MASK- TUJUH
Sudah tiga hari berlalu semenjak kejadian itu tapi entah mengapa sikap tidak peduli yang Lea tampakkan semakin membuatku frustrasi.
Semua orang tahu dia telah menjadi istri dari seorang Jullian Anderson dan sudah tugasku pula untuk tahu apa yang sedang atau tidak sedang dia lakukan dan biar kutegaskan ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan apa yang kurasakan padanya. Bagiku dia hanya wanita jalang yang hanya berpura- pura layaknya wanita terhormat lainnya.
Cih, mungkin aku perlu menegaskan padanya kalau dia bukanlah dan tidak memiliki arti dalam hidup siapa- siapa.
"Apa kau suka masakan yang mama buat?"
"Ya. Ma. Rasanya benar- benar menyenangkan bisa menikmati masakan mama yang super lezat."
Aku tertegun melihat pemandangan yang terjadi di dapur. Wanita jalang yang jarang tersenyum itu justru tersenyum bahkan tertawa hingga menampilkan lesungnya yang tampak manis di pipinya.
Entah apa yang mama dan dia bicarakan tapi sepertinya mama menyukai hal itu. Tidak henti- hentinya mama menyunggingkan senyumnya pada Lea yang dibalas oleh Lea dengan senyuman yang sama.
"Lho, sudah pulang Jullian?" Seketika pandanganku dan Lea bertemu dan dengan itu pula senyumnya tiba- tiba menghilang.
Kudekati Lea dan sengaja kukecup keningnya lembut. strawberry?. Aku bisa merasakan tubuhnya mendadak tegang karena sentuhanku jadi kuberikan dia seringaian yang menandakan kalau aku tahu dia hanya berpura- pura pada orang tuaku. Memang pembelaan apalagi yang bisa kupikirkan selain dia yang hanya berpura? Menyukaiku? Yang benar saja! Aku ragu akan hal itu. Yang wanita jalang ini inginkan hanyalah harta. Dia tidak mungkin mau menikah dengan pria yang tidak dikenalnya apalagi atas nama bisnis. Terlalu drama!.
"Iya ma." Kataku menjawab pertanyaan mama setelah melepaskan pandanganku darinya. "Apa yang kalian lakukan?" Tanyaku kemudian sambil melirik berbagai masakan yang tersedia di meja dapur.
"Kami baru saja selesai menyiapkan makan malam. Kau datang tepat waktu, Jullian." Kata Laura dengan senyum sumringahnya.
"Mama yang menyiapkan semua ini?" Tanyaku sekedar basa- basi. Lagipula mana mungkin wanita seperti Lea tahu memasak. Yang bisanya hanya... ugh, tidak perlu diulang lagi kan?
"Tentu saja mama dibantu Lea, iyakan Lea sayang?"
"Iya." Jawabnya seraya tersenyum simpul tapi aku tahu dia sedang melihat kearahku.
"Baiklah. Aku akan mandi dulu." Lanjutku beranjak menuju ke kamar setelah terlebih dahulu kembali mencium pemilik aroma strawberry itu.
*
"Jadi bisa kau jelaskan apa maksud kelakuanmu barusan, Jullian?"
Aku baru saja keluar dari kamar mandi dan tidak terlalu kaget ketika mendapati wanita itu berdiri di sisi kamar dengan tangan yang bersidekap di dada. Aku tahu cepat atau lambat dia akan menanyakan hal yang terjadi barusan.
"Hanya bersikap selayaknya suami dihadapan mama." Jawabku kalem tanpa memperdulikan pelototan yang diberikan padanya.
"Seingatku kita..."
Kuraih lengannya dengan kasar hingga tidak ada jarak diantara kami. Aku bisa merasakan napasnya yang memburu karena kelakuanku yang mendadak hingga kembali dia menampilkan wajah datarnya.
"Dengarkan aku sayang." Sengaja kuelus pipinya yang terasa lembut di kulitku tanpa memperdulikan tatapan membelalak darinya lagipula entah kenapa aku merasa menyukai aromanya dalam jarak sedekat ini.
"Singkirkan tanganmu dariku sekarang juga, Jullian." Ucapnya dalam satu tarikan napas yang semakin entahlah membuatku bergairah? Kenapa melihatnya semarah ini malah membuatku merasa terhibur.
"Kenapa? Apa kau takut sayang?" Ejekku.
"Kau tidak tahu apa yang kau lakukan. Lepaskan sekarang juga!" Tekannya hingga dia menyentakkan tanganku darinya tapi aku jauh lebih cepat darinya dan sebagai akibatnya aku menariknya hingga tubuhnya terjatuh diatas tempat tidur dan aku yang berada diatasnya.
"Apa- apa yang kau lakukan?" Aku tersenyum ketika merasakan ada nada panik dalam suaranya. "Kau sudah gila ya? Menyingkir dariku sekarang!"
"Kenapa? Apa itu membuatmu takut?"
"Kau gila ya? Menyingkir dariku sekarang juga!"
"Tidak akan." Balasku tidak mau kalah. "Lagipula apa salahnya melakukan ini. Seingatku kita sudah menikah, iyakan sayang? Jadi kupikir wajar jika kita melakukannya. Apa kau tidak mau memberiku kakek cucu?"
"Menyingkir dari atasku atau aku akan teriak." Geramnya tapi aku menyukainya dan dia juga terlihat cantik dibawah sana.
Sial. Apa yang sudah kupikirkan?
"Hmm... teriak saja. Akan lebih baik jika ada namaku didalamnya"
"Kau?!"
"Apa yang akan kudapat dapat jika melepaskanmu?"
"Apa?"
"Aku penasaran dengan pria di kafe tempo hari."
Sejenak dia terdiam, menatapku. "Seingatku apapun yang terjadi dalam kehidupanku bukanlah urusanmu."
Mendengar jawabannya barusan membuat amarahku yang tadinya sempat reda kembali memuncak.
"Biar kuingatkan sekali lagi, bitch. Semua orang tahu kalau kita adalah sepasang suami istri..."
"Dan kita berdua tahu apa alasan dibalik pernika..."
"Jangan menyelaku." Hardikku. "Jangan pernah menyela apapun yang kukatakan." Ulangku semakin marah.
Kenapa dia selalu mengatakan tentang alasan pernikahan kami berulang- ulang? Dan terlebih lagi, kenapa dia selalu berusaha ingin membantah?
Kutarik napas dan kuhembuskan dengan pelan, berharap aku bisa meredakan amarah ini karenanya.
"Dengar, aku tidak peduli dengan alasan pernikahan kita tapi satu hal yang perlu kau ingat adalah kau telah menyandang nama keluarga Anderson jadi jika aku mendengar sesuatu tentangmu termasuk para pria yang..." sengaja kulayangkan pandanganku kearah bawah tubuhnya dan menyeringai yang dibalas dengan pelototan darinya. "Telah berada dibalik celana dalammu. Akan kupastikan kau tidak akan lepas dan menyesal karena telah menikah denganku." Ancamku.
"Kau?!"
"Well, sebagai bukti kita setuju, aku akan memberimu tanda."
"Tanda? Tanda apa?" Dia mulai memberontak hingga rambutnya yang merah bertebaran diatas ranjang tapi itu justru membuatnya semakin menggairahkan. Entahlah. Ini bukanlah yang kurencanakan tapi rasanya aku ingin merasakan lehernya.
"Apa yang...?"
Suaranya terhenti seiring bibirku yang berada di lehernya. Hmm yummy...Lehernya bahkan jauh terasa nikmat. Campuran antara strawberri dan mawar dan jujur saja aku menyukainya hingga aku tersadar dari apa yang kulakukan
.
Sial, Apa yang sudah dia lakukan padaku?
Aku bangkit dari atasnya dan pura- pura menampilkan senyum puas untuk melihat reaksinya. Bisa kulihat wajahnya memerah seperti tomat hingga rasanya nyaris mustahil jika aku tidak menginginkannya lagi karena faktanya aku sangat ingin lebih darinya.
"Kau?!"
"Kuharap itu cukup memberimu peringatan agar tidak main- main denganku, Azalea sayang dan sekali lagi aku melihatmu apalagi mendengar pria lain membicarakan tentang celana dalammu maka akan kupastikan. Tidak hanya mereka yang mendapatkannya tapi dirimu juga. Camkan itu baik- baik."
Hal terakhir yang aku dengar sebelum dia keluar dari kamar adalah kata brengsek dan itu justru membuatku merasa senang karena telah memberinya pelajaran.
***

Comments
Post a Comment