MASK- DUA BELAS



Lea PoV...

"15 menit lagi aku sampai."

"..."

"Sakit? Tidak. Aku baik- baik saja."

"..."

"Baiklah. Thanks Mia. Aku mengandalkanmu." Klik.

Aku mendesah lega dan kembali fokus pada kemudi ditanganku. Aku memang sempat melihat wajah kesal Jullian sebelum pintu lift menutup tadi. pertemuan ini penting bagiku dan aku tidak bisa membatalkannya begitu saja. Butuh usaha yang sangat besar untuk membangun semua ini dan orang seperti dirinya tidak akan mengerti.

Bagiku, hubunganku dengan dirinya hanyalah sebatas pada perjanjian dan akan segera berakhir ketika tiba saatnya. Sejujurnya aku menginginkan ini bisa berakhir dalam setahun tapi entah mengapa akhir- akhir ini aku merasa ini akan sulit.

Kutarik napasku dan kuhembuskan secara perlahan dan begitu seterusnya hingga aku tiba di tempat tujuanku. Setelah memarkir mobil di basement, aku langsung berlari menuju lantai 4 yang menjadi ruanganku dan melihat Mia yang berdiri tepat di depan pintu.

"Mereka sudah tiba 5 menit yang lalu." Ucapnya.
Aku mengangguk dan menyerahkan tasku kepadanya dan berjalan ke ruang pertemuan.

Sudah ada tiga orang yang duduk di kursi dan salah satunya adalah wanita yang berwajah tegas yang menurut perkiraanku dialah bos di sini. Sembari tersenyum dan berbasa- basi sedikit, aku mulai memperlihatkan hasil rancanganku yang telah kupersiapkan dari rumah pada mereka.
Membutuhkan waktu lebih lama dari yang kuperkirakan dalam pertemuan kami. 3 jam dan penyebabnya adalah karena wanita tegas yang kuketahui bernama Mrs. Morrits itu lebih banyak mengoreksi ketimbang mendengar. Ada- ada saja yang menjadi perhatiannya. Mulai letak meja yang tidak simetris hingga wallpaper yang menurutnya terlalu biasa, membuat kepalaku yang memang sudah terasa berat semakin berat. Kedua pria disampingnya hanya memberiku senyum samar, yang kubalas dengan senyum sama.

"Baiklah. Senang bekerjasama dengan anda Miss. Smith." Ucap Patrick, pria berwajah manis padaku. Kuperkirakan dia hampir seumur dengan Jullian dengan tubuh hasil dari latihan yang selama ini dia lakukan.

"Ya. Sama- sama Mr. Petraskis."

"Karena kita sudah menjadi partner, bagaimana kalau mulai sekarang kau memanggilku dengan nama Patrick."

Aku tersenyum. "Tentu."

Dia ikut tersenyum. "Baiklah. Azalea."

"Lea. Panggil saja Lea."

Sejenak dia mengangkat alisnya. "Lea? Hm baiklah meskipun sejujurnya aku lebih senang memanggilmu dengan nama Azalea." Aku meringgis. Aku tidak suka seseorang memanggilku dengan nama itu. "Tapi baiklah. Azalea atau Lea menurutku sama saja."

"Patrick." Kami berdua sama- sama berbalik dan melihat Mrs. Morrits dan pria satu lagi sedang menatap kami. "Bukankah kau bilang masih ada pekerjaan lain yang masih menunggu?"

Aku bisa melihat kalau Patrick memutar matanya. "Baiklah. Sampai jumpa lain kali, Lea."

Aku tersenyum dan mengantar mereka hingga ke lift.
Aku mendesah lega ketika pada akhirnya ini semua berjalan dengan baik dan melihat Mia yang berjalan menghampiriku. Kupijit pelipisku yang mulai terasa berkunang dan melihat Mia. "Kurasa aku akan pulang lebih awal hari ini. Apa kau bisa menghandle semuanya seorang diri?" Tanyaku.

Dia mengangguk. "Tentu. Kau baik- baik saja? Kau kelihatan pucat."

"Ya. Kurasa aku hanya perlu beristirahat selama beberapa jam."

"Astaga kau demam!" Pekiknya ketika dengan sengaja ia meletakkan tangannya dikeningku. "Kau perlu istirahat selama beberapa hari dan bukannya beberapa jam."

"Baiklah. Hubungi aku kalau terjadi sesuatu. Aku akan mengambil tas dulu."
Aku tidak mendengar perkataan Mia selanjutnya dan berjalan membuka pintu ruanganku ketika melihat Jullian berdiri di dekat meja dan memperhatikanku dengan tangan yang didekapkan di dadanya.

"Jadi setelah aku memintamu menjadi anak manis. Pada akhirnya kau memilih kabur ke sini?"

"Apa yang kau lakukan disini, Jullian?" Aku tidak bisa menampik kalau aku sangat terkejut melihatnya berada dikantorku, lebih tepatnya di ruanganku.
Sebelah alisnya terangkat. "Aku mengejarmu."

"Mengejarku?"

"Ya. Karena kau wanita keras kepala yang pernah ku temui. Aku bahkan menyeretmu jika sekali lagi kau membantahku."

Kututup mataku sembari menghela napas. Sungguh. Aku merasa sangat lelah hari ini. "Aku..." kata- kataku berhenti ketika merasakan sebuah benda dingin di keningku dan menyadari kalau itu tangannya.

"Sudah kuduga. Demammu semakin tinggi."

Kuhempaskan tangannya. Alih- alih aku mendorongnya menjauh, yang ada aku yang hampir terjatuh karena gerakan refleks yang kulakukan dan mengerjap ketika merasakan tangannya di sekita pinggangku.

"Jangan keras kepala lagi, Azalea. Kau butuh istirahat."

Ya. Aku memang sangat membutuhkan istirahat hari ini. Tubuhku rasanya sangat letih jadi aku mengangguk membalas ucapannya.

"Tempatkan kedua lenganmu di leherku. Aku akan mengendongmu."
Kugelengkan kepalaku, "tidak perlu. Aku bisa jalan sendiri."

"Bukankah sudah kubilang untuk tidak membantahku?"

"Kau orangnya pemarah ya?" Dengusku.

Dia mengernyit. "Pemarah?"

"Ya. Kau mudah sekali marah."

"Dan kau tidak tahu siapa yang menyebabkan hal itu?" Sindirnya.
Aku terkekeh. Sedetik kemudian aku merasakan kakiku sudah tidak lagi menyentuh tanah dan secara otomatis pula kukalungkan kedua lenganku di lehernya.

"Kau juga orang yang tidak suka dibantah." Ujarku lagi ketika kami sudah berada di depan lift.

"Senang pada akhirnya kau mengetahuinya."

"Hm." Gumanku setuju.

Aku tidak tahu apakah ini karena pengaruh demam yang kurasakan atau karena pengaruh gendongannya. Yang aku tahu adalah pelan- pelan mataku menutup dan jatuh tertidur sementara dia yang masih terus mengendongku.

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS