MASK- SEBELAS
Jullian PoV...
"Ya. Aku tidak akan ke kantor hari ini." Kuputuskan untuk menghubungi Dane mengenai ketidakhadiranku di kantor hari ini.
"Kenapa? Apa terjadi sesuatu? Atau kau sakit? Apa perlu kuantar ke rumah sakit?"
Kugelengkan kepalaku mendengar segala rentetan pertanyaan Dane yang mirip wanita ketimbang pria.
"Bukan aku tapi Azalea..."
"Eh?"
"Jadi batalkan semua pertemuan pentingku hari ini dan kalau ada yang perlu kutanda tangani, kau bisa datang kemari."
"Tunggu dulu. Lea sakit? Sakit apa?". Aku tidak tahu kenapa aku tidak menyukai nada suara Dane barusan. "Lea sakit apa?" Tanyanya lagi.
"Hanya batuk dan demam biasa tapi sudah agak mendingan daripada semalam." Buru- buru kutambahkan kalimat terakhir.
Tidak ada yang bersuara diantara kami hingga Dane yang kembali membuka suara. "Hm baguslah kalau begitu." Aku mengangguk mengiyakan ucapannya. "Setidaknya kau sudah menetapkan pilihan." Hah? Aku mengernyit mendengar kalimat selanjutnya keluar dari bibirnya dan baru akan menanyakan ketika mendengar suara pintu yang dibuka. "Pastikan saja kau mengurus kantor dengan baik selama aku tidak ada." Klik. Lalu mengarahkan tatapanku pada sosok yang baru saja keluar. Kedua keningku serta merta saling bertaut ketika melihat penampilan Lea yang rapi pagi ini.
"Mau kemana?" Dia tampak terkejut ketika menyadari kehadiranku di depan kamarnya.
"Kantor. Apa yang kau lakukan disini?" Kerutan dikeningku terasa semakin dalam mendengar jawaban singkat darinya. Kantor? Apa yang ada dalam otak keras kepalanya itu. Aku bahkan membatalkan semua pertemuan penting agar bisa menjaganya tapi dia sama sekali tidak ingin meninggalkan satupun pertemuan di kantornya. Apa dia tidak melihat wajahnya sepucat apa sekarang?.
"Jangan memperdulikanku. Bersikaplah seperti yang biasa kau lakukan."
Aku tidak mengerti. Memang apa yang sudah kulakukan padanya. "Aku lakukan?"
"Ya. Membenciku."
Aku terdiam mendengar jawaban darinya. Ya. Aku memang tidak menyukainya tapi membencinya? Aku tidak pernah merasa telah menjadikannya objek dari kebencianku selama ini jadi darimana pemikiran itu berasal?
"Aku membencimu?"
"Bukankah hubungan kita memang seperti itu?" Balasnya semakin membuatku tidak mengerti dengan sikapnya.
"Aku tidak membencimu." Jawabku. "Aku memang tidak menyukaimu tapi itu bukanlah kebencian.
Aku melihat Lea tertawa sinis. "Terus apa bedanya? Toh, kita sama- sama saling tidak menyukai."
Kutahan diriku melihat dirinya dan mulut pintarnya itu. "Bedanya adalah jika aku membencimu maka aku tidak akan memperdulikanmu semalam. Aku hanya tidak menyukaimu." Sengaja aku menekankan kata terakhir itu agar dia mengerti.
Dan kalimat selanjutnya yang keluar dari bibirnya kembali membuatku tidak habis pikir.
"Kalau begitu benci aku." Katanya.
"Apa?" Apa demam semalaman membuat beberapa sel diotaknya menjadi putus? Kenapa dia ingin orang lain membencinya?. Kuperhatikan raut wajahnya yang semakin bertambah pucat. Sesekali aku melihatnya menutup matanya dan kembali membukanya ketika menyadari kalau aku masih memperhatikannya.
"Baiklah. Kau perlu istirahat, Azalea."
"Kubilang berhenti menyebutkan namaku seperti itu!" Sergahnya semakin marah. "Aku tidak mau dipanggil seperti itu olehmu!"
Kekeras kepalanya ini membuat emosiku naik. Kuraih lengannya dan langsung bisa merasakan hawa panas ketika wajah kami saling bertatapan. "Dengar. Aku yang memutuskan harus memanggilmu dengan nama apa dan kau tidak berhak mengaturku apapun itu."
Lea memberiku tatapan paling tajam miliknya dan aku harus menahan diri ketika tanpa sadar, dia menggigit bibir bawahnya karena menahan amarah tapi entah kenapa justru aku yang ingin menggantikan bibir itu. Sial, ada apa denganku?
"Kau tidak bisa melakukan ini padaku."
"Oh. Bukankah sudah kubilang untuk jangan memprovokasiku?"
Kami berdua saling bertatapan dengan sengit. Kuputuskan untuk mengangkat tubuhnya dan membuka paksa pintu kamarnya.
"Lepaskan." Tubuhnya meronta ingin melepaskan diri tapi aku semakin mengeratkan tubuhku di tubuhnya dan menempatkan tubuhnya diatas tempat tidur serta aku yang berada diatasnya agar dia tidak kemana- mana.
"Aku akan melepasmu jika kau bisa menjadi anak yang manis hari ini."
Hening.
"Bagaimana, Azalea?"
"Baiklah. Lepaskan sekarang juga."
Aku semakin tersenyum melihatnya tak berkutik. Kuputuskan untuk bangun dari atas tubuhnya. Kehadirannya akhir- akhir ini disekitarku membuat tubuhku bereaksi aneh. "Baiklah. Tunggu disini. Aku akan mengambilkanmu makanan dan obat." Sekilas aku melihatnya mengernyit dan mengerti apa yang baru saja terlintas dalam pikirannya. Dia benar- benar sangat tidak menyukai obat dan kembali tersenyum ketika aku melihatnya mengangguk.
Aku sama sekali tidak menaruh curiga dan beranjak keluar dari kamarnya menuju dapur untuk mengambil makanan ketika selang beberapa detik kemudian aku mendengar suara pintu terbuka dan beranjak untuk mencari tahu ketika aku melihatnya berdiri tepat sebelum pintu lift menutup dengan sempurna.
Sial.
***

Comments
Post a Comment