MASK- TUJUH BELAS




Kami tiba 10 menit lebih awal dan aku bersyukur karena itu. Kuhirup aroma laut dalam- dalam seakan tidak ada lagi hari esok dan itu benar. Sudah lama aku tidak kesini dan aku sangat merindukan kenangan itu.

"Jadi ini yang kau bilang tempat yang normal?"

Aku berbalik dan mendapati Jullian sudah berada didekatku. Aku tadi menyuruhnya memesan makanan sementara aku yang mencari tempat duduk. Tempat duduk yang kupilih berada tidak jauh dari laut dimana pemandangan langsung terhampar dan menampilkan matahari yang sebentar lagi akan terbenam.

Aku mengangguk mantap. "Yep. Tempatnya juga hebat." Jawabku. Aku tidak tahu apa yang dia lihat diwajahku hingga kemudian aku melihatnya tersenyum. Sejujurnya itu membuatku sedikit merasa terkesima. Dia kelihatan sangat tampan. Sial, apa yang baru saja kupikirkan?! Aku merutuk pemikiran konyolku barusan dan tersenyum getir. Tidak akan ada kebahagian dalam hidupku. Semuanya sudah sirna seiring waktu.

"Ya. Aku setuju." Timpalnya dan itu membuatku kembali melihatnya.

"Kau tidak pernah kesini ya?". Kuputuskan untuk mencari bahan pembicaraan lain sambil menunggu apapun yang dia pesan untuk menu makan malamnya. Toh, aku tidak akan ikut makan bersamanya.

Jullian menggeleng. "Tempat umum seperti ini tidak masuk dalam urutan yang ingin kudatangi."

Ah karena pacarnya seorang artis? Dia pasti tidak ingin ada skandal yang menghampirinya juga Caroline.

"Bagaimana denganmu?"

"Ada apa denganku?" Tanyaku setengah kaget atas pertanyaan dadakannya barusan.

"Apa kau sering kemari?"

Kuangkat bahuku, berusaha tidak terlalu peduli. "Dulu. Tapi semuanya sudah berubah." Ah sial. Kenapa rasanya sangat menyakitkan ketika mengatakannya?

"Dulu? Jadi dulu kau sering kesini?"

"Tidak terlalu sering tapi ya. Aku menyukai melihat matahari terbenam di tempat ini."

"Dengan siapa?"

"Apa?" Entah mengapa aku merasa ada nada tidak suka dalam suaranya.

"Dengan siapa kau kesini?" Tanyanya.

Ada apa dengannya?. "Bukan sesuatu yang penting. Apa kau tidak mau memakan makananmu?" Aku bertanya karena sepertinya dia sama sekali tidak memperhatikan ketika pelayan wanita itu datang dan diam- diam memberikan tatapan genit pada Jullian.

Wanita malang.

"Kau belum menjawab pertanyaanku, Azalea. Dengan siapa kau kesini?" Tanyanya lagi.

Kedua mataku mengerut. "Bukankah tadi kau lapar? Makanlah."

Aku dan Jullian sama- sama saling melempar tatapan. Aku bingung melihat perubahan sikapnya yang mendadak sementara dia memberiku tatapan seperti entahlah... kesal? Jengkel? Marah?

"Aku tidak tahu kalau kau selapar ini." Ucapku seraya menunjuk dua piring yang berisi steak lengkap dengan kentangnya bahkan ada kentang tambahan di piring lain.

"Itu untukmu." Ujarnya seraya menempatkan piring satunya dihadapanku.

"Untukku?"

"Kulihat kau dulu sangat menyukai steak ketika bersama Dane jadi kuputuskan untuk memesankanmu juga."

Aku baru saja ingin membantah ketika aku mendengar suaranya lagi.

"Dan jangan membantahku lagi, Azalea. Kau juga perlu makan."

"Aku belum lapar." Tapi belum sampai lima detik aku mengatakannya, suara aneh tiba- tiba muncul dari dalam perutku.

Sial.

"Well, kurasa itu menandakan kalau mulut dan perutmu tidak sependapat." Ucapnya dan aku tahu betul dia ingin sekali menertawakanku.

"Tertawalah. Aku tidak akan berkomentar."

Dan dia benar- benar tertawa. Tawa lepas yang bahkan aku sendiri pun tidak pernah melihatnya dan apa kau tahu kalau tawa itu menular? Ya. Melihatnya tertawa seperti itu membuatku ikut juga tertawa, seakan bebanku yang selama ini kurasakan ikut mencair melihatnya seperti ini.

"Kupikir tadi itu naga yang ingin dibebaskan dari dasar jurang." Ucapnya disela tawa.

"Kupikir naga bisa terbang." Aku membalasnya tidak mau kalah dan tersenyum hingga beberapa menit kemudian aku melihatnya sedang melihatku dengan tatapan yang sulit kujelaskan.

"Kau cantik jika tersenyum seperti itu."

Eh?

*
Aku baru saja mengecek gambar- gambar sketsaku ketika mendapati Mia melihatku dengan khawatir. Ya. Sejak kemarin aku meninggalkannya, aku sama sekali belum meminta maaf padanya. Perban ditanganku sudah dilepas tapi tetap harus mengoleskan obat diatasnya agar tidak meninggalkan bekas. Aku belum bisa memegang pensil dan hanya bisa mengecek beberapa gambar ataupun bahan- bahan rancanganku melalui komputer. Sejujurnya ini membuatku merasa bosan. Sehari tidak menyentuh pensil dan menuangkan ide kedalam medianya adalah hal yang paling membosankan juga mengerikan karena menurutku, tidak peduli apakah karyamu disukai oleh orang lain atau tidak selama kau bisa menuangkannya dan idemu juga tersalurkan maka itu bukanlah menjadi soal. Urusan hasilnya biar yang melihatnya yang memberi pendapat karena terkadang kita butuh orang lain untuk menjadi cermin atas apa yang kita buat.

"Apa kau baik- baik saja?" Tanyanya membuat keningku langsung terangkat.

"Aku? Aku baik- baik saja. Kenapa?"

"Apa Mr. Anderson tidak melakukan sesuatu padamu?"

"Maksudmu Jullian? Tidak. Dia tidak melakukan apapun padaku."

"Syukurlah." Ucapnya lega. "Kemarin dia terlihat sangat marah jadi kupikir kalian bertengkar disuatu tempat."

Perlu kalian ketahui. Mia dulu adalah temanku di Junior School. Itulah sebabnya kami tidak saling memanggil dengan nama belakang dan terkesan informal. Lagipula lebih enak begini, saling memanggil nama satu sama lain bisa mempererat hubungan kerjasama antar rekan kerja. Mia juga bukanlah tipe wanita yang asal, dia sopan juga baik hati tapi dibandingkan itu semua, Mia mengerti akan diriku bahkan jika aku bersikap sangat dingin dan kejam padanya. Dia akan tetap berada disampingku. Mungkin kalau orang lain sudah pasti aku sudah menjadi orang yang sangat dibenci.

"Kami baik- baik saja. Kami bahkan menikmati makan malam ditempat itu."

Kedua mata Mia seketika membulat. "Kau mengajaknya ke tempat itu?"

Ya. Mia tahu pantai adalah favoritku hingga sesuatu terjadi. Mia harus pergi mengikuti orang tuanya yang ditempatkan didaerah lain dan aku yang harus...

"Hanya makan malam. Lagipula rasanya aneh jika aku harus ke restaurant terkenal juga mahal dengan pakaian seperti yang kupakai kemarin meskipun dengan Jullian sekalipun." Aku ngeri membayangkan harus menerima tatapan yang bahkan aku sendiripun tidak yakin apa arti dari sebuah tatapan itu.

"Jadi apa yang kalian bicarakan?"

Ada apa dengan semua orang? Kenapa mereka sering tersenyum diam- diam?

"Apa yang kau bicarakan?" Tanyaku tidak mengerti.

"Well, kau tidak mungkin hanya saling diam kan? Pasti ada yang diperbincangkan"

"Oh. Hanya pembicaraan ringan biasa."

Mia menganggukan kepalanya dengan pasti tapi entahlah. Seperti ada maksud tersirat dalam setiap anggukannya.

Sementara aku mencerna semuanya, tiba- tiba ponselku berdering dan mendapati nama Jullian sebagai ID Caller.

"Mr. Anderson?"

Aku mengangguk.

"Dia menjemputmu?

"Aku sudah menolak tapi dia bersikeras untuk tidak membiarkanku pulang dengan taksi." Jawabku malas.

Selama tanganku di perban total, aku memang selalu menggunakan taksi. Kadang aku meminta tolong pada Mia untuk menjemput atau sekedar mengantarku pulang. Selama tanganku tidak dapat digunakan seperti biasa, aku tidak membawa banyak barang , hanya tas kecil untuk menyimpan handphone dan flashdisk.

Aku baru saja keluar dari ruanganku ketika mengingat sesuatu yang sejak tiga hari yang lalu menjadi pertanyaanku.

"Mia?" Panggilku.

"Ya?"

"Apa penghuni." Aku sengaja memberi tanda kutip diudara ketika mengatakan kata penghuni, "di basement tempat gym itu benar- benar ada?"

"Apa?"

"Sudahlah. Lupakan saja. Istirahatlah juga, Mia dan sampai besok." Ucapku dan meninggalkannya yang masih tetap diam tak bergeming.

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS