MASK- DUA




Lea PoV.

Mataku masih terjaga bahkan ketika waktu telah menunjukkan pukul 9 pagi. Sudah seminggu lebih sejak pertengkaranku dengannya dan kami bahkan nyaris tidak saling bertegur sapa tapi apa peduliku. Toh, ini akan membuatku merasa lebih mudah. Sangat amat mudah.

Kuayunkan kakiku dari ranjang menuju kamar mandi. Hufff.... seharusnya aku memaksa untuk tidur semalam. Lihatlah, bahkan lingkar mata ini terlihat semakin mengerikan karena selama tiga hari belakangan ini terlalu sibuk menggambar sketsa pakaian musim semi yang akan diadakan tiga bulan lagi.
Mengganti kaos semalam dengan blus merah dan rok pendek mengembang berwarna hitam serta tak lupa memadu padankan dengan boots di kakiku.

Perfect.

Gezzz, aku mendesah putus asa ketika melihat warna rambutku. Aku bukannya tidak menyukainya, sumpah! Tapi mungkin akan lebih baik jika tidak seterang ini. Ya. Rambutku berwarna merah, merah yang terlihat mencolok bahkan jika kau berjalan maka orang- orang akan berhenti untuk melihat.

Kata ibuku dulu, itu karena aku terlihat cantik dengan rambut merah, mata biru langit yang sangat pas di wajahku tapi siapa yang akan percaya? Maksudku dia ibuku kan? Dia yang melahirkanku ke dunia ini jadi tentu saja dia akan mengatakan hal itu.

Kenapa harus membenci sesuatu yang selalu membuatmu terlihat cantik?

Oh yeah, kenapa harus membenci sesuatu yang selalu membuatmu cantik.... atau berbeda?. Kalau boleh kutambahkan. Ibuku bukannya tidak tahu, aku bahkan akan dengan senang hati akan menceritakan padanya apa yang telah dilakukan anak- anak lain pada rambutku ketika masih di elementary school dulu. Tarikan yang kuterima dari anak laki- laki pada rambutku hingga harus meringgis setiap kali mereka melakukannya atau tumpahan tepung gandum beserta telur yang memang sengaja mereka persiapkan dari rumah, aku heran apakah mereka ingin membuat kue tapi kemudian gagal sehingga sebagai gantinya mereka menaruhnya di rambutku. Apa mereka pikir kalau menaruhnya di situ akan membuat kuenya akan menjadi lebih baik? Gezzz.
Setelah lama berkutat di depan cermin, kuputuskan untuk mengikatnya asal kuncir kuda. Toh, tidak ada yang akan berani melirikku atau bahkan menggodaku mengingat seluruh kota ini mulai mengetahui siapa aku, maksudku siapa yang ku nikahi dan telah menjadi suamiku.

Setelah menaruh bedak tipis dan lipglos berwarna nude untuk menyembunyikan samar kelelahan akibat kurang tidur di wajahku akhirnya kuraih tas beserta map hasil rancanganku. Jam 2 nanti akan ada klien yang akan melihatnya dan semoga saja mereka suka. Ini sudah rancangan terbaik yang bisa kulakukan dan jika mereka menolak, terserah. Mereka bisa mencari desainer lain untuk diajak kerjasama.

Aku baru saja turun dari lantai atas kamarku menuju dapur ketika aku mengernyit mendapati sosoknya yang sedang menatapku dengan pandangan yang bahkan aku tidak tahu artinya.

"Tumben kau baru pergi sekarang?"

Kuputar kedua bola mataku, malas dan beranjak melewatinya mengambil gelas dan mengisinya air minum. "Jangan melihatku seperti itu. Bagaimana denganmu?"

Keningnya terangkat satu dan aku sempat mengerjap melihatnya melakukan itu. Astaga, kenapa dia bisa terlihat sangat tampan hanya karena dia bisa melakukannya? Sial.

"Aku? Kenapa denganku?" Tanyanya kemudian.

"Tidak biasanya kau belum berangkat kerja," aku sengaja melihat jam yang berada ditanganku dan mengernyit. "Jam 10? Apa kau tidak bekerja?"

Kulihat dia mengendikkan bahunya seraya menyeruput kopi dalam cangkirnya. "Hari ini aku akan menjemput Caroline di bandara."

Oh. Pacar artisnya itu? Hmm, mereka sepertinya awet. Aku jadi merasa bersalah padanya. Oh hei, apa urusanku dengan hubungan mereka dan lagi, kenapa aku harus merasa bersalah. Toh, bukan salahku sehingga aku menikah dengan prianya kan. Kalau mau menyalahkan. Salahkan para orang tua itu yang menaruh kami pada lingkaran bisnis ini.

"Apa yang kau pikirkan?"

Hah?. "Apa?"

"Kau terlihat normal jika sedang berpikir?"

Apa yang dia bicarakan?

"Oh baiklah. Have fun then." Kuputuskan untuk keluar dari pembicaraan aneh nan kikuk ini ketika disaat yang bersamaan dia juga ikut berdiri hingga posisi kami atau mungkin cuma aku yang merasa ackward. Tinggiku yang tadinya hanya sampai dagunya seketika bertambah hingga ke hidungnya dengan bantuan boots yang ku kenakan.

Mata hijaunya yang langsung bertemu dengan mata biruku, menjadikan atmosfer yang tadinya aneh menjadi semakin aneh dan aku bersumpah kalau tadi aku merasakan seperti hawa mendadak panas. Apa efek global warming membuat cuaca mengalami siklus perubahan secara mendadak?

"Baiklah. Kurasa aku sudah telat dan sekali lagi, selamat bersenang- senang, Jullian." Aku yang pertama memutuskan kontak mata darinya. Mengambil tas dan kunci mobil yang tadi kuletakkan diatas meja dan meninggalkannya yang masih terdiam.

Kuharap dia tidak marah dan menganggu moodku seharian ini. Sudah cukup minggu lalu dan tidak membutuhkan pertengkaran lainnya untuk kembali merusaknya. Aku malas berdebat dan aku butuh sesuatu yang bisa membuat otakku tetap fresh setidaknya sampai waktu yang tidak ditentukan.

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS