- curi pandang. Masih ada sisa air mata di pelupuk matanya yang tampak seperti kristal dan mau tidak mau ia merasa terkesima.

Diantara mereka sama sekali tidak ada yang bersuara hingga matahari hampir menghilang.

"Apa kau tidak pulang?" Tanya si anak laki- laki itu beranjak dari duduknya.

"Tidak. Aku masih ingin bertemu dengan ibuku." Jawabnya.

"Oh. Baiklah. Besok aku akan berkunjung lagi kalau begitu."

"Eh? Bukankah kau bilang penyakit kakekmu tidak parah?"

"Memang tidak." Balas si anak laki- laki itu cuek. "Tapi aku akan menemanimu."

"Tidak perlu. Aku tidak suka ditemani."

Si anak laki- laki menghela napas dan mengikuti nalurinya ia menumpukan berat tubuhnya ke lutut dan menatap tepat di mata si anak perempuan.

"Kau tidak akan merasa sendiri. Aku akan menemanimu." Tanpa sadar si anak perempuan menahan napasnya. Dia tidak terbiasa diperhatikan seintens dan seramah ini oleh orang lain. Seakan itu belum cukup, dia juga tidak ingin kehilangan sosok yang baru saja dikenalnya beberapa jam yang lalu. "Apapun yang terjadi, jangan menangis lagi, okey? Kata ayahku anak perempuan akan terlihat jelek kalau menangis."

"Jadi tadi aku jelek ya?"

Si anak laki- laki itu terkekeh. "Kurasa ayahku salah." Jawabnya di sela kekehnya"Kau cantik tapi semakin cantik ketika tidak sedang menangis."
"Benarkah?"

Anak laki- laki menganggukkan kepalanya mantap dan tersenyum. "Jadi jangan menangis lagi ya. Aku pasti akan melindungimu."

"Janji?"

"Janji."

"Pinky finger." Anak perempuan itu mengangkat jari kelingkingnya yang langsung dibalas hal yang sama dengan anak laki- laki itu.

"Pinky finger." Ulang si anak laki- laki saling menautkan jari kelingking masing- masing.

Dan takdir benang merah mereka berdua mulai terjalin seiring dengan janji yang telah mereka buat saat itu.

***

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS