MASK- LIMA BELAS



"Sebenarnya ada apa denganmu?" Kedua matanya membelalak yang seketika diubahnya menjadi delikan tajam seperti yang selalu dilakukannya, menunjukkan betapa keras kepalanya dirinya.

"Apa yang kau lakukan?" Sergahnya hendak melepaskan tangannya dariku. "Lepaskan."

"Bukankah seharusnya itu pertanyaanku? Apa yang kau lakukan disini? Seingatku kau sama sekali bukanlah pemain laga, kau juga tidak mengikuti kejuaraan manapun jadi kenapa kau berusaha keras seperti ini." Kataku tidak kalah sengitnya.

"Bukan urusanmu. Pergilah."

Sial. Kalimat penolakan lagi. Kenapa sulit sekali memahami wanita ini?

"Kau tidak mau melepaskannya?" Tanyanya lagi ketika aku sama sekali tidak melepaskan tangannya dan justru semakin mempererat genggamanku.

"Tidak akan sebelum kau ikut denganku." Kedua matanya menyipit lalu sedetik kemudian aku melihatnya mendengus.

"Jangan menantangku, Azalea!" Ancamku penuh keyakinan.

"Memang apa yang akan kau lakukan?" Tantangnya kemudian.

Oh. Wanita ini benar- benar membuat emosiku naik turun.

Kutatap dia lekat dan seketika tertegun. Ini pertama kalinya aku melihatnya dengan tampilan yang seperti ini, maksudku meskipun dia terlihat berantakan dengan beberapa anak rambut yang keluar dari ikatannya serta peluh yang bercucuran dari hasil boxingnya tapi itu sama sekali tidak menghilangkan aura yang dimilikinya melainkan justru well, dia tampak terlihat seksi.

Sedetik kemudian aku harus terganggu dengan suara samar disekelilingku dan menoleh ketika mendapati para pria itu sedang menatapku dan Lea secara bergantian kebingungan tapi juga dibarengi dengan keinginan yang menggebu- gebu khas pria pada Lea. Melihat itu membuat emosiku yang tadinya sempat reda seketika kembali mendidih.

"Kita perlu bicara." Ucapku menahan diri agar tidak meninju wajah penuh minat pria- pria itu.

"Aku tidak merasa ada yang perlu kita bicarakan."

Demi Tuhan. Kenapa dia selalu ingin membantahku?.

"Ya. Ada dan jika kau tetap menolak, aku tidak akan segan- segan menggendongmu dari sini terlepas kau setuju atau tidak." Aku menyiratkan ancamanku dengan sungguh- sungguh, dan kulihat dia seperti berpikir.

"Ayo." Aku tidak ingin mendengar kalimat penolakan darinya lagi dan menyeretku keluar dari tempat terkutuk ini segera sebelum aku kehilangan kendali. Dane menatapku yang kubalas dengan anggukan kepala pelan padanya. Dia tahu apa yang harus dilakukan.

Aku masih memegang sebelah tangannya hingga kami berada di basement ketika aku mendengar suara desis pelan yang terucap dari bibirnya dan menoleh ketika tanpa sadar mataku menangkap arah pandangannya.

Sialan. 

Entah dia memang berniat membuatku marah atau memang ini salah satu bakat yang dimilikinya tapi apapun alasan yang dimilikinya semakin membuatku muak. Kedua buku- buku jarinya terlihat memerah dan ada bekas seperti melepuh di setiap ruasnya.

"Sebenarnya ada apa denganmu?" Kudorong tubuhnya ke dalam mobil. Dia melotot hendak melepaskan diri tapi dengan sekejap kutahan dirinya dengan tubuhku. "Dan jangan berani- berani untuk melawanku, Azalea." Ketika aku yakin sudah tidak ada lagi perlawanan darinya, aku menghela napas dan berkata "Kemarikan tanganmu. Biar kulihat."

"Tidak perlu. Aku bisa sendiri."

"Kubilang jangan pernah memprovokasiku, Azalea."

Kusentuh setiap ruas jarinya dengan hati- hati. Aku bisa merasakan tubuhnya yang menegang setiap aku menaruh jari- jariku diatas lukanya dan meringgis.

"Kita ke rumah sakit." Putusku.

"Jangan konyol, Jullian. Ini hanya luka biasa. Tidak akan membuatku harus kehilangan tangan." Balasnya memutar mata.

Oh Tuhan. Apa yang Kau pikirkan ketika menciptakan wanita cantik dan juga seksi ini?

Tunggu. Cantik dan seksi? Apa yang baru saja kupikirkan.

"Kau kelihatan aneh. Apa kau baik- baik saja?"

Tidak. Aku tidak baik- baik saja. Kurasa aku sudah mulai menyukaimu.

"Jullian?"

"Kita tetap perlu memeriksakannya." Balasku gusar. Harus kuakui, Aku tidak pernah merasa sekhawatir ini pada wanita manapun bahkan pada Caroline sekalipun. Caroline tidak pernah menantangku juga Caroline tidak pernah membuatku harus melupakan semuanya dan melewati batas seperti yang wanita ini lakukan. Dan melihatnya terluka seperti ini menimbulkan perasaan tidak suka seakan aku ingin membunuh apapun yang telah membuatnya terluka.

"Kau berwajah aneh lagi." Sahutnya lagi.

Kutatap dia tepat ke matanya. Matanya berwarna biru. Masih sama ketika kami tidak sengaja berpapasan di dapur dulu. Hidungnya, wajahnya yang tanpa riasan tapi terlihat cantik, keningnya yang mengucurkan keringat hingga mengucur sampai ke leher tampak menggoda dan bibir itu, entah kenapa aku sangat merindukan rasa bibir itu lagi.

"Jullian? Kau baik- baik saja kan? Kau tidak kesambet sesuatu kan?" Tanyanya seraya matanya melirik kesana kemari. "Biar bagaimanapun ini basement. Aku tidak tahu apakah disini memiliki penghuni atau tidak tapi tempat ini cukup sepi dan tampak mengerikan." Aku tahu dia hanya mengucapkan itu dengan pelan tapi berada dalam keheningan seperti ini pasti tetap akan terdengar. Sekecil apapun yang kau katakan.

Tanpa sadar aku tertawa lalu mengarahkan sebelah tanganku untuk mengacak- acak rambutnya dengan gemas. Dia menoleh dan kedua matanya membelalak kaget tapi justru terlihat sangat lucu didepanku.

"Ayo. Kita perlu memeriksakan tanganmu dulu." Ucapku lalu menyalakan mobil menuju rumah sakit tanpa sama sekali mengubris kalimat penolakan lagi darinya.

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS