MASK- DUA TIGA



Apa aku harus mati agar bisa terlepas dari ini semua?

Apa yang akan....

"Nona?"

Aku mendongak dari tempatku duduk dan langsung berhadapan dengan seorang wanita dengan kisaran umur 40an berambut pirang stroberi yang baru saja memanggilku. Wanita dengan warna mata biru yang sangat mirip denganku itu sedang menatapku dengan senyum di wajahnya.

Kenapa nasib begitu kejam pada kita berdua, ibu?

Aku ingin sekali berteriak. Menumpahkan semua perasaan yang tengah kurasakan.

Kau gadis kuat, Azalea.

Tidak! Aku tidak kuat. Aku ingin berteriak. Aku ingin menangis. Tidak bisakah aku melakukannya? Aku butuh tempat untuk bersandar. Aku sungguh tidak sekuat itu.

"Nona?" Kembali dia mengucapkannya tapi kali ini terselip wajah bingung.
Kusunggingkan senyum palsuku. Menahan getaran dan panas di mataku.

"Kau baik- baik saja sayang? Kau kelihatan sedih."

Kuhembuskan napasku pelan. "Ya. Aku baik- baik saja. Aku membawakan anda bunga." Ujarku.

Sejenak pandangannya beralih pada bunga yang berada ditanganku. "Ah forget-me-not." Ucapnya lirih. "Symbol of remember those you love even if they're still with you right now. Make memories that last and extend your caring to those that need it the most." Kami berdua sama- sama menyunggingkan senyum ketika mengatakannya. "Kau tahu artinya?" Tanyanya.

Ya. Aku tahu. Kaulah yang selama ini mengajarkanku semua arti bunga bahkan namaku pun kau namai seperti nama bunga. Azalea yang berarti peduli akan dirimu dan orang- orang disekitarmu termasuk keluargamu. Stay in control of your emotions and actions.

Kau mengharapkanku untuk menjaga keluargaku. Kau mengharapkanku untuk menjaga emosiku tapi aku tidak bisa. Aku gagal bu. Aku tidak bisa menjaga keluargaku. Kau disini dan aku tidak bisa menjagamu. Aku juga kesulitan menjaga emosiku. Tahukah apa arti lain dari Azalea? Fragile. Yes, I am fragile. Aku rapuh bu. Aku membutuhkan seseorang dan itu dirimu. Tidak bisakah aku mendapatkannya? Tidak bisakah kau mengingatku... sedikit saja.

"Nona? Kau tidak apa- apa? Kau kelihatan sangat sedih." Kuseka air mataku sebelum jatuh dan menghembuskan napas.

"Kau butuh pelukan?" Aku mengangguk dan dia langsung membawaku kedalam pelukannya.

"Semuanya akan baik- baik saja, sayang." Ucapnya seraya menepuk- nepuk punggungku pelan. "Jangan khawatir." Kugigit bibirku supaya suara tangisku tidak sampai terdengar olehnya.

Yeah. Semuanya akan baik saja. Itu yang selalu ibu katakan padaku waktu aku kecil dan aku mempercayainya.

Kupandangi sosok yang sedang terlelap tidur didepanku. Sudah satu jam berlalu. Wajahnya terlihat tenang tanpa beban dan ada guratan- guratan halus disekitar matanya. Kuhembuskan napasku pelan dan memandangi wajah tidurnya tanpa sama sekali melepaskan tanganku darinya. Bunga pemberianku pun sudah kuletakkan didalam vas, menggantikan bunga yang dua hari lalu kubawa.

Aku sengaja menempatkan ibuku di ruangan dengan jendela yang langsung menuju ke taman agar dia bisa langsung melihat pemandangan yang tidak jauh dari tempatnya dirawat. Aku tidak peduli berapa banyak tagihan yang harus ku bayar setiap bulannya dan semuanya setimpal dengan dia yang masih tetap denganku. Aku bahkan rela menukar apapun bahkan ingatanku agar dia bisa kembali padaku tapi harapan itu hanyalah harapan karena setelah tiga belas tahun berada ditempat ini, sama sekali tidak ada kemajuan.

"Azalea, kau disini sayang?"

Aku berbalik dan tersenyum ketika mengetahui itu Janet, perawat yang selama ini menjaga ibuku. Dia adalah wanita tua yang sangat baik. Janet pula yang selalu membesarkan hatiku untuk tidak putus harapan sejak aku kecil.

"Hai Janet. Aku menemani ibuku tidur."

Dia memberiku senyum keibuannya dan mengusap rambutku pelan. "Kau baik- baik saja sayang? Kau kelihatan sangat capek."

Aku tersenyum. "Mungkin karena aku terlalu sibuk dengan pekerjaan kantor jadi terlihat seperti ini tapi aku baik- baik saja kok."

"Kau harus menjaga tubuhmu. Jangan terlalu keras mencari uang."

"Kau benar. Bagaimana keadaan ibuku? Ibuku tidak menyulitkanmu kan?"

"Kau bercanda ya? Ibumu adalah favoritku. Rose tidak pernah sedikitpun menyulitkan orang- orang disini."

"Aku tahu." Balasku tersenyum lebih lebar.

"Jadi apa ada perkembangan?" Pertanyaan yang rutin kuajukan setiap kali berkunjung.

"Azalea," Janet mengatakannya pelan. Sangat pelan dan aku tahu apa yang ingin dia katakan. Dia sudah mengatakannya hampir lima kali dalam bulan ini. "Tidakkah menurutmu kau harus membawa Rose ke rumah sakit yang memang khusus untuk penderita alzheimer?"

"Rumah sakit ini juga rumah sakit untuk penderita alzheimer."

"Tapi akan lebih baik jika Rose ditangani dengan peralatan medis yang sangat lengkap."

Aku mau saja tapi bagaimana aku harus membayar tagihannya kelak?

"Untuk sementara biarkan ibuku disini. Aku akan mencari cara." Kataku.
Sejenak dia terdiam. "Oh baiklah dan ngomong- ngomong bagaimana kehidupan pernikahanmu? Kau sama sekali belum pernah membawa suamimu kesini."

"Jullian sangat sibuk dengan pekerjaannya."

"Kalau kalian sesibuk ini bagaimana kalian bisa cepat mendapatkan anak." Tegurnya.

"Kami belum memikirkan sampai disitu, Janet."

"Kau tahu sayang, kehadiran anak bisa membuatmu sedikit meredakan perasaanmu yang kalut."

Benarkah?

"Kau harus cepat hamil supaya kau punya hal lain yang bisa kau pikirkan."

"Aku tidak yakin." Kataku ragu.

"Cobalah. Mungkin saja dengan kehadiran bayi bisa merangsang ingatan Rose kembali."

"Benarkah?"

Aku begitu terkejut dengan informasi baru ini. Apa memang ada jalan seperti itu? Kalau iya, aku akan melakukannya. Mendadak aku merasakan adanya harapan baru dalam hidupku.

"Tidak ada salahnya mencoba." Ujar Janet tersenyum.

*

Kulangkahkan kakiku memasuki sebuah gedung termegah di kota ini. Hari sudah menjelang sore dan aku beruntung ketika di depan tadi mengatakan kalau dia belum pulang.

Kantor Jullian terletak di lantai 30 yang menghadap ke sisi laut dan mungkin akan terlihat indah jika malam tiba. Entahlah. Aku tidak pernah ke kantornya pada malam hari.

Aku berjalan cepat hingga nyaris berlari. Aku sudah tidak sabar mengatakan ini padanya. Dia harus menyetujui apa yang kuminta kali ini. Aku tidak pernah meminta apapun darinya dan kuharap ini bisa berjalan dengan mudah, anggap saja sebagai hadiah tahun baru yang kudapatkan sekali dalam seumur hidupku.
Pembicaraan dengan Janet siang tadi seketika memberiku harapan baru. Aku tidak akan peduli apa yang akan terjadi selanjutnya asal keinginanku terpenuhi. Aku rela melakukan apapun termasuk bercerai dengannya lebih cepat agar dia bisa menjalani hidupnya yang lebih baik dan aku berjanji dengan apapun di dunia ini.

"Apa Jullian masih didalam?"

Noura melihatku dengan pandangan terkejut sebelum dia berkemas pulang dan mengangguk.

"Mr. Anderson sedang berbicara dengan Mr. Clark di dalam, Mrs. Anderson" Jawabnya. Noura adalah sekertaris Jullian. Mungkin karena itu dia kelihatan gugup ketika melihatku karena dia tahu siapa aku.

"Apa mereka sibuk?"

"Sepertinya Mr. Clark sedang membicarakan tentang proyek di Denmark kemarin."

Apa aku harus menunggu tapi ada Dane didalam. Mungkin dia juga bisa membantuku.

"Terima kasih, Noura." Aku tersenyum padanya.

"Sama- sama Mrs. Anderson."

"Kau bisa memanggilku Lea."

"Eh?"

"Mrs. Anderson kedengaran terlalu kaku untukku. Panggil saja aku Lea. Kau sepertinya lebih tua dariku"

Noura mengangguk.

"Baiklah. Apa kau mau pulang?"

"Eh i-iya Mrs ... eh Lea."

Aku tersenyum. "Baiklah. Sampai nanti. Aku perlu bicara dengan mereka berdua."

Kuraih gagang pintu ruangan Jullian dan langsung membukanya.

"Lea?"

"Azalea?"

"Hai semua. Kuharap aku tidak menganggu pembicaraan penting kalian." Baik Jullian maupun Dane sama- sama memberiku tatapan aneh. "Aku mau kalian memberikanku satu hari berharga kalian untukku."

Tidak ada jawaban.

"Aku sudah mendaftarkan nama kalian di sebuah rumah sakit."

"Rumah sakit?" Tanya Jullian.

Aku mengangguk. "Aku butuh sperma."

Hening sesaat hingga aku melihat mereka berdua saling bertukar pandang dan aku tidak peduli apa yang mereka pikirkan.

"Aku ingin hamil dan punya anak."

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS